Sabtu, 30 September 2017

KARTU MATI JOKOWI

Jokowi
Jokowi-Setnov-Dedi Mulyadi
Memang Setya Novanto itu belut yang sangat licin..

Ada sekitar 6 kasus korupsi dimana ia diduga terlibat didalamnya. Mulai dari kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, papa minta saham, sampai - yang terbaru - korupsi e-KTP.

Tapi tidak ada satupun kasus yang bisa menyentuhnya. Bahkan dalam kasus e-KTP meski KPK sudah menetapkan ia menjadi tersangka, pengadilan malah membebaskannya.

Setnov -di dunia superhero- adalah seorang DeadPool, yang sulit sekali matinya. Ia seperti kucing yang punya 9 nyawa. Dalam seni politik kotor, dialah ahlinya.
Tapi yang sulit dihindari adalah semakin lama namanya semakin memburuk. Nama Setnov di mata masyarakat sudah identik dengan koruptor.

Dan ini berbahaya bagi Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019 nanti..
Seperti kita tahu, Golkar sekarang menjadi partai utama pendukung Jokowi. Golkar menempati posisi kedua dalam perolehan kursi di DPR RI, sebanyak 14, 75 persen.

Dalam sisi kekuatan, Golkar adalah partner yang kuat baik dalam pencapaian peroleh suara di Pilpres 2019 maupun di parlemen.
Permasalahannya ada di Setnovnya..

Dengan "cap sosial" sebagai seorang koruptor - meski belum terbukti secara hukum - Setnov adalah kartu mati bagi Jokowi. Pihak lawan akan memanfaatkan stigma Setnov sebagai serangan kuat bahwa "Jokowi melindungi koruptor".
Jokowi dan Setnov memang pribadi yang berbeda.

Jokowi begitu sederhana dengan nilai bersih dalam penanganan korupsi - bahkan keluarganya saja dijauhkan dari bisnis dengan pemerintahan, sedangkan Setnov terkenal dengan gaya borjuisnya, ditambah berita bahwa ia memiliki pesawat pribadi seharga 160 miliar rupiah.

Ketika disandingkan keduanya dalam satu kotak, maka nilai-nilai yang sudah dibangun Jokowi akan luntur. Publik - para pendukung Jokowi - akan melemah ketika dipaparkan bukti bahwa Jokowi masih mempertahankan Golkar versi Setnov sebagai partai pendukungnya.

Sudah seharusnya Setnov diganti dengan tetap mempertahankan Golkar sebagai partai pendukung. Golkar harus terlihat sebagai partai yang ingin berbenah diri dari stigma kotor yang selama ini menaunginya.

Di tubuh Golkar sendiri sekarang sedang bergejolak..

Situasi panas ini dipicu keluarnya surat dukungan -katanya bodong- dari DPP Golkar kepada Ridwan Kamil sebagai Cagub Jabar. Surat itu bertanda-tangan Setnov sebagai Ketua Umum Golkar, juga dari Sekjen Golkar.

Dan Dedi Mulyadi -sebagai Cagub Jabar yang didukung oleh Golkar se-Jabar mengungkapkan ada praktek "makelar" dalam tubuh elite Golkar. Dia diminta 10 miliar rupiah sebagai bentuk "partisipasi" kalau mau mendapat restu pusat.

Dedi Mulyadi menggerakkan kader Golkar dari akar rumput di Jabar, untuk mulai "bersih-bersih" di Golkar.

Sebagai ketua DPD Golkar Jawa Barat, ia ingin mempelopori "Golkar bersih dari Makelar" yang sudah memakan korban para pejabat daerah dari Golkar yang keciduk KPK, karena mereka dipilih DPP Golkar berdasarkan "berapa yang mereka bayar", bukan berdasar "seberapa besar kapabilitasnya".

Dan kabar terakhir, untuk aksinya itu, Dedi Mulyadi diancam dipecat dari partai Golkar..

Pakde Jokowi harus benar-benar memperhatikan situasi ini, jika ingin sukses di Pilpres 2019 nanti. Ia harus mencari partner yang tepat - yang sama2 punya kepedulian terhadap pemberantasan korupsi. Golkar harus dipimpin oleh Ketua Umum yang punya visi yang sama dengannya, sama2 anti korupsi, sederhana dan berjuang dari masyarakat bawah.

Jika ingin nama Golkar kembali bersih, harus ada campur tangan kuat menjadikan orang seperti Dedi Mulyadi menjadi Ketua Umum Golkar. Dengan begitu, nama Golkar akan kembali bersih dan menjadi partner yang menguatkan daripada melemahkan.

Jika itu bisa terjadi, maka nama Jokowipun akan naik kembali dan citranya sebagai Presiden anti korupsi menjadi lebih kuat. Simpati publik tercapai dan lawan akan sulit menemukan sasaran tembak yang tepat..

Setnov adalah produk lama yang tidak hits lagi di jaman now. Harus ada orang muda yang bisa seiring dan sejalan dengan Jokowi untuk melangkah bersamanya ke depan. Dan orang itu harus mewakili pesan yang ingin disampaikan bukan malah merusaknya..

Pilpres masih dua tahun lagi, tapi setidaknya mulai memperbaiki langkah sekarang. Kalau Jokowi kalah, kasihan para pendemo sudah gada lagi kerjaan. Darimana mereka dapat uang, jika tidak berpanas-panas di jalan?

Pakde Jokowi, tolong ini diperhatikan. Ini masalah perut dan potensi hilangnya lapangan pekerjaan...

Seruput dulu, Pakde...