Sabtu, 22 September 2018

Jangan Biarkan Mereka Menghancurkan Ruang Sosial Kita

Medsos
Whatsapp

Dan keributan itu terjadi lagi..

Whatsapp Grup atau WAG sekolah-sekolahku dulu, kembali ramai dengan postingan politik. Persis seperti tahun-tahun politik lalu. Situasi yang sempat memecah teman-teman masa kecil menjadi dua kubu. Dan akhirnya mereka membentuk grup-grup baru yang sevisi dengan mereka.

Tetapi kali ini ada yang berbeda..

Ada kejenuhan terhadap keributan politik disana. Dan ketika beberapa orang dengan seenaknya memposting fitnahan dan hoax terhadap satu kubu di dalam grup utama, beberapa orang yang selama ini diam dan netral mendadak marah.

Mereka kali ini tidak diam dan mulai bersuara. "Ini grup untuk kita silaturahmi, untuk bersenang-senang, untuk bercanda, bukan untuk politik. Kalau mau bicara politik, bikin grup sendiri disana, berantem disana. Jangan libatkan teman lainnya. Disini bukan tempat kampanye apalagi menshare fitnah. Kalau tidak mau ikut peraturan, kami sepakat menendang anda..."

Luar biasa. Aku yang selama ini aktif sebagai pengamat grup tanpa terasa senyum melihat situasi disana.

Memang ada kelompok teman yang kerjaannya mendominasi grup sekolah dan teman lama. Mereka biasanya mulai dari posting-posting ayat, hadis maupun kata-kata nasihat berbau agama. Mereka tidak perduli dengan teman lain yang tidak seagama. Postingan itu lebih sering berupa copasan panjang yang memenuhi ruang pembicaraan.

"Sampaikan walau satu ayat.." Kata mereka. Mereka lupa, bahwa diri mereka sendirilah yang perlu disampaikan satu ayat terkait etika.

Dan mereka yang dulu sering-sering posting yang berbau agama, sekarang mulai posting copas dukungan politik mereka. Tidak lupa fitnah dan hoax sebagai bumbunya.

Tetapi tahun ini berbeda. Ada perlawanan dari mereka yang selama ini diam tak bersuara. Mereka yang diam ini bukan tidak kesal, tetapi ingin tetap menjaga hubungan baik yang sudah terjalin lama. Hanya, semakin dibiarkan malah semakin ditekan. Mereka sekarang muak dicekoki hal-hal yang membuat mereka saling bermusuhan.

Dan akhirnya satu teman ditendang. Teman lama yang ngotot ingin memposting apa yang dia bela, tanpa perduli perasaan lainnya.

Mungkin yang ditendang tidak perduli, tetapi yang penting grup aman. Biarlah dia membentuk grup sendiri, disana dia bisa posting-posting sendiri, maki-maki sendiri, hoax-hoax sendiri. Biar menjadi pelajaran juga buat lainnya bahwa dalam kehidupan sosial ada yang bernama aturan untuk menghormati orang sekitar..

"Jangan diam.. " Kata saya dahulu. "Lawan mereka. Karena jika mereka mengira kalian menerima dominasi mereka, mereka akan terus menguasai ruang sosial kita.." Dan teman-temanku baru menyadari kata-kataku setelah sekian tahun berlalu.

Kembalikan ruang sosial kita ke ruang seharusnya.

Seandainya kita sudah dewasa, dan politik itu hanya ejek-ejekan becanda seperti masa kecil kita, tentu tidak akan begini jadinya. Tapi banyak yang belum dewasa, berpolitik dengan ceria. Mereka sibuk dengan hoax dan memaksakan pilihannya dengan kasar dan penuh amarah. Jadi lebih baik kita cari percakapan yang aman-aman saja..

Mending seperti saya. Kalau pengen bicara politik, cukup di facebook saja. Silahkan mau komen apa saja, yang penting tidak masuk ke ruang privat kita.

Sudah malam. Masih ada sebatang tapi koreknya habis gasnya. Mau seruput kopi, air panasnya tidak ada. Ya sudah, tidur saja.

SATU KALI LAGI, PAKDE JOKOWI

Jokowi
Joko Widodo

Selamat ya, pakdeku..
Engkau mendapat nomor urut SATU
Begitu banyak makna yang didapat dengan nomer itu..

Bahwa kita harus ingat sejarah dulu
Dimana kita sebagai bangsa yang terdiri dari banyak suku, ras dan agama..
Tapi kita berikrar dalam Sumpah Pemuda

Bahwa kita SATU nusa
Bahwa kita SATU bangsa
Dan kita SATU bahasa..

Cita-citamu sejak dulu, ingin menSATUkan Indonesia
Dari Papua sampai Sumatera
Kau bangun infrastruktur di semua daerah
Kau SATUkan laut Indonesia

Kau selalu bermimpi bagaimana supaya negeri ini maju.
Tapi tidak mungkin terjadi jika kita tidak berSATU.

Engkau bukan pemimpin SATU golongan
Tapi engkau pemimpin SATU bangsa
Karena dari tanganmu lah..
Papua sekarang kembali menjadi SATU keluarga

Mungkin inilah petunjuk saat engkau mencanangkan Bbm SATU harga
Bahwa engkau ingin menSATUkan semua bangsa

Selamat ya, pakde Jokowi..
Pimpin kami SATU kali lagi
Menjadi bangsa nomer SATU
Supaya kepala kami bisa tegak kembali
Saat kami berada di luar negeri..

