Jumat, 25 Agustus 2017

KETIKA TUHAN MENJADI BABU

Agama
Beroda
"Apa semua doa kita dikabulkan Tuhan, bang?".

Sebuah pertanyaan mampir di inbox. Saya suka pertanyaan seperti ini, menggali kembali nilai-nilai spiritual sekaligus sebagai pengingat.

"Hidup itu ada kuncinya. Kenali kunci-kunci hidup, maka selamanya kamu akan berjalan dengan tenang karena kamu paham.." Kata salah seorang teman yang juga guruku dalam memahami semuanya.

Dan perjalanan mencari kunci-kunci itu kutuangkan dalam buku "Tuhan dalam secangkir kopi" dan "Bukan manusia angka".

"Jika melihat sifat-Nya yang Maha pengasih dan Maha penyayang, secara logika, Tuhan pasti akan mengabulkan doa manusia - jika itu bersifat kebaikan. Meskipun doa atau harapan itu sifatnya hampir tidak mungkin kita dapatkan...

Sebagai contoh, pada kondisi yang miskin seperti sekarang, kamu berdoa supaya jadi Hari Tanoe kedua. Mungkinkah ? Mungkin saja. Dan dikabulkanlah doamu saat itu juga..."

Masih ada secangkir kopi meski sudah dingin. Lumayanlah, daripada gak ada. Kulanjutkan menulis jawaban untuk dia.

"Tetapi ada sifat lain dari Tuhan yang manusia lupa, bahwa Ia Maha adil. Terkabulnya doamu bukan berarti keinginanmu langsung jatuh di hadapanmu, tetapi ditempatkanNya di satu tempat.

Analoginya, ketika kamu sekarang berdoa ingin menjadi Hari Tanoe kedua, maka saat itu Tuhan kabulkan doamu segera dan ditempatkan di puncak gunung Jayawijaya. Kamu harus berjalan kesana dan mengambil sendiri apa yang kamu pinta...

Semakin tinggi doamu, maka semakin jauh dan berat perjalananmu menujunya. Kamu yang punya keinginan, kamu yang harus meraihnya". Kubakar sigaret yang tersisa. Sudah malam, apa masih ada warung buka ya ?

"Yang menarik, dalam perjalananmu menuju keinginanmu, Tuhan menawarkan peluang-peluang yang memungkinkan kamu raih saat itu juga. Peluang itu dihadirkan melalui seseorang atau peristiwa.

Dan kamu -dengan akalmu- akan meraihnya, sehingga sedikit demi sedikit perhatianmu teralihkan. Dengan begitu, maka keinginanmu juga bisa bergeser. Karena puncak Jayawijaya masih terlalu jauh, puncak pass juga gapapa-lah".

Apa masih ada warung yang buka ya? Kalo tutup semua kan asem mulutku semalaman? Kuselesaikan bait terakhir apa yang ingin kusampaikan.

"Perlahan-lahan akalmu berproses dan menerima kenyataan, bahwa sebenarnya menjadi Hari Tanoe kedua bukanlah keinginanmu sebenarnya. Kamu dituntun melalui peristiwa2, menuju dimana sejatinya dirimu berada.

Bisa jadi, awalnya pengen jadi orang sangat kaya, ternyata kamu malah menikmati menjadi orang biasa yang merdeka bebas dari ikatan materi yang ada. Karena menjadi kaya ternyata tidak senikmat yang kamu kira awalnya...

Itulah kenapa Tuhan selalu memerintahkan manusia untuk berfikir dan menggunakan akalnya. Karena semua peristiwa mempunyai makna dan manusia harus mampu mengambilnya.

Berjalan sajalah. Berdoalah supaya mendapatkan kebaikan dan biarkan Dia yang mengatur kita. Berusaha lalu ikuti arusnya, tidak usah melawan dan memaksakan keinginan.

Karena keinginan manusia sejatinya hanyalah nafsu. Manusia kebanyakan punya keinginan, lalu berdoa supaya Tuhan mengabulkannya. Tuhan dijadikan pesuruh tanpa sadar.

Dan jika tidak sesuai keinginan, lalu menghibur diri 'mungkin Tuhan tidak mengabulkan'. Padahal bukan Tuhan tidak mengabulkan, tapi kita sendirilah yang tidak keras usahanya menuju tempat terkabulnya doa..."


Ku "send" tulisanku, dan langsung bergegas mencari warung. Semoga masih ada yang buka. Iseng kuambil gelas kopiku dan menyeruputnya. Puihhh, tinggal ampasnya!