Senin, 19 Juni 2017

MENGGEBUK ISLAM RADIKAL

Jenderal Gatot Nurmantyo
Panglima TNI
Bagaimana cara membedakan seorang ustad itu radikal atau bukan? Sejak 2011 saya sudah berteriak di medsos, "hati-hati virus wahabi..." tetapi tidak pernah didengar bahkan sampai sekarang dimusuhi oleh teman-teman karena dianggap memecah belah atau mengadu domba Islam.

Tidak banyak yang paham bagaimana sebuah virus berbahaya menumpang dalam agama Islam dan menyebarkan kerusakan di seluruh dunia. Bahkan ketika ISIS sudah memamerkan kekejamannya, masih banyak yg belum mampu membedakan mana ustad yang radikal dan yang bukan..

Banyak orang terjebak aksesoris yang dipakai seseorang. Jika dia bersorban, bergamis, megang tasbeh dan mulutnya sering melontarkan bahasa2 arab, maka gelar ustad pun disandangkan kepadanya.

Jadi wajar ketika teman-teman masa kecilku yang dulunya sosialita kelas berat, tiba-tiba menjadi ekstrim waktu ikut sekali dua pengajian. Kekosongan pemahaman mereka tentang agama membuat mereka mudah dicuci otak untuk membanggakan diri mereka sendiri dan golongan dengan merendahkan orang lain. Dan itu juga terjadi di lingkungan Polri dan TNI...

Keinginan untuk belajar agama di lingkungan aparat banyak dimanfaatkan ormas-ormas radikal untuk masuk dan menyusupkan sel-sel mereka di dalamnya. Dengan menyamar sebagai ustad atau ulama, mereka dengan mudah menyihir pemahaman sebagian aparat yang masih lemah akal. Yang terjadi kemudian adalah perlindungan diberikan kepada pentolan ormas yang mereka sebut "ustad".

Situasi ini berlangsung lama bahkan dipelihara belasan sampai puluhan tahun lamanya. Sampai akhirnya kita tersentak dan sadar, bahwa ternyata virus intoleran itu sudah masuk ke dalam sendi-sendi hidup kita, tidur didalamnya dan bergerak memakan kita pada saatnya.

Peristiwa hampir pecahnya anak bangsa karena politisasi masjid membuat kita sadar bahwa tempat ibadah sudah bukan lagi tempat yang aman untuk mendapatkan ketentraman. Justru disanalah mereka bersarang..

Saya mendengar Kepolisian baru-baru ini membersihkan masjid2 mereka sampai tempat mengaji keluarga mereka dari ajaran Islam radikal yang dibawa oleh "ustad2" yang sudah lama bercokol disana.

Jadi saya memaklumi, bahwa kepolisian masih agak gamang ketika menyelesaikan persoalan yang membawa2 agama bahkan cenderung melindungi intoleran seperti di Solok. Kepolisian sudah begitu lama berada di bawah pengaruh sihir mereka..

Dan saya lega ketika Panglima TNI juga sudah mengeluarkan pernyataan, bahwa mereka yang sering mencaci maki dan memecah belah meski bersorban jangan dianggap sebagai ulama.

Meskipun agak telat menyadari, tetapi setidaknya sudah ada identifikasi jelas mana ulama dan mana bukan sehingga tidak mudah begitu saja memasukkan orang untuk mengajarkan hal yang belum kita ketahui tanpa tahu latar belakang orang itu sendiri.

Bersih-bersih unsur radikalisme dalam tubuh Polri dan TNI sangat penting karena mereka penjaga keamanan dan ketertiban kita. Kalau mereka rusak, kita bisa rusak juga..

Nah, bagaimana BUMN ? Disana kecoaknya gede-gede lho.. Coba sekali2 para pejabatnya turun ke masjid dan lihat seperti apa para pengurusnya disana..


Atau pejabatnya juga malah yang men-support mereka ? Gebuk aja bu Menteri. Masak harus pak Jokowi lagi yang turun tangan..