Selamat juga kepada bapak Prabowo
Yang mendapat nomor DUA
Semoga ini adalah petunjuk
Supaya kelak bisa berSATU kembali.
Dan tidak sendirian lagi..

Angkat SATU cangkir kopi lagi..

#JokowiLagi


Jumat, 21 September 2018

Hizbut Tahrir adalah PKI Masa Kini

Ilustrasi

Anda tahu bagaimana PKI beraksi dulu?

Pada saat euforia politik terjadi di Indonesia, terbentuklah yang namanya Partai Komunis Indonesia. PKI ini memang kepanjangan tangan negara komunis di dunia waktu itu, yaitu Rusia (dulu namanya Uni Soviet) dan China.

Seperti kita tahu, pada masa itu terjadi perebutan wilayah ideologi komunis yang diwakili Rusia dan China, dan wilayah ideologi Kapitalis yang diwakili Amerika dan negara-negara barat sekutunya. Jerman terbagi dua. Korea dan Vietnam juga. Dan sekarang gelombang itu menuju Indonesia.

Dengan sistem yang legal, PKI menyusup ke pemerintahan, militer sampai dunia pendidikan. Orangnya di mana-mana. Jaringannya solid dan besar. Dan mereka bergerak dengan sabar.

Hingga pada waktunya mereka bergerak untuk menguasai negara, terjadilah pemberontakan yang luas di Indonesia. Dan pada waktu itu, menghancurkan PKI yang sudah bercokol di mana-mana sangat tidak mudah. Militer terpecah dan hampir saja negeri ini menjadi negeri komunis.

Meskipun negeri akhirnya memakai konsep kapitalis seperti yang kita pakai sekarang ini hasil Mbah Harto negosiasi dengan Amerika, kita terhindar dari paham Komunis. Negeri ini akhirnya memilih yang terburuk dari yang paling buruk.

Nah, pola penyusupan yang sama dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI.

Gerakan transnasional yang tidak terbatasi oleh batas negara ini, mengulang kembali sistem yang pernah dipakai PKI. HTI masuk melalui jalur pemerintahan, militer dan mengusasi dunia pendidikan.

Polanya sama meski "jubahnya" berbeda. Dulu tahun 1965 pakai jubah "Komunis" karena tren ideologi saat itu. Sekarang pakai baju "Agamis" karena memang kekinian. Sekarang orang kalau dianggap religius, duh senangnya. Sama seperti ketika masa PKI, dianggap keren karena revolusioner.

Musuhnya ya sama, yaitu Nahdlatul Ulama atau NU. Dulu PKI musuh bebuyutan dengan Banser NU. Mereka bisa saling bantai jika bertemu. Hingga akhirnya PKI kalah karena NU dibantu oleh pemerintah.

Sekarang pun HTI dicegat di mana-mana oleh Banser NU. Penyebaran virus ideologi khilafahnya itulah yang harus diredam, dihajar bila perlu. Karena jika HTI berkuasa nanti, NU lah yang dikerdilkan oleh mereka.

HTI dan PKI sama-sama ingin mengganti Pancasila. Jadi benar bahwa tagar #2019GantiPresiden waktu itu berpotensi makar. Karena kata "Ganti" yang dipakai HTI dengan menunggangi oposisi bermakna bukan hanya mengganti seorang Presiden saja, tetapi lebih luas lagi menjadi ganti sistem khilafah dengan khalifahnya dari mereka.

Jadi kalau ada yang tanya, "PKI dan HTI itu lebih berbahaya mana?" Jawab aja, sama berbahayanya. Wong modelnya ya gitu-gitu juga. Cuman sekarang pakaiannya ganti, biar lebih relijius dan diterima.

Nah, sekarang sudah di bulan September mereka akan teriak-teriak "Ganyang PKI, ganyang PKI!".

Supaya apa? Supaya PKI terkubur dan HTI -dengan menunggangi partai dan ormas- tampak menjadi seperti penyelamat negeri ini.

Paham kan, sayang? Seruput dulu kopinya.

Tagar.id

Kamis, 20 September 2018

BUWAS NGAMUK


Jokowi tepat sekali menaruh Budi Waseso atau Buwas sebagai Direktur utama Bulog.

Buwas dengan berani dan tegas mengawal kebijakan impor beras yang selama ini menjadi titik lemah pemerintahan Jokowi.



Pernyataan Buwas bahwa beras tidak perlu impor sampai bulan 2019 karena stok cukup, bertentangan dengan kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang ingin melakukan impor beras dalam waktu dekat..

Siapa yang menang? Buwas atau Mendag?

Kisah Misteri Rizieq Shihab

Habib Rizieq Shihab
Habib Rizieq

"Habib Rizieq tidak jadi pulang karena dicekal pemerintah Saudi...."

Begitu cerita Yusuf Martak, pengusaha merangkap ulama ini, pada sesi debat di sebuah stasiun televisi. Dia lalu menambahkan, Rizieq sebenarnya sudah mau pulang tetapi ditahan oleh pemerintah Saudi.

Ini mungkin alasan ke sekian kali yang keluar tentang kenapa Rizieq Shihab tidak pulang sesudah "mendadak hilang" lebih dari setahun lalu.

Bulan Agustus 2017, Rizieq bilang bahwa dia mau pulang. Tapi batal dengan alasan kalau pulang pasti dijadikan tersangka.

Kemudian September 2017 juga ada kabar mau pulang. Tapi batal lagi, karena alasan masih ada urusan di Saudi sana.

Februari 2018 kabar rencana pulangnya Rizieq membuat heboh FPI. Mereka bahkan mengatakan, sejuta umat akan menjemput Rizieq di bandara. "Wah, banyak juga...," pikir saya yang membayangkan sejuta orang menyemut di sana.

