Selasa, 23 Oktober 2018

Kisah Banser Penjaga Negeri Yang Dimusuhi Ormas Radikal Seperti HTI

Ormas Radikal
Konflik Suriah
Bagaimana sebenarnya proses hancurnya Suriah?

Bermula dari kelompok ormas agama yang menggunakan nama Islam sebagai baju mereka. Kelompok-kelompok ini memakai aksesoris yang menunjukkan bahwa mereka adalah Islam, dan mereka mengambil narasi bahwa mereka adalah "umat Islam".

Ketika aparat pemerintah Suriah membubarkan mereka, kelompok ini langsung membangun persepsi bahwa "pemerintah Suriah anti Islam".

Dan ini berlangsung berulang-ulang sehingga akhirnya sebagian masyarakat Suriah percaya, bahwa ormas-ormas inilah wakil dari agama Islam di Suriah. Mereka bekerjasama dengan organisasi Islam Internasional yang dibuat jaringan mereka sendiri, supaya mendapat legitimisasi di mata masyarakat awam.

Dinas intelijen Amerika dan sekutunya paham situasi ini dan mendorong mereka supaya tambah besar dan berkuasa. Dana-dana digelontorkan juga senjata melalui perbatasan Turki untuk membangun kekuatan.

Dan ketika saatnya tiba, kelompok ormas ini kemudian melakukan pemberontakan bersenjata. Maka terjadilah perang saudara di Suriah selama tujuh tahun lamanya..

Model yang sama hendak dilakukan di negeri tercinta kita Indonesia..

Sejak lama gerakan mereka menyusup dan membangun narasi bahwa merekalah wakil dari umat Islam di Indonesia. Kata-kata "Kami umat Islam" diulang-ulang supaya menjadi kebenaran dan dipercaya. Dan sialnya, banyak yang percaya pada mereka karena pengulangan kata-kata itu.

Sayangnya, penggagas model Suriah di Indonesia ini tidak sadar bahwa Indonesia bukan Suriah. Di negeri ini ada ormas Islam besar penjaga Indonesia Nahdlatul Ulama, dengan sayap mudanya GP Ansor dan Banser. Mereka inilah yang menghadang kelompok radikal ini dalam setiap gerakannya.

Bayangkan, seandainya tidak ada yang menghalangi gerakan mereka, bagaimana nasib Indonesia ? Ketika Islam hanya diwakili oleh kelompok garis keras itu dan tidak ada counter dari kelompok Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama, maka negeri ini bisa terpecah belah karena perang agama yang meluas dan tujuan sebenarnya adalah merebut kekayaan alam Indonesia.

Kita seharusnya berterima kasih kepada Ansor dan Banser karena sudah mau berpanas-panas menghalangi gerakan mereka di jalanan. Dan karena Ansor dan Banser NU itulah, non muslim di banyak wilayah masih menghormati agama Islam karena menganggap apa yang dilakukan kelompok garis keras itu tidak mewakili Islam.

Karena itulah Ansor dan Banser dimusuhi oleh ormas radikal seperti HTI dan terus dicari cara supaya mereka hancur. Situasi terakhir ketika terjadi pembakaran bendera HTI, mereka membangun persepsi kepada masyarakat awam bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid dan mencoba membubarkan Banser NU yang jumlahnya jutaan anggota itu.

Sudah seharusnya kita sebagai warga negara Indonesia tidak membiarkan Banser dan Ansor berjalan sendirian. Kita juga punya tanggung jawab yang sama menjaga negeri ini dari kelompok radikal berbaju agama.

Karena jika kita abai kelak nasib kita akan seperti Suriah, hidup dengan bertempur karena musuh sudah terlalu besar dan berkuasa.

Kalau setuju, angkat secangkir kopinya..

JANGAN MAU DIBOHONGI HTI

Teroris
Teroris

Dalam setiap aksi demo, HTI selalu menggunakan bendera hitam dengan klaim bahwa itu adalah bendera tauhid dan Panji Rasulullah.

Pertanyaannya, benarkah bendera hitam itu Panji Rasulullah?

Saya coba cek dan ketemu pandangan Gus Nadirsyah Hosen, seorang dosen di FH di Australia, sekaligus Rais Syuriah NU di Australia dan New Zealand, seperti yang saya kutip di duta.co.

“Jangan mau dibohongi HTI dan ISIS..” Kata Gus Nadir.

Bendera Rayah, bendera warna hitam, adalah bendera perang dan yang membawanya adalah pemimpin perang. Bendera ini biasanya diserahkan khalifah pada pemimpin perang dan komandan2 lainnya.

Dan HTI memahami itu melalui riwayat Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah.

Gus Nadir berkata bahwa secara umum hadis2 yang menjelaskan warna bendera Rasul dan tulisan di dalamnya adalah hadis yang tidak berkualitas, atau tidak shahih.

Riwayatnya pun berbeda-beda. Ada yang bilang hitam saja, ada yang bilang putih saja. Ada juga riwayat yang bilang hitam dan putih, bahkan ada yang kuning.

“Dalam sejarah Islam juga beda lagi. Ada yang bilang Dinasti Umayyah pakai bendera hijau, Dinasti Abbasiyah pakai warna hitam, dan pernah juga putih.

Yang jelas dalam konteks bendera dan panji, Rasul menggunakan sewaktu perang hanya untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh. Bukan dipakai sebagai bendera negara,” jelas Gus Nadir.

“Katakanlah ada tulisannya, maka tulisan khat jaman Rasul dulu beda dengan yang ada di bendera ISIS dan HTI. Jaman Rasul tulisan Alquran belum ada titik dan khatnya, masih pra Islam yaitu khat kufi.

Makanya, meski mirip, bendera ISIS dan HTI itu beda khatnya. Kok bisa? Padahal sama-sama mengklaim bendera Islam? Itu karena rekaan mereka saja,” tandas Gus Nadir.

Jadi, Kalau ISIS dan HTI yang setiap saat mengibarkan bendera Liwa dan Rayah, apakah mereka mau perang terus? Kok ke mana-mana mengibarkan bendera perang?

Kalau dianggap sebagai bendera negara khilafah, kita ini NKRI, sudah punya bendera Merah Putih. Masak ada negara dalam negara? Kalau itu terjadi, berarti makar!” Gus Nadir menutup pembicaraan.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa orang2 HTI itu sesungguhnya tidak paham hadis. Mereka hanya memainkan konsep bendera sesuai perkiraan mereka saja. Dan ini dijual seolah-olah mereka adalah “Panglima Perang Rasulullah”..

Jadi - sekali lagi - jangan mau dibohongi HTI.

Dari masalah bendera saja mereka gak paham, apalagi mau mendirikan negara khilafah ?

“Bu, kopinya jangan kasih gula. micinnya aja yang agak banyakan...”

Banser NU Bakar Bendera HTI, Salahkah Banser?

Banser
Banser

Pada momen hari santri di Garut, mendadak viral beberapa anggota Banser membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid.

Bendera itu diambil dari salah satu peserta yang membawanya. Selain itu Banser NU juga mengambil ikat kepala yang bertuliskan kalimat yang sama. Tindakan itu memang terlihat emosional, tetapi pertanyaannya, salahkah Banser NU ?

