Kamis, 05 Oktober 2017

SELAMAT DATANG, PARA PENGUSAHA BARU

Online
Bisnis Online
Barusan datang kiriman batik dari seorang teman yang berjualan batik "slimfit" di facebook..

Saya pesan tadi malam, sore tadi sudah datang. Cepat, murah dan - Alhamdulillah - sesuai ukuran.

Batik yang dijualnya seharga 165 ribu rupiah per potong itu, saya yakin di toko dijual dengan harga 400-500 ribu. Jelas lebih mahal, karena di toko banyak biaya-biaya tidak kelihatan seperti ongkos sewa toko, ongkos pegawai dan lain-lain.

Jadi ingat ketika seorang teman - dengan lesu - ngobrol di warkop. Dia bercerita tentang perusahaan tempat dia bekerja yang sudah mulai mengurangi pegawainya. Dan dia - cepat atau lambat - pasti akan mendapat giliran.
"Pensiun dini aja.. " Kata saya.

Dia juga bermaksud begitu, karena ditawari uang jumlah lumayan jika mau pensiun dini. Tapi dia gak tau apa yang harus dilakukannya dengan uang pesangon itu. Pertama, dia tidak pernah wiraswasta jadi takut akan kegagalan. Kedua, dia tidak tahu harus wiraswasta apa.

Maunya sih dia ikut MLM yang menawarkan passive income dengan impian ke LN pake kapal pesiar dan mobil terbaru kalau sudah berhasil nantinya.
Saya ketawa aja. Banyak memang orang yang berbisnis karena ingin kaya, bukan karena dia ingin menyalurkan passionnya.

Karena tujuannya kaya, dia akhirnya terjebak dengan janji-janji surga. Pada akhirnya, banyak orang menangis di kemudian hari karena bukannya kaya, uangnya habis dan ia malah terjebak hutang karena ingin instan. Dan ini seperti pola khas mantan karyawan yang tidak biasa berusaha sendiri.

Banyak orang salah memaknai bisnis di awalnya. Dia hanya memikirkan berapa untung yang dia dapat nantinya, bukan seberapa kuat dia bertahan di bisnis itu.

Bahwa bisnis itu harus untung, itu benar. Tetapi bisnis juga ada faktor ruginya, ini yang jarang dilihat karena sudah buta dengan keuntungan di depan mata. Karena itu di dalam bisnis ada pepatah yang tidak terkatakan, "mereka yang kuat bertahan, dia yang menang".

Bisnis itu bukan lomba lari sprint 100 meter yang mengandalkan kecepatan. Bisnis itu adalah marathon, yang membutuhkan nafas yang panjang.

Lalu saya mengajarkan dia untuk membuat sebuah brand sendiri. Saya ajak dia untuk mengenal potensi dirinya sendiri dulu. Karena dia selama ini dia punya jaringan pengusaha kaos, saya bilang supaya dia membuat kaos dengan brand yang spesifik.

Cukup menggaji seorang desainer untuk membuat gambar2 yang bagus, kemudian pasarkan melalui online, melalui facebook dan media sosial lainnya.

Dia tertarik dan mulai melakukan ide yang saya tawarkan. Saya dengar dia bahagia dengan apa yang dia lakukan. Bahagia, bukan kaya. Karena sesuatu yang dikerjakan dengan rasa senang, pasti memunculkan kebahagiaan. Kekayaan itu dampak nantinya..

Pergeseran budaya belanja dari konvensional ke online adalah peluang emas bagi yang bisa memanfaatkannya. Teknologi itu ditunggangi, jika tidak kita yang dimakannya..

Semoga teman saya sukses dalam kesenangannya. Dan saya ingin kembali nongkrong di warkop dengan secangkir kopi panas bersamanya..

Seruput..