Rabu, 19 Juli 2017

MARI GUS, REBUT KEMBALI

Gus Yaqut
Ansor
"Bapak mau ketemu..". Pesan itu datang. Oke, siap-siap. Aku pun meluncur ke jalan Medan Merdeka. Sampai disana waktu masih ada setengah jam, sampai pula Ketum GP Ansor Gus Yaqut bersama Kepala Banser Alfa Isnaeni.

Hari ini kami akan menemui Menkopolhukam, Wiranto.

Entah kenapa aku merasa senang tadi itu. Kepingan-kepingan puzzle mulai bertemu dan tersusun. Mulailah tampak bayangan jelas bagaimana bentuk gambar negara ini nanti.

Ansor memang sedang naik daun dibawah kepemimpinan Gus Yaqut, keponakan Gus Mus ini. Lelaki besar yang sejak dulu tukang berantem ini, tidak seseram gambarnya dimana2. Ia sangat ramah, humoris dan terbuka. Pribadi yang menyenangkan mengingat ia memimpin sekitar lebih dari 1,5 juta anak muda yang siap menerima komandonya.

Dan tulisanku tentangnya dan organisasi besarnya-pun menembus ruang2 gelap yang selama ini tertutup rapat. Sampailah ke meja mantan Panglima TNI, bapak Wiranto, yang baru saja menghebohkan karena mengumumkan terbitnya Perppu untuk membubarkan HTI.

Dalam obrolan tadi, Ansor menyatakan sikap tegas mendukung pemerintah jika pemerintah-pun tegas, karena tugas Ansor dan Banser adalah menjaga NKRI jangan sampai lepas karena perilaku ormas radikal.

Memang negeri ini sekarang butuh anak-anak muda yang tergabung dalam ormas Ansor dan Banser ini. Merekalah antivirus yang efektif jika ingin menyembuhkan negeri ini dari kebodohan yang massif dipompakan ke otak2 fanatik dan siap menjadi mesin perang itu..

Saya mengusulkan pak Wiranto menyiapkan payung cadangan karena dampak pembubaran ormas itu tidak main2. "Jika mereka tidak punya baju organisasi, lalu bagaimana pemerintah bisa mendeteksi mereka di kemudian hari ?"

Jangan sampai mereka menjadi lone wolf baru, sel-sel tidur yang baru.

Karena itu kembalikan proses de-radikalisasi mereka kepada rakyat, jangan lagi ke pemerintah karena mereka sudah pasti anti kepada pemerintah. Dan GP Ansor juga Banser adalah salah satu perwakilan rakyat yang siap untuk itu.

Jadikan Ansor dan Banser sebagai kekuatan ekonomi Islam yang baru. Berikan modal mereka untuk membangun usaha-usaha di seluruh negeri.

Dengan ekonomi yang mapan, maka Ansor akan siap merangkul saudara-saudaranya yang muslim supaya mereka tidak lagi lapar dan bermimpi bahwa yang menyelesaikan masalah ekonomi mereka adalah khilafah..

Ini memang proses panjang, tetapi sudah harus dilakukan. Karena infrastruktur yang megah bagaimanapun tidak akan bisa memperbaiki mental manusia. Yang bisa membenahi mental manusia adalah manusia lainnya..

Akhirnya tercapailah kesepakatan bersama. Dan sebelum pulang, seseorang bertanya kepada saya, "kira-kira tema apa yang akan kita pakai untuk memulai program ini ?"

Kopi yang sudah kuraih, tertahan diudara. Aku berfikir sebentar dan berkata, "Karena proses ini dikawal oleh warga NU melalui perwakilan Ansor dan Banser untuk merebut kembali konsep Islam dari tangan para fundamentalis, kita serukan saja Mari Gus, rebut kembali.. "


Kuseruput kopiku. Terimakasih pa Wiranto. Terimakasih Gus Yaqut.. Kita kembalikan Indonesia menjadi sebagaimana yang diperjuangkan oleh para pejuang kita dahulu.