Sejak awal Banser bertarung dijalan menghadang pentolan2 HTI yang ingin mendirikan khilafah di negeri ini. Dan dari apa yang terjadi di lapangan, HTI selalu membawa bendera kalimat tauhid yang mereka klaim sebagai bendera Rasulullah.

Jadi jangan salahkan Banser ketika pada hari santri mereka melihat bendera yang sama masuk dalam barisan mereka, dengan pongah berkibar seakan-akan menantang kuatnya barisan Banser NU. Ini jelas memprovokasi mereka dan anggota Banser bertindak spontan dengan merampas kemudian membakarnya.

Seharusnya aparat jangan hanya melihat pembakaran bendera itu saja, tetapi juga melihat bahwa ada orang-orang yang mencoba memprovokasi Banser dengan mengibarkan bendera yang sudah dianggap Banser NU identik dengan HTI.

Banser juga pasti akan bertindak hal yang sama jika yang dikibarkan adalah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang sering dikibarkan ISIS. Masak Banser harus diam jika bendera tauhid ISIS dikibarkan di depan mereka ?

Masih untung yang membawa bendera yang dirampas Banser itu tidak digebuk. Lha, kok nantang kibarkan bendera yang identik dengan HTI di depan hidung Banser yang sedang merayakan hari santri.

Banser NU memang penjaga negeri paling depan dalam menghajar ajaran-ajaran radikal berbendera Islam. Kalau tidak ada Banser, HTI sudah lama mewabah di negeri ini karena mereka berlindung dibalik agama Islam. Dan atas usulan keluarga besar NU lah, HTI dibubarkan.

Jadi paham kan, kenapa HTI dendam sekali dengan Banser dan mencoba memprovokasi mereka untuk dipelintir dengan fitnah ?

Ketika berbincang dengan Gus Yaqut, Ketum Ansor sekaligus panglima tertinggi Banser NU, ada statemen yang membuat saya khawatir sebenarnya. "Yang kami takutkan bukan HTI, tetapi memegang kendali anggota Banser yang berjumlah jutaan supaya tidak terprovokasi mereka. Seandainya kendali para anggota tidak kuat dipegang Banser, entah apa yang terjadi pada mereka yang jumlahnya jauh lebih kecil tapi berisik itu.."

Banser NU itu ibarat singa. Diam tapi menakutkan. Sedangkan HTI ibarat anjing yang menggonggong dihadapan dan berusaha memprovokasi, tapi baru di kibas sedikit terkaing-kaing merasa di zolimi..

#kamidibelakangBanserNU

Seruput dulu kopinya.


Senin, 22 Oktober 2018

POLITIK JANJI-JANJI SURGA

Politik
Prabowo Turun dari Pesawat Pribadi

"Lu pengen cepat kaya??"

Dulu seorang teman gemar sekali mendoktrin saya. Dia pemain money game bernama MMM atau Mavrodi Mondial Moneybox, yang berpusat di Rusia. Temanku itu selalu menekankan bahwa "hidup saya selalu kurang" dan akan teratasi dengan gabung di MMM.

Dia lalu menunjukkan foto-fotonya sedang di Singapura dan Australia hasil dari money game berkedok MLM itu. Dia juga memamerkan mobil barunya yang dia bilang didapat dari keanggotaan.

Belakangan saya tahu, bahwa jalan-jalan keluar negerinya, dia pakai uang hasil hutang dari temannya. Dan mobilnya juga kredit dengan dp kecil dan cicilan besar perbulannya. Dia akhirnya dikejar-kejar oleh para downlinernya dan debt collector karena hutang-hutangnya itu. Kasihan sih lihatnya..

Tapi ada satu hal yang menarik dari pola mereka..

Mereka selalu mengulang kata-kata "lu mau cepat kaya ?" Atau "Mau berapa lama hidup pas-pasan" atau "Ini jalan untuk bebas finansial". Terus mereka lakukan seperti itu kepada calon kastemernya, sebuah kebohongan yang diulang-ulang dan berharap bisa menjadi kebenaran.

Pasarnya ada ? Banyakkkk. Orang2 yang sudah tidak tahan hidup susah, para pemalas, orang yang cepat putus asa, pengen hidup mewah dan orang yang terjerat hutang seumur hidupnya. Mereka-mereka ini bukannya tambah makmur, malah tambah terperosok dengan hutang baru yang awalnya buat menutupi lubang-lubangnya..

Itulah kenapa saya ketawa ketika Prabowo dan Sandiaga Uno selalu mengulang-ulang kata "miskin" "susah" "ekonomi terpuruk" dan segala macam keburukan lainnya dalam kampanye politik mereka. Mereka terus menekankan kata itu supaya pendukungnya percaya bahwa situasi mereka memang seperti itu. Dan solusinya adalah "Pilih Prabowo dan Sandi".

Apa persamaannya model money game dengan kampanye politik Prabowo itu ? Sama-sama memamerkan gaya hidup mewah supaya orang percaya untuk bergabung dengan mereka. Itu gimmick yang umum sekali, pamer kemewahan supaya orang terbius dengan kemewahan yang instant dan mudah.

Pada akhirnya mereka yang bodoh cenderung akan masuk ke lubang yang sama. Dibohongi berulang-ulang tapi tidak pernah sadar ketika ditawari jualan yang sama. Orangnya itu-itu juga, sesama keledai yang mimpi kejauhan.

Dalam konsep para pembeli "mimpi instan" ini tidak ada yang namanya kerja keras, komitmen, konsistensi dan proses. Mereka ingin uang turun dari surga secepat-cepatnya. Mereka tidak sabar ingin foya-foya. Dan orang seperti ini mangsa yang empuk sekali untuk dilahap bulat-bulat.

Negara ini sedang berproses dan mereka sibuk protes. Karena hanya itu yang mereka bisa, lainnya tidak ada. Pada akhirnya mereka akan selalu kalah dalam kehidupan dan kehilangan kehormatan.

Para pemilih yang mirip korban money game ini, seperti berada di lingkaran setan. Dan mereka akan terus mencari orang yang bisa mewujudkan mimpinya meski selalu terjatuh akhirnya. Kasihan sih, tapi begitulah hidup.

Tanpa akal sehat dan waras, seseorang bisa jadi umpan seumur hidupnya. Apalagi disarang politisi, mereka adalah umpan-umpan selamanya.

Semoga masyarakat Indonesia sudah lebih cerdas untuk tidak terjebak dalam mimpi-mimpi indah. Proses adalah segalanya dan untuk proses memang memakan waktu yang tidak sebentar karena disitulah proses kekayaannya.

Dan Jokowi sudah memulai proses itu semua, tanpa banyak bicara dan hanya kerja yang bisa menjadi solusinya..

Seruput kopinya??

SANDIAGA UNO DILABRAK PEDAGANG PASAR

Sandiaga Uno
Prabowo Cs

Kampanye bohong Sandiaga Uno mendadak mendapat perlawanan. Kali ini datang dari Komite Pedagang Pasar atau KPP. Mereka selaku kumpulan para pedagang pasar tidak mau dijadikan alat politik Sandiaga Uno.

