Minggu, 17 Desember 2017

ANIES, MONAS DAN POLITISASI NATAL

Natal
Monas
Gayung tak bersambut. Rencana Anies untuk mengadakan Natal di Monas, ternyata “ditolak” oleh banyak gereja, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia atau PGI.


Sesudah Pilgub DKI yang penuh kontroversi dan terindikasi SARA, Anies mencoba merajut kembali “tenun kebangsaan” yang ternyata sudah koyak itu.

Hanya yang tidak diperhitungkannya adalah tenun kebangsaan itu bukan sejenis kain yang mudah disatukan kembali oleh benang. Ia adalah jiwa-jiwa yang sekarang terluka akibat politisasi agama berlebihan.

Merajutnya tidak cukup hanya dengan merangkul, tetapi harus dengan ketulusan hati yang dalam. Nyatanya umat Kristen di Indonesia, banyak yang tidak melihat ketulusan hati itu.


Anies dan Sandi mencoba merayu pihak Gereja dengan berjanji akan membayar semua kebutuhan dalam perayaan Natal itu melalui APBD.

Bukan, bukan itu…

Kalau masalah uang, kita yakin, pihak Gereja akan jauh lebih dari mampu untuk sekedar membayar perayaan Natal sebesar apapun dan dimanapun. Anies dan Sandi tentu salah besar jika berbicara uang. Mereka tidak memahami akar masalah yang lebih dalam.

Pihak Gereja mencium ada ketidak-tulusan dalam undangan itu. Ada nuansa politisasi, penunggangan atas nama umat dan hari besar umat Kristen oleh kepentingan politik tertentu.


Mereka lebih baik mundur teratur dan berkilah dengan sopan, bahwa Natal akan diselenggarakan di indoor saja dan penuh dengan kesederhanaan.

Sikap PGI dan beberapa Gereja ini seharusnya membuat Anies Tafakur, merenung lebih dalam “apa yang salah” dari semua ini. Tidak mudah merangkul -apalagi dengan niat yang ditunggangi kepentingan- sesudah menonjok kuat-kuat, lalu berbaik-baik memberi makan.
Saudara-saudara yang Kristen memang mengamalkan ayat kasih mereka, “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:38-39)”.
Tetapi meski secara raga mereka menerima situasinya, secara batin tentulah tidak mudah untuk menyambung kembali tali itu.


Apalagi sesudah mereka selama beberapa bulan dituding “kafir, tidak berhak memimpin negeri ini sampai penghinaan terhadap symbol-simbol keyakinan mereka yang dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan hukum yang berarti”.

Pasti sangat menyakitkan...

Inilah langkah politis PGI yang paling keras yang pernah saya lihat. Sebuah perlawanan halus berdekatan dengan perayaan hari besar keagamaan mereka.

Semoga ini menjadi pelajaran besar bersama, termasuk semua politisi dimanapun berada. Bahwa tidak selayaknya agama dicampur-adukkan dalam politik dan dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa. Lukanya akan menjadi sangat dalam dan sembuhnya lama.

Ah, Natal tahun ini penuh dengan pesan yang tersirat dalam bentuk tindakan.

Semoga secangkir kopi tetap menjadi perekat diantara kita, karena dalam kehidupan berbangsa tidak ada yang kedudukannya lebih tinggi maupun lebih rendah. Semua sama dalam merasakan nikmatnya..

Salam Natal, saudara-saudaraku dalam kemanusiaan. Salam hormat untuk kalian semua dimanapun berada.


Dari saya, sesama anak bangsa..

Jumat, 15 Desember 2017

JANGAN MAU DIBOHONGIN ABU JANDA

Pernadi Arya
Abu Janda
Membaca tulisan Permadi Setya alias Ustad Abu Janda, tentang pengalaman dia saat wawancara di E Talk TVOne, saya ketawa-tawa.


Si Permadi -yang sampai sekarang masih dipercaya oleh bani micin kiloan sebagai ustad beneran- bercerita bahwa dia ternyata diundang sebagai narasumber hanya untuk di bully di TV One.

