Sabtu, 05 Agustus 2017

KOMUNIKASI ALA ENNY ARROW

Rakyat
Jokowi
Sebenarnya masalah terbesar pemerintah kita sekarang ini bukan di programnya, tetapi di komunikasinya. Meskipun programnya bagus jika komunikasinya buruk, maka yang terjadi adalah kesimpang-siuran informasi. Karena informasi yang simpang siur itulah mudah dipelintir oleh mereka yang kontra. Pemerintah masih terlalu linear ketika menyampaikan sebuah permasalahan. Sebagai contoh, pencabutan subsidi listrik..

Bukannya sibuk menjelaskan dan memberi pengertian kenapa subsidi listrik perlu dicabut, pemerintah malah sibuk menyampaikan angka2 kepada publik. Jelas yang awam yang sudah pusing, makin puyeng pala berbie-nya..

Seharusnya penjelasan angka itu hanya informasi tambahan. Sedangkan informasi utamanya adalah kemana hasil pencabutan subsidi disalurkan. Ini masalah "angle" atau sudut pandang saja..

Jika diambil angle bahwa pencabutan subsidi listrik adalah bagian dari "konsep berbagi" kepada saudara sebangsa yang wilayahnya belum teraliri listrik, niscaya keributan sebagian besar bisa teredam.

Pemerintah harusnya sadar bahwa banyak masyarakat kita yang masih awam, karena itu bicaralah sebagaimana bicara kepada orang awam.

Contoh komunikasi buruk lagi adalah masalah garam...

Memang bu Susi benar di garam itu ada mafianya. Tapi seharusnya masyarakat di jelaskan juga bahwa kita sulit memenuhi swasembada garam karena kita tidak punya tambang garam.

Negara pengekspor garam bukan negara yang punya garis pantai terpanjang, karena tidak semua air laut bisa dijadikan garam. Apalagi teknologi kita masih jelek banget.

Australia bisa menjadi pengekspor garam karena mereka punya tambang garam, bukan karena mereka mengandalkan proses air laut menjadi garam..
Contoh yang lain adalah ketika Telegram diblokir..

Masalah diblokirnya Telegram itu masalah sederhana sebenarnya, yaitu masalah kedaulatan negara. Negara berhak mengatur siapa saja yang berbisnis disini, bukan malah diatur.

Bukannya menitik beratkan pada pesan itu, Menkominfo malah main ancam2an ke Youtube, Facebook dan Google. Ya jelas dipelintirlah oleh kaum sempak bergambar mawar bahwa media sosial akan ditutup..

Jadi kebayang kan, bagaimana sulitnya menyampaikan sesuatu atau berkomunikasi itu?

Sama sulitnya ketika para Rasul harus menyampaikan firman supaya manusia berbuat baik kepada sesama dengan gaya bahasa terendah, kepada manusia yang masih bodoh dan barbar kala itu...

Sama sulitnya ketika anak kecil kita bertanya, "Pa, seks itu apa?".

Kita sibuk membuka Enny Arrow hanya untuk mencari jawaban yang simple yang tidak memalukan. "Seks itu adalah ketika dua orang dewasa saling menggelomoh dan menyosoh sehingga salah satunya terkulai kelelahan berselimutkan keringat di sekujur badan.
Sesudah itu jadilah kamu, ya kamu nak..". Si anak bengong..