Memang dalam setiap kampanyenya, Sandi cenderung memainkan emosi pendukungnya bahwa harga-harga di pasar terus naik. Ada "tempe setipis atm", "belanja 100rb cuman dapat bawang" sampai "makan di Indonesia lebih mahal dari Singapura".

Kebohongan yang tidak sesuai fakta lapangan ini terus diulang-ulang Sandi supaya menjadi kebenaran. Padahal, sewaktu harga telur hancur, para peternak berteriak, dia sama sekali tidak ngomong apa-apa. Tapi kalau naik, paling keras suaranya.

Resah selalu dijadikan alat politik bohong Sandiaga Uno, para pedagang pasar pun balik berteriak. Mereka khawatir, gara-gara bohongnya Sandi, malah konsumen memilih belanja ke supermarket karena harganya lebih stabil. Dan para pedagang pasar rugi besar..

Sandiaga Uno mungkin lupa atau terlanjur menstigma bahwa para pedagang pasar itu bodoh-bodoh dan tidak memiliki wawasan.

Era media sosial sekarang membuat banyak orang termasuk para pedagang pasar terdidik untuk tahu informasi sebenarnya. Meskipun mereka tidak pernah keluar dari dalam pasar, tetapi informasi yang mereka dapat bersifat nasional dari hape mereka.

Komite para pedagang pasar ini berjanji akan melawan kebohongan Sandiaga Uno dengan memberitahu teman-teman para pedagang pasar lainnya. Ada perlawanan massif yang mereka canangkan supaya orang tetap belanja ke pasar.

Naas memang Sandiaga Uno. Bicara tentang nelayan, diserang bu Susi. Bicara tentang kepala daerah tidak boleh jadi jurkam, disuruh ngaca sama Ridwan Kamil. Bingung mau ngomong apaan, akhirnya pakai petai di kepala..

Sandiaga Uno patut bingung. Hari-hari dia selama ini selalu ada di kantor berAC, di lobby hotel mewah, sehingga pas turun langsung ke warga bawah, dia gagap dan gugup. Dia tidak menguasai permasalahannya. Akhirnya sekedar cari simpati, ngomong tanpa data. Jadilah bumerang yang balik ke wajahnya..

Meski begitu, satu yang saya salut sama Sandiaga Uno. Entah kenapa, banyak dari fotonya di media, menunjukkan tonjolan yang aduhai, yang emak-emak pendukungnya pasti banyak yang suka. Itu salah satu kelebihannya..

Pertanyaan sambil seruput kopi, apa yang membuat Sandi selalu menonjol saat di depan kamera ?

Yang bisa jawab, dapat voucher menginap semalam di hotel bintang lima. Sekamar dengan Mustofa Nahra.

Prabowo, Sales Kemiskinan

Politik
Prabowo saat di Bali

"Indonesia terancam akan menjadi negeri miskin selamanya".

Kata Prabowo Subianto di satu waktu. Narasi kemiskinan ini bukan narasi pertama yang dijual Prabowo. Ia sering sekali menjual kata-kata "miskin" dalam setiap pidatonya, seakan-akan miskin adalah bagian dari kehidupannya.

Bahkan di satu kesempatan, ia berbicara bahwa "99 persen rakyat Indonesia hidup dalam kondisi pas-pasan". Ini arti kata lain dari miskin, karena menurut Prabowo, banyak masyarakat Indonesia tidak bisa hidup berlebih.

Entah apa ukuran "miskin dan pas" menurut Prabowo.

Jika ukuran itu dibandingkan dengan dirinya yang punya rumah di Hambalang dengan luas belasan hektar, kuda-kuda pacu yang mahal lengkap dengan lapangan pacunya, dan segala fasilitas bagi dirinya yang sulit dibayangkan manusia awam, tentu wajar jika semua orang Indonesia dikatakan miskin olehnya.

Tapi jika dibandingkan dengan data dari Badan Pusat Statistik BPS Bali, dimana turis domestik yang datang ke Bali saja di tahun 2016 sebesar lebih dari 8 juta orang, naik 20 persen dari tahun sebelumnya, tentu ini mengherankan.

Bagaimana si orang "miskin-miskin' itu bisa liburan ke Bali? Orang miskin makan sehari pun seharusnya susahnya bukan main.

Jangankan ke Bali. Menurut Ditjen Imigrasi, selama tahun 2016 orang Indonesia yang wisata ke luar negeri mencapai lebih dari 8 juta orang dan tahun 2017 melonjak jadi 9 juta orang. Bahkan diprediksikan tahun 2018 ini akan melonjak lebih banyak. Kok bisa begitu? Ya karena sudah banyak penerbangan murah ke luar negeri dan paket wisata juga lebih terjangkau.

Jadi apa mungkin si orang "miskin dan pas-pasan" itu bisa wisata ke luar negeri jika mereka makan sehari saja susah?

Omongan yang tidak masuk akal dari Prabowo Subianto ini jelas tidak berdasarkan data sama sekali. Ia hanya berhalusinasi dengan penuh emosi, seakan-akan empati padahal sejatinya tidak peduli. Buatnya, kemiskinan hanyalah jualan saja, untuk menarik simpati. Dan terakhir, ia baru jualan bahwa dirinyalah yang akan mengakhiri kemiskinan di Indonesia.

Apakah ada orang yang mau membeli "barang jualan" Prabowo?

Tentu ada. Orang malas, orang putus asa, para pengeluh, para broker yang kehilangan pekerjaannya dan orang-orang yang gajinya kecil tapi ingin bergaya hidup mewah. Mereka inilah pasar Prabowo. Mirip dengan agen usaha MLM Money Game yang menjual mimpi "kaya dengan instan". Pasarnya sama. Orang-orangnya itu itu juga.

Nah, gaya Prabowo sendiri mirip juga dengan gaya sales Money Game itu. Gaya hidup mewah, untuk menunjukkan bahwa mereka sukses, untuk membius para konsumennya yang ingin sesukses mereka.

Kalau sales Money Game biasanya foto-foto sedang liburan di luar negeri, Prabowo bergaya dengan jet pribadinya. Semua itu adalah bagian dari "gimmick", supaya meyakinkan para pembeli mereka.

Saya jadi teringat kata-kata seorang kaya yang hidupnya tetap sederhana. "Bagaimana mungkin orang bicara kemiskinan jika dia sendiri tidak pernah merasakan miskin? Miskin menurutnya, belum tentu miskin menurut orang yang benar-benar merasakannya, karena dia belum pernah berada dalam situasi miskin seumur hidupnya."

Seperti secangkir kopi. Bagaimana mungkin orang berkata "Kopi itu nikmat" jika ia belum pernah sekalipun menyeruputnya?

Harus seruput dulu baru bicara tentangnya. Setuju? Mari seruput kopi dulu..

Tagar.Id


UNTUK APA HARI SANTRI?

Hari Santri
Jokowi dan Santri

Ada yang menarik di negeri Iran..

Disana, seorang ulama atau orang yang sangat mengerti ilmu agama bukan saja hanya menjadi pengajar agama saja. Tetapi mereka juga adalah pengajar di bidang lainnya, seperti keuangan, ekonomi sampai strategi perang.