Tapi gak jadi lagi karena "isyarat tidak bagus". Kecewa lagi mereka yang sudah siap-siap menyambut kedatangan Imam besar yang sangat dirindu. Tapi karena sudah biasa dikecewakan, mereka rasanya sudah kebal. Mirip seorang jomblo yang selalu siap ditolak meski tidak pernah menyatakan cinta....

Perihhh, Pak Ekoo...

Bahkan meski kasusnya sudah di SP3, yang berarti perkaranya sudah gugur, Rizieq tetap tidak mau pulang juga. Sekarang alasannya Rizieq dicekal pemerintah Saudi. Saya kagum juga dengan banyaknya alasan mereka yang seakan tidak ada habisnya.

Yang menarik, ada pakta integritas hasil ijtimak versi 2.0 yang berbunyi bahwa "Prabowo harus siap memulangkan Rizieq ke Indonesia seandainya ia jadi Presiden".

Malah menurut Yusuf Martak, Prabowo nanti akan menjemput Rizieq sendiri dengan pesawat kepresidenan. (Jangan ketawa, jangan ketawa.... hooosaah)

Jadi sebenarnya Rizieq Shihab ini dicekal pemerintah Saudi atau baru mau pulang sesudah Prabowo jadi Presiden sih?

Entahlah. Saya merasa di sini ada misteri yang sulit dipecahkan bahkan oleh seorang detektif Conan.

Mungkin nanti sesudah pemerintah Saudi klarifikasi bahwa "tidak benar mereka mencekal Rizieq Shihab", akan ada alasan lagi keluar bahwa Rizieq ditahan oleh Decepticons. Dan perlu Optimus Prime untuk membebaskannya karena Bumble Bee sudah tidak mampu lagi bertarung melawan Megatron.

Kisah misteri ini dikabarkan menarik perhatian Michael Bay untuk membuat film terbaru Transformers berjudul "A Long Long Way Run".

Makin bingung kan? Sama dong. Mending seruput kopi dulu.

Jadi senyum sendiri membayangkan, apa yang akan terjadi seandainya Jokowi menang satu periode lagi.

Sumber: Tagar.id

Bisakah Pilpres Kita Tanpa Isu SARA?

Tolak Politisasi SARA
Deklarasi Tolak Politik uang dan SARA

Ini mungkin pertanyaan yang ada di benak kita semua.

Pengalaman Pilpres tahun 2014, kita melihat begitu banyaknya hoaks bernada SARA bertebaran. Isu-isu agama dimainkan. Tudingan bahwa Jokowi ateis dan Prabowo yang Kristen memenuhi ruang media sosial kita. Itu masih ditambah lagi propaganda yang menyeramkan yang sulit diketahui kebenarannya.

Pilgub DKI tahun 2017, isu SARA mencapai puncaknya. Ayat dan mayat berhamburan. Ras Ahok yang Tionghoa menjadi hujatan. Bahkan salat Jumat diisi dakwah-dakwah kebencian.

Lalu, apakah Pilpres 2019 nanti kita akan bebas dari isu SARA? Sulit. Kita masih akan berkutat di isu yang masih itu-itu saja.

Isu SARA adalah senjata yang paling mudah dalam menggembosi kubu lawan. Itu karena masyarakat kita yang masih belum terbiasa untuk melihat adu program. Banyak masyarakat kita yang hanya mendengar "kata orang" tanpa perlu memverifikasi lagi kebenarannya.

Apalagi jika yang ngomong itu guru agamanya. Ia akan langsung percaya begitu saja, meskipun itu tidak benar. Ditambah lagi dengan penggunaan smartphone yang masif dengan pengguna yang tidak terdidik.

Isu SARA masih akan mendominasi Pilpres 2019 ini melalui masjid, pengajian, majelis yang sekarang bukan dijadikan tempat ibadah, tetapi sudah beralih fungsi dijadikan posko pemenangan.

Politikus kita juga masih banyak yang menghalalkan segala cara supaya menang. Mereka tidak penting dampak dari apa yang mereka lakukan, yang penting bagaimana caranya mereka berkuasa.

Inilah yang dicemaskan Jokowi sehingga ia harus meminta dengan tegas, "Jangan memainkan isu SARA dalam politik kita." Ia patut khawatir, karena belum penetapan Capres saja, negeri ini sudah diributkan dengan model ijtimak ulama. Dan ini baru awalnya saja, tengahnya sudah pasti banyak keributan.

Bangsa kita memang masih mengalami euforia berdemokrasi yang luar biasa. Demokrasi yang seharusnya menjadi ajang pesta, malah menjadi ajang hujatan, fitnah dan saling menjatuhkan.

Saling mengejek itu biasa dalam demokrasi, itulah yang menjadikan politik itu warna-warni. Tetapi di negeri ini, mengejek bisa berdampak persekusi sampai pengaduan ke polisi karena dianggap menghina. Inilah yang merepotkan.

Jadi siapkan sabuk pengaman dengan ketat. Kita akan memasuki wilayah isu SARA yang semakin hebat ke depan. Tetapi saya rasa, isu SARA hanya berlaku untuk tahun 2019 saja karena di sana ada oposisi dan ada petahana. Sedangkan 2024 nanti kita berharap pemilu akan lebih tenang karena para calon sudah mampu bermain dengan imbang.

Dan mungkin saja 2024 nanti, PKS bubar sehingga isu SARA pun memudar. Seruput kopi dulu dengan penuh harapan.

