Selasa, 04 Juli 2017

KANDANG AYAM YANG MANGKRAK

Presiden Joko Widodo
Jokowi
"Trus, bagaimana menjawab pertanyaan bahwa Jokowi berbohong waktu kampanye, bang?". "Bohong apanya?".

"Itu. Yang Jokowi ngomong bahwa negeri ini bisa dibangun, dananya ada asal kita mau kerja. Eh, ternyata kita ngutang lagi ngutang lagi. Kalau cuman ngutang, siapapun bisa.."

"Masak sih siapapun bisa? Ada yang 10 tahun berkuasa dan berutang toh gak bisa juga membangun negeri ini?"

Diam.

Anggap saja begini. Kita punya ayah. Ayah kita meninggal. Ia mewariskan kita uang 10 juta dan hutang 100 juta yang sudah jatuh tempo. Bisakah kita melunasi hutang jatuh tempo itu dengan uang 10 juta?

Tentu tidak bisa.

Tapi kita juga mewarisi rumah seharga semilyar yang dijadikan jaminan bank untuk hutang 100 juta itu. Kalau hutang 100 juta tidak dibayar, maka rumah semilyar akan dilelang.
Dijual saja rumahnya ? Tidak boleh. Begitu wasiat almarhum ayah. Kalau begitu apa yang harus dilakukan ?

Duduk sejenak dan berfikir. Daripada sibuk mencaci lebih bagus melihat solusi.

Cara melihat solusi adalah melihat potensi. Apa sih potensi diri kita ? Mau kerja. Oke. Itu satu.
Potensi lain ? Coba lihat rumah kita. Letaknya strategis di pinggir jalan. Dekat dengan keramaian. Nah, kenapa kita gak bikin rumah makan sederhana aja ? Toh selama ini kalau kita masak, dipuji sama banyak orang..

Tapi duitnya darimana ? Modal bikin rumah makan 30 juta, sedangkan uang cash yang diwariskan cuman 10 juta. Itu juga sebagian dipake buat nyicil hutang supaya rumah gak disita..

Kalau begitu, kita minta tambah pinjam dana dari bank 20 juta. Jaminannya ? Ya rumah yang digadaikan itu.

Kita bikin konsep, coret2an peluang dan resiko, lalu kita maju ke bank. "Bank, bisa gak lu tambahin gua uang 20 juta lagi untuk bangun rumah makan bla bla bla.. Hasil dari rumah makan ini akan bisa nyicil hutang ke elu sampe lunas..."

Bank melihat potensi usaha kita..

Inilah yang disebut "uangnya ada". Yang dimaksud bukan uang cash yang kita punya, tetapi "potensi" mendapatkan dananya. Kita masih punya kekayaan yang harus diuangkan supaya kita bisa bergerak sebagai modal usaha.

Jadi Jokowi tidak berbohong. Cuman ada yang gagal paham aja dengan kata "dananya ada".
Apakah semua rumah yang digadaikan ? Entar kalau usahanya gagal gimana ? Ya, kita harus pintar dong. Kita gadaikan yang garasi saja yang menghadap ke jalan untuk tempat usaha. Kalau pun gagal usahanya, garasinya kita lepas.

Tapi masak sih gagal kalau kita mau kerja ?
Akhirnya bank setuju dan mulailah kita mendapat tambahan modal. Sesudah dapat modal, baru kita kerja, kerja dan kerja.

Begitu skema sederhananya "apa yang terjadi" dan "apa yang harus dilakukan sebagai solusi" untuk menyelesaikan masalah di negeri kita..

Kita juga bisa membangun kerjasama dengan orang lain. Dia yang keluar uang untuk modal, kita yang punya tempat. Hasilnya dibagi. Apapun akan kita lakukan untuk bisa membayar hutang kepada bank dan mengembalikan rumah kembali menjadi milik kita lagi.

"Trus apa bedanya dengan yang dulu, bang ? Yang dulu kan juga begitu sama seperti Jokowi, hutang dengan menggadaikan rumah ?"

"Yang dulu itu malas dan gak bisa bisnis. Hutang 100 juta buat bikin kandang ayam. Kandangnya cuman 5 juta, sisanya dibuat mabuk2an ma teman2nya dan ayah mewarisi hutangnya.
Sekarang kandang ayamnya mangkrak.."

Temanku berfikir keras. Sepertinya kata "mangkrak" sangat familiar buat dia..

Ah, kutinggal seruput kopi saja..