Minggu, 16 Juli 2017

OTAK CILOK

#telegramdiblokir
Sumbu Pendek
Saya bingung dengan pemikiran kaum bumi datar masalah pemblokiran Telegram ini. Sederhana sebenarnya masalahnya. 

Telegram sering dipake teroris untuk berkomunikasi karena mereka lebih aman dan tidak bisa "diintip" pihak ketiga dengan alasan apapun. Dan hasil penyelidikan dari teroris yang ditangkap, mereka malah belajar membuat bom dari chatting di Telegram itu. 

Dan pemerintah sudah meminta klarifikasi kepada pemilik Telegram untuk "masuk" dan mengawasi semua perbincangan disana terutama yang berkaitan dengan kegiatan terorisme. Tapi tidak pernah dianggap dan dijawab oleh pemilik Telegram. 

Akhirnya langkah terakhir, di blokirlah Telegram sebagai peringatan. Ingat, sebagai PERINGATAN..
Ketika di blokir oleh pemerintah RI. Telegram yang awalnya sok gak butuh, akhirnya panik juga. 

Kenapa? Karena pengguna Telegram di Indonesia banyak. Jadi kalau Telegram di blokir, yang rugi siapa? Telegram atau pemerintah RI?

Jelas, Telegram merugi secara bisnis..

Itulah yang dinamakan kedaulatan. Siapapun yang bisnis di sini, harus ikuti peraturan di sini. Jangan sono yang ngatur-ngatur..

Dan ancaman itu berlaku juga buat Youtube, Facebook, Whatsapp dan semua media sosial lainnya. Pemerintah menggertak dengan memblokir Telegram sebagai contoh buat yang lain, bahwa negara ini jangan dibuat main-main.

Apakah media selain Telegram pasti diblokir ?? Tentu tidak, asal mengikuti peraturan yang ada..
Telegram juga akan dibuka kembali blokirnya jika mereka mematuhi peraturan pemerintah...
Gitu lho sonnnn.. Itu namanya WIBAWA. Harus ditunjukkin, jangan cuman dibilang ngancem doang..

Masak gini aja gak tauuuuu?

Mangkanya, belajar paham itu penting, sehingga gak mudah dibodohin. Belum apa2 sudah panik, terus caci maki..


Dasar otak cilok.. Bumbunya doang pedes, gizinya nehiii..