Sabtu, 29 Juli 2017

MASA DEPAN INDONESIA DI TANGAN ORANG- ORANG MUDA

Banser
Ansor
"Oke, saya ikut berperan untuk ekonomi Ansor & Banser. Bagaimana kalau satu pabrik saya dijaga oleh Banser?".

Seorang pengusaha kakap gurikap memberikan alternatif model untuk membantu ekonomi Ansor dan Banser. Kami berbicara dalam sebuah diskusi yang menarik dengan beberapa pengusaha. Sambil ngopi tentunya..

Geraham saya terkatup keras. Hati saya mendidih. Tetapi saya berusaha tenang dalam menyampaikan apa yang ada dalam pikiran selama ini.

"Dengan segala hormat, bapak.. terimakasih atas bantuannya. Tetapi sungguh itu bukan solusi. Dan itu tidak menghibur sama sekali". Saya seruput kopi di depan saya dan kulihat para pengusaha itu tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut.

"Musuh kita selama ini dibiayai dengan ekonomi yang kuat sekali. Jaringan ekonomi mereka dimana-mana, mulai migas sampai retail. Dan ketika mereka ingin menggerakkan "pasukan" mereka, tinggal mengalirkan dana saja, maka goyahlah kita.

Dan Ansor sama Banser tetap tidak bisa mengerahkan pasukannya untuk melawan mereka. Kenapa? Karena sumber ekonomi mereka kalau gak dari pendapatan umroh, ya dari jaga pabrik bapak itu".

Tidak mudah berbicara dengan mereka, para pengusaha itu. Sekat tebal masih kuat karena ini menyangkut ekonomi, bidang yang selama ini mereka kuasai. Mereka terbiasa diperah oleh kepentingan politik sehingga ketika ada yang berbicara tentang ekonomi, mereka sudah membuat benteng tebal terlebih dahulu.

Saya lanjutkan, "Tolong jangan lihat Ansor dan Banser sebagai pekerja bapak, tapi lihat mereka sebagai partner. Jangan lihat Ansor dan Banser sebagai organisasi, tetapi lihat sebagai potensi.

Kita sepakati cara pandang ini dulu. Kalau pandangan kita sudah sama, saya lanjutkan perbincangan ini.."

Semua terdiam. Seorang yang terlihat lebih berpengaruh dan bijak dan diam sedari tadi, akhirnya mulai angkat bicara, "Kami mendengarkan..". Saya harus masuk pada poin ini, meluruskan cara pandang mereka yang salah selama ini.

"Oke, kalau begitu. Tadi sudah saya jelaskan bahwa Ansor dan Banser mempunyai potensi 1,7 juta anggota mereka di seluruh Indonesia. Mereka juga punya cabang lebih dari 300 di seluruh Indonesia.

Bukankah ini potensi?

Belum lagi potensi para nahdliyin -warga NU- dibelakang mereka yang berjumlah sekitar 40-50 juta orang. Dan inilah potensi yang mereka miliki, potensi sumber daya manusia dan jaringan". Saya ajak mereka melihat Ansor dan Banser sebagai sebuah potensi ekonomi, bukan lagi sebatas organisasi. Mudah-mudahan mereka paham.

"Bapak punya Bank, salurkan kredit lunak kepada organisasi Ansor dan Banser untuk membeli properti di wilayah-wilayah strategis di setiap daerah. Jadikan properti itu sebagai jaminan atas kredit.

Diatas properti itu, dibangun unit-unit usaha untuk bisa membayar cicilan lunak Bank bapak. Misalnya, Ansor-Mart. Kemudian bangun distribusi online untuk mereka. Dengan begitu, Ansor dan Banser meskipun punya hutang di Bank tetapi mereka juga punya aset.

Buatkan mereka grup usaha, PT Ansor & Banser misalnya. Grup itu membawahi unit-unit usaha Ansor dan Banser. Tarik para profesional ke dalam unit-unit usaha itu dan kembangkan menjadi unit-unit usaha yang kompetitif dan besar. Kalau bisa, dalam waktu 10-20 tahun lagi, jadikan grup itu sebagai PT Ansor & Banser Tbk.

Dengan adanya kekuatan ekonomi Ansor dan Banser di daerah-daerah, maka mereka tidak perlu lagi minta dana kepada pengusaha untuk sekedar membela negeri ini dari para radikal. Ansor dan Banser akan menjadi kekuatan ekonomi Islam baru yang bergengsi. Dengan begitu, Ansor dan Banser akan diminati para muslim awam yang ingin bergabung dalam organisasi dan mereka terhindar dari paham radikal yang menyuburkan benih-benih kebodohan.

Suka tidak suka, bapak-bapak pengusaha hidup di lingkungan mayoritas muslim. Kenyangkan mereka dengan membantu ekonomi mereka. Kalau mereka lapar, mereka cenderung anarkis dan bapak-bapak juga yang susah nantinya.

Itulah yang dinamakan jadikan mereka partner bukan pekerja. Bapak tetap untung dalam berusaha karena konsepnya business to business. Semua senang, semua kenyang dan negara aman.."

Mereka manggut-manggut setuju dan mulai mengerti. Hanya satu orang yang masih tetap waspada dan kembali bertanya hal yang terpenting..

"Bagaimana anda bisa meyakinkan kami bahwa Ansor dan Banser bisa seperti itu?".

Kuhabiskan kopi dicangkirku dan melanjutkan. "Tentu tidak bisa. Ansor dan Banser mentah dalam masalah ekonomi. Mereka tidak mungkin bisa seperti apa yang saya bicarakan tadi.."

Aku diam sejenak sebelum melanjutkan..

"Tapi bapak-bapak bisa. Bapak-bapak yang hadir disini matang dalam masalah ekonomi. Bapak pilih CEO yang handal dari lingkungan bapak dalam masalah ini. Gaji yang besar jika perlu. CEO itulah yang menjamin bapak bahwa organisasi Ansor dan Banser bisa melakukan itu semua.

Pimpin Ansor dan Banser melakukan transformasi dalam waktu 5-10 tahun. Kaderisasi mereka, ajari mereka cara bisnis yang baik dan benar. Jika mereka sudah matang, lepaskan dan jadikan mereka partner yang sama-sama menguntungkan.."

Seisi ruangan seperti berdengung. Mereka sibuk kasak kusuk dengan orang sebelahnya. Terserah apa jadinya, yang penting saya sudah menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya..

"Ayo kita duduk dan petakan bersama. Sepertinya itu ide yang bagus dan logis untuk dibicarakan secara teknis.." Orang yang bijak itu angkat bicara sambil tersenyum.

Ah, saya butuh secangkir kopi lagi. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik dan bukan hanya mimpi.
Saya melihat Islam Indonesia di masa depan bukan lagi hanya sebatas sarungan apalagi gamisan. Tetapi sudah memenuhi meja-meja lobbi dengan pakaian khas pengusaha mapan, membicarakan proyek-proyek milyaran dan membangun ekonomi bersama. Betapa indahnya ketika dua kekuatan bersatu, bukan lagi saling curiga akan perbedaan.


"Kejahatan yang teroganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.." Imam Ali as.