Jumat, 07 Juli 2017

ENGKAU TIDAK PERLU BERIBADAH

Shalat
Ketahuilah, seluruh kebaikan itu bermuara pada shalat
"Bolehkah aku tidak beribadah?". 

Ketahuilah, seluruh kebaikan itu bermuara pada shalat

Tanya seorang teman melalui inbox. Pertanyaan yang singkat dan sangat sederhana. Hadir dari ketidak-pahaman sebab dan akibat kehidupan. Kebutaan yang melanda hampir semua orang di hutan belantara yang bernama dunia..
Aku menulis..

"Sangat boleh. Manusia bahkan tidak perlu beribadah seumur hidupnya. Tidak mempercayai keberadaan-Nya juga tidak mengapa. Karena Ia ada sebelum semua ada. Karena Ia tidak akan tiada, jikapun seluruh alam semesta ini meniadakanNya..

Tetapi bagaimana seluruh alam ini bisa bergerak teratur dan presisi tanpa keberadaanNya?". Aku terdiam sejenak, menyalakan sebatang rokokku dan menyeruput secangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi. Ingin memanaskannya lagi sudah tidak ada hati.
Kulanjutkan..

"Tuhan adalah pusat dari segala kebaikan. Kejahatan adalah ketiadaanNya. Bukan Ia tiada, tetapi kita yang meniadakanNya.

Maka Ia memerintahkan seluruh alam untuk beribadah kepadaNya. Bukan karena Ia butuh disembah, tetapi supaya semua berotasi pada kebaikan sesuai pancaran diriNya.

Dengan berpusat pada diriNya, maka semua akan bergerak dalam keteraturan. Dan ketika semua teratur, maka tidak ada yang namanya ketidak-seimbangan yang memunculkan gesekan yang membahayakan ciptaanNya.."

Sudah semakin malam dan matapun mulai lelah karena aktifitas sejak siang. Kutuntaskan bait terakhir dalam tulisanku. Bukan untuk menjawab yang bertanya, tetapi untuk menasehati diriku sendiri.

"Maka kita akan memahami, bahwa ibadah itu bukan untukNya, tetapi untuk keselamatan kita sendiri. Ketika kita menjauh dari sumber segala kebaikan, maka akan terjadi ketidak-seimbangan dalam diri. Jiwa yang tidak stabil memunculkan perilaku labil.

Dan tanpa mampu dihindari, semua gerak kehidupan kita menjadi salah. Kesalahan pertama memunculkan kesalahan kedua dan seterusnya, sampai kita berada pada puncak kesalahan yang menghasilkan kehancuran fisik dan mental.."

Kuhabiskan secangkir kopi dan meneruskan kalimat terakhir sebagai pengingat diriku..
"Bahkan pada saat kita berada pada kehancuran diri yang kita sebabkan sendiri, Tuhan masih saja menarik kita untuk kembali berada pada pusaranNya. Sungguh Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.."
Malam semakin larut..


"Ketahuilah, seluruh kebaikan itu bermuara pada shalat.." Imam Ali asENGKAU TIDAK PERLU BERIBADAH..
"Bolehkah aku tidak beribadah ?"

Tanya seorang teman melalui inbox. Pertanyaan yang singkat dan sangat sederhana. Hadir dari ketidak-pahaman sebab dan akibat kehidupan. Kebutaan yang melanda hampir semua orang di hutan belantara yang bernama dunia..
Aku menulis..

"Sangat boleh. Manusia bahkan tidak perlu beribadah seumur hidupnya. Tidak mempercayai keberadaan-Nya juga tidak mengapa. Karena Ia ada sebelum semua ada. Karena Ia tidak akan tiada, jikapun seluruh alam semesta ini meniadakanNya..

Tetapi bagaimana seluruh alam ini bisa bergerak teratur dan presisi tanpa keberadaanNya?". Aku terdiam sejenak, menyalakan sebatang rokokku dan menyeruput secangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi. Ingin memanaskannya lagi sudah tidak ada hati.
Kulanjutkan..

"Tuhan adalah pusat dari segala kebaikan. Kejahatan adalah ketiadaanNya. Bukan Ia tiada, tetapi kita yang meniadakanNya.

Maka Ia memerintahkan seluruh alam untuk beribadah kepadaNya. Bukan karena Ia butuh disembah, tetapi supaya semua berotasi pada kebaikan sesuai pancaran diriNya.

Dengan berpusat pada diriNya, maka semua akan bergerak dalam keteraturan. Dan ketika semua teratur, maka tidak ada yang namanya ketidak-seimbangan yang memunculkan gesekan yang membahayakan ciptaanNya.."

Sudah semakin malam dan matapun mulai lelah karena aktifitas sejak siang. Kutuntaskan bait terakhir dalam tulisanku. Bukan untuk menjawab yang bertanya, tetapi untuk menasehati diriku sendiri.

"Maka kita akan memahami, bahwa ibadah itu bukan untukNya, tetapi untuk keselamatan kita sendiri. Ketika kita menjauh dari sumber segala kebaikan, maka akan terjadi ketidak-seimbangan dalam diri. Jiwa yang tidak stabil memunculkan perilaku labil.

Dan tanpa mampu dihindari, semua gerak kehidupan kita menjadi salah. Kesalahan pertama memunculkan kesalahan kedua dan seterusnya, sampai kita berada pada puncak kesalahan yang menghasilkan kehancuran fisik dan mental.."

Kuhabiskan secangkir kopi dan meneruskan kalimat terakhir sebagai pengingat diriku..
"Bahkan pada saat kita berada pada kehancuran diri yang kita sebabkan sendiri, Tuhan masih saja menarik kita untuk kembali berada pada pusaranNya. Sungguh Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.."
Malam semakin larut..
"Ketahuilah, seluruh kebaikan itu bermuara pada shalat.." Imam Ali as