Minggu, 24 September 2017

MANA POLISI YANG GAGAH BERANI ITU?

Intoleransi
Pulogebang
Saya selalu terkesima dengan slogan polisi, Melindungi dan Melayani. Dalam slogan itu terbangun sebuah arti bahwa kita mempunyai pelindung dan pelayan dalam menjalankan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara.

Termasuk dalam hal beribadah.

Tapi entah kenapa slogan itu tidak berarti bagi warga rusun Pulogebang, ketika seseorang membawa kampak dan gergaji tiba-tiba membubarkan ibadah warga rusun yang sudah mendapat ijin.

Kita melihat ketegangan dalam videonya yang viral sambil mengira-ngira apa yang terjadi ketika emosi si pria itu sudah diubun-ubun, matanya gelap dan kampaknya mengayun ke kepala seorang warga atau ke anak-anak misalnya.
Sekejap polisi bertindak, datang ke tempat kejadian. Ternyata perbuatan itu - menurut laporan warga - adalah perbuatan ketiga kalinya dan mencapai puncaknya.

Sesudah itu, apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Si pria dilepas begitu saja dengan sebuah surat pernyataan.

"Saya hilap.." begitu katanya. Seakan-akan surat pernyataan itu sudah mengampuni semua yang sudah dia lakukan, menghalangi orang beribadah dan mengancam.

Kemana polisi? Bukankan tugas polisi melindungi dan melayani? Bukankan warga rusun pulogebang wajib dilindungi? Lalu kenapa yang melarang mereka beribadah dan mengancam sambil membawa senjata tajam di lepas begitu saja?

Saya tadinya berharap si pelaku di poto sedang menangis sambil tangannya terborgol dan disampingnya berdiri polisi gagah. Tapi harapan saya ternyata bertepuk sebelah tangan.

Si pelaku tampak gagah di mata teman-temannya, dan polisi tampak loyo karena tidak mampu menindaknya. Semua hanya karena surat pernyataan bermeterai dan bebas perkara. Betapa murahnya sebuah rasa aman.


Ah kemana pak polisi yang gagah berani itu ? Mungkin hanya berupa angan-angan saja. Para preman tetap berkeliaran sambil menebar ancaman karena tidak pernah mendapat efek jera.


Lebih baik saya seruput kopi saja.