Memang kalau saya perhatikan TVOne ini haus sekali rating. Ya wajarlah, mereka juga cari makan. Mereka terlihat mengandalkan kaum sempak kedodoran sebagai pemirsa setianya.

Karena itu mereka banyak menampilkan tokoh-tokoh idola dari bumi datar, dan tokoh dari bumi bulat untuk yang kontroversial sebagai penarik minat.

Ada memang beberapa kaum terpelajar yang mampu memainkan ritme sesuai karakter TVOne. Tapi apa yang dilakukan si Abu Janda yang gak pernah ke Turki ini memang menarik.

Abu Janda -seperti juga saya- senang menarik perhatian untuk di bully di media sosial. Kami sejak awal di medsos menjadi sasaran bully-an karena pola pikir kami dianggap aneh oleh para bemper rusak.

Dan biasanya saya dan Permadi suka kompetisi gelar siapa yang paling sesat diantara kami berdua.

Abu Janda menaikkan level bertarungnya ke tempat yang lebih tinggi, yaitu media nasioanal seperti TV One. Ia menikmati setiap bullyan kepadanya seperti ia menikmati makan nasi pecel pake tempe dan ikan asin sebagai lauk utamanya. Wah jadi lapar.

Abu Janda memainkan psikologis para hatersnya, supaya ia lebih dikenal. Dan ia tahu, bahwa pada posisi keterkenalannya dia, selalu ada sisi menarik yang bisa ia lakukan.

Karena itu, Abu Janda dan TVOne seperti simbiosis mutualisma. Saling menguntungkan. Mereka benar-benar memanfaatkan situasi untuk keuntungan mereka masing-masing.

Nah, yang jadi korban adalah kaum kondom bocor yang selalu gamang. Mereka terus membully Abu Janda, tanpa sadar diperalat untuk menaikkan pamornya dan pamor media nasional yang mengundangnya.

Seperti pernah saya tulis, haters adalah marketing yang terbaik di dunia. Dan besarnya nama Abu Janda di pentas nasional mayoritas karena ia banyak hatersnya. Haters lah yang membuat Abu Janda semakin terkenal.

Jadi, jangan mau di bohogin ma Abu Janda. Setiap kalian menghujatnya, membullynya, ia semakin tambah besar. Kalian hanya menjadi tangganya saja menuju ketenaran.

Kalian tidak dapat apa-apa, Abu Janda yang dapat berkahnya.

Mending kalian minum obat Vitamicin, kalau sudah sedikit cerdas baru ngupi ma saya ya.. Seruput.

Selasa, 12 Desember 2017

STOP MENGHUJAT ANIES-SANDI !

Sandi
Banjir Jakarta
Saya heran kepada teman-teman yang sibuk mencari cacat dari pemerintahan Anies-Sandi. Gak usah begitulah. Toh semua bukan salah mereka. Siapa yang bisa melawan cuaca yang begitu ekstrim coba, sehingga banjir besar akhirnya melanda Jakarta.

Saya yakin, pak Anies dan pak Sandi sudah bekerja dengan baik. Memantau titik-titik banjir melalui cctv bukan perkara mudah.

Bayangkan, ada berapa ribu cctv tersebar di seluruh Jakarta? Capek lho ngelihat satu-satu. Kamu bisa gak? Kalau gak bisa, gak usah nyinyir dong.

Lagian kan sejak awal pak Anies sudah berkomunikasi. Banjir sudah diomongi baik-baik supaya jangan masuk Jakarta lagi, karena pemimpin Jakarta sekarang sudah santun tidak seperti yang dulu.

“Dibanjirkan” lah istilahnya sebagai kata ganti dimanusiakan. Intinya adalah keberpihakan.

Tapi ya namanya hujan itu rahmat Tuhan, berarti banjir juga adalah rahmatNya. Jadi jangan salahkan pak Anies dan pak Sandi dong, mereka kan sudah berdoa dan menyerahkan semua pada Tuhan sesuai arahan Gubernur Jabar. Semua ini sudah ada yang mengatur, jadi gak perlu lagi teriak2 disana banjir, disini banjir.

