Sabtu, 26 Mei 2018

PARA PENCARI SIMPATI

Cadar
Aksi Bom Takjil

"Islam bukan teroris..."

Begitulah pesan yang hendak disampaikan oleh beberapa orang atau komunitas yang diwakili wanita bercadar di beberapa daerah. Mereka ingin membangun trend -terinspirasi dari model yang sama di negara barat- dengan kertas bertuliskan "PELUK SAYA JIKA ANDA MERASA NYAMAN".

Bercadar
Aksi Peluk Saya
Model beginian seperti sebuah gerakan terkomando pasca kejadian di Mako Brimob dan bom bunuh diri di Surabaya.

Apakah saya harus simpati? Ini pertanyaannya..

Saya harus menjawab. Pertama, Islam -apalagi di Indonesia- tidak identik dengan cadar atau celana cingkrang bagi lelaki. Puluhan tahun, model Islam tradisional dengan sarung dan kerudung sudah mewarnai wajah negeri ini.

Dan selama itu tidak ada model bom bunuh diri yang dilakukan oleh Islam tradisional, yang diwakili NU dan Muhammadiyah. Islam tampil dengan wajah ramah, guyup dan toleran. Jarang sekali terdengar keributan antar agama selama itu. Keributan antar agama sering terjadi baru-baru ini saja, ketika ideologi wahabi -Islam fundamental- sudah merasuk di Indonesia.

Jadi, mengklaim bahwa cadar adalah identik dengan Islam dan dipakai sebagai aksesoris dengan caption "Islam bukan teroris.." jelas salah besar. Seharusnya yang benar, "Cadar bukan berarti teroris..."

Yang kedua. Meraih simpati boleh-boleh saja. Tetapi apakah mereka yang bercadar dan sekarang ada di jalan-jalan sambil memegang kertas "Peluk saya.." juga berempati pada korban bom teroris di Surabaya yang dilakukan oleh seorang wanita bercadar?

Sampai sekarang, saya belum menemukan permintaan maaf kepada para korban bom -baik dari pihak polisi maupun korban dari agama Kristen- yang dilakukan oleh komunitas wanita bercadar yang membawa kertas di dada itu.

Lebih tepat -jika mereka sadar- seharusnya para wanita bercadar itu membawa kertas di dada dengan tulisan besar, "MAAFKAN KAMI, WAHAI UMAT KRISTEN, JIKA SALAH SATU DARI KAMI SUDAH BERBUAT YANG MERUGIKAN KALIAN.."

Itu baru namanya empati, atau merasakan keadaan emosional keluarga korban bom. Bukan malah mencari simpati sendiri seolah-olah dituding sebagai penyebab masalah. Toh, selama ini juga tidak ada yang menuding bahwa semua wanita bercadar adalah bomber. Dan sekali lagi, jangan bawa-bawa nama "Islam" karena Islam tidak identik dengan cadar..

Apakah begitu sulit meminta maaf terhadap kejadian bom bunuh diri itu ? Mungkin iya, karena itu lebih mudah mencari simpati daripada harus berempati. Padahal meminta maaf adalah bukti kebesaran jiwa, sedangkan mencari simpati adalah bukti dari melepaskan diri dari kesalahan..

Apalagi di tambah di Malang, komunitas wanita bercadar yang sedang membagi takjil mencoba -entah melucu atau menyindir- dengan membawa kertas, "BOMB TAKJIL".

Sangat tidak lucu. Menunjukkan masih ada kesombongan tingkat tinggi yang diperankan karena tidak memikirkan perasaan korban bom bunuh diri.

Mau cuci tangan seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa? Ah, itu sangat menyakitkan perasaan umat lain yang menjadi korban..

Ini mirip dengan ulah ormas agama anarkis itu, yang sehabis mentungin orang dengan bahasa "Razia", terus bagi-bagi takjil seolah "tidak terjadi apa-apa".

Seharusnya para wanita bercadar yang mengatas-namakan Islam itu belajar dari umat Kristen, yang dengan tanpa sungkan memeluk mereka. Umat Kristen punya prinsip kuat "memaafkan" dalam ajaran kasih mereka.

