Rabu, 11 Oktober 2017

JABAR, ANGKOT LAGI ANGKOT LAGI

Jabar
Macet
Membaca berita bahwa transportasi online tidak dibolehkan di Jabar, saya entah mau sedih entah geli..

Sedih, karena ternyata ada yang tidak siap dengan perubahan zaman. Geli, karena meski zaman sudah berubah ada juga yang tidak bisa siap.

Jabar adalah provinsi yang paling dekat dengan DKI Jakarta, ibukota negara sekaligus kota metropolitan dengan segenap teknologinya. Jika ada perkembangan baru di bidang teknologi, bisa di pastikan Jakarta dululah kota yang menyerapnya.

Nah biasanya yang cepat menyerap apa-apa dari Jakarta ya Jabar.

Coba aja liat anak-anak gaulnya, dengan logat sunda yang medok mereka terbiasa ber lu gua. Belum lagi model pakaian yang "sinetron style" dan pergaulan bebas yang kadang lebih gila.

Jadi ya antara sedih dan geli melihat Jabar ternyata tidak mampu bersiap ketika teknologi dengan deras masuk ke kehidupan masyarakat, terutama pada transportasi online.

Saya pernah cerita di Cikarang Bekasi saya sampai sembunyi2 ketika mau naik gojek. Sedangkan ojek pangkalannya mukanya cemberut terus seakan ingin menguras dompet kita dengan harga jarak pendeknya.

Belum lagi angkot yang ngetemnya -naudzubillah- lamanya sampai berasa kayak pindang dalam kaleng. Sudah mepet, muter entah kemana. Dan banyaknya itu yang gak nahan, seperti setiap sudut kota ada angkotnya. Macet dan berpeluh.

Taksinya banyak yang gak mau pake argo. Asal njeplak aja harganya, mau ayo gak mau ya udah. Ah pokoknya pusing dah.

Masyarakat Jabar terutama yang diperkotaan sempat terhibur karena ada transportasi online. Bukan saja sebagai transportasi antar jemput, tapi juga bisa mengantar makanan dan barang. Perputaran ekonomi pun cepat antara penjual dan pembeli, sehingga merata.

Mendadak semua dihentikan, seperti mesin waktu yang kehabisan bahan bakar. Ada yang tidak suka perkembangan transportasi online, terutama dari pihak organda yang selama ini memonopoli ekonomi lapangan.

Sedih dan geli melihat Pemprov Jabar yang ternyata kalah wibawa. Lebih baik mengorbankan masyarakat, daripada harus berseteru dengan organda. Baru diancam mogok, sudah kelimpungan. Pemerintah yang hidup dibawah tekanan.

Mendinglah kalau satu kota saja yang melarang, ini satu provinsi mak. Mungkin ada yang berbisik, "Kalau online gak disetop, suara kami di Pilkada 2018 tidak akan kami berikan.." Wah kalau masalah suara, ini masalah hidup mati anak bini dan dua istri muda lagi.

Kasian Jabar, kembali mundur ke belakang. Kembali berpanas-panas dan berlama-lama menunggu angkot dan berantem dengan ojek lapangan. Sedangkan kualitas transportasi tetap begitu-begitu saja, bau dan banyak yang sudah tidak lain jalan.

Sedangkan nun dekat di sekitarnya, daerah-daerah lain memamerkan kecanggihan teknologinya, Jabar harus gigit jari sambil merasa iri hati karena harus "naik angkot lagi naik angkot lagi. Kapan majunyaaaa?".

Yah, seperti kata Gubernur dan Wagub Jabar, pasrah dan serahkan saja semua kepada Tuhan. Mungkin ini ujian. Bedoa saja yang banyak, siapa tau Tuhan kasian...

Gimana warga Jabar? Penak jamanku toh??


Seruput dulu ahhhhhh... sambil nunggu pesanan go food datang.. Nyam nyam nyammm..