Sabtu, 01 Juli 2017

KADO HITAM POLISI

Hut Polisi
Kado Hitam Polisi
Tepat tanggal 1 Juli ini, keluarlah Perpres yang menyatakan bahwa ini adalah hari Kepolisian Nasional.

Pada tanggal ini di tahun 1946, Kepolisian yang berserakan di berbagai daerah disatukan menjadi Kepolisian nasional dan ditempatkan di bawah Presiden.

Dalam perjalanannya selama 71 tahun, polisi mendapat banyak terpaan dalam menuju kedewasaannya. Dan terpaan terbesar adalah godaan sebagai penguasa wilayah yang menyebabkan korupsi dan suap menimpa hampir seluruh elemen kepolisian.

Anekdot "hilang kambing lapor polisi langsung hilang sapi" sudah memasyarakat. Bahkan Gus Dur pernah becanda, "Hanya ada dua polisi jujur di negeri ini, Hoegeng dan polisi tidur.."

Polisi sering dijadikan tameng politik. Bahkan pada masa kepemimpinan Gus Dur, Kapolri saat itu Bimantoro berani membangkang padahal dalam posisinya ia seharusnya berada di bawah Presiden.

Kepolisian pada masa Jokowi ini mendapat sorotan menarik dengan diangkatnya Tito Karnavian sebagai Kapolri. Diangkatnya Tito merombak pakem senior junior yang selama ini menjadi budaya. Tito melewati beberapa generasi diatasnya yang secara senioritas lebih layak menjadi Kapolri.

Tito Karnavian sendiri adalah orang lapangan daripada orang administrasi. Rekam jejak langkahnya di dunia terorisme menunjukkan ia pakar yang dibutuhkan pada masanya.

Dan -sama seperti Jokowi- Tito mendapat perlawanan keras dari kelompok radikal. Mereka bersatu untuk menghancurkan nama Tito Karnavian dengan membunuh karakternya sampai mengadu-domba Kepolisian dengan TNI melalui media sosial.

Lebih keras lagi, para radikalis ini memburu polisi dimana saja untuk dibunuh. Peristiwa ditusuknya dua anggota brimob saat lepas shalat Isya, menggenapkan kejadian yang sama di daerah lain dalam waktu yang berdekatan.

Tito Karnavian sendiri mewarisi pekerjaan berat yang harus diselesaikannya secara bersamaan. Menumbuhkan kembali wibawa kepolisian yang sudah jatuh bertahun-tahun di mata masyarakat karena perilaku oknum di internal, sekaligus memerangi sel-sel teroris di dalam negeri yang semakin berkembang.

Lecehan sebagian orang bahwa polisi bermain di balik terorisme hanya karena anggaran, adalah pandangan lama yang berbekas sampai sekarang.

Kepolisian juga menghadapi situasi berat dalam menghadapi situasi di lapangan. Mereka terkurung dengan "tudingan melanggar HAM" yang menghantui sehingga sulit bergerak dengan bebas.

Selain itu, kepolisian masih menghadapi kegagapan di internal karena selama ini mereka tidak terbiasa menghadapi radikalisme berbaju agama - yang notabene adalah saudara seiman mereka sendiri.

Bekerjasamanya Kapolres Solok dengan kelompok radikal dalam persekusi kepada warga menjadi contoh terbaik kegagapan berjamaah di dalam kepolisian. Bahkan Kapolda Sumut yang lama malah memberi "karpet merah" kepada Rizieq Shihab.

Kebayang kan tugas besar di punggung pak Tito Karnavian?

Beberapa bulan lalu saya mendengar dari sumber yang terpercaya bahwa baru pada masa kepemimpinan pak Tito ini, kepolisian bersih-bersih masjid dan pengajian di internal mereka dari ustad-ustad radikal yang melakukan cuci otak perpecahan.

Dari situ kita bisa membayangkan, bertahun-tahun unsur radikal itu ada di dalam tubuh kepolisian sendiri dan para ustad radikal itu juga mendapat informasi dari dalam tubuh polisi sendiri.

Situasi sekarang ini dengan begitu banyaknya ancaman kepada aparat, seharusnya mulai menyatukan kembali elemen di kepolisian dengan semangat Hari Bhayangkara. Kepolisian harus mulai sadar bahwa kewibawaan harus ditumbuhkan kembali dan itu harus dimulai dari bersih-bersih di internal.

Tumbuhkan kepercayaan bahwa polisi adalah bagian dari masyarakat bukan penekan masyarakat. Lambat laun, masyarakat sendiri akan menjadi pagar betis yang efektif untuk menjaga polisi dari ancaman luar.


Semangat pak Tito. Semangat Kepolisian Nasional. Selamat hari Bhayangkara dan salam secangkir kopi.