Selasa, 22 Agustus 2017

SURGA DI GAGANG SAPU

Neraka
Surga dan Neraka
"Kenapa kitab suci selalu menggambarkan surga dalam bentuk duniawi?".

Saya tersenyum. Saya suka membahas agama dalam bentuk konteks - kejadian atau peristiwa pada masanya - daripada teks. Karena dengan konteks akhirnya kita bisa memahami sesuatu dengan logika.

"Saya kasih contoh begini..." Kuseruput kopiku dulu.

"Anggap saja pada tahun 1980-an, emakmu berkirim surat kepadamu. Bunyinya 'Nak, emak kirim uang sekolahmu lewat wessel ya'. Wessel itu adalah sarana pengiriman uang melalui kantor pos.

Kemudian pada tahun 2017, kamu membaca kembali surat itu. Tentu bahasa surat ibumu masih berbunyi wessel, padahal sarana pengiriman uang sekarang sudah bermacam-macam mulai transfer sampai mobile banking.

Apakah surat si emak salah?

Tentu tidak, karena itu ditulis pada masanya, saat sarananya masih wessel. Meski makna mengirimkan uangnya sama, tetapi sarananya sudah berbeda sesuai perkembangan zaman.. "

Kusulut sigaretku. Kuhembuskan asapnya ke atas dan membentuk bayangan peristiwa masa lalu. "Kita coba kembali ke ratusan tahun lalu, masa di mana agama diturunkan. Disini saya mengambil contoh agama Islam.

Islam datang saat masyarakat arab masih jahiliyah, bodoh dan barbar. Mereka hidup dalam ketidak-aturan. Urusan mereka hanya harta, tahta dan wanita. Dan disana -pada waktu itu- kaum lelaki sangat dominan.

Nah, kebayang seorang Rasul menjelaskan konsep 'reward and punishment' kepada manusia pada waktu itu. Sulit sekali, karena keterbatasan pikiran umatnya.

Akhirnya dibahasakanlah konsep 'reward and punishment' -yang kita kenal dengan surga dan neraka- sesuai bahasa dan wujud materi yang dikenal manusia pada waktu itu. Serendah-rendahnya bahasa manusia dengan makna setinggi-tingginya.

Karena buat bangsa arab dulu wanita adalah bagian dari kenikmatan, maka diwujudkanlah surga ada bidadarinya dalam wujud wanita, meski orang juga tidak tahu bidadari sebenarnya itu bentuknya bagaimana..

Karena bangsa arab tinggal di gurun yang panas terik, maka digambarkanlah surga dengan keindahan dunia, ada sungai dan pohon yang sangat sejuk...

Karena dibahasakan dengan bahasa sederhana, bahasa dengan perumpamaan wujud yang mereka kenal di dunia, maka pesan kebaikan pun sampai dan dimengerti manusia pasa zamannya.."
Aku melanjutkan ngopiku.

"Tetapi zaman sekarang tentu berbeda. Manusia sudah mengenal surga dalam ruang - ruang pembahasan filsafat. Sehingga surga lebih dikenal sebagai konsep. Karena dunia surga bukan dunia materi - maka jelas kenikmatannya jauh lebih besar daripada sekedar kenikmatan duniawi...

Apakah Alquran yang dikumpulkan ratusan tahun itu salah?

Tentu tidak. Yang salah adalah manusia sekarang yang menafsirkannya masih memakai pola pikir ratusan tahun lalu. Terjebak teks, lupa melihat kapan agama itu diturunkan.

Sehingga ketika menjelaskan tentang surga ia membayangkan pesta seks dan ngaceng melulu, sama seperti orang arab saat barbar dulu.."

Logika berfikir dan penuangan secara sederhana itu membuka ruang berfikirnya. Ia akhirnya mencoba memahami agama melalui akal dan bukan sebatas dogma..

"Lagian ngapain mikirin surga? Mending sibuk mencari amal, karena banyaknya poin amal akan menimbulkan ketenangan. Dan ketenangan dalam dada manusia itu termasuk surga dunia..."

Aku mengakhir pembicaraan itu. Sudah hampir malam, saatnya pulang.
"Buk, tolong hitung semuanya dan masukkan ke bon saya, ya.. " Kataku.

Si ibu warkop tampak kesal dan memaki dengan medoknya, "Mari ndakik-dakik ngomong surgo, trus ngutang meneh. Bonmu penuh, dul. Kon surgo, awakku neroko !"

Akhirnya -seperti di film- terjadilah kejar-kejaran keliling warung antara seseorang dengan kantong pas-pasan yang dikejar oleh ibu-ibu yang mengayunkan gagang sapu.