Sumber: Tagar.id

Selasa, 18 September 2018

KUDETA-KUDETA HIZBUT TAHRIR


Denny Siregar
Denny Siregar
"Lu gak usah nakut-nakutin orang. HTI gak mungkin kudeta di negeri ini. Apa buktinya?". Sebuah pesan mampir ke kotak inbox saya. Kemungkinan dia anggota Hizbut Tahrir Indonesia dan marah karena saya selalu memberitakan tentang bahayanya organisasi HTI di Indonesia.

Hizbut Tahrir sejatinya adalah sebuah gerakan transnasional. Ia bukan lagi sebuah organisasi yang terbatas pada batas-batas negara. Ia adalah ideologi lintas negara yang mempunyai konsep bahwa dunia ini satu saat akan menyatu dibawah kepemimpinan satu orang, yaitu khalifah.

Maka itu, pemimpin HTI di Indonesia tidak bakalan ada. Yang ada hanya juru bicara, diwakili Ismail Yusanto. Karena mereka masih menunggu perintah dari antah berantah siapa khalifah sesungguhnya.

Pola-pola Hizbut Tahrir dalam merebut kekuasaan tidak dengan pemberontakan langsung, tetapi melakukan penyusupan atau infiltrasi ke tubuh pemerintahan dan militer. Ini yang berbahaya.

Mereka adalah gerakan intelektual yang sangat sistematis dan terencana dengan baik. Tidak mudah mengidentifikasi siapa mereka, tetapi gerakannya terlihat jelas, terutama di Indonesia karena mereka masih menggunakan simbol-simbol yang menunjukkan keberadaannya, seperti dengan bendera yang mereka sebut "bendera tauhid".

Bayangkan ketika HTI menyusup ke dalam tubuh militer. Mereka akan mencuci otak para tentara untuk satu waktu mengangkat senjata melawan pemerintahan yang sah dan memproklamirkan berdirinya negara khilafah.

"Alahh.. itu kan cuma bayangan ketakutan lu aja.."

Hehe, tidak. Ini berdasarkan pengalaman yang terjadi di beberapa negara. Pengalaman adalah guru yang terbaik, bukan ?

Tahun 1974, kelompok bernama Shabab Muhammad menyerang sekolah militer di Kairo Mesir, untuk melakukan kudeta dan usaha membunuh Anwar Sadat, Presiden Mesir kala itu. Para pelaku mengumumkan berdirinya negara Islam dibawah kepemimpinan Hizbut Tahrir. Kudeta itu gagal dan semua pelakunya dihukum mati.

Di Bangladesh Pakistan, tahun 2012, Hizbut Tahrir melakukan percobaan kudeta yang juga gagal melibatkan purnawirawan dan perwira militer aktif.

Di Yordania, mereka juga melakukan penyusupan di militer dan melakukan kudeta yang gagal tahun 1969. Begitu juga yang terjadi di Irak dan Suriah, tahun 1972 dan 1976.

Dengan rekam jejak seperti ini, sudah benar banyak negara yang melarang keberadaan Hizbut Tahrir yang berarti Partai Pembebasan itu. Mereka sangat berbahaya, dengan kemampuan penyusupannya bahkan mereka bisa menciptakan perang antar negara, dimana sejatinya mereka berada di kedua belah pihak.

Tujuan utamanya tentu negara-negara itu hancur, sehingga Hizbut Tahrir bisa mendirikan kepemimpinan khalifah Islam diantara kehancuran itu.

Bagaimana Indonesia?

Tentu sama. Lihat saja, ketika Jokowi membubarkan HTI tahun 2017 lalu, serentak kepala-kepala ular HTI keluar semak. Mereka ada yang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri terkenal juga rektor dan dosennya. Mantan kepala BIN As'ad Said Ali malah mengatakan, ia mengantungi nama oknum-oknum PNS, purnawirawan dan tokoh militer yang terlibat dalam keanggotaan HTI.

Jadi, masih menganggap bahwa Hizbut Tahrir adalah organisasi yang biasa-biasa saja ?

Tentu HTI tidak ingin gerakan senyap mereka ini ketahuan pihak luar, supaya mereka bisa semakin masuk ke dalam. Tapi sayangnya, di Indonesia, bahkan Presiden Jokowi sendiri membubarkan mereka.

Dan HTI sekarang ingin bangkit kembali. Tentu mereka ingin balas dendam kepada orang yang membubarkan kegiatan mereka. Jalan terbaik bagi HTI adalah menumpang di lawan politik orang itu, meskipun HTI juga tidak bersahabat dengan yang ditumpanginya.

"Enemy of my enemy is my friend.." begitu prinsip HTI.

HTI bahkan berencana untuk membuat kedua kubu saling menghancurkan karena mereka akan menawarkan sistem kekhalifahan diatas puing-puingnya. "Ganti sistem.." kata Ismail Yusanto dengan percaya dirinya.

Menghancurkan ideologi HTI dan penyusupan yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun, tidak cukup dengan seruput secangkir kopi saja. Tetapi membutuhkan bercangkir-cangkir kopi hanya untuk mengetahui keberadaannya saja..

Seruput.

Prabowo dan Khilafah di Belakangnya

Ketum Gerindra
Prabowo Subianto

Ketika berkunjung ke kediaman Bu Shinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Gus Dur, Prabowo ditanya satu hal penting.

"Apakah mendukung pengubahan Pancasila menjadi sistem Khilafah?"

Sontak Prabowo menjawab, "Masalah khilafah itu adalah propaganda yang sebetulnya picik, tapi berbahaya karena rakyat bisa terpengaruh." Prabowo juga bercerita bahwa ia mempertaruhkan nyawanya untuk NKRI, jadi tidak mungkin akan keluar dari sistem Pancasila dan NKRI.

