Selasa, 18 September 2018

KUDETA-KUDETA HIZBUT TAHRIR


Denny Siregar
Denny Siregar
"Lu gak usah nakut-nakutin orang. HTI gak mungkin kudeta di negeri ini. Apa buktinya?". Sebuah pesan mampir ke kotak inbox saya. Kemungkinan dia anggota Hizbut Tahrir Indonesia dan marah karena saya selalu memberitakan tentang bahayanya organisasi HTI di Indonesia.

Hizbut Tahrir sejatinya adalah sebuah gerakan transnasional. Ia bukan lagi sebuah organisasi yang terbatas pada batas-batas negara. Ia adalah ideologi lintas negara yang mempunyai konsep bahwa dunia ini satu saat akan menyatu dibawah kepemimpinan satu orang, yaitu khalifah.

Maka itu, pemimpin HTI di Indonesia tidak bakalan ada. Yang ada hanya juru bicara, diwakili Ismail Yusanto. Karena mereka masih menunggu perintah dari antah berantah siapa khalifah sesungguhnya.

Pola-pola Hizbut Tahrir dalam merebut kekuasaan tidak dengan pemberontakan langsung, tetapi melakukan penyusupan atau infiltrasi ke tubuh pemerintahan dan militer. Ini yang berbahaya.

Mereka adalah gerakan intelektual yang sangat sistematis dan terencana dengan baik. Tidak mudah mengidentifikasi siapa mereka, tetapi gerakannya terlihat jelas, terutama di Indonesia karena mereka masih menggunakan simbol-simbol yang menunjukkan keberadaannya, seperti dengan bendera yang mereka sebut "bendera tauhid".

Bayangkan ketika HTI menyusup ke dalam tubuh militer. Mereka akan mencuci otak para tentara untuk satu waktu mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah dan memproklamirkan berdirinya negara khilafah.

"Alahh.. itu kan cuma bayangan ketakutan lu aja.."

Hehe, tidak. Ini berdasarkan pengalaman yang terjadi di beberapa negara. Pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan ?

Tahun 1974, kelompok bernama Shabab Muhammad menyerang sekolah militer di Kairo Mesir, untuk melakukan kudeta dan usaha membunuh Anwar Sadat, Presiden Mesir kala itu. Para pelaku mengumumkan berdirinya negara Islam dibawah kepemimpinan Hizbut Tahrir. Kudeta itu gagal dan semua pelakunya dihukum mati.

Di Bangladesh Pakistan, tahun 2012, Hizbut Tahrir melakukan percobaan kudeta yang juga gagal melibatkan purnawirawan dan perwira militer aktif.

Di Yordania, mereka juga melakukan penyusupan di militer dan melakukan kudeta yang gagal tahun 1969. Begitu juga yang terjadi di Irak dan Suriah, tahun 1972 dan 1976.

Dengan rekam jejak seperti ini, sudah benar banyak negara yang melarang keberadaan Hizbut Tahrir yang berarti Partai Pembebasan itu. Mereka sangat berbahaya, dengan kemampuan penyusupannya bahkan mereka bisa menciptakan perang antar negara, dimana sejatinya mereka berada di kedua belah pihak.

Tujuan utamanya tentu negara-negara itu hancur, sehingga Hizbut Tahrir bisa mendirikan kepemimpinan khalifah Islam diantara kehancuran itu.

Bagaimana Indonesia?

Tentu sama. Lihat saja, ketika Jokowi membubarkan HTI tahun 2017 lalu, serentak kepala-kepala ular HTI keluar semak. Mereka ada yang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri terkenal juga rektor dan dosennya. Mantan kepala BIN As'ad Said Ali malah mengatakan, ia mengantungi nama oknum-oknum PNS, purnawirawan dan tokoh militer yang terlibat dalam keanggotaan HTI.

Jadi, masih menganggap bahwa Hizbut Tahrir adalah organisasi yang biasa-biasa saja ?

Tentu HTI tidak ingin gerakan senyap mereka ini ketahuan pihak luar, supaya mereka bisa semakin masuk ke dalam. Tapi sayangnya, di Indonesia, bahkan Presiden Jokowi sendiri membubarkan mereka.

Dan HTI sekarang ingin bangkit kembali. Tentu mereka ingin balas dendam kepada orang yang membubarkan kegiatan mereka. Jalan terbaik bagi HTI adalah menumpang di lawan politik orang itu, meskipun HTI juga tidak bersahabat dengan yang ditumpanginya.

"Enemy of my enemy is my friend.." begitu prinsip HTI.

HTI bahkan berencana untuk membuat kedua kubu saling menghancurkan karena mereka akan menawarkan sistem kekhalifahan diatas puing-puingnya. "Ganti sistem.." kata Ismail Yusanto dengan percaya dirinya.

Menghancurkan ideologi HTI dan penyusupan yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun, tidak cukup dengan seruput secangkir kopi saja. Tetapi membutuhkan bercangkir-cangkir kopi hanya untuk mengetahui keberadaannya saja..

Seruput.

Prabowo dan Khilafah di Belakangnya

Ketum Gerindra
Prabowo Subianto

Ketika berkunjung ke kediaman Bu Shinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, Prabowo ditanya satu hal penting.

"Apakah mendukung pengubahan Pancasila menjadi sistem Khilafah?"

Sontak Prabowo menjawab, "Masalah khilafah itu adalah propaganda yang sebetulnya picik, tapi berbahaya karena rakyat bisa terpengaruh." Prabowo juga bercerita bahwa ia mempertaruhkan nyawanya untuk NKRI, jadi tidak mungkin akan keluar dari sistem Pancasila dan NKRI.

Sebuah pernyataan yang sangat nasionalis dari seorang Prabowo. Tapi benarkah kenyataannya begitu?

Ketika Hizbut Tahrir Indonesia dibubarkan oleh Jokowi pada bulan Juli 2017,  tidak terdengar sedikit pun suara dukungan dari Prabowo maupun partainya terhadap pembubaran kelompok pro khilafah itu. Bahkan pada Mei 2018, Gerindra, PAN dan PKS mendukung HTI mengajukan banding atas pembubaran itu.