Saya sendiri juga gak yakin, seandainya posisinya dibalik, seorang dengan aksesoris biarawati yang memegang kertas di dada "Peluk saya.." berdiri di pinggir jalan, maukah, hai kalian wanita bercadar yang di pinggir jalan itu, memeluk mereka dengan kasih ? Atau sulit karena masih menganggap mereka kafir?

Semoga apa yang terjadi menjadi pelajaran buat kita terutama pada bulan Ramadhan ini sebagai wadah untuk merefleksi diri. "Sudah benarkah apa yang kita lakukan?" atau "Sudah berakhlakkah kita seperti yang diajarkan oleh sang pembawa pesan?"

Selayaknya kita memahami bahwa berempati menjadikan kita manusia yang lebih dewasa daripada sekedar mencari simpati seperti seorang anak kecil yang "tidak mau mengakui jika sudah berbuat salah".

Seruput kopinya?

Kayaknya sudah sahur. Keliling dulu ah... Sahur.. Sahurrrr...

#sebuahcatatan

Jumat, 25 Mei 2018

Benarkah Roy Remaja Yang Mengancam Presiden Dibebaskan?


Jokowi
Roy Penghina Jokowi
Saya sebenarnya gak banyak menyimak kasus "Balada si Roy"..

Roy, seorang remaja berusia 16 tahun, yang mengancam Presiden Jokowi dilaporkan telah ditangkap polisi. Karena sudah ditangkap inilah saya kira kasusnya sudah selesai dan ditangani polisi..

Tapi ternyata beritanya gak berhenti sampai disitu. Karena ia anak orang kaya - bapaknya Dokter ahli kecantikan - dan keturunan tionghoa, maka penggorengan isu pun berjalan, bahwa ia dibebaskan dengan sejumlah uang.

Saya sempat heran. "Dibebaskan ?? Bagaimana polisi bisa teledor dengan membebaskan orang yang sudah mengancam Kepala Negara ??"

Kita tidak usah bicara hukumnya, kita bicara saja dampaknya.

Ketika ada orang yang mengancam - bukan saja menghina - seorang kepala negara dan dibiarkan, maka dampaknya simbol negara akan lemah. Dan ketika simbol negara lemah, maka ancaman2 lebih besar pun akan bermunculan. Semua orang merasa bahwa mereka bisa melakukan hal yang sama.

Inilah yang membuat saya heran jika si pelaku pengancaman bisa dibebaskan dengan begitu saja.

Sayapun lalu mencoba menelusuri berita2 yang muncul bahwa Roy dibebaskan oleh polisi. Ternyata itu hanya bersumber dari portal2 yang "tidak bisa dipertanggung-jawabkan".

Sedang dalam pernyataan resminya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto, mengatakan bahwa Roy bisa kena pidana. Polisi akan tetap mengusut, meski ia baru berusia 16 tahun. "Pake peradilan anak.." kata Setyo.

Dan ada kasus serupa dimana seseorang berusia 17 tahun, akhirnya masuk sel selama 1,5 tahun di pengadilan Medan.

Karena itu saya tidak percaya ketika ada berita polisi dengan mudah membebaskan Roy. Terlalu besar pertaruhannya, baik bagi nama Presiden maupun nama Kepolisian sendiri. Apalagi ketika dibebaskan, si Roy kembali berulah.

Mau dibawa kemana muka Polri ?? Iya kalau kampret bisa sembunyikan muka diantara sayapnya..

Jadi, jangan terlalu percaya berita simpang siur. Apalagi banyak pihak yang ingin menari diatas isu ini dengan framing, "Hukum di zaman Jokowi tumpul di ketiak orang kaya". Biasa, kampret selalu cari celah. Tidurnya kebalik, jadi pipisnya selalu kena muka..

Kita percayakan kasus ini kepada Kepolisian. Biarkan si anak manja dan kurang perhatian itu diberikan hadiah setimpal. Meski bapaknya pake acara minta maaf lewat media, tetap saja kasusnya harus diusut terus.

