Rabu, 30 Agustus 2017

JONRU GINTING

Kader PKS
Jonru Ginting
Saya lupa kapan saya akhirnya tahu nama Jonru.

Mungkin sesudah pilpres 2014. Ketika itu teman-teman kecil saya banyak yang menshare postingannya dia. Atau ketika saya buat status, banyak teman-teman yang komen tentang statusnya dia.

Dari situ saya mengenal Jonru yang ternyata orang Batak juga seperti saya. Hanya saya Batak positif, karena rajin belajar, bukanlah congkak dan bukanlah sombong..

Saya fine-fine saja di awalnya karena toh dia bebas menuliskan apa saja di statusnya. Saya juga sedang asik menulis status renungan pada masa-masa itu.

Saya baru bereaksi ketika Jonru secara terang-teramgan menghina Presiden Jokowi dengan menghantam orangtua beliau, terutama bunda yang dicintainya. Jonru secara tidak langsung menuding bahwa ibunda Jokowi yang sekarang bukanlah bunda yang sebenarnya.

Bagaimana bisa orang menjadi begitu kejam ? Begitu pikir saya pada waktu itu. Apa salah bunda Jokowi kepadanya sehingga layak dituding seperti itu ?

Geram dengan kelakuan Jonru yang semakin lama semakin kurang ajar tanpa ada reaksi dari pihak aparat, saya pun bereaksi dengan mem-bully dia secara sindiran.

Meskipun begitu Jonru bisa dibilang hebat karena tidak secara konfrontatif membalas postingan saya tentang dia. "Saya tidak ingin ada orang terkenal dengan memanfaatkan nama saya.." begitu kalau tidak salah isi komennya yang di screenshoot seorang teman dan dikirim kepadaku.

Wah, jadi Jonru mengangap dirinya orang terkenal.. Okelah kalau begitu.

Dan - entah kenapa - sayapun sering disandingkan dengan dia, sebagai antitesa. Mungkin karena sama-sama Batak, jadi disebut All Batak's Final.

Jonru memang fokus meng-kapitalisasi namanya.

Di pagenya dengan 7 juta follower versi 212 itu, dia mengundang orang untuk memasang iklan dengan bayaran. Karena segmen market pagenya yang masuk demograsi S - senang tidak, susah belum tentu - maka dia hanya bisa jualan barang2 kebutuhan utama followernya, seperti sprei anti ngompol dan obat nyamuk.

Saya tidak tahu berapa pendapatannya dengan menjadikan page-nya sebagai toko kelontong. Lama-lama dia memperlebar usahanya dengan konsep sedekah, yang mengutip sekian persen dari uang sedekah, sebagai biaya admin katanya...

Disanalah dia mendapat penghasilan sehari-hari untuk memberi makan keluarganya karena seminar "bagaimana menulis dengan benar" yang dia adakan - kabarnya - pesertanya hanya dihadiri 11 orang saja. Itupun 10 diantaranya adalah panita.

Semakin lama saya bukannya kesal, tapi malah merasa kasihan...

Jonru harus terus berada pada posisi berlawanan dengan pemerintahan sekarang, kadang dengan tulisan dan meme yang sangat menghina - supaya pagenya tetap dikunjungi orang.

Coba saja bandingkan status-nya ketika dia menghina - yang dibilangnya mengkritik - langsung di like puluhan ribu orang, dengan tulisan tentang sedekah yang mampir segan ngelikepun jarang.

"Dia butuh uang buat makan..." begitu kata saya kepada seorang teman. Jonru semakin lama menggali kuburnya semakin dalam karena page-nya harus tetap bertahan untuk aktif. Dan apalagi yang harus dia lakukan jika tidak membuat status yang kontroversial ?

Dan dia juga harus mempertahankan brand-nya sebagai musuh Jokowi, karena itulah yang membuatnya tetap bertahan. Coba saja dia sekali-sekali memuji Jokowi atas prestasinya, pasti dia akan ditinggalkan penggemarnya..

Jadi akhirnya bisa saya simpulkan, bahwa Jonru harus mengikuti pasar. Pasar-lah yang membentuknya. Dia menulis bukan karena dia ingin menulis, tetapi karena dia harus mempertahankan klien-nya. Karena pengunjung di page adalah periuk nasinya.

Jonru bukan lagi menjadi "apa yang saya pikirkan" tetapi "apa yang bisa memuaskan pasar". Kasian, kan ?

Tapi yah itu memang jalan yang dipilihnya dan sayapun meninggalkan dia tanpa pernah berkomentar lagi terhadap apa yang ditulisnya. "Satu saat dia akan menuai apa yang dia terima.." Begitu bisikan hatiku sambil minum kopi di warung tiga rebuan.

Lama tidak melihatnya karena teman2 saya tidak ada lagi yang menshare statusnya, akhirnya saya mendapat kabar dia muncul di tipiwan sebagai pembicara.

Dan hebohlah jagad medsos dengan kemunculannya di tipi dengan bodi gagah, suara tegas menggelegar dan janggutnya yang semakin lama semakin panjang bak perisai. Jonru bisa disamakan dengan Thor tapi versi bumi datar.

Saya jadi teringat komen seorang penggemarnya pada waktu itu. "Bang Denny itu iri karena followernya kalah banyak sama Jonru.."

Saya tersenyum saja sambil membalas dengan tenang. "Kalau ukuran kebenaran hanya dari berapa banyak followernya, kabarnya iblis punya follower banyak nanti di neraka. Jadi kamu menyamakan Jonru dengan iblis ?"

Ah, semoga Jonru tetap ada suoaya bisa menjadi hiburan buat kita semua.

Kalau orang itu dikenal sebagai visioner, Jonru bisalah kita bilang sebagai terbalikioner. Kalau visioner selalu berfikir "keluar kotak", terbalikioner jarang berpikir karena "otaknya kotak".

Seruput yuk, Ginting?