Jadi sudah biasa disana ketika seorang yang berada pada level Ayatollah atau level tertinggi ulama di Iran yang juga ahli ekonomi, masih belajar ke Ayatollah juga yang ahli statistik misalnya.

Ilmu adalah harta terbesar di Iran selain sumber daya alamnya. Iran adalah negeri relijius dengan pimpinan tertinggi adalah seorang ulama, tetapi juga menganut konsep demokrasi dan berbentuk Republik. Berbeda sekali dengan negara muslim di Timur Tengah lainnya yang biasanya berbentuk monarki atau kerajaan.

Model inilah yang ingin diterapkan Jokowi di Indonesia..

Kedekatan Jokowi dengan para santri atau pelajar agama, bukan hanya kedekatan menjelang situasi politik saja. 22 Oktober 2015, Jokowi lah Presiden yang menetapkan hari santri sebagai hari nasional. Hari santri ditetapkan Jokowi sebagai penghargaan kepada para santri yang dulu berjuang mempertahankan negara ini.

Tetapi lebih dari itu, Jokowi juga punya mimpi ingin menaikkan level santri ke kancah nasional bahkan internasional. Santri di pesantren bukan hanya belajar agama dan menjadi pemuka agama saja. Mereka juga diharapkan menguasai life skill dan ahli dibidang non agama seperti sains.

Ada lebih dari 4 juta santri di Indonesia menurut Kementrian Agama, dan 10 persennya menjadi kader ulama dan guru agama. Sisanya yang terbesar dikembangkan ke arah wirausaha profesional dan profesi lainnya.

Sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, Indonesia sejatinya adalah negeri relijius yang berdemokrasi mirip dengan negara Iran. Hanya dalam pengembangan teknologi, Iran jauh lebih maju karena mereka sudah lebih dulu menggabungkan agama dan sains dalam pelajaran-pelajaran di sekolah agamanya, sehingga santri tidak lagi identik dengan profesi sebagai pengajar agama saja.

Meskipun hari santri baru ditetapkan 3 tahun lalu, tetapi kita bisa melihat kemana arah pengembangannya. Pesantren-pesantren nanti akan berkawan dengan teknologi dan keilmuan lainnya sehingga mereka tidak gamang ketika berurusan dengan ilmu selain agama. Ada pesantren khusus IT, ada pesantren khusus desain, pesantren khusus ilmu fisika dan banyak lagi.

Masuk ke pesantren pun satu saat akan berbeda...

Ketika masuk lingkungan pesantren nanti, kita akan disuguhi dengan visual masa depan. Pesantren tidak ubahnya pendidikan dasar keilmuan berbasis sains sebelum memasuki bidang profesi yang lebih spesifik.

Indonesia akan memasuki era dimana "teknologi" berkembang sebagai penjawab kebutuhan zaman dan "agama" sebagai kontrol terhadap keilmuan supaya tidak disalahgunakan menjadi musuh kemanusiaan. Inilah yang disebut sebagai titik keseimbangan..

Karena itu penetapan hari santri di tahun 2015 lalu adalah tonggak penting untuk menuju Indonesia masa depan. Demokratis sekaligus relijius tersaji dalam satu nampan besar..

Kepada para santri yang sedang belajar, selamat hari santri. Kelak negeri ini akan bergantung banyak pada kalian..

Seruput dulu kopinya..

Sabtu, 20 Oktober 2018

PRABOWO DAN KESET MERAHNYA

Politik
Foto

Meski sering bicara di forum tentang kemiskinan, kehancuran dan kelaparan masyarakat Indonesia, Prabowo Subianto tetap bergaya mewah.

Gaya hidup ini tidak bisa ditinggalkannya seakan sudah menjadi darah dagingnya. Meskipun ia sedang berjalan di pasar misalnya, tetap saja tidak tampak bahwa ia bagian dari rakyat biasa.

Ia adalah seorang Raja. Seorang Sultan. Ndoro. Dan ini benar-benar terpatri dalam benaknya.

Kita tidak pernah melihat Prabowo sendirian di tempat-tempat umum. Ia selalu dikawal orang banyak yang siap sedia menyediakan kebutuhannya, bahkan jika perlu menalikan tali sepatunya. Mereka para hulubalang yang selalu menundukkan dirinya menunggu perintah "Boss of the Boss". Silap sedikit, bisa kena marah..

Sifat Prabowo dan hulubalangnya seperti ini terkadang memunculkan kontradiksi dan kelucuan-kelucuan bagi mata masyarakat biasa seperti saya.

Kontradiksi yang paling menonjol adalah ketika ia berbicara kemiskinan dari rumahnya yang mewah seluas belasan hektar dengan diisi belasan kuda mahal yang bahkan ada lapangan pacunya.

Bagaimana bisa seorang kaya raya bicara tentang kemiskinan ? Apa dia mengerti tentang arti miskin jika dia belum pernah miskin ?

Prabowo bukan hanya fasih bicara kemiskinan dari jendela mobil mewahnya, bahkan dari jendela pesawat pribadi yang berharga puluhan miliar rupiah dengan perawatan yang jelas sangat mahal setiap bulannya yang bisa menghidupi sekian ratus kepala keluarga miskin.

Ia bahkan tidak bisa berpura-pura miskin untuk sekadar menyelami situasinya, karena memang ia tidak bisa bersentuhan dengan situasi itu. Kemiskinan sejatinya adalah dunia yang tidak dikenalnya..

Karena itulah dalam setiap kunjungan, ia tidak pernah terlihat sekalipun berada di pesawat komersial umum. Jangankan di kelas ekonomi, bahkan juga di kelas bisnisnya. Ia nyaman berada di pesawat jet pribadinya..

Dan disitulah kadang kelucuan itu muncul. Kelucuan yang murni dan tidak dibuat-buat, yang membuat rakyat biasa terkikik melihatnya. Dan berbisik membicarakannya..

Seperti gambar-gambar yang berbicara saat Prabowo turun dari tangga pesawat jet pribadinya ketika ia berkunjung ke satu daerah. Dan ciri khas Prabowo, ia tidak mau disambut dengan cara biasa, harus ada cara yang menunjukkan bahwa ia seorang yang sangat dihormati. Yaitu dengan karpet merah..

Lucunya, karpet merah Prabowo lebih mirip sebuah keset merah yang biasa kita temui di depan pintu kamar mandi bertuliskan "Welcome". Bagi Prabowo mungkin hal kecil seperti ini tidak terlihat, tapi bagi rakyat biasa dimana di hampir setiap rumah punya keset merah seperti itu, tentu tertawa terbahak-bahak..

Tentu para hulubalang tahu tentang itu karena mereka juga rakyat biasa. Tapi mereka wajib menyediakan karpet merah seandainya Prabowo datang ke tempat mereka. Dan karena karpet merah yang biasanya panjang itu tidak bisa disediakan di bandara, maka keset merahlah sebagai solusinya.

Para hulubalang menutup mata dengan situasi lucu itu, tapi daripada dimaki karena tidak menyambut dengan protokoler yang benar, yah mau bagaimana ? Semua harus sesuai kehendak tuan besar..

Meskipun begitu kita harus banyak berterimakasih pada Prabowo, karena ia sering menyajikan hiburan-hiburan yang membuat kita tersenyum lebar. Seperti saat ia bersujud atas kemenangan fiksinya di Pilpres lalu dan disoraki para hulubalang yang ingin terlihat mendukungnya..

