Sabtu, 24 Juni 2017

SYUKUR PRESIDENNYA JOKOWI. KALAU BUKAN, ASU DAHLAH

Presiden Jokowi
Jokowi
Sesudah membaca tulisan babo Erizeli Jely Bandaro tentang negeri Brunei yang menuju bangkrut, saya langsung kebayang Indonesia sebelum pilpres 2014.

Sebelum pilpres, negara kita sudah salah kelola lumayan parah. Hutang luar negeri dipakai untuk membayar hutang lagi, yang sebelumnya adalah hutang konsumtif. Pesta pora dana hutang dimana-mana, korupsi bertebaran dalam jumlah yang sulit diperkirakan.
Dan sumber korupsi ada di pusat kekuasaan sendiri..

Pembangunan mangkrak, karena kita lebih senang disubsidi. Subsidi BBM yang 'katanya' untuk rakyat kecil, ternyata memang untuk menipu saja karena sesungguhnya yang menikmati adalah mafia migas.

Kebayang kan keuntungan Petral dari hasil selisih pembelian minyak sampai 250 triliun rupiah per tahun?

Antara pendapatan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran. Kenapa ? Karena tidak dibangun sumber pendapatan baru. Negeri yang sebenarnya kaya sumber daya alam bukannya menjadi tempat investasi yang menarik karena tidak adanya infrastruktur yang bisa menopang pendapatan itu sendiri..
Kita tergantung dari impor, bahkan terhadap bahan pangan. Sengaja dibuat impor supaya ada 'komisi' yang bisa dibagi-bagi. Pertumbuhan ekonomi dibuat palsu supaya rakyat senang, sejatinya kita seperti bangunan besar yang hanya ditopang satu atau dua pilar saja.

Bantuan langsung tunai membuat rakyat menjadi tidak kreatif, karena "menjadi miskin" lebih nyaman daripada kerja keras. Sensitif sekali dengan harga cabai sampai bensin yang naik 1000 rupiah per liter karena terbiasa disuapi sampe kerongkongan.

Untunglah pemenang pilpres adalah Jokowi yang langsung merombak budaya itu menjadi sebaliknya. Infrastruktur dibangun dimana-mana - meski beberapa masih dengan hutang - tetapi setidaknya ada harapan membayar dari sumber pendapatan baru yang sedang dibangun.
Kalau tidak, kita bisa terpuruk karena tidak mampu bayar hutang dimana-mana..

Saya baru sadar kenapa partai dan ormas 'pecinta khilafah' itu senang merapat ke capres yang karakternya lemah.. Karena mereka memang berharap ekonomi Indonesia runtuh dengan banyaknya korupsi dan hutang yang tidak produktif.

Ketika ekonomi negara hancur - seperti Yunani - maka mereka akan menyerukan 'khilafahlah solusinya'. Dengan begitu mereka akan terlihat seperti 'dewa penyelamat' karena menawarkan solusi yang menjadi mimpi sebagian orang yang terbiasa malas dan manja.

Mirip seperti masyarakat Mesir pada masa menuju kejatuhan Hosni Mubarak yang ditunggangi Ikhwanul Muslimin..

Tapi rencana mereka gatot al khotot ketika Jokowi malah membangun Indonesia menuju kekuatan baru. Jika rakyat sejahtera nantinya, tentu akan susah dibodohi dengan propaganda khilafah dan bersembunyi dibalik kata "syariah". Rakyat akan melihat bahwa sistem demokrasi seperti sekarang lebih aman daripada sistem Islam versi kaum bumi datar..

Kita baru akan merasakan hasil dari perombakan itu sepuluh sampai dua puluh tahun lagi. Tapi dari sekarang kita sudah bisa melihat 'pentil' buahnya. Ekonomi yang merangkak naik, rupiah yang stabil, kepercayaan luar negeri meningkat dan investasi yang datang sebagai pengganti model hutang.

Karena panik melihat Indonesia menuju negara maju-lah, maka fitnah kepada Jokowi terus diluncurkan dengan menutupi keberhasilan pembangunan. Mereka lebih senang melihat rakyat Indonesia sibuk dengan masalah "agama" daripada teknologi, dan membodohi rakyat dengan propaganda bahwa Indonesia menuju kehancuran.

Logika sederhananya, bagaimana bisa negeri ini menuju kehancuran ketika pembangunan infrastruktur dimana-mana?

Kita bersyukur bahwa kita bukan Brunei yang dikelola dengan model kerajaan, dimana yang sejahtera hanyalah raja dan kroninya saja. Rakyat hanya dimanjakan sementara dengan subsidi ketika sedang kaya, dan ketika satu waktu jatuh miskin, rakyat jugalah yang pertama kali akan menderita..

Kita boleh kalah oleh banyak negara sekarang ini karena Indonesia sedang re-start kembali. Tapi ada masanya kita akan berjaya, karena diantara negeri tetangga, kitalah yang paling lengkap sumber daya alamnya dengan pengelolaan yang benar..

Tidak semua orang mampu bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan pada kita. Banyak yang masih mengeluh karena memang itu sifat dasar mereka.

Kalau gak ngeluh, ngentut, ngeluh lagi. Begitulah kurma-kurma..
Semoga kita bisa mempertahankan pembangunan yang sudah menuju arah yang benar ini saat 2019 nanti. Yang kita pilih bukan yang jago naik kuda atau berahlak mulia, tetapi yang bisa kerja, kerja dan kerja..


Seruput dulu kopinya..