Senin, 04 September 2017

ROHINGYA, GORENGAN ISU TERBARU UNTUK JOKOWI

Joko Widodo
Jokowi
Sejak Jokowi menjabat sebagai Kepala Negara, sudah begitu banyak isu yang digoreng untuk menghancurkan kredibilitasnya.

Mulai dari pencabutan subsidi yang di framing ke kenaikan harga BBM dan listrik, ekonomi melambat meski terjadi perubahan budaya belanja, sampai hutang yang semua kesalahan ditimpakan kepadanya. 

Gorengan isu paling fenomenal tentu adalah dengan keberadaan Ahok. Ahok adalah pintu gerbang untuk menjebak Jokowi supaya ikut terlibat ke dalamnya. Dengan wajan aseng menguasai pribumi, sembilan naga sampai melindungi penista agama, mereka terus berusaha menggedor pintu pemerintahan Jokowi.

Apa yang mengindikasikan bahwa isu itu digoreng ke Jokowi?

Tentu dengan melihat keterlibatan para pemain politik lawannya yang ikut berkomentar memanaskan situasi melalui media mainstream dan sosial.

Tapi sementara ini Jokowi adalah pemuda tangguh yang berhasil melewatu jebakan-jebakan yang disediakan. Selama hampir 3 tahun pemerintahannya, Jokowi berhasil menguasai situasi bahkan mengendalikan bola-bola panas yang diarahkan kepadanya.

Seperti Po, si kungfu Panda, bola panas yang ditembakkan berhasil diredam dan ditundukkan. Safarinya ke pesantren-pesantren dan para ulama adalah gerakan efektif yang berhasil meredam banyak isu PKI yang ditudingkan kepadanya.

Hebatnya, bukan hanya meredam, Jokowi juga berhasil menaikkan citranya dengan menunggangi gorengan isu itu. Semakin ia di bully, semakin tumbuh simpati banyak orang kepadanya.

Itulah kenapa elektabilitasnya belum turun-turun sampai sekarang. Survey terakhir dari SMRC, elektabilitas Jokowi masih 57 persen. Responden yang puas dengan hasil kerja Jokowi mencapai 67 persen. Sedangkan responden yang percaya pada kemampuan Jokowi memimpin, ada di angka 69 persen.

Situasi ini membuat lawan politiknya panik. Mereka berusaha menghadang dengan segala cara supaya nama Jokowi jatuh, atau setidaknya turunlah. Apalagi ini sudah semakin dekat Pilpres 2019..
Senjata terakhir yang mereka gunakan saat ini adalah isu Rohingya. Dengan kepanikan mereka berusaha membangun persepsi bahwa pemerintahan Jokowi tidak berbuat apa-apa pada tragedi Rohingya.

Bahkan seorang mantan Menkominfo dari partai syari nan varokah bahkan sempat menyebarkan gambar hoax pembantaian Rohingya untuk membangun unsur drama kesadisan peristiwa itu, sambil melirik ke Jokowi apakah isu ini akan berpengaruh kepadanya atau tidak.

Kenapa masalah Rohingya begitu menarik perhatian masyarakat Indonesia dibandingkan masalah Yaman, Afrika dan kejadian luar negeri lainnya ?

Isu Rohingya ini sebenarnya sudah menjadi isu biasa karena kronologis peristiwanya sendiri sudah terjadi sejak lama. Bahkan sudah banyak yang menjelaskan bahwa Rohingya itu bukan masalah agama tapi konflik geopolitik di Myanmar.

Tetapi karena digoreng, dengan tambah massifnya gambar-gambar hoax yang ditebarkan, maka isu itu sebenarnya dibangun untuk kembali menjebak Jokowi juga.

Jebakan pertama adalah bagaimana Jokowi menyikapi isu ini? Jika Jokowi menganggap biasa, maka akan dimunculkan persepsi bahwa Jokowi tidak punya empati sebagai Kepala Negara. Jika reaktif berlebihan, maka Jokowi akan digiring ke persepsi bahwa masalah dalam negeri saja belum selesai, ngapain ngurusin masalah negara lain?

Jebakan kedua, adalah munculnya kebencian kepada umat beragama Budha. Diharapkan api kebencian ini akan memantik kerusuhan di daerah -seperti misalnya pembakaran Vihara- yang akan menjadi PR baru bagi pemerintahan yang akan digoreng kemudian, bahwa Jokowi tidak mampu memimpin.

Sejauh ini Jokowi berhasil meredam isu dengan mengirimkan Menlu untuk berdialog dengan pemerintahan Myanmar. Jokowi juga sudah memberikan statemen keras terhadap tragedi itu. Bahkan Muhaimin berinisiatif melakukan konferensi pers bersama para bhiksu untuk menjelaskan bahwa konflik Myanmar bukan masalah agama.

Begitu anggunnya cara pemerintah Jokowi menyelesaikan masalah. Tanpa reaksi berlebihan, mereka langsung bergerak pada poin-poin penting tanpa pencitraan. Tidak perlu muncul di tipi dengan nada prihatin, tidak perlu berteriak supaya terlihat gagah di mata publik, apalagi harus naik kuda sambil menyatakan, "lindungi umat muslim di Myanmar !"

Bola panas kembali berhasil dikendalikan..

Cara-cara elegan meredam gorengan isu inilah yang menjadikan pemerintahan Jokowi jadi terlihat seksi dimata mereka yang dulu tidak menyukainya. Makanya hasil survey Jokowi tidak bergeser sedikitpun dari posisi teratas dibandingkan lawannya..

Habis Rohingya, mau goreng isu apalagi ?

Yah kembali lagi ke isu cina pribumi, asing aseng, PKI dan masalah hutang yang diulang-ulang terus kayak kaset rusak. Bosan membahasnya, tapi efektif di kalangan masyarakat bawah.

Untung saja pak Jokowi ketika memberikan statemen di tipi menyikapi Rohingya terlihat tegas dan elegan.

Saya gak bisa membayangkan jika Jokowi bereaksi seperti Jonru, yang ingin terlihat gagah mengepalkan tangan ke atas sambil berteriak, " Sa.. sa.. saya tidak takut!!". Seruput kopi dulu ahhhh..