Hanya memang akan menjadi gorengan baru. Karena Komisi Perlindungan Anak Indonesia KPAI, tidak setuju Roy dihukum karena masih dibawah umur. Dan polisi harus lebih keras lagi bekerja, karena selain mendapat tekanan masyarakat, mereka juga akan mendapat tekanan dari KPAI.

Udah saya rasa cukup disini saja. Saya juga lagi nyoba tidur terbalik ala Kampret malam ini. Susah ya ternyata, pas pipis pasti kena muka.. Pantas, mereka sukanya bikin ulah..

Seruput kopi dulu ahhh..

Kamis, 24 Mei 2018

Ketika Kampret Berwarna Pink

Jokowi
Ali Mochtar Ngabalin dan Jokowi

"Kenapa Ali Mohtar Ngabalin ditarik Jokowi ke istana?". Ini pertanyaan yang menarik ketika saya jadi pembicara di satu tempat. Dan dari beberapa teori, teori seorang teman mungkin yang paling tepat.

"Kelemahannya pemerintah adalah mereka selalu diserang isu yang dibangun oleh pihak oposisi. Mulai isu Tenaga Kerja Asing sampai isu hutang, selalu muncul dan menguasai media. Isu-isu ini diciptakan berkala, sistematis dan berfungsi menggerus suara..."

Temanku menyeruput kopinya. Dan melanjutkan..

"Ibarat permainan sepakbola, pihak lawan selalu saja membangun pola menyerang. Dan pemerintah selalu saja bertahan. Mereka hanya bisa menjawab dengan angka dan data untuk menepis segala serangan.

Tapi itu tidak cukup. Serangan dari pihak lawan begiru cepat dan beruntun datangnya. Dan sering beberapa kali membuahkan gol, karena penjelasan dari pihak pemerintah tidak mampu menjawab dengan sederhana umpan yang dilempar pihak lawan. Pihak lawan ahli membuat narasi-narasi karena mereka punya juru bicara yang ahli membangun narasi seolah-olah isu itu benar adanya.."

Dia tersenyum dan melanjutkan..

"Harus dibalik sesegera mungkin situasi itu. Siapa yang menguasai komunikasi, dialah yang memenangkan pertarungan narasi.

Karena itu Jokowi ingin membalikkan situasi. Pola permainan bertahan yang selama ini dipakai, ternyata tidak cukup efektif membendung serangan. Harus mulai mengambil posisi menyerang, menguasai narasi-narasi dengan juru bicara yang handal..

Nah, siapa lagi yang tepat menempati posisi striker selain penyerang dari pihak lawan ? Itulah kenapa penting membajak pemain lawan untuk menyerang lawan. Dan begitulah kenapa seorang AMN diajak bergabung untuk membangun narasi yang akan menyudutkan dan merepotkan pihak lawan..."

"Oh begitu.. " Kataku. "Berarti ada kemungkinan bukan AMN saja yg direkrut, tapi ada beberapa striker lainnya?"

Temanku ketawa.

"Jangan kaget jika Fahri Hamzah tiba-tiba bergabung ke istana. Dia sudah tidak punya partai dan dalam posisi kosong. Tarik aja, sebagai satu striker utk merepotkan pihak lawan.. Salahkah? Tidak. Ini masalah siapa yang menyerang dulu, siapa yang membangun narasi dulu. Dan sah-sah saja.

Seperti kata Don Corleone, Its just business nothing personal. Biarkan kampret menjadi cebong, karena lebih baik daripada dia mengampret selamanya.."

Kami tertawa, membayangkan kampret yang tidur terbalik setiap malam. Strategi yang menarik juga karena politik itu tidak bisa dilihat hitam atau putih, kadang dia jadi oranye, kadang jadi pink, tergantung kepentingan..

Kopiku menyembur membayangkan kampret warnanya pink. Itu kampret apa burung pipit. Manja benerrr..

Dan dentang cangkir kopi kembali terdengar ketika kami tenggelam dalam diskusi menuju 2019 yang semakin menarik ini..

Selasa, 22 Mei 2018

Kenapa Ustad Radikal Lebih Terkenal dari Ustad NU?

