Rabu, 02 Agustus 2017

SECANGKIR KOPI TIDAK PERNAH MATI

Ritel
Market
Saya heran, kenapa selalu masalah diasosiasikan secara negatif ya. Ketika tidak ada pembelian di satu ritel besar tertentu, maka dipastikan daya beli menurun.

Kenapa tidak terpikir bahwa ekonomi mulai terbagi merata?

Sekarang banyak Fried Chicken lokal dengan nama bermacam-macam bahkan di setiap gang. Masyarakat tidak terjebak pada merk lagi ketika hanya membeli sepotong goreng ayam.

Begitu juga dengan roti. Banyak sekali usaha roti kecil yang berkembang dengan kualitas jauh diatas Sari Roti dengan harga lebih murah dan lokasi terjangkau. Produsen dan konsumen bertemu langsung tanpa melalui perantara besar.

Begitu juga ritel mart seperti Indomaret..

Banyak mart-mart lain yang tersebar tanpa harus bekerjasama dengan mart besar, yang cenderung mendominasi transaksi jual beli.

Mart kecil bermain di titipan tanpa menahan uang penjualan sampai 6 bulan, yang menbuat arus cash flow di produsen tersendat. Lebih murah sedikit gapapa-lah, yang penting pembayaran sebulan sekali, jadi bisa nafas.

Seharusnya situasi ini membuat para "pemain besar" sadar dan mulai merubah permainannya. Mereka sudah bukan lagi pemain utama dalam ekonomi tetapi sudah beralih menjadi perantara. Sebagai perantara seharusnya sudah mulai mengikuti perkembangan zaman sehingga produsen dan konsumen bisa diuntungkan.

Berbagi untung, begitu seharusnya mindset sekarang...

Saya jadi teringat kata bijak, "Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri.."
Ini zaman bukan lagi teriak, " merdeka ataoe mati !" tetapi sudah berganti, "berubah atau mati !"
Belajarlah dari secangkir kopi yang selalu mengikuti zaman bergerak kemanapun mereka mengembangkan diri.

Secangkir kopi itu abadi dan tidak pernah mati...

Seruput..