Senin, 10 Desember 2018

Jokowi: Mengejar Dana Haram di Luar Negeri

Joko Widodo
Jokowi
Kenapa Pilpres 2019 terkesan lebih sepi?

Kalau kita mengukur dengan standar Pilpres 2014, pilpres kali ini jauh lebih sepi. Tahun 2014 bisa dibilang adalah Pilpres terganas, pertarungan sengit antardua kubu yang bersaing dalam memperebutkan kursi kepemimpinan di negeri ini. Black campaign, fitnah sampai penguasaan teritorial menjadi hal penting untuk menuju kemenangan.

Ganasnya Pilpres 2014, terkait banyak faktor. Tetapi faktor terbesar tentu dari keberadaan dana, karena tanpa dana tidak akan ada pergerakan apa-apa. "Semua butuh logistik," kata seorang teman yang malang melintang di dunia politik hitam.

Dan sumber dana terbesar untuk membuat Pilpres 2014 begitu heboh adalah adanya dana haram yang begitu besar masuk ke Indonesia. Dana haram yang masuk ini bukan semata dana dari negara asing, tetapi dana haram hasil penggelapan pajak dari banyak sektor seperti pertambangan, juga hasil korupsi, yang diparkir di luar negeri untuk menghindari pajak, kemudian masuk kembali ke dalam negeri pada saat yang tepat, terutama saat musim kampanye seperti sekarang ini.

Dana-dana haram inilah yang banyak digunakan sebagai logistik untuk menggerakkan mesin kampanye yang besar.

Global Financial Integrity (GFI) sebuah lembaga yang berdomisili di AS pada tahun 2014 menempatkan Indonesia di peringkat ke 8 dalam kasus aliran dana haram. Dan itu berarti bernilai ribuan triliun rupiah.

Dana yang biasanya diparkir di negara tax haven ini diperkirakan mengalir ke Indonesia lewat banyak jalur untuk menentukan arah politik Indonesia. Arah politik yang dituju tentu memenangkan salah satu kontestan yang dinilai akan terus mengamankan harta yang disimpan di luar negeri supaya tidak ketahuan.

Kerja sama Indonesia dengan Swiss dalam platform Mutual Legal Assignment MLA yang sedang dalam proses akhir ini, adalah bagian dari upaya pemerintahan Jokowi untuk mencegah masuknya dana haram itu ke Indonesia dalam musim kampanye ini, selain tujuan jangka panjangnya mengembalikan dana itu ke sini.

Tetapi proses kerja sama itu tentu merepotkan para pemilik dana yang taruh uangnya di Swiss, sehingga mereka lebih sibuk mengamankan dirinya daripada mengalirkan dana ke Indonesia. Lagian sekarang, aliran dana ke Indonesia diawasi jauh lebih ketat dari sebelumnya.

Itulah kenapa Pilpres 2019 ini jauh lebih sepi dari Pilpres 2014. Terkuncinya sumber dana yang selama ini dipakai untuk kegiatan "haram" membuat kurangnya logistik untuk memanaskan Pilpres ini menjadi seganas periode lalu.

Akhirnya para pemain politik hanya bergantung pada dana yang ada di dalam negeri yang jelas tidak sebesar jika dana itu datang dari luar. Kalau dulu di 2014 bisa bangun panggung besar dan membayar ribuan orang untuk datang, sekarang cukup di ruangan-ruangan kecil sambil memainkan narasi supaya media sosial riuh.

Jadi paham kan kenapa ada yang sampai bilang bahwa ia kehabisan modal dan harus mencairkan sahamnya meski harganya masih belum maksimal?

Gerakan Jokowi melalui komandannya Sri Mulyani ini memang ampuh membuat banyak pihak tidak berkutik. Mulai dari Tax Amnesty sampai perburuan harta di negara tax haven ini, benar-benar mematikan kutu di rambut banyak orang. Rencananya Hongkong dan Singapura juga akan menjadi target kerja sama berikutnya.

Jokowi memang membutuhkan situasi tenang untuk menang. Karena itu jangan sampai ada dana haram yang masuk ke Indonesia dan mengacaukan semua program yang sudah ia rencanakan matang.

Baru kali ini, banyak jantung yang berdetak kencang karena tempat persembunyian uang mereka yang selama ini aman, diobrak-abrik oleh orang yang dulu mereka bilang "plonga plongo" dan "boneka partai".

Mereka salah besar. Musuh yang mereka kira seekor kucing hutan ternyata adalah macan hitam yang mengendap dan mengintai mangsanya dengan tatapan yang sulit dilepaskan..

Seruput.

Tagar.Id

Minggu, 09 Desember 2018

SENI PERANG JOKOWI

Jokowi
Buku Seni Perang Jokowi
"Jokowi itu kejam.."

Kata Ahok ketika mereka masih berpasangan sebagai kepala daerah di DKI Jakarta. "Urusan mengganti pejabat, Jokowi itu lebih kejam dari gua. Ibaratnya, kalau bunuh kodok, itu kodok ditaruh dulu di dalam panci yang isi air dingin. Kodok berenang di dalam panci karena merasa nyaman. Trus sama Jokowi dinyalain kompor dibawahnya pelan-pelan. Entar kodok itu mati sendiri karena kepanasan..

Kalau gua gak sabaran, gua tembak langsung aja kodok itu.. " Ahok ketawa.

Sejak lama, saya senang memperhatikan strategi perang Jokowi. Langkahnya sulit ditebak, lembut tapi sangat mematikan. Ketika pertama kali ia menjabat, ia diremehkan lawan sehingga sering diejek "plonga plongo" dan "boneka". Tapi lawan yang sama juga yang sekarang menjuluki ia seorang "diktator".

Rasa penasaran itulah yang membuat kaki saya melangkah ke Solo setahun yang lalu, mempelajari apa yang dia lakukan. Dan ternyata sesudah mempelajari banyak hal, barulah saya memahami bahwa Jokowi memang pemain catur yang tangguh, licin dan berbahaya diluar perawakannya yang tidak kelihatan.

Ia ibarat Kasparov dalam memainkan bidak-bidaknya, terlihat seperti membuka pertahanan tetapi sesungguhnya menjebak lawan untuk menyerah.

Buku "Seni Perang Jokowi" ini saya persembahkan untuknya dan para relawan pendukung Jokowi, supaya tahu bagaimana Jokowi memainkan langkah dan tidak salah memahaminya. Buku ini bukan kumpulan tulisan lama di media sosial, tetapi tulisan baru yang merangkai strategi perang Jokowi yang mengasyikkan.

Kalau mau pesan sekarang, langsung WA aja si cantik Ugi ya nomernya 0812-91266082. Harga ganti biaya cetaknya 49 ribu rupiah. Saya cetak terbatas sebagai sumbangan peran dalam Pilpres 2019. Tapi bukunya sendiri baru bisa dikirim akhir Desemberan, jadi sabar yaa...

Orang sabar pantatnya lebar.

Sabtu, 08 Desember 2018

PAPUA, JOKOWI BUKAN SOEHARTO

Papua
Jokowi gendong 2 anak papua
Saya berdiri di sudut ruangan, diantara kerumunan banyaknya orang..

Ditengah-tengah, seorang Jokowi duduk dan bercerita banyak hal. Khususnya tentang Papua..

"Kalian bayangkan.." katanya. "Ada satu desa di Papua yang jika warganya sakit, mereka harus berjalan kaki 4 hari 4 malam lamanya hanya untuk ke Puskesmas. Jangan bayangkan Papua seperti di Jawa yang jalannya mulus beraspal. Jalannya tanah dan ketika hujan becek gak keruan. Bagaimana pasokan makanan bisa sampai sana jika roda truk saja tenggelam ?"

Saya tidak pernah membayangkan seorang Presiden bisa begitu emosional bercerita tentang suatu daerah. Rahangnya terkatup dan mengeras seperti menguatkan dirinya untuk bercerita banyak hal yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri sesudah blusukan kesana. Rasanya berat mendengar ceritanya, tidak bisa membayangkan bahwa ditengah gemerlapnya lampu kota ada daerah yang bahkan berobat saja susah.

"Dan di Jakarta, saya harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah hanya untuk pengamanan sekelompok besar orang yang ingin memaksakan kehendaknya.." Lanjut Jokowi. Saya tahu, itu pasti kejadian saat demo besar menurunkan Ahok beberapa waktu lalu yang membuat pemerintah harus bekerja keras supaya tidak terjadi apa-apa.

"Seandainya dana pengamanan puluhan miliar rupiah itu untuk membangun puskesmas, berapa banyak yang bisa kita bangun. Sungguh sia-sia.." Keluhnya.

Jokowi memang unik. Disaat pemimpin lain mencari citra dengan membangun pulau Jawa karena disana berkumpul media, ia malah melangkah di kesunyian. Ia membangun Papua bukan untuk ego dirinya, tetapi karena nuraninya terusik melihat betapa besarnya ketimpangan di Indonesia. Dan ia berusaha mewujudkan mimpinya untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh negeri dengan tangan kecil dan tubuh ringkihnya.

Papua, Jokowi bukan Soeharto. Ia tidak ingin menumpuk kekayaan bagi dirinya sendiri. Jika ia mau, ia bisa saja tetap membiarkan rakyat Papua dalam kondisi kebodohan dan kemiskinan luar biasa, supaya bisa diatur dan dikeruk kekayaan alam seenaknya.

Tidak. Ia ingin membayar semua perlakuan keji pemerintah orde baru dulu dengan mengucurkan dana gila-gilaan untuk membangun Papua. Bahkan Papua sekarang sudah mendapat bagian atas kekayaan alamnya. Dalam rencana akuisisi saham PT Freeport, disediakanlah 10 persen pembagian keuntungan untuk dinikmati Papua, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pemerintah terdahulu.

Bahkan niat baik saja ada resikonya. Dan melihatnya bicara pada waktu itu, saya melihat tekad seorang lelaki yang sangat kuat untuk memperbaiki kesalahan masa lalu..

"Kita bangun Papua bukan untuk kita. Tetapi untuk anak cucu kita. Papua suatu saat akan menjadi provinsi kaya dimana banyak orang mencari kerja disana... " Jokowi menutup pembicaraan disambut tepuk tangan banyak orang.

Tidak sadar saya pun bertepuk tangan. Saya bukan orang yang mudah memuji seseorang, tetapi baru kali ini muncullah pemimpin yang menaruh kepentingan bangsa diatas segalanya..

Papua, Jokowi bukan Soeharto. Bukalah tangan kalian selebar-lebarnya. Kita kubur masa lalu, kita songsong Papua menjadi daerah kaya. Karena hanya dengan bergandengan kita bisa. Kita saudara sebangsa..

Secangkir kopi untuk kalian disana.