Rabu, 16 Januari 2019

Mereka Ingin Pemilu Ulang di Pilpres 2019


Prabowo Kunjungi Ambon
Banyak orang mengira bahwa kekalahan Ahok di Pilgub DKI, karena iklim politik keras yang digelorakan oleh lawan-lawan politiknya.

Sejatinya itu kurang tepat juga, karena dalam iklim politik yang sangat keras yang menghantam Ahok itu, Ahok masih menang juga setidaknya di putaran pertama, yaitu sebesar 42 persen lebih.

Permasalahan ada di putaran kedua. Pada putaran kedua, diperkirakan tingkat partisipasi pemilih Ahok menurun dari putaran pertama, sedangkan pemilih Anies meningkat. Eep Saefullah, konsultan Anies-Sandi dari Pollmark mengatakan, pemilih Ahok di putaran kedua turun sampai 14 ribu pemilih. Sedangkan partisipasi Anies meningkat tajam.

Ke mana para pemilih Ahok di putaran pertama?

Kemungkinan besar mereka jenuh dengan pemilu putaran kedua, sehingga tidak menggunakan hak pilih. Ada lagi yang berkata, pemilih Ahok di putaran kedua takut dengan isu akan terjadi peristiwa Mei 98 kedua di Jakarta. Sedangkan di sisi Anies, PKS berhasil memobilisasi pemilih supaya militan dengan bahasa "surga dan neraka" berkaitan dengan pemilih non muslim.

Kalau kita melihat pola di Jakarta, kita bisa melihat pola yang sama yang sedang dilakukan untuk Pilpres 2019.

Judulnya adalah "Pemilu Ulang".

Proses delegitimasi KPU dan pemerintah selaku penyelenggara Pemilu, ujung-ujungnya adalah membangun ketidak percayaan masyarakat. Narasi-narasi "KPU curang" menggema di mana-mana dan dikuatkan dengan pernyataan timses Prabowo bahwa Prabowo akan mundur jika Pemilu terindikasi curang.

Ujung-ujungnya nanti saat pencoblosan, ada gerakan besar untuk menuntut Pemilu ulang. Gerakan besar yang mirip-mirip dengan "reuni 212" akan dimobilisir supaya terjadi people power menuntut ada pencoblosan ulang. Mungkin bukan keseluruhan, tapi di beberapa daerah di mana mereka mempunyai kans untuk menaikkan jumlah suara, di Jawa Barat misalnya.

Dan ketika akhirnya diputuskan Pemilu ulang, maka mereka akan memobilisasi militansi pendukungnya untuk memilih. Sedangkan pemilih Jokowi sudah jenuh dengan Pemilu dan tingkat partisipasinya turun jauh.

Pilgub DKI memang menjadi contoh kasus memenangkan pertarungan yang paling diminati oleh pendukung Prabowo. Hanya caranya mereka modifikasi supaya sesuai dengan situasi dan kondisi.

Jika benar begitu, mungkinkah akan ada kemungkinan Pemilu ulang di Pilpres 2019?

Mungkin saja. Jika KPU dan pemerintah akhirnya berkompromi karena tekanan massa, dan membuat keputusan yang salah.

Dan saat itu, kita akan melihat kekalahan Jokowi karena turunnya tingkat partisipasi.

Hati-hati.

Tagar.Id

MASJID BUKAN TEMPAT KAMPANYE

Politisasi Agama
Politik Masjid
Pilgub DKI Jakarta di tahun 2017, bisa dibilang Pemilu yang mengerikan..

Hal yang paling membuat miris adalah fungsi masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, berubah menjadi ajang kampanye untuk melawan salah satu pasangan calon. Bukan saja ajang kampanye, tetapi juga menjadi mimbar caci maki dari mereka yang menggelari diri mereka sendiri "ustad".

Bayangkan, spanduk-spanduk besar bertebaran di banyak masjid Jakarta yang melarang mensholatkan mayat mereka yang meninggal karena berbeda pilihan. Bukan itu saja, salah satu paslon di usir saat habis shalat Jumat dengan kata-kata yang jauh dari nilai-nilai Islami.

Sungguh memilukan, ketika mereka menyebut diri "saudara sesama muslim" dengan teganya menyakiti hati muslim lainnya dengan perilaku yang jauh dari ahlak Rasulullah.

Pilpres 2019, ada indikasi satu kelompok ingin mengulang "kesuksesan" di Pilgub DKI 2017. Mereka menganggap menguasai masjid itu kesuksesan, karena menangnya paslon mereka meski dengan jalan curang.