Lagian, banjir itu adalah pancuran kehidupan.

Dengan adanya banjir, akan meningkatkan kembali ekonomi masyarakat. Ojek payung, pendorong mobil mogok, penyewa ban sampai perahu-perahuan akan kembali bekerja sesudah jamannya Ahok mereka merana. Ini yang tidak dilihat oleh banyak orang.

Banjir juga sebagai budaya juga harus dilestarikan. Budaya yang ingin dihilangkan oleh Gubernur lama.

Sesudah sekian tahun, baru kali ini kita mendengar lagi reporter melaporkan banjir sudah sepaha dan sedada. Pokoknya masalah paha dan dada, kita ini nomer satunya. Ditanya KFC aja, “paha atau dada?” langsung ngaceng kemana-mana.

Lagian masalah banjir ini masalah dalam negeri. Sulit bisa gaya kalau masalah dalam negeri, gak bisa dibuat foto dengan selendang bendera Palestina sambil baca koran berdiri.

Stop bully pak Anies dan pak Sandi masalah banjir. Nanti juga kalau khilafah kalau sudah berdiri, banjir surut sendiri. Banjir itu pribumi, jadi punya hak yang besar di Indonesia ini.

Selamat bekerja ya pak Anies dan pak Sandi. Jangan hiraukan orang yang membully kalian terus.

Karena orang bijak berkata, “Mereka yang selalu melihat kekuranganmu, sulit akan melihat sesuatu yang menonjol di balik celanamu”. Ini nasihat yang sangat bijak, bisa direnungkan dalam-dalam sambil lari pagi dari rumah ke kantor.

Berakit-rakit ke hulu, pak Anies-Sandi, berenang-renang ke tepian. Artinya, daripada waktu banjir berenang ke tepian, lebih baik sewa rakit. Murah kok.

Selamat malam, jangan lupa saya lho pak.

Saya ini dulu pemilih bapak. Kertas pemilihan bapak dulu saya jaga, saya lipat supaya jangan rusak. Sedangkan kertas si “pemahaman nenek lu” itu saya tusuk-tusuk saking bencinya. Seruput dulu, sudah malam pak..

Senin, 11 Desember 2017

ISU PANGLIMA TNI ITU RUNTUH. BANI MICIN KECOLONGAN

Istri Panglima TNI
Info
Saya sebenarnya sudah yakin bahwa ketika Jenderal Gatot Nurmantyo diganti, hoax akan bertebaran dimana-mana.

Kenapa? Karena selama ini mereka yang berseberangan dengan pemerintah menganggap bahwa Jenderal Gatot adalah bagian dari mereka.

Posisi Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI pada waktu itu, sangat strategis bagi mereka. Apalagi dalam perjalanannya, Jenderal Gatot seperti berpihak kepada mereka, meski itu hanya perasaan mereka saja.

Kecenderungan untuk mengadu Presiden dengan Panglima TNI kala itu sangat kuat. Jenderal Gatot dipuji setinggi langit, sedangkan Presiden dicaci maki. Mereka ingin Presiden marah dan kemudian mengganti Jenderal Gatot meski belum habis masa jabatannya.

Jika itu terjadi, maka Jenderal Gatot akan melambung tinggi dengan berita yang akan mereka goreng bahwa ia dizolimi Jokowi. Mereka ingin peristiwa SBY yang beritanya “dizolimi” Megawati terulang lagi.

Tapi kaum bani micin kiloan tidak paham, bahwa yang mereka hadapi adalah Jokowi. Seorang manusia dengan emosi yang terkontrol penuh meski mendapat banyak serangan.

Jokowi membiarkan maneuver-manuver di depan matanya sambil menghitung langkah dan waktu yang tepat untuk bertindak.

Hari Kamis, tanggal 7 Desember, Presiden dan Panglima TNI kala itu, bersama-sama tampil di depan publik membantah kabar yang berkembang bahwa Jenderal Gatot secepatnya akan diganti. Tetapi tiba-tiba besoknya, hari Jum’at, Presiden melantik Panglima TNI baru Hadi Tjahjanto.

