Sabtu, 15 Juli 2017

AHLAK HARI TANOE

Perindo
Hary Tanoe
Tidak banyak sosok yang begitu dicintai banyak orang seperti Hari Tanoe. Hari Tanoe memang contoh tauladan bagaimana seseorang itu bersosialisasi lintas agama dan ras, sehingga ia menjadi sosok yang dicintai bahkan dirindukan kehadirannya.

Kenapa ia bisa begitu? Jawabannya adalah, Ahlak..

Ahlak seseorang memang menentukan dalam pergaulan. Ahlak yang bagus tentu akan menempatkan seseorang itu dalam pergaulan yang luas dan diterima siapa saja. Jika ahlaknya kurang, jangankan diterima, bahkan bisa didemo berjilid-jilid sampai dipenjara..

Kemampuan HT dalam menggunakan ahlaknya bisa terlihat dari bagaimana masyarakat bersikap padanya. Ketika ia mendapat masalah besar, tiba-tiba kelompok yang mengatas-namakan pendeta bersatu dan meneriakkan supaya ia dibebaskan.

Bahkan bermunculan pakar-pakar hukum yang sudah jarang diundang ke stasiun televisi dan mengatakan, bahwa HT sedang di kriminalisasi..

Malah kelompok yang mengatas-namakan umat Islam dengan kode buntut 212, dengan garang berkata di depan media, "Meski ia seorang kafir, tetapi ia wajib dibela karena dalam Al-quran memerintahkan supaya umat muslim mesti berlaku adil bla bla dan bla.."

Mereka bahkan melakukan long march sekedar untuk menerapkan perintah Tuhan supaya berlaku adil kepada yang bayar, eh kepada yang sedang dizolimi meskipun ia adalah seorang yang dicap kafir..

Dahsyat memang buah dari ahlak seseorang itu..

Namanya muncul di banyak media sebagai seorang yang sedang melakukan perlawanan kepada pemerintah.

Bahkan beberapa stasiun tivi terkenal -dengan rela dan tanpa dibayar- terus menerus menulis namanya di running teks tanpa lelah, setiap menit bahkan setiap detik jika bisa. Seolah tidak ingin ketinggalan berjuang bersama seseorang yang bekerja tanpa pamrih untuk kesejahteraan umat itu..

Ketika saya mencoba googling siapa saja yang membela HT, saya menemukan fakta yang mengejutkan. Dari Sabang sampe Merauke, ternyata banyak sekali yang bersuara tentang keberadaannya. "Hari Tanoe adalah korban hukum yang sewenang-wenang.." begitu kata mereka dan hampir semua bernada sama.

Saya takjub melihat pembelaan mereka yang begitu massif dan serentak. Sayang saya tidak mencatat siapa saja nama mereka semua karena mereka dari berbagai daerah, hanya yang saya tahu marga mereka semua sama yaitu marga Perindo.

Seharusnya kita mencontoh apa yang sudah dilakukan HT dalam pergaulannya. Ia bisa dengan tenang berdiri di samping Donal Trump yang menunjukkan kelas dirinya. Tetapi ia juga mampu berdiri di mimbar gereja memberikan ceramah tentang keselamatan hidup.

Yang menakjubkan, ia bahkan turun bersafari Ramadhan ke pesantren-pesantren dan disambut dengan sukacita layaknya seorang mualaf yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Felix Siauw dan Jonru Ginting seharusnya belajar seperti beliau yang tidak memandang ras dan agama dalam bergaul dengan sesama manusia. Bahkan seorang Irena Handono harusnya malu menjelek-jelekan agama sebelumnya, jika melihat bagaimana HT bisa merangkul semua pihak yang berbeda dengannya..

Dan itu karena ahlak. Ahlak yang mulia akan mendapat balasan perlakuan yang mulia pula..
Sudah saatnya pulang, sudah malam..
"Bu, tadi saya kopi dua, tahu isi dua dan bakwannya satu. Berapa semua ?"
"Kalau dengan kemaren, semua jadi dua puluh ribu. Besok sudah gak boleh ngutang, modal saya habis. Kalau gak punya ahlak, gak usah ngopi deh.." si ibu warung cemberut.


Oh maaf, saya belum kasih tahu. Ahlak itu artinya "uang" di kampung saya..