Ini tentu bertentangan dengan pernyataan Prabowo bahwa ia tidak mendukung khilafah, toh bukti di lapangan terlihat jelas partainya mendukung keberadaan HTI.

Prabowo juga mengetahui bahwa gerakan #2019GantiPresiden ditunggangi oleh HTI.

Bukti itu jelas dan nyata dari video yang viral yang menampilkan Mardani Ali Sera dari PKS dan Ismail Yusanto Jubir HTI yang mengeluarkan statemen, "ganti sistem". Gerakan "ganti Presiden" ini didukung penuh oleh Gerindra, dimana Fadli Zon, Waketum Gerindra, tampak aktif melindungi para penggerak gerakan ini.

Jika Prabowo memang berjiwa nasionalis, kenapa ia tidak melarang gerakan yang jelas-jelas ditunggangi HTI?

Prabowo sendiri dikabarkan dekat dengan Yordania, karena ia sempat menghabiskan waktu selama 2 tahun di sana, pasca-kejadian 1998. Dan seharusnya ia tahu, bahwa Yordania sudah melarang keberadaan Hizbut Tahrir sejak tahun 1969 karena percobaan kudeta yang gagal, dimana Hizbut Tahrir menyusup ke dalam tubuh militer.

Tapi kenapa Prabowo tidak mengikuti jejak negeri sahabatnya, ikut berseru melarang keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia?

Perlu berapa lagi bukti bahwa Prabowo sendiri membiarkan bahwa dirinya dan partainya secara nyata mendukung keberadaan HTI?

Jadi jelas bahwa kedekatan Prabowo dan HTI bukan propaganda yang picik, karena bukti-bukti menunjukkan sebaliknya.

Prabowo mungkin nasionalis, ia mungkin merasa dirinyalah yang menunggangi HTI, bukan sebaliknya. Dan mungkin ia bercita-cita bahwa jika kelak ia berkuasa, HTI tidak akan mampu mengubah Pancasila menjadi negara khilafah.

Tapi Prabowo lupa, bahwa HTI itu adalah gerakan transnasional, yang tidak terbatas pada batas negara. Ia gerakan ideologi.

Keberadaannya sendiri akan merusak sendi-sendi suatu negara jika ia dibiarkan berkembang biak. Hizbut Tahrir tidak bisa dijadikan teman, karena ia mampu menyusup ke elemen pemerintahan sampai aparat sebelum melakukan kudeta yang merugikan. Melarang keberadaannya jauh lebih berguna daripada membiarkannya berkembang.

Jika Hizbut Tahrir mudah ditunggangi, lalu kenapa belasan negara melarang keberadaannya? Apakah Prabowo lebih perkasa dari belasan negara yang melarang keberadaan gerakan ideologis itu?

Prabowo mungkin tidak ingin mengubah Pancasila menjadi sistem khilafah, tetapi membiarkan pendukung khilafah di dalam negara berasas Pancasila tentu akan menggerogoti sistem itu sendiri.

Dari berbagai kejadian di beberapa negara yang melarang keberadaan HTI, pola mereka sama, melakukan infiltrasi di tubuh militer dan pemerintahan, sebelum menguasainya dengan kudeta untuk mewujudkan konsep khilafah.

Pada waktu Asian Games 2018, Prabowo menyatakan dengan nasionalisme yang sama, bahwa "Beda pendapat boleh, tapi untuk kepentingan nasional kita satu."

Tapi itu sepertinya tidak berlaku bagi pembubaran HTI yang dilakukan demi kepentingan nasional, karena ada 2 juta suara anggota HTI yang dendam pada Jokowi, yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat kekuasaan.

Seruput dulu kopinya..

Tagar.id

Senin, 17 September 2018

Ijtimak Para Ulama Politik

Ijtima ulama II
Ijtima Ulama II

Entah apa yang diinginkan pihak oposisi dengan konsep ijtimak ulama itu. Ijtimak ulama kedua yang baru saja diselenggarakan itu akhirnya memilih Prabowo-Sandi sebagai Capres dan Cawapres.

Mungkin baru kali ini yang namanya ulama berijtimak atau bertemu dengan menghasilkan keputusan (atau ijma) berdasarkan politik praktis, memilih siapa Presiden dan wakilnya.

Biasanya ijtimak ulama digunakan untuk hal-hal yang bersifat untuk kemaslahatan umatnya.

Seperti contohnya NU mengadakan pertemuan (ijtimak) untuk menentukan kapan Ramadhan dimulai. Ini berkaitan dengan kebutuhan umat akan penentuan kapan memulai puasa. Ada nilai kebutuhan di situ yang diselesaikan dengan pertemuan para ulama yang menghasilkan keputusan (fatwa) demi kepentingan bersama.

Dan ulama yang mengadakan pertemuan tentu bukan sembarang ulama. Seperti contoh pemerintah mengumpulkan 65 ulama ahli falak (astronomi) untuk menentukan hari pertama bulan suci Ramadan. Catat ya, ulama ahli falak. Jadi mereka sudah diidentifikasi sebagai orang yang ahli dalam bidang astronomi.

Nah, ijtimak ulama yang diselenggarakan untuk memilih Prabowo-Sandi itu ahli apa ya? Ulama ahli politik? Memang ada ya ulama yang ahli politik di negeri ini?

Permasalahan di Indonesia sekarang ini adalah ada sekelompok orang yang dengan entengnya mengatas-namakan Islam, mencatut gelar ustaz dan mengambil brand ulama untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka sendiri tidak jelas berasal dari kelompok mana, hanya kumpulan orang-orang yang menggelari diri mereka sendiri sebagai ulama.

Mereka rapat-rapat sendiri, ambil-ambil keputusan sendiri, umum-umumkan sendiri, dengan tidak lupa membawa nama Tuhan sebagai pemanis bibir. Sungguh mengibakan.

Ini sebenarnya alarm bagi rakyat Indonesia. Situasi akan semakin berbahaya manakala mereka kelak berkuasa atas negeri ini.

Mereka dengan mudahnya akan mengatasnamakan agama, ulama dan Tuhan demi kepentingan kelompok yang mereka bela. Dan ini akan mengakibatkan perpecahan di seluruh negeri, dimana keputusan mereka yang mengatasnamakan ulama ini didasarkan pada kepentingan pribadi, dengan membawa-bawa umat mayoritas.

"Ulama-ulama" politik inilah yang akan merusak tatanan berdemokrasi, dimana nanti keputusan politik akan terus didasari hasil pertimbangan ulama. Sekali mereka berhasil, maka mereka akan kecanduan untuk melakukan hal yang sama. Mereka akan menguasai ruang-ruang keputusan pemerintahan dan berasumsi bahwa ini adalah kehendak umat agama mayoritas.

Kasihan sebenarnya ulama beneran yang sungguh-sungguh berbuat untuk umatnya. Mereka terfitnah dengan model-model ulama politik seperti ini, yang nafsu berkuasanya masih sangat kental dan cenderung menghalalkan segala cara untuk kepentingan dunianya.

Semoga kita semua dihindarkan dari ulama-ulama jenis ini dan ditemukan dengan ulama-ulama benar dalam perjalanan kita di dunia.

Seruput dulu kopinya, kawan.

Tagar.id

Lawan Radikalisme Bersama Banser dan Ansor

Ansor
Ketum Ansor Pakai Baju Adat Papua

Tanpa banyak orang sadar, situasi politik sekarang ini sedang menuju ke arah perpecahan negeri. Ada kelompok-kelompok yang sedang memainkan propaganda "mayoritas dan minoritas" untuk kepentingan politik mereka. Dan yang mereka mainkan tentu agama Islam, sebagai agama mayoritas disini untuk menekan siapa yang mereka sebut sebagai kaum minoritas, atau non muslim tepatnya..

Kasus Meiliana adalah contoh buruk yang masih kita ingat, dimana hanya karena ia meminta supaya toa dikecilkan, ia malah dihukum penjara 1,5 tahun lamanya karena dianggap "menyinggung" si mayoritas..

Barisan Pemuda Ansor dan Banser yang pertama menyuarakan kegelisahan ini. Mereka merasa bahwa situasi akan berjalan ke arah yang lebih buruk jika ini dibiarkan..

Hari ini, tanggal 16 September, Ansor dan Banser sedang memulai perjalanan dari titik-titik ujung negeri dengan tema "Kirab Satu Negeri".

Mereka berjalan selama dua pekan, dengan start mulai dari Sabang, Miangas, Rote dan Merauke. Mereka membawa lambang-lambang Pancasila dalam perjalanan dan bendera Merah putih sebagai pengikat kesatuan.

Di tempat yang mereka kunjungi, Banser dan Ansor akan bekerjasama dengan mereka yang berlainan suku, agama dan ras untuk melakukan kegiatan kemanusiaan. Mulai dari membersihkan pantai sampai membentangkan bendera sepanjang 1.500 meter akan mereka lakukan.

Slogan yang mereka bawakan adalah #KitaIniSama.

Ini adalah sebuah pesan, bahwa di negeri ini kita semua sama, sama dalam kedudukan hak dan kewajiban sebagai anak bangsa. Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa sukunya dan agamanya mempunyai hak yang lebih dari yang lainnya..

Dan titik berkumpul Banser dan Ansor adalah tanggal 26 Oktober di Yogyakarta, mendekati hari Sumpah Pemuda. Dipilihnya tanggal itu tentu untuk mengingatkan kita semua kembali, bahwa dulu pernah ada sekelompok pemuda yang menyuarakan kesatuan, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Mereka para pemuda yang berlainan suku dan agama, mengumandangkan persamaan..

Saya berharap kita semua bisa hadir di Jogja pada tanggal itu bersama ribuan anggota Banser dan Ansor. Menyuarakan kegelisahan bersama, melangkah bersama, dan mendeklarasikan kembali Sumpah Pemuda bersama. Kita bisa jadikan momen itu sebagai momen deklarasi terbesar sumpah pemuda Indonesia.

Jangan biarkan Banser dan Ansor sendirian. Kita iringi langkah mereka dan kita serukan bahwa kita bersama mereka. Melawan radikalisme yang sudah pada tahap sewenang-wenang..

Mari angkat cangkir kopinya!

#kitainisama

Jumat, 14 September 2018

Kader Demokrat Ramai-ramai Dukung Jokowi

Politik
Jokowi

Baru kali ini Susilo Bambang Yudhoyono resah.

Ketua umum Partai Demokrat ini merasakan "pemberontakan" di para kadernya karena sikap Demokrat yang mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019. Suara-suara dari bawah yang menyerukan untuk "Dukung Jokowi" makin lama makin keras dan menggema.

Demokrat sendiri melakukan survei internal dan menemukan bahwa 20 persen kadernya menyatakan dukungan Jokowi. Dan hitungan itu bisa lebih besar dari yang kelihatan, karena banyak kader yang menyembunyikan dukungan pribadinya supaya tidak terlihat berbenturan dengan sikap partai.

Lukas Enembe, Gubernur Papua menyatakan, "Harga mati, 3 juta suara Papua untuk Jokowi." Bagi Lukas, kerja Jokowi untuk Papua adalah bukti. Lukas sendiri adalah ketua DPD Demokrat Papua. Dengan berani Lukas menyatakan, "Siap diberi sanksi oleh Demokrat."

Gerakan kader Demokrat Papua untuk mendukung Jokowi juga terjadi di Jawa Timur. Pakde Karwo ketua DPD Demokrat Jatim, juga menyatakan akan mendukung Jokowi. Dan gerakan "ramai-ramai dukung Jokowi" ini juga diikuti oleh NTT dan kabarnya juga Banten.

Gelisah dengan situasi yang tidak menguntungkan ini, SBY berencana mengumpulkan seluruh kader di Jakarta.

Bukan hanya Demokrat, kader PKS dari Maluku Utara juga menyatakan sikap untuk mendukung Jokowi. Gubernur Malut, Abdul Ghani Kasuba berkata, "Tidak ada pilihan lain, saya dukung Jokowi...". Sebelumnya seorang kader PKS di Medan juga menyatakan untuk "dukung Jokowi".

Kenapa mereka ramai-ramai dukung Jokowi?

Karena memang apa yang dilakukan Jokowi dalam membangun wilayah mereka yang dulu tertinggal tampak nyata dan dirasakan rakyat. Dan kepala daerah yang partainya berlawanan sikap dengan Jokowi, tidak mampu membendung arus dukungan rakyatnya. Mereka harus mengikuti arus, jika tidak terkapar.

Dari Partai Amanat Nasional, mantan petingginya Soetrisno Bachir pun menyatakan sikap mendukung Jokowi. Dan kabarnya, ribuan kader PAN juga akan mendeklarasikan diri mendukung Jokowi.

Dari Gerindra sendiri juga begitu. Bupati Sragen dari Gerindra menyatakan akan mendukung Jokowi dua periode.

Menarik melihat fenomena bagaimana mereka yang partainya mendukung Prabowo, kader-kadernya berlawanan sikap dengan mendukung Jokowi. Mungkin akal sehat mereka tidak menerima, bagaimana bisa partainya mendukung Prabowo yang belum teruji kinerjanya?

Mungkin sudah saatnya SBY kembali merenungkan sikapnya. Di kubu oposisi Demokrat pun tidak mendapat keuntungan apa-apa, bahkan bisa saja suara mereka tergerus di pemilu legislatif karena dukungan yang salah.

Di kubu oposisi sekarang ini Capresnya dari Gerindra, Cawapresnya dari Gerindra, bahkan ketua timsesnya pun kabarnya dari Gerindra. Terus Demokrat ngapain aja?

Mungkin sudah saatnya SBY mengambil gitarnya kembali dan mulai berencana membuat album musik untuk ke sekian kali.

Judul albumnya mungkin, "Jokowi sekali lagi..." ehhh....

Saya sih lebih senang seruput kopi melihat bagaimana Jokowi memainkan caturnya dengan lihai, yang membuat benteng pertahanan lawan tandingnya pelan-pelan terurai.

Silakan diseruput selagi panas.

Tagar.id

Kamis, 13 September 2018

KRIK KRIK KRIK, Dolar Jinak

Rupiah Menguat
Dolar Jinak

Krik krik krik.. Suasana begitu hening dan damai. Para kampret ngintip dari dalam goa, pengen keluar tapi kok gada gorengan..

Krik krik krik.. dolar jinak? "Emang harimau.." kata mereka lirih di tengah kepercayaan diri dari pengusaha yang semakin tinggi. "Gak mungkin, inu gak mungkin. Trus dimana kita harus cari lagi salah Jokowi ??" Tanya seseorang dengan airmata pedih.

"Kata Prabowo harga ikan asin naik tinggi.." seorang lagi berusaha membuka celah.

"Kemaren telor, sekarang ikan asin. Ntar kita sudah provokasi, eh ternyata hoaks lagi.." seorang kampret milenial yang kemaren ikut demo bakar2 keranda di Riau, tertunduk resah. Dia tergabung dalam BEK, Badan Eksekutif Kampret, yang kerjaannya cari-cari masalah tapi solusi gak ada.

Krik krik krik. Suasana diluar tenang dan damai, tapi para kampret gelisah. Buat mereka keriuhan itu indah, karena disanalah makanan mereka berada. "Ngaca!" kata seorang kampret ketika temannya bilang kalau wajahnya jika lama dilihat mirip Iko Uwais, aktor laga.

Krik krik krik... Di kejauhan, dipinggir kolam, para cebong sedang bernyanyi gembira. "Masak ada kampret yang bilang kalau dia sama singa itu apple to apple?" Seorang cebong cerita dan cebong yang lain tertawa.

Krik krik krik, seekor jangkrik terus mengerik. Dia dulu adalah cebong tapi berubah ingin golput aja. Tapi sendirian itu tidak enak ternyata. "Apakah aku harus kembali jadi cebong aja biar bisa ikut gembira ?" Tanya dalam hatinya

Sementara itu secangkir kopi panas terhidang. Nikmatnya suasana, jika kampret terbungkam..

Arogansi 'Jubir' Jokowi

Media
Farhat Abbas (Instagram)

"Yang memilih Jokowi masuk surga. Yang tidak, masuk neraka...."

Begitu tulisan Farhat Abbas dalam status di Instagramnya. Dan pernyataan ini sontak mendapat reaksi keras yang datang baik dari mereka yang pro Jokowi maupun yang kontra.

Meskipun Farhat mencoba mengklarifikasi bahwa "Itu hanya berbalas pantun" tetapi reaksi yang datang justru berbeda. Ia akhirnya mendapat teguran keras dari rekan-rekannya bahwa menggunakan narasi akhirat itu akan menaikkan tensi politik dalam isu agama.

Raja Juli Antoni, Sekjen PSI, langsung menegur Farhat Abbas dan menolak jika Farhat dibilang sebagai juru bicara dari tim kampanye Jokowi.

Sebelum Farhat, kita juga melihat "ganasnya" Ali Mochtar Ngabalin, yang diangkat sebagai tenaga ahli di Kantor Staf Presiden dalam membela pemerintah. Ngabalin yang kemudian diangkat menjadi Komisaris Angkasa Pura ini, juga ditegur oleh sesama pendukung Jokowi seperti Dedi Mulyadi, politisi Golkar.

Menurut Dedi, gaya frontal Ngabalin cenderung bisa menurunkan elektabilitas Presiden. "Problemnya bukan di popularitas, tetapi elektabilitas Jokowi jangan sampai tergerus," katanya.

Memang ada dualisme sikap di barisan pendukung Jokowi dalam menyikapi keberadaan Farhat Abbas dan Ali Mochtar Ngabalin.

Sebagian menganggap bahwa gaya frontal itu sebagai strategi menghajar "jubir" Prabowo yang arogan dan seenaknya ketika berbicara di depan publik, seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Amien Rais.

Sedangkan sebagian lagi menganggap bahwa justru sikap frontal yang "kurang cerdas" seperti itu malah akan menggerus suara Jokowi, terutama dari para pemilih ngambang "swing voters" yang belum menentukan siapa yang akan mereka coblos di pilpres nanti.

Saya pribadi, awalnya setuju ketika Ali Mochtar Ngabalin menjadi bumper untuk menghadapi arogansi lawan politik Jokowi. Tetapi lama kelamaaan saya melihat justru sikap arogansi yang ditunjukkan Farhat Abbas dan Ngabalin itu kebablasan - bahasa Suroboyo yang berarti kelewatan.

Jika Farhat Abbas "bablas" dengan memainkan isu surga dan neraka, sedangkan Ali Mochtar Ngabalin lebih pada sikap arogan yang cenderung tidak pada tempatnya. Mereka berdua masih kurang cerdas dalam memainkan narasi-narasinya dan cenderung emosional sehingga membuat jengah para pendukung Jokowi sendiri.

Saya lebih suka gaya Adian Napitupulu yang tenang tetapi kata-katanya membungkam. Atau gaya Irma Chaniago dari Nasdem yang lantang tetapi tetap menjaga ritme bicaranya yang menusuk jantung lawan.

Ini memang masalah kecerdasan sikap. Sikap provokatif dan cenderung ngajak gelut, seharusnya ditinggalkan dan ganti dengan kefasihan kata-kata yang andal.

Menurut penelitian lembaga survei Alvara Research Centre, swing voters berada pada kisaran lebih dari 19 persen, dan ini angka yang besar. Mereka baru menentukan pilihan saat mendekati hari pencoblosan sambil melihat-lihat dulu banyak kemungkinan. Yang ditakutkan, mereka ini akan condong ke Prabowo karena memutuskan tidak menyukai "jubir" Jokowi dengan sikap arogansi yang kelewatan.

Belum lagi jumlah pemilih milenial mencapai sekitar 40 persen di tahun depan. Termasuk di kelompok ini adalah pemilih yang "fun" dan tidak menyukai kebisingan. Jadi sangat mungkin mereka tidak memilih Jokowi karena jubirnya yang "gak gue banget.."

Sudah seharusnya timses Jokowi mengubah pola serangan menjadi serangan yang elegan, bukan yang membabi buta ( sudah babi, buta pulak).

Jokowi sudah tergambar sebagai sosok yang cerdas, brilian dan matang. Jangan hanya karena "jubir"nya yang grusa-grusu, akhirnya bangunan itu runtuh dalam semalam. Menyerang harus, tetapi serangan yang tidak terpola dan condong asal bacot saja, akan membuat simpati berubah arah. Dan jangan kaget kalau akhirnya serangan balik datang dan gawang kebobolan.

Jika ingin menang, timses Jokowi harus mencetak Adian Napitupulu dan Irma Chaniago sebanyak-banyaknya. Buat para penonton tertawa karena argumen juru bicaranya benar. Bukan membuat penonton emosi karena mereka terbakar.

Pilpres ini seharusnya menjadi pertarungan sekelas Liga Inggris, bukan liga tarkam. Kalau liga tarkam, sudah mainnya gerudukan, pemainnya emosian, wasit dikejar-kejar, tambah lagi penontonnya main keroyokan. Berprestasi nggak, muka bonyok dibanggakan.

Gak setuju silakan, yang penting seruput kopi dulu biar paham.

Tagar.id

Rabu, 12 September 2018

SURGA & NERAKA FARHAT ABBAS

Farhat Abbas
Tweet Farhat Abbas

"Yang milih Jokowi masuk surga. Yang tidak milih, masuk neraka!".

Begitu kata Farhat Abbas di akun IGnya. Farhat adalah juru bicara resmi di tim kampanye Jokowi - Maaruf Amin.

Tidak jauh beda dengan kaum "pemilik surga", Farhat memainkan genderang yang sama. Memainkan agama sebagai bagian dari tarian massal. Bertindak seolah Tuhan dan politik dijadikan acuan keimanan.

Bung Farhat, meleklah. Saya pendukung Jokowi, tapi bukan begitu cara jika ingin bermain. Itu cara terbodoh jika melibatkan wilayah Tuhan dan akhirat dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan melawan kebodohan dengan kebodohan juga. Cukuplah itu ada di wilayah tetangga sebelah yang doyan mengklaim bahwa mereka orang suci. Anda tidak suci, Jokowi juga, saya juga dan semua orang di dunia.

Jangan sampai aib anda juga dibongkar seperti yang kabur ke Saudi karena gemar bermain di wilayah hak Tuhan. Anda siapa? Tetangganya?

Biarkan mereka yang memainkan narasi Tuhan. Mau bilang kita dajjal kek, kafir kek, penghuni neraka kek, gak penting semua itu, karena bukan mereka yang menentukan. Tetapi kalau anda yang bilang begitu, itu menjadi masalah besar, karena anda juru bicara resmi dari tim yang anda bela.

Tahukah anda, narasi anda begitu menjijikkan? Membuat banyak orang meludah dan -sialnya- berdampak pada pemimpin yang anda bela? Yang benci semakin benci, yang golput semakin mencaci dan yang mendukung jadi tidak punya kebanggaan diri.

Anda orang cerdas, cerdaslah dalam berargumen. Kalau mau melawan Fadli Zon dan kawan-kawan, hantam argumentasi mereka dengan pintar. Jangan malah lebih bodoh dengan membawa-bawa hak Tuhan.

Saya juga heran, entah kenapa tim kampanye Jokowi bisa menjadikan seorang Farhat menjadu juru bicara resmi. Ini blunder dan tidak menjadikan Jokowi menang. Jokowi sudah bagus dengan mengeliminasi isu-isu agama, jangan malah tim kampanyenya yang memulai.

Seruput kopi dululah, bang Farhat. Demokrasi jangan ditarik mundur kembali. Mari kita kembalikan demokrasi dalam bentuk pesta rakyat, bukan dalam provokasi yang melibatkan akhirat.

Anda mau jika Jokowi menang dan ia dituding menang dengan memainkan agama dan ayat ?

Kopi saya pahit siang ini, tapi tidak sepahit ketika saya sadar bahwa yang termasuk menjatuhkan Jokowi adalah pendukungnya sendiri.

Milenial: Keren Jokowi!

