Sabtu, 08 Juli 2017

BAHASA TUBUH SEORANG PEMIMPIN

Jokowi
KTT G20
Saya tidak tahu, apakah ia pernah ditanya oleh ayahnya, "Kalau besar mau jadi apa, nak?". Trus dijawab, "Mau jadi Presiden!". Pertanyaan khas orang tua dahulu yang kalau dengar jawaban mau jadi Presiden atau Dokter, langsung puas banget.

Tetapi yang pasti cita-cita itu mampir dalam setiap pemikiran anak kecil meskipun dia tinggal di desa dalam kehidupan yang sangat sederhana seperti dirinya. Cita-cita yang sudah pasti terkubur seiring dengan semakin menyadari realita hidup dengan bebannya yang berat yang harus dipikul pundak pemuda berbadan kurus ini..

Mulai dari ojek payung sampai kuli panggul ia jalani untuk membantu biaya sehari-hari. Kebayang tubuh kecil, kurus, hitam dan menggigil kehujanan berlari-lari menawarkan payung dengan pendapatan hanya beberapa sen saja..

Saya pernah bertanya kepada seorang saudara dekatnya, "Apa mungkin kesenangan dirinya bagi-bagi sepeda dan peralatan sekolah adalah bagian dari 'dendam' masa kecilnya yang sulit mendapatkan barang-barang itu?" Ia mengangguk.

Saya terdiam membayangkan situasi kekurangan yang pernah dialaminya. Ayahku pernah berkata, "Tidak ada seorangpun pemimpin besar yang tidak pernah ditempa oleh situasi sulit dalam hidupnya. Karena sesungguhnya kesulitan mengajarkan banyak hal pada manusia.."
Perjalanan hidup mengajarkanku bahwa ia benar..
Tidak ada yang menyangka -siapapun tidak menyangka- jika anak kecil lusuh yang 'bukan siapa-siapa' itu sekarang berdiri bersama para pemimpin dunia.

Tidak ada rasa minder sedikitpun bahwa ia bukan berasal dari trah terpandang dan berada. Ia bahkan bisa dibilang ndeso dengan gaya bahasanya, tetapi pikirannya jauh melampaui pemikiran para Jenderal, para Profesor atau para Ilmuwan yang diakui Internasional.

Ia berfikir 100 tahun ke depan, ketika orang banyak masih berfikir bagaimana bisa survive dalam 10 tahun nanti..

Lihat gayanya yang tidak mau berdiri di barisan belakang para pemimpin dunia yang lebih terkenal dari dirinya. Ia ingin berada di depan, sejajar dengan mereka yang memimpin negara-negara besar.

Tidak ada rasa takut ataupun rendah diri bahwa ia seorang Presiden dari sebuah negara yang sedang berkembang. Ia selalu memesan tempat duduk maupun posisi berfoto yang paling strategis dengan pemimpin dari negara maju.

Ia bangga dengan negaranya dan membawa kebanggaan itu dalam pergaulan internasional supaya menjadi inspirasi bagi rakyatnya, bahwa kita adalah calon negara besar dan maju seperti mereka..
Bahasa tubuhnya jauh lebih besar dari fisiknya sendiri...

Seperti secangkir kopi, ia bisa berada di tempat yang paling terhormat sampai di tempat yang paling kumuh sekalipun tanpa kehilangan nilai kenikmatannya.

Ia Joko Widodo. Sebuah nama yang biasa-biasa saja dengan aura yang luar biasa. Patutlah kita angkat secangkir kopi untuknya, dan berterima-kasih karena ia sudah menaikkan standar seorang pemimpin ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya.