Kamis, 31 Agustus 2017

TEMAN DI PERJALANAN

Developer IT
Danny Oei
Tadi siang bertemu dengan Danny Oei, Chief Marketing Officer dari Global Digital Prima Venture. GDP Venture adalah perusahaan venture capital - kepunyaan Martin Hartono dari grup Djarum - yang kerjaannya membiayai sampai mengurusi segala hal tentang startup. Mereka menaungi belasan aplikasi diantaranya yang terkenal adalah Kaskus, Blibli dan Opini.id

Danny Oei adalah pribadi yang menyenangkan. Saya baru tahu bahwa dialah yang dulu mengembangkan Kaskus dan menemukan jargon "gan" atau singkatan dari juragan sebagai simbol menyapa. Dan sampai sekarang sapaan itu ada dimana-mana.

Baguslah, saya mending di panggil "gan" daripada "min" di page ini yang berasal dari kata admin. Kayak petugas administrasi aja..

Dia bercerita banyak hal tentang bagaimana sebuah startup berkembang. Dan baru saya paham bahwa meski terlihat simple, sebuah startup itu sangat kompleks di dalamnya. Diantara puluhan startup yang sukses, ribuan lainnya hancur lebur karena banyak faktor.

Dan faktor utamanya tentu dari si founder, atau pencipta startup itu sendiri..

Para founder - yang kebanyakan juga adalah seorang programmer biasanya punya angan2 terlalu melambung ketika awal membangun aplikasinya. Belum apa-apa dia sudah berpikiran bahwa dalam waktu dekat aplikasinya akan menjadi unicorn atau dibeli seharga belasan triliun rupiah seperti yang dialami Gojek dan Tokopedia.

Karena angan yang terlalu melambung itulah, founder biasanya kepedean, menghargai dirinya sendiri terlalu tinggi padahal ia sama sekali tidak berarti..

Bahwa semua usaha itu melewati proses, itu sudah pasti. Dan proses inilah yang harus dilewati setahap demi setahap sebelum mencapai titik tertinggi.

"Sebuah perusahaan harus punya story" kata Danny. Dan story itu harus dilewati, mulai jatuh bangun, berdarah-darah sampai akhirnya mulai dilirik orang. Story inilah yang diminati...

Dalam artian, sebuah perusahaan akan dihargai ketika foundernya matang pohon, bukan karbitan. Dikira hanya punya skill dan uang, semuanya lancar..

Danny mungkin sudah begitu banyak melihat kejatuhan sebuah usaha. Tetapi ia juga melihat begitu banyak potensi yang harus dipoles supaya lebih berisi. Dan disitulah keahlian yang dia punya..

Saya senang ngopi di kantornya, begitu banyak cerita yang berharga. Saya tulis semua dalam ingatan.
Meskipun sudah malang melintang dalam dunia usaha dan pernah merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya sehingga keluarlah buku "Tuhan dalam secangkir kopi", dunia startup adalah dunia baru buat saya.

Karena baru itulah saya harus banyak belajar. Ada bayi bernama Baboo yang sedang saya besarkan. Tantangan yang terbesar nanti bukan bagaimana menjadikannya besar dan terkenal, tetapi bagaimana supaya dia survive menghadapi kompetisi yang ketat sekali..

Perusahaan itu adalah jiwa dan dia akan terbentuk menjadi diri kita sesungguhnya. Disana bukan hanya komitmen dan konsistensi saja yang diperlukan, tetapi juga bagaimana kita mempunyai visi ke depan.

Pada titik seperti ini, uang sudah tidak menarik lagi untuk dibicarakan. Tetapi ketika karya kita digunakan banyak orang, itulah yang membuat ejakulasi. Nama kita tercatat dalam sejarah dan kita akhirnya mengetahui fungsi diri kita sebagai manusia..

Karena itu saya heran melihat anak-anak muda yang mematok harga dirinya begitu mahal ketika awal bekerja. Dia sudah mengukur dirinya dengan uang dan bukan dengan karya.

Padahal kalau mau melihat sejarah Bill Gates, Steve Jobs, Mark Z dan Jack Ma, mereka tidak pernah berfikir berapa yang akan mereka dapat nanti. Tetapi bagaimana apa yang mereka lakukan akan menjadi karya besar satu waktu nanti..

Jual murahlah dirimu untuk mendapatkan banyaknya ilmu. Karena ilmu seperti air, ia tidak akan mengalir ke tempat yang lebih tinggi.

Hidup itu sejatinya perjalanan. Mereka yang mengambil banyak pelajaran dan bertemu dengan banyak orang, satu waktu akan menjadi pemenang. Itu hukum alam.


Belajar itu seperti secangkir kopi. Ia mengalami banyak proses sebelum terhidang dengan kenikmatannya yang abadi.