Milenial
Jokowi dan Artis Korea

Begitulah trending di Twitter sekarang, yang dalam Bahasa Korea kira-kira "keren, Jokowi". Kata ini di-tweet oleh para K-popers, atau penggemar Korean Pop, aliran musik dari Korea yang sedang melanda generasi milenial Indonesia.

Generasi milenial Indonesia menyambut dengan senang ketika Jokowi berfoto bersama grup Kpop terkenal Super Junior, atau sering disingkat Suju. Nama Jokowi langsung menjadi hits di mata mereka dan tagar #DaebakJokowi merajai trending di media sosial.

Gerakan politik Jokowi bertemu dengan Suju disela kunjungannya ke Korea Selatan, memang menarik. Ia seperti sudah tahu di mana pusat magnet milenial terbesar di Indonesia sekarang ini. Dan Jokowi berada di titik terkuatnya.

Generasi milenial Indonesia sering disebut sebagai generasi apolitis, atau tidak peduli dengan politik.

Seorang teman pemilik salah satu stasiun radio besar bersegmen anak muda, pernah mencoba mengangkat tema politik dalam programnya. Dan ia diprotes habis-habisan oleh pendengarnya.

Politik di Indonesia bagi generasi milenial identik dengan kerusuhan, keributan, ajang caci maki dan segala kebisingan lainnya. Sedangkan generasi ini adalah generasi fun, bersenang-senang dan independen karena sering berkomunikasi lewat internet.

Mendekati mereka susah-susah gampang, apalagi menyuruh mereka untuk memilih siapa Presidennya di tahun depan. Jelas mereka tidak peduli siapa yang menang.

Langkah Jokowi bertemu grup boyband Suju, bisa dibilang langkah brilian. Sontak generasi milenial menoleh kepadanya. Dan citra Jokowi pun terangkat di mata mereka sebagai Presiden yang cool, keren, amazing, wow, top dan segudang kata kekaguman diluncurkan dengan bahasa kekinian.

Jokowi mampu memainkan genderang yang berbeda dalam Pilpres kali ini.

Pilpres 2014 dan 2017 yang hitam dan kelam karena kuatnya hoaks dan SARA dimainkan, seakan ingin dihapusnya di tahun 2019 nanti. Pilpres tahun depan harus menyenangkan, menghibur, megah, dan menggaet milenial sebagai pemilih pemula untuk mengurangi angka golput yang masih besar.

Mendekati Super Junior dalam selingan lawatan di Korea Selatan, adalah langkah yang cerdas, "Kampanye" yang halus dan tidak melanggar aturan. Piawainya Jokowi dalam memainkan bidaknya benar-benar seperti menyusun benteng, kuda dan menteri dalam satu bidang sebelum menyerang dengan kekuatan.

Sandiaga Uno sudah pasti geram. Ia sejak awal mengincar generasi milenial sebagai pangsa pasarnya. Meskipun caranya agak "norak-norak" gimana ya, dengan bahasa "receh" dan berusaha melawak seperti menyamakan tempe dengan tipisnya kartu ATM demi "dibicarakan" di media sosial.

Jokowi bermain jauh lebih megah dan elegan dengan memainkan kesukaan milenial tanpa meninggalkan keeleganan dan keanggunannya sebagai Presiden negara besar.

Jika Sandi selalu "membicarakan" Jokowi dengan sindiran-sindirannya, Jokowi malah sibuk "berbicara" dengan dunia sebagai titik fokusnya. Ia tidak menanggapi Sandi dan banyak orang yang terus menyerangnya. Beda kelasnya.

Sambil mengangkat secangkir kopi yang masih panas dan nikmat, saya jadi teringat perkataan seorang teman. "Den, pemenang itu fokus pada kemenangan. Sedangkan pecundang selalu fokus pada pemenang, bukan pada kemenangan."

Menarik juga kata-katanya. Seruput dulu ah.

Tagar.id

HTI DALAM TUBUH MILITER?

Pawai
Karnaval

Saya pertama berbaik sangka mengira ini karnaval dan yang pawai sipil berbaju tentara..

Tapi menurut informasi dari portalnya kampret www.portal-islam id ini memang pawai oleh TNI kita hari ini. Pertama kali diunggah oleh Ketua LDK Al-Fatih Universitas Tompotika Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.

"Tentara saja tidak takut dengan bendera tauhid, kalian para cebong masih mempertanyakan kesetiaan mereka terhadap NKRI ?" kata dia di statusnya.

Bendera yang dipercaya sebagai Panji Rasulullah ini diragukan sejarahnya, tetapi selalu dijadikan simbol oleh ormas terlarang HTI Hizbut Thahrir Indonesia. Dan sekarang tentara pun ikut membawanya dengan bangga, mungkin karena ketidaktahuannya..

Semoga TNI bisa mengusut siapa dibalik ini, karena berbahaya sekali jika benar ormas terlarang itu masuk ke dalam tubuh militer..

Pahit kopinya, sodara.

Selasa, 11 September 2018

Aceh, Negeri Khilafah di Indonesia

Khilafah
Hukum Cambuk Aceh

Aceh adalah negeri di ujung barat Indonesia.

Ia merupakan daerah istimewa, di mana berlaku peraturan yang berbeda juga dengan Indonesia. Provinsi dengan gelar otonomi ini memang tergolong konservatif dalam menerapkan peraturan daerahnya yang berbasis syariah.

Buat sebagian besar masyarakat Indonesia, peraturan di Aceh tergolong unik, jika tidak bisa dibilang "aneh". Di sana ada yang namanya polisi syariah, yaitu "polisi" yang mengawasi cara bertindak dan berlaku masyarakat warga Aceh.

Misalnya dalam cara berpakaian. Di Aceh, pakaian harus memenuhi syariat, yaitu harus sangat sopan. Bahkan lelaki bercelana pendek pun tidak boleh turun ke jalan kalau tidak ingin kena razia. Dan kalau ketangkap, hukumannya bisa kena cambuk. Itu baru lelaki, karena untuk perempuan jauh lebih ketat lagi.

