Senin, 14 Agustus 2017

KANG EMIL & IBADAH KREDIT

Walikota Bandung
Ridwan Kamil
Helmi Hasan, Walikota Bengkulu gundah.

Setiap subuh dia melihat kenyataan sepinya masjid. Ia lalu berfikir bagaimana supaya masjid penuh. Akhirnya ia merancang program "BENGKULU RELIGIUS", yaitu program siapa yang taat ke masjid dapat hadiah mobil Inmova..

Program ini banyak yang menentang meskipun banyak juga yang mendukung.

Pada akhirnya setelah 2 tahun program ditutup karena kata Helmi politisi PAN ini, ia harus mengembalikan kembali fungsi masjid sebagai tempat ibadah karena Allah bukan karena hadiah..
Dan sesudah program itu selesai, maka masjid pun surut kembali dari jamaah yang ibadah subuh...
Ndilalah, program lama ini diteruskan Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan konsep berbeda..
RK panggilan singkatnya, mencanangkan program "BUTUH DUIT, AYO KE MASJID". Program ini bersifat pinjaman maksimal 30 juta yang dikelola oleh DKM-DKM bekerjasama dengan BPR. Yang bisa meminjam, tentu saja yang katanya rajin ke masjid..

Entah kenapa masih banyak orang yang mengiming-imingi ibadah -yang notabene adalah kegiatan spiritual- dengan hadiah material.

Padahal sejatinya spiritual dan material adalah dunia yang jauh berbeda yang tidak bisa disatukan. Mereka yang terjebak material jelas kering dari hal spiritual, begitu juga mereka yang sudah memasuki dunia spiritual tidak lagi terikat dengan hal yang material.

Lalu kenapa ada pemimpin daerah yang berusaha menggabungkannya?

Ada dua faktor sebenarnya. Pertama, mereka tidak mengerti konsep spiritual dan kedua karena politis.

Melihat kasus Helmi dan RK, jelas ada hubungannya dengan politik menarik simpati umat Islam. Helmi sudah sadar bahwa ia salah sedangkan RK baru memulai. Apalagi mendekati Pilgub Jabar 2018, terlihat jelas bahwa ada udang dibalik bakpau.
Diluar masalah spiritual dan material, RK harusnya paham bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan.

Pertama, salah karena mengiming-imingi ibadah dengan pinjaman. Kedua, RK -sebagai seorang moderat- seharusnya paham bahwa masjid sekarang banyak diduduki kaum radikal. Peristiwa Pilgub DKI seharusnya membuka mata bahwa masjid adalah tempat berkembang biak paling aduhay untuk mereka.

Seorang teman yang bekerja di pemerintahan berkata, bahwa banyak program beasiswa untuk muslim disalah-gunakan untuk mengembangkan ideologi kaum radikal.

Bagaimana caranya? Ya dengan memanfaatkan program beasiswa itu bagi kelompok mereka saja. Dengan begitu mereka memanfaatkan program pemerintah untuk membesarkan kelompok mereka.

Nah, apa tidak mungkin pinjaman melalui masjid itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan politis kelompok tertentu? Kalau ga gabung dengan ormas tertentu misalnya, gak bakalan dikasi pinjaman...
Lihat, kesalahan satu akan diikuti kesalaham lainnya. Seperti bola salju yang makin lama makin membesar dan pada satu waktu akan sulit memadamkannya..

Kembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah tanpa embel-embel lainnya. Sebagai seorang pemimpin seharusnya paham mana yang benar dan mana yang salah karena tanggung jawab keputusan itu sangat besar..

Lagian sebagai pemimpin yang mengayomi semua umat, kenapa tidak gereja, vihara dan tempat ibadah lainnya tidak mendapat perlakuan yang sama ? Katanya harus mematuhi sila ke lima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia..

Sudah cukup kita terluka dengan peristiwa Pilgub DKI yang malah akhirnya membentrokkan sesama muslim karena penguasaan masjid untuk kepentingan politik kelompok pendukung si anu. Jangan lagi masjid ditunggangi untuk nafsu duniawi belaka..

Kata seorang teman lagi, biasanya mereka yang tidak punya program kerja bagus, akan berlindung dibalik agama untuk mendulang suara.

Kang Emil pasti tidak begitu kan? Mudah-mudahan tidak. Kalau iya, saya sebagai warga Jakarta pasti tidak akan lagi memilih Kang Emil. Tidak mungkin, nehi!!


Mending saya nyeruput kopi di rumah saja...