Gerakan yang halus, senyap, tanpa menimbulkan banyak keributan.

Ketika kaum micin curah kelabakan informasi hoax mereka dicounter dengan kemunculan Presiden dan Panglima TNI bersama-sama, mendadak mereka melongo ketika hoax yang mereka bangun sebelumnya jadi kenyataan.

Mereka sangat marah dan menyebarkan isu kemana-mana bahwa Jenderal Gatot dipecat, berharap mendapat reaksi dari masyarakat.

Sayangnya, bani micin lagi asik membahas acara ILC berhari-hari dengan penuh kemenangan. Sorak sorai mereka menenggelamkan komando untuk membahas isu “pemecatan” Jenderal Gatot.

Walhasil, isu pemecatan itu layu sebelum berkembang.

Sesudah kembali sadar, barulah mereka marahmarah karena merasa ketinggalan berita. Pucuk atas pimpinan mereka ngamuk karena berita penggantian Panglima TNI tidak bisa digoreng sematang-matangnya.

“Acara gituan dibahas, acara penting ketinggalan!” Begitu kira-kira teriakan mereka.

Dan karena gagal mengangkat isu “pemecatan”, sasaran tembaknya langsung ke Panglima TNI baru. Isunya gak seksi bahwa istri beliau dari keturunan Chinese, tapi itulah peluru terakhir mereka di tahun ini.

Dalam permainan intelijen, kecerdikan memang dibutuhkan. Biarkan lawan mengira mereka menang di satu sisi, tapi sebenarnya di medan perang utama, mereka kalah total tanpa mereka sadari.

Angkat secangkir kopi dulu kawan, kita tutup tahun ini dengan tenang bahwa badai besar sudah kita lewati. Kita hadapi yang terbesar di tahun depan dengan isu yang sama China dan PKI, andalan mereka. Seruput.

Minggu, 10 Desember 2017

PADAMU NEGERI

Indonesia
Padamu Negeri
Ini gambar pemunculan pertama saya di publik, waktu peluncuran buku perdana “Tuhan dalam secangkir kopi” awal tahun 2016 lalu.

Orang pertama yang saya kenal di facebook yang datang ke acara itu adalah Permadi Heddy Setya atau lebih dikenal dengan Ustad Abu Janda al-Boliwudi.

Sejak awal saya tahu bahwa gelar “ustad” yang dia pakai adalah gelar parodi. Yang mempercayai dia ustad beneran adalah orang yang logika berfikirnya runtuh.

Pun Permadi jika dia paham ilmu agama, saya yakin tidak mau dipanggil ustad. Karena itu gelar yang tanggung jawabnya berat, meminggul amanah dari banyak umat. Dia dan saya tidak akan pernah mampu seperti itu.

Sejak pertemuan perdana itu, kami berteman baik meski jarang ketemu. Kami ejek-ejekan dan berkompetisi gelar siapa yang paling sesat.

Tapi kami punya kesamaan. Kami sama-sama cinta Indonesia, negeri ajaib dengan begitu banyak kekayaan dan budaya.

Kami berjanji, kami akan menjaganya sampai mati, demi anak-anak kami, yang tidak akan kami biarkan tinggal dengan kondisi negeri yang berantakan seperti di Suriah nanti.

Sampai sekarang kami masih menjaga janji itu dan tidak akan pernah berhenti, sampai kami tak mampu lagi menyeruput secangkir kopi.


Salam perjuangan.

BERITA DARI BALI

Bali
Warga Bali
Untuk meng-counter berita BALISUDAH INTOLERANSI disini saya berikan klarifikasi dari Bali. Dari status di dinding Facebook Jemima Mulyandari

Awalnya Ustad Abdul Somad Menolak Mencium Sang Saka Merah Putih. Sejak kemarin banyak beredar pemberitaan “Bali Menolak Ustad Abdul Somad Berceramah Di Bali”. Itu semua adalah pemberitaan yang salah dan menyesatkan. Beginilah kronologis cerita yang sebenarnya:

1. Ustad Abdul Somad datang ke Bali untuk berceramah pada hari Jumat, 7 Desember 2017.

2. Bali menyambut baik siapapun juga yang datang ke Bali termasuk Ustad Abdul Somad. Mau berceramah juga silakan, karena Islam adalah salah satu agama yang diakui secara sah di NKRI.

