Sabtu, 01 Juli 2017

MARKETING ALA JOKOWI

Marketing
Jokowi
Musim liburan sudah hampir selesai.

Salah satu catatan saya dalam musim liburan ini adalah bertebaran di beranda foto-foto dari banyak teman saat mereka berlibur ke luar negeri. Ada yang ke London, ada yang ke Aussie, Singapura dan Malaysia yang terbanyak.

Seminggu sebelum lebaran, saya iseng bertanya kepada teman yang sering berhubungan dengan "orang-orang super kaya". Saya nanya, "mereka itu biasanya liburan dimana ya ?" Temanku bilang, "Oww, mereka sudah pada terbang ke Eropa. Paling singgah dulu di Singapura - rumah kedua mereka. Trus, langsung bertebaran di Eropa.."

Saya kagum dengan semangat liburan menjelang Lebaran ini. Meski Lebaran adalah hari raya umat muslim, tapi yang merayakan dengan liburan sesungguhnya adalah semua agama tanpa kecuali. Ya iya, mau kerja apa wong pada mudik semua kecuali bidang kerja yang berurusan dengan publik.

Tapi ada satu berita yang membuat saya lumayan tersenyum. Pak Jokowi berlebaran di Kebun binatang Ragunan.

Biasa saja sebenarnya jika ia bukan Presiden Republik Indonesia. Yang luar biasa adalah alasannya, "Soalnya murah..". Dan Jokowi beserta rombongan keluarganya masuk dengan membayar tiket Rp. 4ribu per orang. Bandingkan dengan Dufan yang mencapai Rp. 300 ribu dan Trans Studio Rp. 270 ribu per orang.

Ragunan pasti membludak di hari libur oleh masyarakat kelas menengah bawah yang tidak mungkin membeli tiket lebih dari Rp.10 ribu rupiah per orang. Tapi disanalah Jokowi dan keluarga, di tengah-tengah mereka menikmati pemandangan yang sama.

Ragunan juga sudah pasti panas karena ruang terbuka. Tapi disanalah Jokowi dan keluarga, berbaur saling mencium aroma ketek yang mengalir deras karena banyak pengunjung yang jarang pake deodoran. Dan - seperti biasa - Jokowi tidak lupa bagi-bagi hadiah seperti buku tulis dan lain-lain.
Pencitraan? Bisa jadi. Tapi itu pencitraan yang bagus..

Jokowi memantapkan image-nya sebagai "Bapak Rakyat". Citra yang ia bangun - sadar atau tidak sadar - yang mulai merangkak naik menuju konsep yang sama dengan yang pernah dicitrakan ke Soeharto sebagai Bapak Pembangunan.

Yang membuat orang simpati - meski juga menebak dalam hati bahwa ini bagian dari pencitraan Jokowi - adalah seluruh keluarganya ikut serta. Mereka tampak berbaur dengan masyarakat, karena secara dandanan tidak ada yang mewah berlebihan. Bandingkan dengan keluarga pak Mantan yang berlibur ke pantai aja pake batik yang mahal.

Jokowi mampu menempatkan dirinya sesuai target marketnya. Ia tidak memunculkan diri sebagai orang yang perduli wong cilik, tapi takut kepanasen. Ia ada diantara mereka.

Dan menariknya, ia tahu dimana rakyat kelas menengah bawah terbanyak berlibur waktu itu. Kebun binatang. Siapa coba yang kepikiran ke Kebun binatang ??

Jokowi liburan tidak ke pantai, tidak ke Mall, tidak mengurung diri di istana bogor, ataupun silaturahmi dengan pejabat2. Tapi ia ke Kebun binatang. Sebuah kemampuan analisa pasar yang bagus yang jarang terpikir oleh banyak orang.

Ini memang menuju Pilpres 2019, siapapun tahu itu. Tapi Jokowi dengan cerdik memainkan konsep liburan dengan sedikit kampanye yang ttidak kelihatan, sehingga menjadi biasa saja. Tetapi image yang tertanam bahwa ia "Bapak Rakyat" akan semakin menancap kuat di benak kalangan kelas menengah bawah, yang juga pemilih terbanyak.

Jokowi tidak mengandalkan Instagram sebagai tempat mencari simpati. Ia tidak mengandalkan Facebook dan Twitter untuk melambungkan namanya, apalagi dengan cerita cinta-cintaan ma istri seperti si Gubernur tea. Ia mencari tempat dimana kerumunan berkumpul dan terjun langsung kesana, lalu tersebar luaslah berita tentangnya..

Apalagi dengan judul yang menarik. "Gorilla yang biasa berontak, dikasih kurma oleh Jokowi, tiba-tiba tenang.."

Jokowi adalah pemain simbol. Cuman saya juga kurang tahu siapa yang ingin disindirnya kali ini. Apakah seseorang yang mirip Gorilla? Atau yang suka makan kurma? Atau seseorang yang mirip Gorilla dan suka makan kurma?

Saya jadi agak curiga, karena banyak lawan politik Jokowi yang suka makan kurma, cuman mereka kurang mirip Gorilla. Kambing, lebih tepatnya..

Saya senang gaya kampanye Jokowi, begitu halus dan tampak natural. Jokowi tidak membuat baliho bergambar wajahnya dimana2, tidak membuat iklan tv di semua channel, tidak memasang iklan satu halaman di koran-koran, sambil pake baju koko putih, peci dan tangan sedekap di dada bak orang suci sambil senyum palsu ucapkan selamat lebaran.

Murah meriah kampanyenya. Semurah kurma untuk Gorilla yang tidak pulang-pulang.. Eh??. Seruputttttt.