Kamis, 05 Oktober 2017

NASIB OJEK PANGKALAN

GRAB BIKE
Transportasi Online
Waktu sedang di Cikarang Bekasi -di sebuah Mal- saya mencari taksi untuk balik ke hotel.

Tidak ada taksi sama sekali yang parkir di Mall. Saya pun ke depan, ke pinggir jalan, mau mencegat taksi. Ada beberapa taksi bluebird yang lewat, tapi mereka menolak berhenti.

Lalu saya pakai aplikasi Gojek, tapi mereka juga menolak. Saya heran, ada apa?
Pelan-pelan saya sadar, disamping kiri kanan saya berkumpul ojek pangkalan. Mereka bahkan tidak mau menyapa saya, tapi terus mengamati. Mungkin berharap disamperi.

Saya males nyamperi, kebayang getokan harganya yang -meski tidak seberapa- tapi bikin sakit hati. Saya pun akhirnya jalan agak menjauh dari Mall dan mendapatkan Gojek disana.

Seperti biasa saya nanya-nanya ke drivernya. "Kenapa sih bang, ojek pangkalan itu gak mau jadii gojek aja? Kenapa bertahan meski sepi penumpang?".

Dan si abang gojek pun cerita bahwa faktornya macam-macam. Ada yang surat motornya mati. Ada yang kendaraannya gak memenuhi persyaratan. Dan terbanyak adalah faktor tidak mau berubah, karena takut atau sudah merasa nyaman dengan situasi sekarang.

"Terus kenapa abang kok mau berubah jadi driver online?" Tanya saya lagi.
Dia ketawa. "Mana bisa teknologi dilawan, bang.." Katanya.

"Dulu orang pake mesin tik, sekarang komputer. Dulu orang telepon pake wartel, sekarang handphone dah murah. Lah, apa ojek konvensional bisa bertahan dengan situasi seperti itu?

Mau marah, marah ma sapa coba? Dulu awalnya ya saya gitu, menolak. Trus demo, trus nyegatin ma mukulin driver online. Tapi lama-lama capek juga, sedangkan keadaan juga tidak berubah. Penumpang makin sepi, makin takut naik opang - ojek pangkalan.

Akhirnya saya urus surat-surat motor saya dan mendaftar ke gojek. Saya ajak teman-teman lain, ada yang mau ada yang nolak.

Malah sekarang jauh dari lumayan kalau dah pake sistem online. Penumpang ada aja. Saya ma keluarga jadi bisa makan. Waktu jadi opang, sibuk nyari utangan. Kebanyakan nongkrong ma ngobrol yang gak berguna di pangkalan.."

Saya senyum. Pada saatnya ojek konvensional tidak akan bisa bertahan. Mereka hanya takut dengan begitu cepatnya perubahan sehingga bertindak reaktif dengan kepanikan. Pelan-pelan mereka akan hilang jika tidak mau berubah.
Memang siapa sih yang mau jualannya sepi terus?

Si abang gojek ini termasuk orang yang cepat sadar dan tidak terbuai oleh rasa frustasi. Ia malah menikmatinya sekarang. Benar kata Imam Ali, manusia cenderung takut akan sesuatu yang tidak diketahuinya. Ketika sudah tahu, eh malah menikmatinya.

Wahai para pengemudi ojek pangkalan, sampai berapa lama kalian bisa bertahan?


Minum kopi dulu sebelum tenggelam..