3. Namun dikarenakan sepak terjang dan ceramah Ustad Abdul Somad di masa lalu dan sampai kini yang seperti itu (tak perlu diterangkan lagi kita pasti sudah tahu sama tahu.

Ada banyak videonya sudah beredar dimana-mana. Silakan dicek sendiri di youtube), maka Bali merasa sangat perlu untuk menyatukan komitmen, visi dan misi dengan Ustad Abdul Somad. Visi dan misi tersebut adalah komitmen bahwa kita semua termasuk Ustad Abdul Somad adalah anak bangsa yang cinta NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan Sang Saka Merah Putih.

4. Ternyata Ustad Abdul Somad menolak mencium Sang Saka Merah Putih. Kenapa beliau menolak? Silakan menanyakan alasannya kepada Ustad Abdul Somad sendiri. Bukan kapasitas saya untuk menjawabnya.

Yang jelas, bukanlah hal yang sulit dan berlebihan bagi setiap anak bangsa untuk mencium bendera negaranya sendiri. Para atlet yang akan berlaga, anggota Paskibraka dan banyak moment lainnya sudah lazim melakukan prosesi mencium Sang Saka Merah Putih. Tak ada yang aneh dan tak ada yang sulit dengan itu semua.

Justru Ustad Abdul Somadlah yang mempersulit dirinya sendiri dengan menolak permintaan yang semudah itu. Itupun sudah melalui proses negosiasi panjang yang melelahkan sampai berjam-jam di dalam ruangan tertutup di Hotel Aston, Gatsu Barat, Denpasar, Bali. Hal mudah dibuat jadi sulit. Itulah yang terjadi saat itu.

5. Bali tidak berhak memaksa. Jika Ustad Abdul Somad memang tidak bisa menyamakan komitmen, visi dan misi sebagai anak bangsa yang cinta NKRI, ya berarti silakan pulang. Keputusan ada di tangan Ustad Abdul Somad sendiri mau pulang atau tidak.

6. Ustad Abdul Somad tetap menolak mencium Sang Saka Merah Putih. Itu artinya Ustad Abdul Somad sendirilah yang memilih untuk pulang dan tidak melanjutkan acara ceramahnya di Bali.

7. Saat berita nomer 6 diketahui masyarakat Bali yang berkumpul di depan Hotel Aston, suasana menjadi ramai meminta Ustad Abdul Somad agar segera pulang. Point nomer 7 inilah yang diberitakan sana sini bahwa Ustad Abdul Somad diusir dari Bali. Padahal Ustad Abdul Somad sendiri yang sudah memilih untuk pulang.

8. Akhirnya Ustad Abdul Somad berubah pikiran. Ustad Abdul Somad mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, mau mengakui NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tungga Ika sebagai 4 pilar kebangsaan Indonesia yang sudah final dan tidak dapat diubah dan tidak dapat diganggu gugat, sekaligus mau mencium Sang Saka Merah Putih sebagai tanda kecintaannya kepada NKRI. Semua prosesi ini dilakukan di depan Hotel Aston, dihadapan semua masyarakat Bali yang berkumpul di sana.

9. Karena komitmen, visi dan misi sudah sama, Bali mempersilakan Ustad Abdul Somad melanjutkan tujuannya datang ke Bali untuk berceramah. Ustad Abdul Somad malah dikawal dengan baik oleh perwakilan masyarakat Bali dan anggota keamanan, sehingga acara ceramahnya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Demikianlah tulisan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya.
Tertanda:

Jemima Mulyandari

Denpasar, 8 Desember 2017

Sabtu, 09 Desember 2017

BALI INTOLERAN

Toleransi
Somad
Begitulah framing berita yang mereka bangun terkait penolakan sebagian masyarakat Bali terhadap Abdul Somad.


