Rabu, 28 Juni 2017

UNTUK APA AGAMA?

Agama
Gus Mus
"Berbicara tentang "pola", hidup-pun mempunyai pola. Sejujurnya hidup bukan lagi sebuah misteri besar ketika kita memahami pola-polanya. Manusia condong mengamati pola perilaku mahluk hidup lain di sekitarnya, tetapi jarang mengamati pola tentang kehidupan manusia itu sendiri.

Pola yang dimaksud bukanlah pola materi seperti kelahiran, proses pencernaan dan lain-lain, tetapi berhubungan dengan pola spiritual seperti sebab akibat dari sebuah peristiwa..

Dengan memahami kenapa manusia diberikan kesulitan, kenapa uang haram itu berbahaya bagi perkembangan jiwa yang memakannya dan sebagainya, kita akhirnya bisa mengetahui maksud dan tujuan kita ada di bumi ini.

Dengan memahami pola spiritual, maka hidup kita akan jauh lebih tenang dan tidak lagi terbeban dengan angan yang panjang, ukuran manusia dan ketakutan yang tidak beralasan seperti "bagaimana masa depanku nanti ?"

Kita akan berjalan dengan punggung yang merdeka, tanpa terikat kesepakatan-kesepakatan duniawi.
Lalu, siapa yang bisa mengajarkan pola-pola spiritual itu ?

Itulah gunanya agama, sebagai sebuah petunjuk yang berhubungan dengan kejiwaan. Karena menjadi baik itu sangat sulit dikarenakan nafsu kita selalu berusaha menguasai jiwa kita yang sesungguhnya suci.

Dan yang bisa menjelaskan agama atau petunjuk itu adalah pembawanya. Seorang Rasul, seorang Nabi dan seorang Imam. Tidak ada satupun manusia yang bisa menjelaskan petunjuk Tuhan tanpa berpatokan pada penjelasan-penjelasan mereka yang mengerti..

Satu yang perlu dicatat, sulit sekali memahami penjelasan mereka dalam bentuk makna ketika seluruh jiwa kita terbungkus ketat dengan duniawi. Untuk bisa memahaminya, terkadang Tuhan "mengupas" kita dalam sebuah tragedi..

Dengan memahami penjelasan mereka, maka secara otomatis jiwa akan terbimbing ke arah yang benar dengan mengetahui pola-pola kehidupan. Hidup bukan lagi hutan belantara tetapi sudah menjadi sebuah kota dengan banyak petunjuk di dalamnya..

Ketika paham pola, kita tidak akan lagi menyalahkan Tuhan ketika anak kita terkena narkoba atau ketika hidup kita hancur karena masalah ekonomi misalnya..

Semua ada jawabannya. Tidak semua pertanyaan harus dikembalikan pada Tuhan dengan alasan klasik, "hanya Tuhan yang tahu.." karena Tuhan sudah memberikan akal kepada manusia untuk mencari petunjuk atas hidupnya sendiri.."

Temanku menutup kalimat terakhirnya sambil menyeruput secangkir kopi di depannya. Ia sudah berubah, jauh lebih tenang dari yang kukenal selama ini sebagai orang temperamental.

Aku mengerti. Itulah gunanya "agama". Sebuah petunjuk, sebuah kompas dalam kehidupan ini. Aku bisa menjawab pertanyaan temanku yang condong tidak memerlukan petunjuk dalam hidupnya karena "sudah usang" katanya. Sebuah kesombongan karena kurangnya ilmu pengetahuan tentangNya..

Agama itu ternyata logika, bukan sebuah dogma..
Aku mengangkat secangkir kopi. Sebuah pemahaman baru lahir ketika kita berusaha mengosongkan diri.