Sebuah pernyataan yang sangat nasionalis dari seorang Prabowo. Tapi benarkah kenyataannya begitu?

Ketika Hizbut Tahrir Indonesia dibubarkan oleh Jokowi pada bulan Juli 2017,  tidak terdengar sedikit pun suara dukungan dari Prabowo maupun partainya terhadap pembubaran kelompok pro khilafah itu. Bahkan pada Mei 2018, Gerindra, PAN dan PKS mendukung HTI mengajukan banding atas pembubaran itu.

Ini tentu bertentangan dengan pernyataan Prabowo bahwa ia tidak mendukung khilafah, toh bukti di lapangan terlihat jelas partainya mendukung keberadaan HTI.

Prabowo juga mengetahui bahwa gerakan #2019GantiPresiden ditunggangi oleh HTI.

Bukti itu jelas dan nyata dari video yang viral yang menampilkan Mardani Ali Sera dari PKS dan Ismail Yusanto Jubir HTI yang mengeluarkan statemen, "ganti sistem". Gerakan "ganti Presiden" ini didukung penuh oleh Gerindra, dimana Fadli Zon, Waketum Gerindra, tampak aktif melindungi para penggerak gerakan ini.

Jika Prabowo memang berjiwa nasionalis, kenapa ia tidak melarang gerakan yang jelas-jelas ditunggangi HTI?

Prabowo sendiri dikabarkan dekat dengan Yordania, karena ia sempat menghabiskan waktu selama 2 tahun di sana, pasca-kejadian 1998. Dan seharusnya ia tahu, bahwa Yordania sudah melarang keberadaan Hizbut Tahrir sejak tahun 1969 karena percobaan kudeta yang gagal, dimana Hizbut Tahrir menyusup ke dalam tubuh militer.

Tapi kenapa Prabowo tidak mengikuti jejak negeri sahabatnya, ikut berseru melarang keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia?

Perlu berapa lagi bukti bahwa Prabowo sendiri membiarkan bahwa dirinya dan partainya secara nyata mendukung keberadaan HTI?

Jadi jelas bahwa kedekatan Prabowo dan HTI bukan propaganda yang picik, karena bukti-bukti menunjukkan sebaliknya.

Prabowo mungkin nasionalis, ia mungkin merasa dirinyalah yang menunggangi HTI, bukan sebaliknya. Dan mungkin ia bercita-cita bahwa jika kelak ia berkuasa, HTI tidak akan mampu mengubah Pancasila menjadi negara khilafah.

Tapi Prabowo lupa, bahwa HTI itu adalah gerakan transnasional, yang tidak terbatas pada batas negara. Ia gerakan ideologi.

Keberadaannya sendiri akan merusak sendi-sendi suatu negara jika ia dibiarkan berkembang biak. Hizbut Tahrir tidak bisa dijadikan teman, karena ia mampu menyusup ke elemen pemerintahan sampai aparat sebelum melakukan kudeta yang merugikan. Melarang keberadaannya jauh lebih berguna daripada membiarkannya berkembang.

Jika Hizbut Tahrir mudah ditunggangi, lalu kenapa belasan negara melarang keberadaannya? Apakah Prabowo lebih perkasa dari belasan negara yang melarang keberadaan gerakan ideologis itu?

Prabowo mungkin tidak ingin mengubah Pancasila menjadi sistem khilafah, tetapi membiarkan pendukung khilafah di dalam negara berasas Pancasila tentu akan menggerogoti sistem itu sendiri.

Dari berbagai kejadian di beberapa negara yang melarang keberadaan HTI, pola mereka sama, melakukan infiltrasi di tubuh militer dan pemerintahan, sebelum menguasainya dengan kudeta untuk mewujudkan konsep khilafah.

Pada waktu Asian Games 2018, Prabowo menyatakan dengan nasionalisme yang sama, bahwa "Beda pendapat boleh, tapi untuk kepentingan nasional kita satu."

Tapi itu sepertinya tidak berlaku bagi pembubaran HTI yang dilakukan demi kepentingan nasional, karena ada 2 juta suara anggota HTI yang dendam pada Jokowi, yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat kekuasaan.

Seruput dulu kopinya..

Tagar.id

Senin, 17 September 2018

Ijtimak Para Ulama Politik

Ijtima ulama II
Ijtima Ulama II

Entah apa yang diinginkan pihak oposisi dengan konsep ijtimak ulama itu. Ijtimak ulama kedua yang baru saja diselenggarakan itu akhirnya memilih Prabowo-Sandi sebagai Capres dan Cawapres.

Mungkin baru kali ini yang namanya ulama berijtimak atau bertemu dengan menghasilkan keputusan (atau ijma) berdasarkan politik praktis, memilih siapa Presiden dan wakilnya.

Biasanya ijtimak ulama digunakan untuk hal-hal yang bersifat untuk kemaslahatan umatnya.

Seperti contohnya NU mengadakan pertemuan (ijtimak) untuk menentukan kapan Ramadhan dimulai. Ini berkaitan dengan kebutuhan umat akan penentuan kapan memulai puasa. Ada nilai kebutuhan di situ yang diselesaikan dengan pertemuan para ulama yang menghasilkan keputusan (fatwa) demi kepentingan bersama.