Berpacaran adalah hal yang tabu di Aceh. Razia demi razia digencarkan untuk mencegah non muhrim berdekatan. Jangankan berboncengan sepeda motor berduaan, ngopi berduaan di kafe aja dilarang. "Supaya tidak ada pelanggaran syariat Islam..." kata Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Bireuen.

Jangan cerita tentang serunya aksi Tom Cruise dalam film Mission Impossible pada warga Aceh, karena tidak ada bioskop di sana. "Bioskop haram di Aceh..." kata seorang teman. "Gua kalo mau nonton bioskop ya harus ke Medan".

Bahkan hanya untuk membuka bioskop saja di Aceh, Pemda sana harus studi banding ke Arab Saudi yang juga baru membuka bioskop sesudah 30 tahun dilarang.

Meskipun saya menghormati peraturan otonomi daerah yang begitu konservatif di Aceh, saya ngeri membayangkan hidup di sana. Betapa terbatasnya segala hal yang biasa saya lakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung - apalagi Bali - dan beberapa kota besar lainnya di mana saya pernah tinggal cukup lama.

Di Bali misalnya, saya hampir selalu bercelana pendek apalagi saat mengunjungi pantainya yang indah. Kebayang kalau ada "polisi syariat" di Bali, saya sudah pasti kena cambuk berkali-kali.

Apakah dengan semua ketatnya peraturan syariat Islam itu, Aceh bebas dari maksiat?

Ternyata tidak juga. Baru-baru ini terbongkar prostitusi online di Aceh yang melibatkan sekian banyak mahasiswi sebagai pelakunya. Siapa pelanggannya? "Ada juga pejabat Aceh.." kata germonya. "Mereka suka pesan yang putih dan bersih.." Itu kode dengan artian "yang mulus dong, bro, jangan yang geradakan kayak jalan belum di aspal.."

Dan hasil dari peraturan syariat yang sangat ketat itu ternyata juga adalah korupsi. KPK menangkap Gubernur Aceh karena selewengkan dana otsus. Sayangnya, di Aceh belum ada hukuman potong tangan buat pencuri. Jadi para pejabatnya masih bisa kembali pake rompi oranye dan dadah-dadah di kamera televisi.

Mungkin sama kayak di Indonesia, di mana DPR-nya takut membuat hukuman mati untuk para koruptor. Karena pelakunya banyak yang dari golongan mereka juga. Senjata makan tuan nantinya.

Aceh adalah gambar kecil bagaimana hukum syariat berlaku di Indonesia.

Sebuah contoh, bagaimana negeri ini nanti akan sibuk dengan hal remeh temeh masalah pakaian dan norma, tetapi jauh dari keunggulan teknologi. Indonesia yang sibuk berdebat masalah surga dan neraka, tetapi melongo melihat negara tetangga sudah menciptakan robot yang bisa menggantikan pekerja.

Model seperti inilah yang ingin diterapkan oleh kelompok pendukung khilafah seperti HTI dan PKS nantinya. Sebuah negara konservatif berbasis agama, yang sibuk menjaga warganya dari maksiat, tetapi tidak sibuk mengembangkan potensi dirinya.

Negara-negara kapitalis pasti senang jika Indonesia seperti ini, karena akan lebih mudah mengeruk kekayaan alamnya. Cukup membayar ulama berfatwa "haram" maka kita akan terpenjara tidak dapat berbuat apa-apa menyaksikan mereka mengeruk semua milik kita.

Karena itulah kita berjuang supaya negeri ini tetap seperti adanya. Dengan segala kekurangannya, Indonesia masih menjadi surga bagi kebhinekaan dan kebebasan dalam berekspresi.

Kalau pengen khilafah, silakan tinggal di Aceh saja. Di Indonesia, kita masih bebas seruput secangkir kopi tanpa takut ada razia segala..

Ah, nikmatnya..

Tagar.id

Keripik Tempe Sandiaga Uno

Prabowo
PADI

"Tempe sekarang setipis ATM.."

Begitu tulis Sandiaga Uno sambil memamerkan ATM dan tempe di salah satu akun media sosialnya. Sontak tulisan Sandiaga Uno ini menjadi viral dan dikutip banyak pendukung Jokowi dengan caption melecehkan karena apa yang ditulis tidak sesuai dengan kenyataan.

Saya tidak ingin mengomentari komentar Sandi ini. Saya hanya ingin memberikan sedikit pandangan terhadap "strategi marketing" yang dilakukan Sandi terkait pertarungan Pilpres 2019 dimana dia menjadi Cawapres Prabowo Subianto.

Ini bukan komentar "receh" pertama Sandi. Sebelumnya dia komen tentang seorang emak bernama Lia yang membawa uang seratus ribu dan hanya bisa membeli cabe dan bawang saja. Dan model "receh" seperti ini akan terus dimainkannya sebagai bagian strategi..

Kenapa Sandi harus main recehan begitu?

Nama Sandiaga Uno sesungguhnya tidak dikenal di banyak daerah di Indonesia. Ia hanya dikenal di kalangan perkotaan saja. Karena itulah ia mencoba mengangkat namanya melalui media sosial supaya terus dibicarakan orang. Dengan melakukan gerakan receh ini ia berharap namanya terangkat pelan-pelan.

Dan Sandi "merasa" ia berhasil. Setidaknya begitu menurut timsesnya. Ia memang suka "agak aneh" sejak menjadi Wakil Gubernur, dengan gaya silat bangau dan sedikit lawakan slapstick ia berharap sosoknya mulai dilirik.

"Pemimpin milenial" begitulah dia membungkus dirinya supaya dikenal. Tapi benarkah ia dikenal di kalangan milenial ?

Survei dari Centre for Strategic & Internasional Studies CSIS yang membedah tentang pilihan generasi milenial di medsos, ternyata tidak menempatkan Sandiaga Uno dalam peringkat berapapun. Malah Ridwan Kamil yang menempati peringkat ketiga sesudah Jokowi dan Prabowo.

Lucunya Lingkaran Survey Indonesia LSI malah meneliti, bahwa Sandi kalah populer di kalangan milenial dibandingkan Kiai Ma'aruf Amin.

Ini mengherankan disaat Sandi berusaha keras untuk mengenalkan dirinya sebagai pemimpin milenial, generasi milenial justru sama sekali tidak mengenal dirinya.

