Senin, 05 Juni 2017

KETIKA PARA PENGUSAHA MELAWAN..

NU
Ansor NU
"Kami tidak mau tinggal diam, kami harus melawan". Seorang pemilik grup perusahaan besar mengajakku sekedar minum kopi sambil menemaniku berbuka. Dia menceritakan bahwa dia menerapkan peraturan baru dalam perusahaannya.

"Kami membentuk tim internal untuk mengawasi pegawai2 kami yang rasis dan anarkis di media sosial. Ketika ketahuan bahwa ia ternyata seperti itu, kami tidak segan untuk memberinya sanksi sampai pemecatan.

Kalau masih bisa dibina ya dibina, kalau gak bisa ya terpaksa kami minta dia mundur atau kami paksa mundur.. " Katanya.

"Bagian SDM kami bekerjasama dengan team dari NU di wilayah kami untuk menyelidiki siapa-siapa dari pegawai kami yang rasis dan anarkis.

Team NU juga mulai menyisiri mushola dan masjid di wilayah perusahaan kami diseluruh daerah, untuk menemukan pengurus-pengurus yang radikal. Ganti dengan pengurus dan dai muda NU..

Kami juga memfasilitasi pengajian untuk pegawai-pegawai kami yang muslim dengan melibatkan dai-dai NU. Kalau perlu, kami juga akan melibatkan Ansor dan Banser untuk pengamanan tempat kami.

Tidak masalah kami keluar lebih sedikit, tetapi setidaknya kami berjuang untuk ikut memberantas ideologi radikalis di seluruh wilayah perusahaan kami.."

Ia menceritakan dengan penuh semangat apa yang dilakukannya. Sebuah semangat perlawanan, ketika ia sadar bahwa sudah saatnya untuk mulai membuka mata dan telinga terhadap situasi politik di negeri ini.

"Kalau kata abang, sudah lama negara ini abai kepada NU, biarkan kami yang swasta memulai untuk kembali membuka diri kami dan memberikan fasilitas kepada NU.

Karena kami baru sadar, bahwa Islam di negeri ini selayaknya dikembalikan kepada mereka yang sejak lama menjaga negeri ini dengan penuh ketentraman sampai ideologi luar masuk dan ingin memecah belah kebhinekaan kita.."

Aku tersenyum sambil menyeruput kopiku. Sesudah para emaks bangkit melakukan perlawanan, kini para pengusaha sudah mulai bergerak berjuang.

Ada kelegaan dalam hatiku yang paling dalam bahwa negeri ini sudah mulai bergerak ke arah yang benar.

Mungkin memang seharusnya kita disentak dulu dengan ketakutan, supaya bangun dan mulai waspada bahwa semua keindahan ini bukan datang secara tiba-tiba. Ia diperjuangkan. Sesudah begitu lama pahitnya menyiksa lidah, hari itu kopiku terasa nikmat sekali. Silent Majority sekarang tidak lagi diam dalam keheningan.