Dan ulama yang mengadakan pertemuan tentu bukan sembarang ulama. Seperti contoh pemerintah mengumpulkan 65 ulama ahli falak (astronomi) untuk menentukan hari pertama bulan suci Ramadan. Catat ya, ulama ahli falak. Jadi mereka sudah diidentifikasi sebagai orang yang ahli dalam bidang astronomi.

Nah, ijtimak ulama yang diselenggarakan untuk memilih Prabowo-Sandi itu ahli apa ya? Ulama ahli politik? Memang ada ya ulama yang ahli politik di negeri ini?

Permasalahan di Indonesia sekarang ini adalah ada sekelompok orang yang dengan entengnya mengatas-namakan Islam, mencatut gelar ustaz dan mengambil brand ulama untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka sendiri tidak jelas berasal dari kelompok mana, hanya kumpulan orang-orang yang menggelari diri mereka sendiri sebagai ulama.

Mereka rapat-rapat sendiri, ambil-ambil keputusan sendiri, umum-umumkan sendiri, dengan tidak lupa membawa nama Tuhan sebagai pemanis bibir. Sungguh mengibakan.

Ini sebenarnya alarm bagi rakyat Indonesia. Situasi akan semakin berbahaya manakala mereka kelak berkuasa atas negeri ini.

Mereka dengan mudahnya akan mengatasnamakan agama, ulama dan Tuhan demi kepentingan kelompok yang mereka bela. Dan ini akan mengakibatkan perpecahan di seluruh negeri, dimana keputusan mereka yang mengatasnamakan ulama ini didasarkan pada kepentingan pribadi, dengan membawa-bawa umat mayoritas.

"Ulama-ulama" politik inilah yang akan merusak tatanan berdemokrasi, dimana nanti keputusan politik akan terus didasari hasil pertimbangan ulama. Sekali mereka berhasil, maka mereka akan kecanduan untuk melakukan hal yang sama. Mereka akan menguasai ruang-ruang keputusan pemerintahan dan berasumsi bahwa ini adalah kehendak umat agama mayoritas.

Kasihan sebenarnya ulama beneran yang sungguh-sungguh berbuat untuk umatnya. Mereka terfitnah dengan model-model ulama politik seperti ini, yang nafsu berkuasanya masih sangat kental dan cenderung menghalalkan segala cara untuk kepentingan dunianya.

Semoga kita semua dihindarkan dari ulama-ulama jenis ini dan ditemukan dengan ulama-ulama benar dalam perjalanan kita di dunia.

Seruput dulu kopinya, kawan.

Tagar.id

Lawan Radikalisme Bersama Banser dan Ansor

Ansor
Ketum Ansor Pakai Baju Adat Papua

Tanpa banyak orang sadar, situasi politik sekarang ini sedang menuju ke arah perpecahan negeri. Ada kelompok-kelompok yang sedang memainkan propaganda "mayoritas dan minoritas" untuk kepentingan politik mereka. Dan yang mereka mainkan tentu agama Islam, sebagai agama mayoritas disini untuk menekan siapa yang mereka sebut sebagai kaum minoritas, atau non muslim tepatnya..

Kasus Meiliana adalah contoh buruk yang masih kita ingat, dimana hanya karena ia meminta supaya toa dikecilkan, ia malah dihukum penjara 1,5 tahun lamanya karena dianggap "menyinggung" si mayoritas..

Barisan Pemuda Ansor dan Banser yang pertama menyuarakan kegelisahan ini. Mereka merasa bahwa situasi akan berjalan ke arah yang lebih buruk jika ini dibiarkan..

Hari ini, tanggal 16 September, Ansor dan Banser sedang memulai perjalanan dari titik-titik ujung negeri dengan tema "Kirab Satu Negeri".

Mereka berjalan selama dua pekan, dengan start mulai dari Sabang, Miangas, Rote dan Merauke. Mereka membawa lambang-lambang Pancasila dalam perjalanan dan bendera Merah putih sebagai pengikat kesatuan.

Di tempat yang mereka kunjungi, Banser dan Ansor akan bekerjasama dengan mereka yang berlainan suku, agama dan ras untuk melakukan kegiatan kemanusiaan. Mulai dari membersihkan pantai sampai membentangkan bendera sepanjang 1.500 meter akan mereka lakukan.

Slogan yang mereka bawakan adalah #KitaIniSama.

Ini adalah sebuah pesan, bahwa di negeri ini kita semua sama, sama dalam kedudukan hak dan kewajiban sebagai anak bangsa. Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa sukunya dan agamanya mempunyai hak yang lebih dari yang lainnya..

Dan titik berkumpul Banser dan Ansor adalah tanggal 26 Oktober di Yogyakarta, mendekati hari Sumpah Pemuda. Dipilihnya tanggal itu tentu untuk mengingatkan kita semua kembali, bahwa dulu pernah ada sekelompok pemuda yang menyuarakan kesatuan, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Mereka para pemuda yang berlainan suku dan agama, mengumandangkan persamaan..

Saya berharap kita semua bisa hadir di Jogja pada tanggal itu bersama ribuan anggota Banser dan Ansor. Menyuarakan kegelisahan bersama, melangkah bersama, dan mendeklarasikan kembali Sumpah Pemuda bersama. Kita bisa jadikan momen itu sebagai momen deklarasi terbesar sumpah pemuda Indonesia.

Jangan biarkan Banser dan Ansor sendirian. Kita iringi langkah mereka dan kita serukan bahwa kita bersama mereka. Melawan radikalisme yang sudah pada tahap sewenang-wenang..

Mari angkat cangkir kopinya!

#kitainisama

Jumat, 14 September 2018

Kader Demokrat Ramai-ramai Dukung Jokowi

Politik
Jokowi

Baru kali ini Susilo Bambang Yudhoyono resah.