Sandiaga Uno mungkin "fun", tetapi ia bukan yang harus dipilih jika menjadi pemimpin. Karena untuk menjadi pemimpin, syaratnya harus lebih dari sekadar menjadi seorang pelawak slapstick.

Sandi mungkin lupa bahwa terpilihnya ia sebagai Wakil Gubernur DKI bukan karena milenial memilihnya, tetapi karena Anies Baswedan yang menjadi alternatif oleh mereka yang condong "asal bukan Ahok". Gaya lawak Sandiaga Uno sama sekali tidak berpengaruh apa-apa selama ini.

Bahkan model "recehan" seperti yang dilakukan Sandiaga Uno bisa menjadi bumerang terhadap dirinya, dan Prabowo tentunya yang sudah menggambarkan dirinya dengan gaya gagah, militer, tegas eh disampingnya malah ngajak lucu-lucuan.

Sebagai seorang pengusaha, ia seharusnya menampilkan dirinya dengan gaya elegan dan pintar, bukan dengan gaya lawakan. Apalagi dengan munculnya pengusaha muda pembanding dirinya seperti Erick Thohir yang sekarang menjadi Ketua Timses Jokowi.

Jomplang banget modelnya. Survei sudah membuktikan..

Ibarat makanan, Sandiaga Uno itu keripik tempe. Harganya murah dan dijual dipinggir jalan. Ia ada sebagai makanan alternatif pengisi perut, bukan yang utama. Dibeli jika sedang suka saja. Bahkan jika disuruh memilih ayam goreng atau keripik tempe sebagai teman nasi, ia akan ditinggalkan karena tidak mengenyangkan..

Sungguh, jika saya Sandiaga Uno, saya akan memecat timses saya yang sudah membentuk diri saya menjadi seorang badut bukan tercitra sebagai pemimpin masa depan yang cemerlang.

Bagaimana bisa rakyat negeri ini mempercayakan Indonesia pada seorang yang bahkan tidak tercitrakan gemilang ??

"Saya senang dengan gaya Charlie Chaplin di filmnya, tapi kan gak mungkin saya memilihnya jika ia mencalonkan diri jadi Presiden Amerika? Mengurus negara itu bukan lawakan.." Kata seorang teman pendukung Prabowo yang sedang kerja di kejauhan.

Mungkin Sandi harus merenungkan ini dalam-dalam sambil seruput secangkir kopi sebagai teman.

Bagi dong keripik tempenya. Kriukkk.

Sumber: Tagar.id

Sabtu, 08 September 2018

Erick Thohir, Manuver Terbaik Jokowi

Timses
Jokowi dan Erick Tohir

Terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Timses bisa dibilang berdasarkan perhitungan yang matang.

Selain karena ia super kreatif dan mewakili milenial, ada satu hal penting yang terlupakan bahwa ia seorang pengusaha besar.

Ya, Erick Thohir bukan orang sembarang. Bersama abangnya Boy Thohir, kekayaan mereka berdua ditaksir majalah Forbes tahun 2017 bernilai sekitar lebih dari 20 triliun rupiah dengan kurs sekarang. Di usianya yang ke 48, Erick sudah memiliki banyak hal.

Kenapa Jokowi membutuhkan seorang Erick Thohir dalam sisinya sebagai pengusaha besar?

Jika melihat karakter Jokowi, kita faham bahwa ia tidak pernah melihat sebuah objek dari satu sisi. Ia selalu melihat dari banyak sisi sebelum memutuskan. Dan itu membuat keputusannya selalu kaya, meski tidak semua orang bisa menerima karena keterbatasan pandang.

Poin penting Jokowi memilih Erick Thohir adalah pada penguatan rupiah. Ya, rupiah. Ini musuh paling dekat Jokowi yang menjadi senjata besar lawan untuk menghantamnya.

Sebagai seorang petahana, ia pasti akan diserang masalah ekonomi. Dan ia harus mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya.

Erick Thohir diharapkan bisa mengajak pengusaha-pengusaha dalam jaringannya untuk membantu menguatkan nilai rupiah terhadap dollar. Dan disanalah kemampuan Erick Thohir yang paling utama daripada sisi politisnya.

Sebenarnya selain Erick Thohir, ada pilihan lain yaitu Chairul Tanjung. Tetapi para pengusaha besar biasanya menghindari masalah politik, apalagi kalau masalah pilpres ini. Bahaya buat bisnis. Iya kalau yang didukung menang, kalau kalah, usaha mereka bisa dikuya-kuya.

Karena itu keberanian Erick Thohir masuk di dunia politik pra Pilpres ini boleh diacungi jempol. Ia berani berhadapan dengan resiko besar, jika nanti Jokowi kalah, maka ia akan menghadapi tekanan lebih besar dalam usahanya. Dan masuknya dia dalam lingkaran politik tentu sudah sepersetujuan abangnya yang juga partnernya, Boy Thohir.

Tapi mental Erick Thohir dan Boy adalah mental pemenang. Mereka bertaruh memang -semua pebisnis pasti petaruh- tetapi mereka harus memastikan bahwa taruhannya benar.

Inilah beda pengusaha muda dengan pengusaha lama. Pengusaha muda cenderung lebih nekad dan berani memainkan kartunya. Dan itulah yang membuat kedua saudara itu cepat bersinar.

Selain memastikan Jokowi akan keluar sebagai pemenang, Erick Thohir harus memastikan bahwa situasi investasi di Indonesia aman, ekonomi lancar, karena ini berhubungan juga dengan bisnisnya sendiri.

Jadi pemilihan Erick Thohir sebagai Ketua timses sejatinya bukan hanya supaya Jokowi menang. Cakupannya harus lebih luas dan besar, yaitu Indonesia menang.

Selamat, kang Erick. Secangkir kopi pagi -yang harganya masih tiga rebu rupiah meski dollar naik tinggi- membisikkan motivasi bahwa kemenangan itu tidak datang sendiri. Ia harus diraih bersama dan saling bekerjasama. Ini bukan tentang Jokowi saja. Ini tentang negara tercinta.. Seruputtt..