Januari ini situasi semakin panas menuju April 17.

Dan kasak kusuk di banyak masjid daerah untuk kembali menjadikan masjid sebagai ajang kampanye mulai terdengar. Mereka mulai mengatur jadwal ceramah oleh ustad-ustad pilihan mereka sekedar ingin memenangkan Capres pilihan.

Sudah saatnya kita melawan. Jangan lagi masjid dijadikan ajang kampanye yang merusak ketenangan. Masjid adalah tempat ibadah, kita kembalikan sesuai fungsinya.

Beranilah melawan, ketika saat Jumat ada khatib yang mengarahkan untuk memilih paslon yang mereka suka. Jika perlu videokan ceramah mereka, dan viralkan. Biar hukum sosial yang menghakimi mereka.

Tolak jika ada spanduk-spanduk yang terpasang di masjjd sehubungan dengan kampanye. Protes keras jika pengurus masjid terlihat tidak netral.

Jangan diam, tanggung jawab kita sebagai manusia menjaga "Rumah Tuhan" kembali pada fungsi sebenarnya, untuk beribadah dan menghamba padaNya.

Kalau bukan kita yang menjaganya, maka bibit-bibit perpecahan antar sesama muslim akan semakin melebar dan berbahaya. Agama adalah urusan akhirat, biarkan kampanye menjadi urusan dunia.

Semoga apa yang kita lakukan, kelak akan mendapat balasan sesuai amal dan ibadah kita nantinya.

Seruput kopinya.

Selasa, 15 Januari 2019

Kubu Prabowo Ternyata Cengeng

Politik
Prabowo dan Sandiaga Uno
Masih ingat zaman kita kecil?

Ada saat dimana kita sedang bermain dengan teman-teman dan kelihatan mau kalah, lalu kita menangis keras-keras lari ke rumah dan meninggalkan permainan. Kita teriak-teriak "Curang, curang...," mencoba menarik simpati banyak orang. Teman-teman tertawa melihat kita, dan tangisan kita semakin nyaring terdengar.

Ketika Djoko Santoso, ketua pemenangan Prabowo Sandi mengatakan, bahwa Prabowo akan mundur jika Pemilu curang, saya jadi teringat masa kecil saya yang ingusan juga korengan. Ternyata kubu Prabowo tidak ubahnya seperti anak kecil, sibuk teriak curang dan main ancam mundur dari permainan.

Pernyataan bahwa Prabowo akan mundur dari Pemilu itu melengkapi narasi mereka untuk menjatuhkan para penyelenggara Pemilu, seperti pemerintah dan KPU. Mereka berperilaku layaknya orang yang dizalimi dan mencari simpati. Nangis ke sana ke mari, mengorek sisa-sisa nasi basi.

Ketidakdewasaan kubu Prabowo dalam Pemilu ini menguatkan pendapat banyak orang bahwa karakter mereka lemah, manja dan olokan. Mereka tidak tahan bertanding dengan kompetisi yang ketat, inginnya menang dengan mudah. Kalau kalah, langsung maenan nama orangtua.

Saya bisa kebayang apa yang terjadi ketika kelak Indonesia dipimpin mereka.

Mental bangsa yang sedang dibangun untuk menjadi petarung menghadapi kerasnya arus globalisasi, diruntuhkan dengan kemanjaan. Bangsa ini akan kembali cengeng dan tidak kuat menghadapi kenyataan. Suapan-suapan subsidi yang terlihat seperti melindungi tapi sebenarnya melumpuhkan, akan kembali terulang.

"Kenyangkan rakyat dengan bantuan langsung tunai, niscaya mereka akan bungkam." Dan tumbuhlah kita menjadi bangsa yang selalu meminta dan malas kerja.

Dan mirisnya, perilaku cengeng ini ditularkan oleh mereka yang dulu berpangkat Jenderal. Yang seharusnya memberi contoh bagaimana sikap bertarung yang benar, ksatria, jantan dan tetap bersikap hormat jika lawan menang.

Masak kalah elegan sama Jokowi yang kerempeng, lulusan Perguruan Tinggi lokal, yang katanya boneka partai, plonga plongo, tidak gagah dan tidak bisa berbahasa Inggris dengan benar?

Mendingan jangan pernah seruput kopi, mimik cucu aja, Pak, biar lebih pas dan afdol.

Tagar.id