Ketua umum Partai Demokrat ini merasakan "pemberontakan" di para kadernya karena sikap Demokrat yang mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019. Suara-suara dari bawah yang menyerukan untuk "Dukung Jokowi" makin lama makin keras dan menggema.

Demokrat sendiri melakukan survei internal dan menemukan bahwa 20 persen kadernya menyatakan dukungan Jokowi. Dan hitungan itu bisa lebih besar dari yang kelihatan, karena banyak kader yang menyembunyikan dukungan pribadinya supaya tidak terlihat berbenturan dengan sikap partai.

Lukas Enembe, Gubernur Papua menyatakan, "Harga mati, 3 juta suara Papua untuk Jokowi." Bagi Lukas, kerja Jokowi untuk Papua adalah bukti. Lukas sendiri adalah ketua DPD Demokrat Papua. Dengan berani Lukas menyatakan, "Siap diberi sanksi oleh Demokrat."

Gerakan kader Demokrat Papua untuk mendukung Jokowi juga terjadi di Jawa Timur. Pakde Karwo ketua DPD Demokrat Jatim, juga menyatakan akan mendukung Jokowi. Dan gerakan "ramai-ramai dukung Jokowi" ini juga diikuti oleh NTT dan kabarnya juga Banten.

Gelisah dengan situasi yang tidak menguntungkan ini, SBY berencana mengumpulkan seluruh kader di Jakarta.

Bukan hanya Demokrat, kader PKS dari Maluku Utara juga menyatakan sikap untuk mendukung Jokowi. Gubernur Malut, Abdul Ghani Kasuba berkata, "Tidak ada pilihan lain, saya dukung Jokowi...". Sebelumnya seorang kader PKS di Medan juga menyatakan untuk "dukung Jokowi".

Kenapa mereka ramai-ramai dukung Jokowi?

Karena memang apa yang dilakukan Jokowi dalam membangun wilayah mereka yang dulu tertinggal tampak nyata dan dirasakan rakyat. Dan kepala daerah yang partainya berlawanan sikap dengan Jokowi, tidak mampu membendung arus dukungan rakyatnya. Mereka harus mengikuti arus, jika tidak terkapar.

Dari Partai Amanat Nasional, mantan petingginya Soetrisno Bachir pun menyatakan sikap mendukung Jokowi. Dan kabarnya, ribuan kader PAN juga akan mendeklarasikan diri mendukung Jokowi.

Dari Gerindra sendiri juga begitu. Bupati Sragen dari Gerindra menyatakan akan mendukung Jokowi dua periode.

Menarik melihat fenomena bagaimana mereka yang partainya mendukung Prabowo, kader-kadernya berlawanan sikap dengan mendukung Jokowi. Mungkin akal sehat mereka tidak menerima, bagaimana bisa partainya mendukung Prabowo yang belum teruji kinerjanya?

Mungkin sudah saatnya SBY kembali merenungkan sikapnya. Di kubu oposisi Demokrat pun tidak mendapat keuntungan apa-apa, bahkan bisa saja suara mereka tergerus di pemilu legislatif karena dukungan yang salah.

Di kubu oposisi sekarang ini Capresnya dari Gerindra, Cawapresnya dari Gerindra, bahkan ketua timsesnya pun kabarnya dari Gerindra. Terus Demokrat ngapain aja?

Mungkin sudah saatnya SBY mengambil gitarnya kembali dan mulai berencana membuat album musik untuk ke sekian kali.

Judul albumnya mungkin, "Jokowi sekali lagi..." ehhh....

Saya sih lebih senang seruput kopi melihat bagaimana Jokowi memainkan caturnya dengan lihai, yang membuat benteng pertahanan lawan tandingnya pelan-pelan terurai.

Silakan diseruput selagi panas.

Tagar.id

Kamis, 13 September 2018

KRIK KRIK KRIK, Dolar Jinak

Rupiah Menguat
Dolar Jinak

Krik krik krik.. Suasana begitu hening dan damai. Para kampret ngintip dari dalam goa, pengen keluar tapi kok gada gorengan..

Krik krik krik.. dolar jinak? "Emang harimau.." kata mereka lirih di tengah kepercayaan diri dari pengusaha yang semakin tinggi. "Gak mungkin, inu gak mungkin. Trus dimana kita harus cari lagi salah Jokowi ??" Tanya seseorang dengan airmata pedih.

"Kata Prabowo harga ikan asin naik tinggi.." seorang lagi berusaha membuka celah.

"Kemaren telor, sekarang ikan asin. Ntar kita sudah provokasi, eh ternyata hoaks lagi.." seorang kampret milenial yang kemaren ikut demo bakar2 keranda di Riau, tertunduk resah. Dia tergabung dalam BEK, Badan Eksekutif Kampret, yang kerjaannya cari-cari masalah tapi solusi gak ada.

Krik krik krik. Suasana diluar tenang dan damai, tapi para kampret gelisah. Buat mereka keriuhan itu indah, karena disanalah makanan mereka berada. "Ngaca!" kata seorang kampret ketika temannya bilang kalau wajahnya jika lama dilihat mirip Iko Uwais, aktor laga.

Krik krik krik... Di kejauhan, dipinggir kolam, para cebong sedang bernyanyi gembira. "Masak ada kampret yang bilang kalau dia sama singa itu apple to apple?" Seorang cebong cerita dan cebong yang lain tertawa.

