Jumat, 28 Juli 2017

PARA MAKELAR YANG TERGUNCANG

mafia beras

Mafia Beras 
Membaca tulisan pak Rhenald Khasali selalu menarik. Dari tautan seorang teman, pak Rhenald berbicara tentang bagaimana paniknya para "middle man" atau para perantara yang selama ini menguasai ekonomi Indonesia. Para perantara ini ada di semua sektor apa saja. Mulai dari proyek pemerintah dgn nama keren makelar proyek, sampai komoditi pokok pangan. Contoh middle man dalam komoditi beras ya seperti PT IBU itu lah.

Kenapa mereka panik? Disini menariknya.

Kebijakan Jokowi dengan kontrol ketatnya pada berbagai bidang seperti penetapan Harga Eceran Tertinggi atau HET membuat keuntungan PT Gulaku drop. Jadi bisa dibayangkan keuntungan PT IBU yang kemaren bermain di beras juga akan mulai drop dengan kontrol ini. Selain itu, berkat adanya tol laut maka para pedagang di wilayah timur Indonesia bisa mendapat barang langsung dari produsen tanpa melalui perantara dari Jakarta, Bandung dan Surabaya. Di luar kebijakan Jokowi, pengaruh internet juga sangat kuat menghapuskan peran para middle man.

Pak Rhenald juga menyoroti dropnya pendapatan para grosir-grosir besar yang biasanya mengambil keuntungan dari UMKM. Grosir besar yang biasanya suka menekan harga beli dan baru membayar 4-5 bulan, sekarang banyak kehilangan pasar. Para UMKM sudah mulai menggunakan online utk memasarkan barangnya dan produsen pun mulai mengatur jalur distribusinya. Itulah kenapa banyak toko-toko yang berada di mall banyak yang tutup karena rantai produsen dan konsumen sekarang sudah bertemu tanpa perantara middle man.

Karena mulai terdesak ekonominya inilah para middle man serentak berteriak, "DAYA BELI TURUN!!"

Benarkah turun?

Pak Rhenald mencoba mengamati dari beberapa titik, salah satunya adalah jasa pengiriman barang JNE. JNE mengalami situasi kegiatan pengiriman yang jauh lebih padat dari sebelumnya. Beberapa bulan terakhir, JNE sudah menambah pegawai sampai 500 orang.

Inilah yang disebut pak Rhenald sebagai shifting atau perpindahan posisi. Ekonomi yang biasanya dikuasai oleh para perantara atau middle man itu - yang biasanya berkumpul di pulau Jawa - berubah dan bergerak merata. Meskipun belum sampai ke tingkat paling bawah atau pra sejahtera, setidaknya ada geliat ekonomi di arus bawah karena mereka bisa langsung bertransaksi tanpa harus membayar biaya lebih kepada perantara.

Akibatnya, para middle man yang biasanya mendapat keuntungan besar dengan cuman modal uang dan jaringan itu pun teriak, "DAYA BELI TURUN!!". Ya, daya beli mereka, bukan seluruh rakyat Indonesia. Dan kemana kesalahan ini mereka timpakan? Ke Jokowi lah, siapa lagi. Kan harus ada yang salah.

Saya pernah menulis beberapa tahun lalu saat melihat apa yang dilakukan Jokowi.

"Jokowi ini ibarat seorang nahkoda yang membelokkan kapal besar bernama Indonesia yang selama ini bergerak ke jalur yang salah. Belokan tajam yang dilakukan Jokowi akan mengakibatkan perubahan besar-besaran dalam ekonomi Indonesia dan akan menimbulkan korban-korban. Para korban ini adalah mereka yang selama ini mengambil keuntungan besar dari salah jalurnya kapal besar ini".

Ah, saatnya minum kopi sore hari.