Padahal sesungguhnya masyarakat Bali, kemaren, menolak penceramah yang berpotensi memecah belah. Yang ceramahnya menghina simbol agama lain, yang menjelek-jelekkan fisik orang lain dan yang membawa agenda khilafah.

Situasi yang sama yang dialami oleh Ansor dan Banser, saat ingin mengganti penceramah yang ingin menyerukan khilafah, tetapi di framing berita bahwa Ansor dan Banser membubarkan pengajian.

Mirip dengan yang dilakukan Ansor dan Banser, komunitas masyarakat Bali memaksa Somad untuk mencium bendera Merah Putih, berikrar kesetiaan pada Pancasila dan menyanyikan Indonesia Raya, untuk membuktikan ketaatannya pada NKRI.

Tapi Somad menolak. Meskipun akhirnya menyerah dan hanya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Inilah yang mereka tidak beritakan.


Mereka malah secara massif membangun berita bahwa Bali intoleran. Dan propaganda itu disebar kemana-mana di media sosial, dimana mereka masih menguasainya..

Bali harus menjaga dirinya sendiri dari kelompok pendukung khilafah, yang sekarang membungkus dirinya dengan “acara Maulid”, “pengajian” dan sebagainya.

Di Bali, toleransi sangat tinggi antar umat beragama. Bahkan para pecalang selalu menjaga shalat Jumat sebagai bagian dari melindungi ibadah umat Islam di tengah-tengah masyarakat yang beragama Hindu.

Model-model propaganda seperti ini yang akan terus dimainkan mereka, memainkan pikiran banyak orang bahwa yang dilawan oleh mereka yang nasionalis adalah agama Islam.

Mereka berlindung dibalik agama untuk memainkan agenda besar mereka, yaitu membentuk negara khilafah.


Terus mainkanlah gendangmu, kawan, jangan pernah lelah. NKRI ini harus dijaga. Jangan sampai kita menjadi Suriah kedua, dimana politik berbaju agama meluluh-lantakkannya.

Kuasai media sosial, karena disanalah perangnya sekarang. Jangan terpengaruh propaganda “playing victim” yang mereka mainkan.. Buat mereka, yang ada itu menang atau kalah bukan bagaimana mencari solusi bersama.

Saya boleh tidak pandai bicara. Tapi tulisan-tulisan saya akan terus mengorek borok yang mereka tutupi dengan kata-kata indah.

Dan karena itulah mereka dendam karena sekian tahun lamanya, mereka tidak punya kesempatan bagus untuk menghantam saya.

Bali, Manado, Papua, Jawa dan banyak provinsi lainnya, kita jaga wilayah kita sekuat mungkin.

Satu waktu, kita akan duduk dan minum secangkir kopi bersama untuk bercerita tentang indahnya perjuangan menjaga tetap indahnya perbedaan di negeri ini.
Seruput dulu ya.

POLITIK DI BALIK TRAGEDI HOLOCAUST

#FreePalestine
#FreePalestine
Holocaust memang dijadikan propaganda oleh Yahudi zionist untuk mendirikan negara Israel di tahun 1948.


Berbekal empati dari masyarakat dunia, mereka mengintimidasi orang-orang yang membenci tindakan Yahudi zionis dengan tudingan antisemistic.

Dan tudingan inilah yang membuat banyak orang di AS dan Eropa dipaksa diam melihat kekejian mereka terhadap bangsa Palestina..

Profesor Norman Gery Finkelstein, adalah ahli politik, penulis dan aktivis asal AS yang meneliti konflik Palestina dan Israel dan politik dibalik tragedi holocaust. Ia termasuk sedikit sekali orang di AS yang berani membongkar politik dibalik holocaust untuk kepentingan Israel.

Profesor Norman adalah seorang Yahudi. Orangtuanya pun adalah korban dari kekejaman Nazi. Tapi ia menolak mempolitisiasi holocaust untuk kepentingan Israel.