Krik krik krik, seekor jangkrik terus mengerik. Dia dulu adalah cebong tapi berubah ingin golput aja. Tapi sendirian itu tidak enak ternyata. "Apakah aku harus kembali jadi cebong aja biar bisa ikut gembira ?" Tanya dalam hatinya

Sementara itu secangkir kopi panas terhidang. Nikmatnya suasana, jika kampret terbungkam..

Arogansi 'Jubir' Jokowi

Media
Farhat Abbas (Instagram)

"Yang memilih Jokowi masuk surga. Yang tidak, masuk neraka...."

Begitu tulisan Farhat Abbas dalam status di Instagramnya. Dan pernyataan ini sontak mendapat reaksi keras yang datang baik dari mereka yang pro Jokowi maupun yang kontra.

Meskipun Farhat mencoba mengklarifikasi bahwa "Itu hanya berbalas pantun" tetapi reaksi yang datang justru berbeda. Ia akhirnya mendapat teguran keras dari rekan-rekannya bahwa menggunakan narasi akhirat itu akan menaikkan tensi politik dalam isu agama.

Raja Juli Antoni, Sekjen PSI, langsung menegur Farhat Abbas dan menolak jika Farhat dibilang sebagai juru bicara dari tim kampanye Jokowi.

Sebelum Farhat, kita juga melihat "ganasnya" Ali Mochtar Ngabalin, yang diangkat sebagai tenaga ahli di Kantor Staf Presiden dalam membela pemerintah. Ngabalin yang kemudian diangkat menjadi Komisaris Angkasa Pura ini, juga ditegur oleh sesama pendukung Jokowi seperti Dedi Mulyadi, politisi Golkar.

Menurut Dedi, gaya frontal Ngabalin cenderung bisa menurunkan elektabilitas Presiden. "Problemnya bukan di popularitas, tetapi elektabilitas Jokowi jangan sampai tergerus," katanya.

Memang ada dualisme sikap di barisan pendukung Jokowi dalam menyikapi keberadaan Farhat Abbas dan Ali Mochtar Ngabalin.

Sebagian menganggap bahwa gaya frontal itu sebagai strategi menghajar "jubir" Prabowo yang arogan dan seenaknya ketika berbicara di depan publik, seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Amien Rais.

Sedangkan sebagian lagi menganggap bahwa justru sikap frontal yang "kurang cerdas" seperti itu malah akan menggerus suara Jokowi, terutama dari para pemilih ngambang "swing voters" yang belum menentukan siapa yang akan mereka coblos di pilpres nanti.

Saya pribadi, awalnya setuju ketika Ali Mochtar Ngabalin menjadi bumper untuk menghadapi arogansi lawan politik Jokowi. Tetapi lama kelamaaan saya melihat justru sikap arogansi yang ditunjukkan Farhat Abbas dan Ngabalin itu kebablasan - bahasa Suroboyo yang berarti kelewatan.

Jika Farhat Abbas "bablas" dengan memainkan isu surga dan neraka, sedangkan Ali Mochtar Ngabalin lebih pada sikap arogan yang cenderung tidak pada tempatnya. Mereka berdua masih kurang cerdas dalam memainkan narasi-narasinya dan cenderung emosional sehingga membuat jengah para pendukung Jokowi sendiri.

Saya lebih suka gaya Adian Napitupulu yang tenang tetapi kata-katanya membungkam. Atau gaya Irma Chaniago dari Nasdem yang lantang tetapi tetap menjaga ritme bicaranya yang menusuk jantung lawan.

Ini memang masalah kecerdasan sikap. Sikap provokatif dan cenderung ngajak gelut, seharusnya ditinggalkan dan ganti dengan kefasihan kata-kata yang andal.

Menurut penelitian lembaga survei Alvara Research Centre, swing voters berada pada kisaran lebih dari 19 persen, dan ini angka yang besar. Mereka baru menentukan pilihan saat mendekati hari pencoblosan sambil melihat-lihat dulu banyak kemungkinan. Yang ditakutkan, mereka ini akan condong ke Prabowo karena memutuskan tidak menyukai "jubir" Jokowi dengan sikap arogansi yang kelewatan.

Belum lagi jumlah pemilih milenial mencapai sekitar 40 persen di tahun depan. Termasuk di kelompok ini adalah pemilih yang "fun" dan tidak menyukai kebisingan. Jadi sangat mungkin mereka tidak memilih Jokowi karena jubirnya yang "gak gue banget.."

Sudah seharusnya timses Jokowi mengubah pola serangan menjadi serangan yang elegan, bukan yang membabi buta ( sudah babi, buta pulak).

Jokowi sudah tergambar sebagai sosok yang cerdas, brilian dan matang. Jangan hanya karena "jubir"nya yang grusa-grusu, akhirnya bangunan itu runtuh dalam semalam. Menyerang harus, tetapi serangan yang tidak terpola dan condong asal bacot saja, akan membuat simpati berubah arah. Dan jangan kaget kalau akhirnya serangan balik datang dan gawang kebobolan.

Jika ingin menang, timses Jokowi harus mencetak Adian Napitupulu dan Irma Chaniago sebanyak-banyaknya. Buat para penonton tertawa karena argumen juru bicaranya benar. Bukan membuat penonton emosi karena mereka terbakar.

Pilpres ini seharusnya menjadi pertarungan sekelas Liga Inggris, bukan liga tarkam. Kalau liga tarkam, sudah mainnya gerudukan, pemainnya emosian, wasit dikejar-kejar, tambah lagi penontonnya main keroyokan. Berprestasi nggak, muka bonyok dibanggakan.

Gak setuju silakan, yang penting seruput kopi dulu biar paham.

Tagar.id