Sabtu, 19 Agustus 2017

WAHAI JIWA-JIWA YANG TENANG

Ketenangan
Alam
Seorang teman bertanya di inbox, "Gimana sih bang belajar ikhlas. Kok sulit sekali?". Dan dia menceritakan bagaimana dia dikhianati oleh teman bisnisnya yang juga sahabatnya, sehingga ia jatuh terpuruk dalam kesulitan.

Saya senyum-senyum sendiri, teringat beberapa tahun yang lalu saya pun punya pertanyaan yang sama. Dan itu dipaparkan oleh temanku dalam obrolan di warung kopi. "Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi.." Katanya.

"Mengucapkannya seringan meniup kapas, tetapi mengerjakannya seberat memindahkan bukit. Pada intinya, tidak ada orang yang mampu menerapkan konsep ikhlas tanpa melalui proses yang menyakitkan hati.

Pada diri manusia selalu ada rasa kepemilikan terhadap sesuatu.

Rasa memiliki harta, rasa memiliki keluarga yang bahagia, rasa memiliki paras yang bagus dan kesehatan yang sempurna dan banyak perasaan lain yang membuat kita terjebak dalam kepemilikan duniawi..

Dan rasa memiliki itu perlahan-lahan menjadi berhala. Berhala yang kita bangun dan kita pamerkan kepada orang lain.."

Ia menyeruput kopinya sambil memandang jauh, mungkin mengingat perjalanan hidupnya yang sudah melalui banyak tekanan sebelum akhirnya ia mendapat banyak kemudahan.

"Ada saat Tuhan menunjukkan sayangnya kepada kita dengan merenggut dan menghancurkan berhala itu. Melalui peristiwa pengkhianatan, kehilangan, penyakit dan segala macam penderitaan yang tekanannya semakin lama semakin besar.

Kebanggaan diri kita luluh lantak. Kita harus menerima segala macam hinaan, pandangan meremehkan, cacian dan segala bentuk hantaman pada mental.

Sampai pada titik kita menyerah. Dan menyerahkan semua masalah kepada Tuhan. Bawalah aku kemanapun Engkau mau, wahai Engkau pemilik segala rencana..

Kita dikupas dari kepemilikan duniawi setahap demi setahap. Berhala kita hancur keping demi keping. Sekaligus dosa kita dikikis kulit demi kulit..

Pada mereka yang lulus dengan memahami semua proses ini, akhirnya tumbuhlah jiwa baru. Jiwa yang lebih tenang karena sudah mengalami semua hal. Ia lebih pasrah dalam berusaha dan menyerahkan semua hasil kepada Sang Penguasa.

Itulah ikhlas...

Ikhlas itu adalah pemahaman bahwa dunia ini seperti jalan lurus yang harus kita lalui. Bahwa orang-orang yang kita temui dalam perjalanan -baik itu anak dan istri- hanyalah sekedar teman seiring. Mereka bukanlah harta, tetapi kebanyakan menjadi godaan dan cobaan.

Ikhlas itu adalah pemahaman bahwa tubuh kita ini hanya kendaraan saja. Dengan begitu jiwa kita yang harus mengendalikannya dengan baik dalam mengarungi arus di setiap perjalanan.

Ketika kita sudah sampai pada titik memahami ini semua, itulah orang-orang yang dipanggil dengan sebutan Wahai jiwa-jiwa yang tenang".

Awalnya kupikir apa yang dijelaskan temanku begitu rumit dan kompleks. Dan akupun menyerahkan diriku untuk dihajar dalam setiap tekanan. Sabar dalam menghadapi segala kesulitan. Dan pada titik tertentu, tiba-tiba semua menjadi begitu sederhana. Sangat sederhana. Berjalan sajalah ke depan dengan tenang, karena pikiran dan ketakutan kitalah yang menjadikannya rumit. Siap-siap kutuliskan hal yang sama kepada temanku yang menginbox-ku tadi. Kuseruput kopiku sebelum mengetikkan bait-bait perjalanan dari apa yang kupahami.


"Perbaikilah akhiratmu, maka Tuhan akan memperbaiki duniamu.." Imam Ali as.