Senin, 19 Juni 2017

KENAPA SYIAH SELALU DIBILANG SESAT ?

Iran
Ayatullah Khomeini
"Kenapa syiah selalu dikatakan sesat, bang?". Tanya seorang teman dalam ketidak-tahuannya. Saya ketawa membayangkan ketidak-tahuan saya juga dulu sekian tahun yang lalu.

Dulu - sebelum tahun 1979 - Arab Saudi dan Iran itu berteman dekat. Bahkan sebenarnya Saudi itu takut dengan Iran. Kenapa ? Karena Iran punya teman yang jauh lebih dekat, yaitu Amerika.

Iran dulu mirip Saudi, negara kerajaan yang dipimpin terakhir kali oleh Syah Reza Pahlevi. Karena konsep kerajaan itulah, Amerika lebih mudah menguasai Iran dan mengeksploitasi sumber daya migas di negara itu.

Situasi berbalik ketika rakyat Iran mulai gerah dan memberontak. Mirip situasi reformasi kita di tahun 1998 dulu. Tekanan demi tekanan kepada ulama di Iran oleh pihak kerajaan, membuat rakyat Iran bersatu dengan tekad menggulingkan kerajaan.

Pemimpin gerakan rakyat itu seorang ulama, Ayatullah Ruhullah Khomeini, yang namanya mencuat kembali karena sering disebut Rizieq Shihab dalam pelarian cintanya. Ayatullah Khomeini kemudian diasingkan ke Irak sampai ke Paris supaya tidak mengganggu jalannya pemerintahan.

Tetapi justru dari jauhlah Ayatullah Khomeini mengobarkan semangat revolusi melalui dakwah2nya. Dan puncaknya adalah tahun 1979, dengan kaburnya Syah Reza Pahlevi ke Amerika.

Sesudah itu Ayatullah Khomeini mengadakan referendum untuk membentuk dasar negara baru yang bukan kerajaan. 90 persen rakyat Iran setuju dengan konsep negara Republik Islam Iran, yang ada sampai sekarang..

Amerika jelas tidak senang, karena mereka tidak bisa berkuasa lagi disana. Dengan menggunakan Saddam Hussein sebagai mitra, Amerika ingin kembali menguasai Iran. Dan terjadilah perang 8 tahun Irak vs Iran, yang dulu waktu kecil nonton Dunia Dalam Berita rasanya perang itu gak ada habis-habisnya.

Irak kalah dan Iran berhasil mempertahankan negaranya. Amerika semakin geram dan mengalihkan pandangannya ke Arab Saudi sebagai mitra baru.

Hasil revolusi Islam Iran itu kemudian apinya kemana-mana. Para pemuda yang jenuh berada di bawah kendali kerajaan - karena mereka selalu bermewah2 - mulai memberontak di negaranya masing2. Ini menimbulkan kekhawatiran bukan saja di Arab Saudi, tapi juga negara kerajaan lainnya seperti Yordania, Qatar, Bahrain dan banyak lagi.

Mereka takut revolusi di Iran mampir ke negeri mereka yang kerajaan. Dipimpin oleh Saudi, mereka sepakat untuk membentuk koalisi menjadikan Iran sebagai pesakitan.

Ketika Amerika dan sekutunya negara2 barat meng-embargo ekonomi Iran selama 30 tahun, Saudi dan koalisinya pun merancang satu cara untuk menjauhkan Iran dari muslim lainnya.

Yaitu dengan cara memfitnah mazhab Syiah mereka. Syiah disini berarti "pengikut" dan diidentikkan dengan pengikut keluarga Nabi Muhammad Saw.

Saudi dan koalisinya diketahui memalsukan banyak kitab2 karangan Ayatullah Khomeini dan - menariknya - yang membongkar ini adalah seorang Professor sastra di Kairo yang bermazhab Sunni.
Tetapi fitnah sudah menyebar dengan sangat cepat. Iran sendiri tidak mampu menepis semua fitnah karena selain sibuk bergelut dengan ekonomi mereka yang melemah akibat embargo, Saudi dan koalisinya menguasai media.

Begitulah ceritanya kenapa sampai sekarang Syiah - mazhab terbesar di Iran - terstigma sesat dan bukan muslim di banyak kalangan muslim awam.

Sebenarnya pada tahun 2004, Jordania sudah memulai rekonsiliasi untuk menyatukan kembali umat muslim yang terpecah dengan mengundang 200 ulama terbaik di dunia - termasuk Indonesia - di Amman. Dalam risalah Amman itu tercantum bahwa mazhab Syiah adalah bagian dari Islam.

Sayangnya, risalah ini tidak banyak diakui - kembali karena politik - karena Amerika tidak suka Iran bergabung dengan kelompok negara muslim lainnya. Saudi dan koalisinya lebih patuh kepada Amerika karena menguntungkan mereka secara kapital.

Dan perkembangan terakhir kita lihat, ketika Qatar mulai mendekati Iran, maka ia pun dijauhi dan di embargo oleh Saudi dan koalisinya. Di lain sisi, Saudi merapat ke Israel yang notabene adalah musuh besar Iran..

Jadi begitu, jamaah yang berbahagia..

Kita hidup dalam persepsi yang dibangun kelompok global yang menguasai media. Opini kita adalah opini yang dibentuk sesuai keinginan mereka.

Menariknya, di Iran sendiri, mereka tidak perduli difitnah begitu rupa. Mereka lebih fokus membangun ekonominya secara mandiri dan Iran sekarang sangat diperhitungkan karena sudah berhasil menguasai teknologi nuklir sedangkan Saudi dan koalisinya masih asik membeli senjata dari Amerika.

Perjuangan rakyat Iran adalah perjuangan yang inspiratif. Mereka tidak takut dikucilkan oleh banyak orang, hanya karena mereka berkata benar. Karena kebenaran itu layak untuk diperjuangkan..

Dituding sebagai Syiah? Ah, sejak dulu saya mah angkat cangkir kopi saja. Seperti kata pepatah, kalau bertentangan dengan kaum bumi datar, kita semua akan "Syiah" pada waktunya.. Seruputtt..