Senin, 28 Agustus 2017

SELAMAT PAGI, AHOK

Ahok
Ahok
Dear, Ahok..

Apa kabarmu hari ini? Pasti sedang olahraga sekaligus ngobrol dengan para petugas penjara. Dan pasti engkau mendominasi pembicaraan dengan cerita-ceritamu yang kadang kocak karena lugas, jujur dan tepat sasaran. Mereka akan jatuh cinta padamu bukan karena sosokmu, tapi karena pemikiran-pemikiranmu yang luar biasa.

Seorang teman berkata, Ahok itu lebih maju dari zamannya. Dia seperti Gus Dur dalam wujud berbeda. Yang tidak perduli apakah yang dia katakan akan menyinggung atau menohok sekalian. Yang penting dia sudah mengungkapkan apa yang ada di isi hatinya.

Benar sekali...

Ketika engkau, Ahok, bicara tentang menaikkan nilai sosial di masyarakat miskin yang puluhan tahun tinggal di pinggiran sungai yang kumuh dengan menyediakan rusun berikut isinya, mereka menolak.

Banyak orang yang lebih suka saudaranya tetap miskin supaya bisa dijual dalam bentuk proposal dan mendapatkan keuntungan materi di dalamnya. Banyak orang yang membutuhkan orang miskin dengan janji-janji manisnya, supaya tetap bisa mempertahankan suara pemilihnya.

Kemiskinan itu ternyata barang jualan..

Tetapi engkau tidak. Engkau membongkar budaya yang sudah berlangsung begitu lama, budaya pembodohan yang sudah mengakar, dan mendudukkannya kembali di tempat yang benar. Engkau malah ditolak...

Kau membangun banyak tempat berkumpul masyarakat melalui taman-taman dengan segala fasilitasnya, tanpa menggunakan APBD yang malah membebani negara. Kau memakai sistim CSR dari pengusaha, yang biasanya masuk kantong pribadi para politikus, untuk kenikmatan banyak warga.

Sistem yang sama kau pergunakan untuk membeli transportasi rakyat, membangun rusun-rusun istimewa bahkan membangun jalan layang dimana Habiburakhman tersesat di dalamnya. Tapi mereka tetap menolak...

Kau ditolak bukan karena apa yang kau kerjakan, tapi karena lumbung-lumbung tempat mencari makan para pengusaha tamak, para politikus hitam, para LSM makelar yang kehilangan mata pencaharian, para preman yang biasa menari diatas penderitaan orang, kau tutup semua..

Musuhmu terlalu banyak dan terlalu kuat. Semua melawanmu...

Tapi sudahlah. Tidak ada yang bisa berubah dalam sekejap mata. Semua membutuhkan proses dan usaha. Dan keinginan kuat dari semua pihak..

Tapi engkau pasti tahu, Ahok. Spiritmu menyebar kemana-mana. Gerakan-gerakan perlawanan meski masih dalam skala kecil sudah terlihat. Tongkat estafet yang kau berikan, mulai terlihat nyata. Barisan mulai dirapatkan. Semua waspada...

Jangan sampai terjadi Ahok-Ahok yang lainnya. Jangan sampai terjadi peristiwa yang sama, menjatuhkan seseorang hanya karena dia berbeda suku, ras dan agama..

Aku keliling kemana-kemana membawa spiritmu. Mereka berkumpul hadir dalam acara, karena spiritmu. Para pengusaha baik terbuka mata karena peristiwamu. Ternyata, semua gerakan itu bermula dari peristiwamu..

Dalam setiap pembukaan acara, ketika kami berdiri bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu yang sudah lama tidak kami nyanyikan dengan semangat membara.. Aku selalu teringat padamu.

Apa yang kau perjuangkan tidak sia-sia. Aku selalu membawa semangatmu. Dan kutularkan kepada semua elemen yang satu visi denganmu...

Perjuangan masih panjang, tapi setidaknya kita semua berusaha menyatukan langkah karenamu. Ah, kapan lagi kita bertemu? Aku minum kopi sachetan dan kau minum air mineralmu. Kita berbeda dalam hal apa yang kita suka, tapi kita sama dalam hal apa yang kita perjuangkan..


Selamat pagi Ahok. Bahkan seluruh media rindu membahas semua hal yang kontroversial tentangmu.