Jumat, 06 Oktober 2017

BUMN ITU HARUS DIJUAL, KARENA

Jokowi
BUMN
Seorang teman mengunggah sebuah status dengan nada sinis, "Dukung nasionalisasi Freeport tapi juga dukung BUMN dijual2in ke swasta.."

Saya gak tahu, apakah teman saya ini paham tentang maksud "menjual" BUMN? Atau hanya alergi saja dengar kata BUMN dijual?

Dalam laporan yang dipegang Jokowi dan disampaikannya di depan anggota Kadin, ia mengatakan bahwa jumlah BUMN di Indonesia saat ini mencapai 181 perusahaan. Itu belum anak cicitnya yang mencapai 800 perusahaan.

Nah, Jokowi menemukan ketidak-efisienan dan ketidak-fokusan perusahaan2 milik negara itu. Ada anak perusahaan yang usaha parkir, ada yang usaha laundry bahkan ada yang usaha katering.
"Masak BUMN kerjaannya seperti itu?", Kata Jokowi.

Ya memang mengherankan, kok perusahaan2 pelat merah sampe ngurusin laundry segala. Urusannya apa ?

Dan ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Selama itu - sebelum era Jokowi - BUMN2 itu juga menjadi sapi perah para pejabat eksekutif dan legislatif..

Kritik tentang BUMN Indonesia juga datang dari Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.

Menurut Kim, gurita bisnis BUMN yang masuk ke sektor2 swasta kecil, itu akan menjadikan sektor usaha tidak seimbang. Nah, daripada BUMN ngurusin hal-hal kecil, kenapa tidak sektor usaha kecil itu diserahkan ke swasta ?

Dan inilah yang jadi pertimbangan Jokowi untuk menjual kepada swasta atau merger-kan saja BUMN2 yang tidak efektif itu. Selain mengganggu dunia usaha swasta, beban negara juga berat karena harus mengongkosi BUMN yang tidak punya pendapatan jelas.

Jadi, apa salahnya menjual BUMN jika perusahaan itu dinilai memberatkan negara?

Toh ini demi efisisensi sehingga kapal besar bernama Indonesia ini menjadi lebih ramping dan ringan dalam berlayar. Kalau gendut dan boros, kapan sampainya kita ke tujuan sebagai negara maju ?

Teman saya itu kayaknya gak paham dan tidak punya data apapun tentang alasan kenapa BUMN dijual. Mungkin karena alergi berlebihan kepada Jokowi sehingga logika berfikirnya tidak jalan..

Ngopi dulu, teman dan biasakan melihat sesuatu lebih luas dan obyektif. Kalau memandang sesuatu dari ketidak-sukaan, cara berfikir anda jadi bahan tertawaan orang.. Malu, kan ?

Berfikir ala Jokowi adalah dengan cara berfikir ala CEO perusahaan, semua dilihat dari sudut pandang luas sebelum mengambil keputusan..

Bukan berfikir ala office boy yang selalu meringik minta kenaikan gaji dan kalo gajinya gak naik karena kurangnya prestasi, bosnya mulu yang disalahin..

Sinis boleh, bego jangan..

Seruput dulu ahhhhh...