Begitulah orang kaya. Dan kita sebagai orang biasa adalah penikmat pertunjukkannya. Seperti menonton sinetron tanpa mutu yang selalu menonjolkan kemewahan, tetap saja ada juga penonton setianya.

Ah, kadang dunia ini kejam ketika mempermainkan pikiran seseorang. Orang bisa mabuk dan berhalusinasi dibuatnya. Ia bahkan bisa tidak sadar ketika banyak orang mentertawakan keganjilan yang dipertunjukkannya..

Itulah kenapa saya suka dengan secangkir kopi. Pahitnya membangkitkan kewarasan berfikir untuk tetap berjalan seperti biasa. Bahwa pujian-pujian itu sejatinya membunuh seseorang. Menikam semati-matinya..

Seruput dulu ah..

SURAT CINTA UNTUK ADP YANG SUDAH JADI TERSANGKA

Denny Siregar
Kolase Ahmad Dhani dan Denny Siregar

Kasihan ADP..

Ia akhirnya jadi tersangka juga sesudah diperkarakan oleh "Laskar cinta" karena menuding mereka idiot.

Mungkin hilang "Separuh Nafas" ADP ketika ia tahu bahwa ia bisa dituntut 5 tahun penjara karena menghina. Bisa "Pupus" harapannya untuk menjadi anggota dewan yang terhormat.

"Format Masa Depan"nya bisa-bisa berubah..

Kebayang jika si "Arjuna" ini berada di penjara. Para napi "Pangeran Cinta" yang badannya besar-besar dan penuh tatto menyambutnya dengan senyum lebar dan lambaian tangan dibalik sel. "Aku Milikmu" teriak mereka dengan senyuman penuh "Kangen" karena mereka "Sedang Ingin Bercinta".

Bagi para napi disana "Tak Ada Cinta Yang Lain" kecuali bercumbu dengan para lelaki lainnya, dan itu "Bukan Cinta Manusia Biasa".

"Atas Nama Cinta" mereka biasa memainkan "Cinta Gila".

Di penjara memang terkenal memainkan cinta "Satu Sisi". Dan karena hanya satu sisi itulah, mereka sangat "Cemburu" jika pasangannya dimiliki oleh napi lain.

"Kamulah Satu-satunya" adalah "Roman Picisan" yang sering dimainkan disana. Apalagi ada "Elang" yang baru masuk dan masih segar, wah bisa-bisa langsung di "Kirana" ramai-ramai.

Orang baru biasanya nangis karena tidak kuat. "Cukup Siti Nurbaya", biasanya begitu rintihan para korban. "Mistikus Cinta"nya bisa jebol karena tidak kuat menerima hantaman dari para "Lelaki Pencemburu".

'Mati Aku Mati" biasanya begitu yang ada dipikiran korban malam pertama. Saking jebolnya bisa-bisa nanti tinggal "Angin" saja. Yang tadinya bentuknya "Dewi" bisa menganga jadi "Mahameru".

Kalau malam dia bisa jadi "Selimut Hati". Jangan takut, kata orang disampingnya yang biasanya menjadi pelindung. Ini "Persembahan Dari Surga", katanya lagi sambil menyeringai seperti "Mahluk Tuhan Paling Sexi" dan mulai memeluk sampai "Larut".

Pasti "Sakit Bukan Main" jika tiap malam harus digituin, bahkan untuk duduk saja "Begitu Salah Begitu Benar". "Hidup adalah Perjuangan" jika ada di penjara.

Mungkin kita bisa kasih "Petuah Bijak" untuknya..

ADP, semoga di dalam sana engkau bisa belajar menjadi "Terbaik Terbaik". Kita ini "Manusia Biasa" dan "Jalan Kita Masih Panjang".

"Jangan Pernah Mencoba" untuk selalu menghina orang lain. Semua manusia itu "Satu Hati ( kita semestinya)". "Hitam Putih" manusia itu Tuhan yang menentukan, bukan manusia juga. Karena Dialah pemilik "Restoe Boemi".

"Hadapilah Dengan Senyuman" dan semoga ini menjadi pelajaran bagimu. "Cintakan Membawamu Kembali", percayalah..

Saya rasa banyak orang yang "Still I'm Sure We'll Meet Again" dengan karya2mu. Entah kenapa sekarang kamu lebih senang bercocot daripada berkarya. Jadikan pelajaran ini sebagai "Emotional Love Song" supaya kamu bisa lebih baik nantinya.

Sekian dulu surat ini, dan anggaplah ini "Suara Alam" "Sebelum Kau Terlelap" dipelukan "Cindi" dan "Deasy" yang berotot dan tattoan.

Dari,
"Pandawa Lima"
di "Selatan Jakarta"

Jumat, 19 Oktober 2018

Jokowi: BPJS Kebangetan!

Jokowi
BPJS Kesehatan

 "Kebangetan!" Gerutu Jokowi kesal....

Jokowi geram karena BPJS kesehatan selalu defisit. Tambah kesal lagi dia karena seperti tidak ada solusi dari BPJS sendiri. "Tiap kurang, minta. Masak ginian Presiden juga yang ngurusin!"

BPJS memang seperti buah simalakama. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat, tetapi anggarannya juga besar.

Tahun 2017, anggaran BPJS sebesar 84 triliun. Tapi pendapatan dari iurannya hanya 74 sekian triliun. Ada selisih 9 triliun rupiah yang akhirnya menjadi tanggungan pemerintah. Bahkan tahun 2018, diprediksi defisit BPJS mencapai 14 triliun rupiah.

Dirut BPJS Fahmi Idris pun kembali mengingatkan bahwa iuran BPJS terlalu kecil sehingga selalu "rugi". Meski kata rugi juga bukan kata yang tepat, karena BPJS bukan badan usaha yang menerapkan konsep laba seperti Pertamina misalnya.

Hanya untuk menaikkan iuran BPJS tentu akan jadi masalah baru, karena ini akan berpengaruh langsung kepada masyarakat bawah. Lha wong, mereka bayar iuran sekarang aja susah, masak mau dinaikin lagi?

Fahmi Idris pun seperti kehilangan akal. Akhirnya dia "minta lagi minta lagi" ke pemerintah. Itulah yang membuat Jokowi marah. Padahal dulu Jokowi setuju gaji Dirut BPJS sebesar 300 juta rupiah, jauh lebih tinggi dari gajinya sendiri yang hanya 62 juta rupiah.

Gaji tinggi itu supaya Dirut BPJS berpikir layaknya seorang CEO, bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di unitnya.

Permasalahan BPJS ini terjadi dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan. Dan Fahmi yang bergaji tinggi itupun hanya punya satu solusi saja, "Naikkan iuran". Kalau solusinya cuma naikkan doang, untuk apa digaji 300 juta? Kalau gitu anak gua juga bisa. Begitu mungkin gerutu Jokowi.

Memang ada salah satu solusi untuk menutupi defisit yaitu dengan mengambil separuh dari pajak cukai rokok. Pendapatan negara selama ini dari rokok sebesar 145 triliun rupiah dan pajaknya sebesar 10 persen. Tapi itu belum cukup untuk menutupi defisit yang ada.