Ia bahkan mengatakan “air mata buaya” untuk mereka yang menangisi holocaust bangsa Yahudi, tapi tidak menangisi holocaust bangsa Palestina.
#FreePalestine

Kamis, 07 Desember 2017

LICIKNYA GERAKAN HIZBUT TAHRIR

Ormas
Ormas HTI
Sementara ini bisa dibilang agenda HTI berhasil. Pasca “dipukulnya” HTI oleh Jokowi dengan Perppu Ormas, HTI sempat seperti burung yang sayapnya patah. Ia terombang-ambing mencari “keadilan” yang tampaknya makin jauh dari kenyataan.


Tapi Hizbut Tahrir bukan organisasi kemarin sore memang. Gerakan mereka terbukti sudah ditakuti banyak negara, karena mereka sistematis dan militan. Karena itulah negara-negara tersebut lebih baik memenggal kepala ular itu dan menangkapi banyak pentolannya..

Belajar dari itu, Hizbut Tahrir Indonesia memakai taktik baru. Panji boleh dilarang berkibar, tetapi ideologi tetap jalan.

HTI menggunakan bendera yang mereka sebut “Panji Rasulullah” sebagai tamengnya. Bendera hitam dan putih ini sudah identik dengan HTI, karena merekalah yang mempopulerkan dan menggunakannya dalam aksi demo di jalan.

Dengan bendera itu, sulit bagi aparat untuk menindak HTI karena nanti dianggap bertentangan dengan umat Islam. HTI pun masuk ke dalam aksi-aksi massa besar dengan bendera itu sekaligus menggaungkan ideologi khilafah dalam setiap kesempatan.

Strategi kedua HTI adalah menyebar “ustad-ustad” mereka yang piawai menyihir massa untuk menguasai momen besar seperti tabligh akbar dan Maulid.

Rencana ini sebenarnya tercium oleh Ansor dan Banser, dan serentak mereka bergerak mencegahnya. Disinilah saya melihat kehebatan orang-orang HTI - sekaligus kelicikannya.

HTI menggunakan ormas berbeda untuk melindungi dirinya. Dengan bahasa manis “persatuan Islam”, mereka merangkul salah satu ormas besar sekaligus memukul ormas besar lainnya.


Ansor dan Banser tahu bahwa mereka akan diadu, dan jika terjadi bentrokan, maka kerugian besar akan terjadi. Saya salut dengan langkah Gus Yaqut Ketua GP Ansor yang paham situasi dan mundur selangkah untuk mendinginkan suasana.

Ketika Ansor dan Banser mundur selangkah itulah, HTI menggunakan kekuatan pasukan dunia mayanya yang militan, untuk “menghabisi” karakter Ansor dan Banser sebagai “ormas pembubar pengajian”.

Ini strategi cerdik sekaligus sangat licik.

HTI mengambil dua keuntungan sekaligus. Pertama, nama Banser dihancurkan, kedua HTI merangkul Ansor dan Banser dengan tagline “persatuan Islam”.

Dengan begitu HTI yang diwakili oleh “ustad-ustadnya” akan tampak sebagai sosok yang lembut sedangkan Ansor dan Banser sosok yang berangasan.

Dan situasi ini tidak didiamkan begitu saja oleh mereka, harus ada propagandanya. Maka meluncurlah tagline “Ustad pemersatu Islam”.

Dahsyat memang permainan caturnya.

Hizbut Tahrir Indonesia ini memang ular berkepala tiga. Mereka bisa dengan enak menyebutkan demokrasi di Indonesia itu haram, tapi pada satu kesempatan dimana mereka terpojok, mereka bisa menjadi sosok-sosok yang mengagungkan NKRI.


Mereka yang dulu membidahkan Maulid Nabi, mendadak cinta Maulid. Dan tiba-tiba saja bilang, “Kami ini juga dari NU”. Siapa coba yang bisa bermain seperti itu kalau bukan orang yang culas dan menghalalkan segala cara?