Kenapa tidak iuran BPJS sekalian saja ditanggung perokok, jadi bukan hanya diambil dari pajaknya? Semisal dari setiap pembelian sebungkus rokok seharga 15 ribu rupiah, ada tambahan 10-15 persen dengan catatan di depan bungkusnya, "Untuk pembayaran BPJS".

Perokok pasti tidak keberatan, karena bagi pecandu, rokok sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Naik berapa pun tidak begitu masalah. Asal jangan banyak-banyak, hehe....

Nah, jika pendapatan negara dari cukai rokok saja bisa sebesar 145 triliun rupiah, berarti ada tambahan 10 persen sebesar 14,5 triliun rupiah sebagai "sumbangan" perokok kepada BPJS. Tentu ini bisa membantu defisit yang ada.

Hanya, tolong dong, kalau sudah dibantu gitu, mbok ya perokok dikasih ruang yang lebih luas di tempat-tempat publik. Masak udah duitnya diambil, tempat merokoknya gak dikasih yang nyaman.

Seharusnya di depan bungkus rokok, jangan lagi dikasih gambar yang seram-seram dengan tulisan, "Merokok bisa membunuhmu". Seharusnya ditulis, "Terima kasih perokok, Anda membantu orang untuk sehat". Kan senang jadinya....

Terus di tempat merokok di publik, jangan hanya dikasih tulisan, "tempat merokok". Tetapi ditulis, "tempat orang yang berjasa membantu orang lain tetap sehat". Keren, kan....

Saran ginian doang gak perlu deh digaji 300 juta rupiah per bulan. Seruput dulu kopinya. Eh, korek apinya mana ya?

Jangan Pernah Lelah Mencinta Indonesia

Ansor-Banser
Kirab Satu Negeri

Menjaga Indonesia itu tidak mudah....

Negeri yang ditakdirkan terdiri dari banyak suku, ras dan agama ini mendapat anugerah dengan ikatan dalam bentuk negara kesatuan, bukan kerajaan. Itu berarti secara otomatis kita semua yang berbeda melebur menjadi satu, dengan sebuah identitas kebangsaan.

Tetapi akhir-akhir ini rasa persatuan itu tercederai dengan ulah sebuah komunitas, kelompok kecil dengan identitas keagamaan yang merasa dirinya paling benar. Mereka memaksakan keyakinannya dengan cara kekerasan, menjajah kemerdekaan orang lain yang berkeyakinan berbeda. Peristiwa-peristiwa itu meletup di beberapa daerah dan membangun rasa kecurigaan juga dendam.

Kelompok ini walau kecil tidak bisa dianggap remeh. Virus yang mereka tularkan itu berhasil menghancurkan banyak negara seperti Suriah dan Irak, merusak kebhinekaan mereka dan memakan banyak korban jiwa. Sebuah pelajaran yang harus dipetik oleh kita dan menjadi bahan kajian supaya tidak bernasib sama.

Masih untung kita ada Nahdlatul Ulama....

NU adalah organisasi massa terbesar di Indonesia berbasis keagamaan. Mereka sudah berkomitmen untuk menjaga tanah air ini dengan segenap darah dan jiwa mereka. Gerakan mereka yang diwakili oleh kelompok kepemudaan yang bernaung dibawah nama GP Ansor dan Banser, terus bergerak untuk menjahit kembali luka-luka yang ditimbulkan oleh arogansi kelompok kecil yang beragama sama.

Sejak 16 September, Ansor dan Banser NU melakukan kirab satu negeri. Mereka bergerak menunjukkan identitas mereka bukan untuk mengancam, tetapi justru mengingatkan mereka yang berbeda keyakinan untuk melangkah bersama menjaga negeri ini.

Mereka seakan berkata, "Jangan takut, kami ada" sebagai pengingat bahwa sebagian besar masyarakat ini bukan kelompok anarkis dan radikal. Yang bisa kita lakukan hanya bergandeng tangan dan saling menghormati sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak ingin terpecah.

Tanggal 26 Oktober, 100 ribu anggota Ansor dan Banser NU di Yogyakarta akan melakukan deklarasi kebangsaan, sekaligus mengingat kembali Sumpah Pemuda kita. Jangan karena kelompok kecil yang anarkis, kita jadi terpecah. Dan mereka juga mengundang semua warga untuk ikut hadir di sana.

Harus diakui, tanpa Nahdlatul Ulama, sudah lama kita terpecah. Karena ada kelompok mengatasnamakan agama yang menyakiti agama lain dengan semua aksi provokasinya. Jika tidak ada kelompok agama moderat, kita bisa seperti Lebanon yang perang saudara antar-agama selama 15 tahun lamanya.

"Jangan pernah lelah mencinta Indonesia," pesan Gus Yaqut Cholil Qoumas Ketua umum Ansor dan panglima tertinggi Banser NU. Kecintaannya pada negeri inilah yang ditularkan pada sekian puluh juta anggotanya untuk tetap berada pada jalur yang benar. Dan kita terselamatkan dari perpecahan.

Jujur, bersama mereka, saya merasa percaya diri, bahwa negeri ini akan menjadi besar. Karena selain aparat keamanan, Ansor dan Banser NU lah benteng terkuat kita menjaga negeri dari perpecahan sektarian.

Jangan pernah lelah mencinta Indonesia.

Saya tidak pernah lelah. Setiap tarikan napas saya, setiap detak jantung saya, dan setiap tarikan seruput kopi saya, hanya ada satu tujuan, bagaimana menjaga negeri ini supaya tetap seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa.

Dan itulah jihad yang sebenar-benarnya.

Jika kita satu barisan demi Indonesia, mari angkat cangkir kopinya..

Rabu, 17 Oktober 2018

MENGUSIR HTI

Ansor
Denny Siregar dan Ketum Ansor

Pertarungan antara pendukung NKRI versus khilafah sedang berlangsung. Ini perang panjang di negeri ini.

Banser dan Ansor NU sebagai organisasi muslim terbesar di negeri ini sudah menyatakan perangnya sendiri. Dan mereka tidak hanya berteriak, mereka bergerak, meskipun banyak hadangan dimana-mana.

Menarik mendengar kisah mereka di lapangan yang head to head melawan HTI, radikalisme dan intoleransi di negara tercinta sambil seruput..

Sandiaga Uno dan Mimpi Oke Oce

Politik
Sandiaga Uno di Pasar

"Oke Oce gagal total...," kata Sandiaga Uno lemah.

Oke Oce adalah mimpi program pengentasan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja yang digagas Sandiaga Uno saat menjadi Wakil Gubernur DKI.

Konsep awalnya saat kampanye adalah dengan membantu orang untuk menjadi wirausahawan baru dengan diberi pelatihan dan modal. Tapi pada penerapannya sesudah Sandi berhasil menduduki kursi Wagub DKI, pemberian modal itu ternyata tidak ada. Nol besar.

Pemprov DKI hanya menjadi fasilitator kepada calon wirausaha dengan pihak Bank, dengan bunga yang tinggi juga, sekitar 13 persen per tahun atau 1,5 persen per bulan. Itu bukan menolong orang tapi malah mengantarnya ke tiang gantungan.

Sesudah setahun berjalan, program Oke Oce itu sendiri baru mencapai 3,31 persen. Jauh sekali dari target awalnya. Dari target 44 gerai yang mau dibuka, baru 7 yang terlaksana. Itupun sudah mulai tutup karena tidak ada pembelinya.

Jelas Oke Oce adalah program yang gagal. Meskipun begitu, Sandiaga Uno memaksakan jika ia menjadi Wapres RI nanti, ia akan mengangkat program Oke Oce ke tingkat nasional. Sebuah mimpi yang dilahirkan dari sebuah mimpi lainnya.

Kenapa Oke Oce gagal?

Karena Oke Oce berkutat pada model bisnis gerai minimarket konvensional, modalnya tentu sangat tinggi. Lawannya adalah raksasa seperti Alfamart dan Indomaret, tentu tidak akan bertahan. Apalagi di era teknologi ini, konsep gerai minimarket Oke Oce sudah tidak relevan ketika perusahaan retail besar lainnya sudah bermain di online untuk menekan biaya operasional.

Yang kedua, "pengusaha itu binatang yang berbeda" kata seorang pengusaha besar. Menjadi pengusaha itu tidak mudah, harus melalui ujian keras dan berbagai macam kegagalan sebelum naik kelas. Jadi urusannya bukan hanya modal tetapi yang paling penting adalah mental.

Berapa persen pengusaha yang ingin diciptakan Sandiaga Uno dengan fasilitas yang ingin dia manjakan? Wah bisa jadi dari seribu peserta manja, hanya satu yang punya mental pengusaha, sedangkan modal sudah terlanjur beredar. Rugi bandar.

Inilah yang tidak diperhatikan Sandiaga Uno. Ia memang bukan tipikal pengusaha yang mulai dari bawah. Sandiaga Uno hanyalah pengusaha yang bermain di kertas keuangan. Jadi bagaimana ia bisa tahu situasi pengusaha jika tidak pernah mengalami masa berkeringat dan susah?

Sebenarnya Sandiaga Uno tahu itu, hanya ia menutupnya rapat-rapat. Baginya Oke Oce itu hanyalah sebuah kampanye mimpi, menjual harapan. Tapi ia terus menjualnya karena ia tahu bahwa banyak orang yang ingin naik status sosialnya tapi tidak mau bekerja keras. Pekerja instan yang tahunya cuma "modal dan modal". Pas dikasih modal, foya-foya kerjaannya.

Seharusnya Sandiaga Uno mulai merevisi konsep Oke Ocenya, dan konsep baru ini yang dia tawarkan dalam program kampanyenya. Tapi ia sendiri juga tidak paham, makanya ia hanya jualan "rambut petai", "makanan Indonesia mahal" sampai "tempe setipis ATM" sebagai mainannya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika ia membawa program gagal itu ke tingkat nasional? Bisa jadi bukan gagal total lagi, tetapi gagal global. Yang maju adalah bisnis debt collector karena banyak para pemimpi yang harus dikejar dan ditagih utangnya.

Mungkin Oke Oce yang berhasil hanya ada di tempat tidur. Ketika seorang suami senyum-senyum pada istrinya, bertanya, "Oke, Ma?" Si mama tersenyum sambil siap-siap telentang, "Oce, Pah...". Lalu di malam dingin itu terdengarlah suara orang lari-larian, "Oke Oce... Oke Oce... Okeeee... ocehhhh...."

Seruput kopi dulu ah.

Selasa, 16 Oktober 2018

Indonesia Harus Belajar dari Suriah


Suriah
Bashar Assad dan Ulama Suriah
Kabar menarik datang dari Suriah...

Suriah akhirnya mengesahkan Undang-undang baru yang mencegah para ulama berdakwah dengan ceramah yangmemicu pertikaian sektarian. UU ini disetujui Presiden Suriah Bashar al Assad dan mulai dijalankan disana.

Dengan UU ini maka kementerian wakaf atau kementerian agama yang mengurusi Islam, berhak mengambil tindakan mencegah ulama yang "mengambil platform keagamaan dengan maksud politik".

UU ini penting bagi Suriah. Mereka berperang selama 7 tahun lamanya karena ceramah-ceramah dari ulama garis keras yang memicu pertikaian. Ulama-ulama politik ini mengambil kesempatan untuk menggulingkan pemerintah Suriah dengan bantuan negara luar.

Dengan UU baru ini, kementerian wakaf Suriah punya tugas baru mengawasi sekolah-sekolah agama dan mengatur program keagamaan di media. Suriah punya pengalaman pahit sehubungan dengan ceramah ekstrim ulama-ulama beraliran wahabi ini dan mereka mencegah hal yang sama terulang kedua kali.

Indonesia seharusnya belajar dari Suriah.

Situasi di Indonesia yang mirip dengan negara Suriah, menjadikan negeri ini rentan dengan kegiatan radikal yang berbaju agama dan sering diseret dalam arus politik.

Peristiwa Pilgub DKI di 2017 lalu menyalakan tanda bahaya bahwa masjid dan sekolah agama sudah disusupi oleh paham ekstrim. Tidak adanya pengaturan dan ketegasan dalam menindak ceramah yang berbau sektarian dan radikal membuat Indonesia seperti bom waktu berjalan yang timer-nya terus menyala.

Tragedi Meiliana yang memprotes kerasnya toa azan sampai pembubaran acara sedekah laut di Bantul Yogyakarta adalah letupan-letupan sporadis yang bisa menjadi ledakan besar ketika tidak ada cara mencegahnya.

Pembiaran itu akan mencapai puncaknya ketika ulama-ulama radikal itu akhirnya bergandengan tangan dengan kepentingan politik untuk membumi-hanguskan negeri ini dengan bantuan dari negara luar.


Lihat saja di banyak sekolah negeri di Indonesia, kebencian terhadap perbedaan agama berjalan tanpa kontrol kepada anak-anak yang kelak akan menjadi dewasa. Mereka tumbuh dengan kecurigaan yang tinggi karena dirinya merasa paling benar dan lebih punya hak di negeri ini daripada agama yang berbeda.

Di masjid-masjid ceramah dengan toa yang bergemuruh, mencaci maki agama lain yang dianggapnya kafir dan pantas dimusuhi. Semua hal dikaitkan dengan agama bahkan bencana di satu daerah, karena pengetahuan geologi yang tidak memadai dari ustaz-ustaz yang sok tahu akan keadaan sebenarnya.


Indonesia harus belajar dari Suriah dan harus berani keluar dari zona nyamannya selama ini, menganggap tidak ada masalah di negeri ini. Orang bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika sudah parah seperti Suriah, jangan sampai kita semua menangis menyesali.

Tuhan memberikan pelajaran kepada manusia melalui banyak peristiwa. Belajarlah atau tetap dalam kebodohan selamanya.

Seruput dulu kopinya.

Tagar.id

Senin, 15 Oktober 2018

Kivlan Zein, Hantu PKI dan Konsumsi Micin

Kivlan Zein
Kivlan Zein

Mungkin mantan petinggi militer yang paling sering dihantui oleh sosok PKI, hanya Kivlan Zein.