Lalu kemana arah strategi HTI sebenarnya? Jangka pendek, jelas Pilpres 2019. Jangka panjang NKRI bersyariah, bahasa halus dari khilafah.

Dendam HTI kepada Jokowi itu luar biasa. Hanya pada masa pemerintahan Jokowi inilah, eksistensi mereka terhenti total dan terpaksa mereka harus bersembunyi dan berpura-pura cinta Indonesia.

HTI dengan mudah nemplok parpol, lengket dengan ormas, bersinergi dengan penguasa, selama tujuan mereka sama. Bahkan ketika orang-orang HTI ada di dalam sebuah organisasi, mereka dengan lihai mengambil alih kendali.

Jadi paham kan kenapa banyak negara di dunia melarang keberadaan Hizbut Tahrir dan menangkapi para pengikutnya?

Page saya diserbu oleh mereka untuk di matikan sejak dulu, tapi saya tetap ada.

Sekarang mereka memenuhi page dengan komentar-komentar yang ingin menghancurkan kredibilitas saya, sama seperti apa yang mereka lakukan dengan Ansor dan Banser. Perlu mata yang tajam untuk melihat gerakan HTI -dan secangkir kopi- supaya bisa membuka topeng-topeng mereka. Seruput.

HATERS ADALAH MARKETING YANG TERBAIK DI DUNIA

Haters
Haters
Habis meeting semalaman, buka medsos lagi. Ternyata topiknya masih sekitar ILC. Ada yang membully dan ada juga yang membela.


Saya ingat sahabat saya Tomi Lebang berkata, “Kuping saya tipis, jadi kalau ada yang nyinggung saya blok dia. Fesbuk saya bebaskan dari pro dan kontra”.

Saya malah kebalikannya, hidup dari pro dan kontra. Bahas buruh, semua ribut. Bahas politik, ribut semua. Bahas bitcoin, diserang habis. Tampil di ILC, habis diserang.

Dulu ketika awal bermain fesbuk, saya kira ketika berbicara pemikiran yang berbeda, teman saya habis. Justru malah bertambah. Serangan-serangan yang datang bukannya mengurangi teman, justru bertambah gila-gilaan.

Dan saya menikmati semua itu. Saya biarkan saja mereka komentar, toh semua orang berhak bersuara. Malah dapat banyak energi dan inspirasi dalam posisi diserang sebagai bahan tulisan.


Kadang juga suka nakal. Bikin status kontroversial, biar makin ramai yang membicarakan. Kalau adem ayem aja, hidup rasanya seperti nasi kurang garam.

Kadang suka ketawa sendiri, melihat meme saya dimana-mana. Jadi terkenal itu mudah ternyata. Berbedalah ketika arus sedang berada pada pusaran yang sama.

Dibilang apapun saya rela. Mulai syiah, JIL, HKBP, Liberal dan banyak lagi julukan yang membuat banyak orang meriang, tapi malah menaikkan adrenalin ke level yang lebih tinggi.

Padahal saya nulis biasa aja, tapi banyak yang meradang. Kalau saya diam, mereka bilang saya pecundang. Tapi kalau gak nulis, mereka kangen karena gada tempat melampiaskan.

Entah ini kutukan atau kenikmatan?

Semakin di bully, suara saya semakin di dengar banyak orang. Semakin meme disebar, wajah semakin terkenal.


“Haters adalah marketing terbaik di media sosial”, Kata seorang teman dulu. Saya sampai sekarang setuju dengan pendapatnya, karena mengalami situasinya.
Maka peliharalah haters sebanyak-banyaknya, ia akan menjadi alat gratis untuk menuju pohon yang lebih tinggi. Asal akarnya kuat, puncak demi puncak akan terlewati.

Saya ada di posisi ini sekarang, bahkan dipanggil sebuah stasiun televisi untuk bicara, andil terbesar karena mereka juga.


Menikmati hidup bukan hanya dengan minum kopi ternyata. Bahkan minum jamu pahit lebih menyehatkan, asal lidah kuat menelannya. Seruput jamu... uaggghhhh.. Mari nonton orang yang bentar lagi pada tari kejang.