Entah kenapa mantan Kepala staf Kostrad ini sibuk sekali menuding sana sini dengan kata PKI. Pada masa tuanya ia seperti dikejar-kejar dengan kata "komunis" sehingga dalam setiap pembicaraan apa pun, selalu ada kata itu.

Yang terbaru pada hari Sabtu (13/10) ia berbicara pada acara 'Membedah Agenda Politik Komunisme dan Khilafah di Pilpres 2019'. Dan Kivlan membuat tuduhan baru bahwa tiga partai yaitu Golkar, Nasdem dan PDIP bekerja sama dengan China dalam melakukan pengkaderan komunis.

"Masa' negara Pancasila kerja sama dengan negara komunis?" Tudingnya. Selain itu ia menuduh juga Jokowi mendapat restu dari PKI untuk Pilpres 2019. Meski tanpa bukti, Kivlan terus bicara bahwa PKI sudah menjanjikan 15 juta suara untuk Jokowi asal Jokowi mau minta maaf pada PKI jika menjadi Presiden lagi.

Kivlan Zein sudah berusia 71 tahun. Pada usia setua itu, waktunya disibukkan dengan "hantu-hantu" PKI yang terus bergerak di dalam kepalanya. Cuma yang agak mengherankan, hantu PKI ini baru muncul saat pemerintahan Jokowi saja, karena pada saat pemerintahan SBY Kivlan Zein tidak pernah bicara tentang PKI.

Mungkin hantu PKI itu segan pada SBY karena sering dikasih Bantuan Langsung Tunai.

Lucunya, Kivlan Zein tidak komentar bahwa Gerindra juga disusupi PKI, padahal sahabatnya yaitu Prabowo Subianto menghadiri undangan hari nasional Republik Rakyat China di Shangrila September lalu.

Malah Prabowo bilang, "Tiongkok sangat penting bagi Indonesia," tapi Kivlan Zein diam saja. Buatnya PKI itu hanya ada di Jokowi dan partai pendukungnya saja, kalau Prabowo semua bebas tanpa ada bahan pengawet.

Halusinasi mantan Jenderal ini memang parah. Bahkan ia pernah menyerukan, "Kami siap perang dengan PKI!" Ia lalu menunjuk sebuah lokasi di mana katanya di sana markas pusat PKI dengan anggota 15 juta orang. Sesudah beberapa wartawan coba telusuri, ternyata di sana hanya ada gedung tua yang sudah lama tidak tersentuh manusia.

Ternyata para wartawan itu tidak sesakti Kivlan Zein yang mampu secara ghoib dan mistis, mampu melihat 15 juta PKI dalam bentuk "barang halus" yang mondar mandir di gedung itu. Hanya Kivlan seorang yang bisa melihat sosok-sosok halus PKI itu, sedangkan lebih dari 300 juta orang Indonesia gak ada yang mampu. Hebat, kan?

"Kenapa Kivlan bisa begitu?" Tanyaku pada seorang teman.

"Micin.... " Jawab temanku. "Terlalu banyak konsumsi micin memang cenderung membuat orang sering berhalusinasi. Mungkin waktu masih muda, Kivlan sering mengkonsumsi micin dengan porsi satu saset untuk satu piring makanan. Jadinya ya halusinasi terus sampai tua."

"Mungkin juga...," pikirku sambil seruput secangkir kopi. Seharusnya mulai sekarang di setiap bungkus micin harus ada peringatan "Konsumsi micin berlebih bisa membuat PKI hadir kembali".

Seruput.

Tragedi Larung Laut Bantul, Ada yang Ingin Menghilangkan Budaya Indonesia

Budaya
Budaya Bali

Dua tahun saya tinggal di Bali..

Selama disana saya meresapi aura adat dan budaya yang begitu kental. Mulai dari upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben dan upacara menyucikan diri yang dikenal dengan nama Melasti.

Bagi saya Bali itu indah dengan begitu banyaknya ragam budaya yang menyatu dengan wisatanya. Bali menyatukan unsur modern dan tradisional dalam satu paket yang menjadikan ia begitu berwarna.

Satu kesamaan yang saya lihat dalam setiap upacara adat dan budaya di Bali adalah adanya kehadiran para pecalang. Pecalang adalah komunitas masyarakat yang bertugas mengawasi dan menjaga keamanan desa adat dan banjar. Para pecalang ini yang mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan setiap upacara adat.

Sampai sekarang saya masih terkesan dengan Bali dan begitu juga banyak orang lainnya. Itulah kenapa Bali selalu menjadi destinasi wisata nomer satu bagi turis dalam dan luar negeri, karena mereka bukan hanya menjual obyek wisata tetapi juga kemagisan upacara-upacara adatnya.

Membaca tragedi perusakan properti acara sedekah laut di Pantai Baru Bantul Yogyakarta oleh 50 orang yang katanya bercadar, saya jelas miris sekaligus marah.

Acara yang sebenarnya menjadi adat dan budaya masyarakat sana dirusak oleh sebagian orang yang berbeda keyakinan karena dinilai syirik. Sedihnya lagi pihak polisi yang akhirnya bergerak cepat menangkap beberapa terduga pelaku terpaksa harus melepaskan mereka karena tidak ada yang mau menjadi saksi.

Ada tangan-tangan yang memang didoktrin untuk menghancurkan adat dan budaya yang sudah menjadi tradisi sebagian masyarakat Indonesia. Mereka memaksakan keyakinan dirinya dengan keyakinan orang lain yang berbeda dengannya. Mirip dengan ISIS ketika menghancurkan peninggalan-peninggalan budaya di Suriah dan Irak dengan alasan peninggalan yang berusia ribuan tahun itu syirik dan musrik.

Perbedaan keyakinan itu seharusnya tidak menjadi alasan bagi sebagian orang untuk merusak keyakinan orang lain. Dan ini harus menjadi perhatian utama bagi Pemda dan aparat setempat untuk terus menjaga adat dan budaya yang selama ini sudah menjadi warna bagi bangsa ini.

Belajarlah dari Bali, yang menghadirkan pecalang sebagai penjaga keamanan upacara mereka. Para penggagas upacara adat kedepannya bisa bekerjasama dengan aparat setempat atau minimal koordinasi dengan Banser NU di wilayah mereka, sehingga bisa beribadah dengan tenang tanpa harus memikirkan keamanan dirinya.

Meski ibadah itu tujuannya damai tetapi kita harus menjaga diri sendiri dari niat-niat tidak baik yang ada di sekitar kita. Sedia payung sebelum hujan, adalah pepatah baik yang harus kita pegang.

Kejadian di Bantul itu adalah pelajaran bagi semua supaya bisa mulai menjaga dirinya. Dan jangan pernah takut dengan tekanan sekelompok orang yang memaksakan keinginannya. Karena sekali kita takut, mereka akan mendominasi alam pikir kita.

Belajar jugalah dari Mardani Ali Sera. Dia sendiri tidak takut untuk ngevlog di kuburan. Mungkin dia pikir, kalau tidak ada manusia hidup yang mendengarkan, yang sudah meninggal siapa tahu mau menghargai apa yang dia katakan. Meski isi pidatonya sendiri meragukan..

Secangkir kopi sore ini nikmat sekali. Seruput dulu ah.