Online
Ustad Instan

"Kenapa ustad radikal itu lebih laku daripada ustad NU?". Ini pertanyaan besar dari seorang teman melihat tidak adanya jejak ustad NU muda yang terkenal dan digandrungi banyak orang sekarang ini. Yang ada malah banyak dari HTI.

Dan kita coba jawab pertanyaan ini dengan sebuah penggambaran..

Gerak perkotaan yang tumbuh semakin cepat, menciptakan masyarakat yang juga bergerak dengan cepat. Masyarakat urban ini dibentuk oleh situasi dan kondisi kota besar, sehingga mereka punya gaya hidup yang selalu berubah mengikuti trendnya. Semua menjadi serba instan dan mudah didapat.

Perubahan paling jelas terlihat dari perubahan gaya makanan.

Masyarakat kota besar -terutama generasi baby boomer dan milenial- sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk makan dengan makanan nuansa kampung dengan sajian komplit diatas piring.

Mereka sudah terbiasa instan dengan adanya mie dan makanan fastfood seperti burger dan pizza. Pokoknya kalau bisa gak bangkit dari tempat duduknya, itu lebih baik..

Dan situasi ini diperkuat dengan semakin murah dan mudahnya mengakses internet...

Ketika manusia urban ini memasuki fase rohani, hukum yang berlaku bagi mereka juga sama. Mereka cukup buka internet dan melihat siapa ustad yang terkenal disana.

Mereka juga lebih sering googling untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan dalam benak mereka dan mengamini ketika itu datang dari seorang yang dipercaya sebagai "ustad" oleh banyak orang.

"Banyak" menjadi ukuran kebenaran. Yang dilihat kuantitas jamaah, bukan kualitas ceramah..

Tidak ada lagi diskusi bermalam-malam tentang nilai-nilai. Masyarakat urban hanya butuh fatwa halal dan haram sebagai hukum mereka. Tidak perlu bertanya - apalagi menggunakan logika - kenapa ini haram dan kenapa itu halal.

Semua tersedia dalam bentuk kemasan, tinggal buka bungkusnya, panaskan air dan tuangkan, lalu silahkan makan. Persis mie instant..

Dan ustad2 radikal sangat mengerti ini. Dengan kuatnya jaringan dan sumber daya mereka - termasuk keuangan - mereka membangun konten2 ringkas berisi hukum dan fatwa yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaahnya.

Mereka juga berani membeli slot-slot acara di televisi yang mahal, supaya bisa menciptakan "penceramah2" muda dan bisa menguasai teknik berbicara.

Dan acara televisi yang sebenarnya untuk konsumsi kota besar, dikonsumsi pula oleh warga daerah yang sebenarnya "tidak siap makan fastfood", tapi apa daya daripada dibilang ketinggalan jaman..

Bumbu pedasnya ada di "kontroversial".

Ketika kontroversial, maka ia akan semakin dipandang dan dicari. Gak penting ilmu yang dalam, cukup seadanya dan hapal beberapa ayat, lalu berjubah, jadilah ia seorang ustad. Makanya banyak mualaf yang tiba2 menjadi ustad, karena memang diciptakan. Padahal namanya mualaf ia seharusnya harus lebih banyak belajar daripada mengajar..

Inilah yang menciptakan supply dan demand yang besar. Ada penawaran dan ada permintaan. Semua dibentuk oleh pasar. Siapa yang menguasai pasar, dialah yang menguasai pembeli..

Sedangkan NU lebih rumit bagi mereka...

Ibarat makanan, NU ini adalah makanan kampung yang penuh dengan penyajian dan tidak cepat saji. Kalau ditanya "haram" dan "halal", ustad2 NU lebih banyak memberikan opsi supaya orang bisa berfikir dan menentukan pilihannya sendiri.

NU juga - sebagai kelemahan - gagap terhadap teknologi. Ketika ustad2 instan itu sudah menerapkan sistem franchise, orang NU tetap berprinsip "tidak buka cabang". Orang NU lebih senang hadir di acara2 pengajian dan duduk mendengarkan ceramah.

Perbedaan model inilah yang menjadi jurang pemisah yang lebar. Ustad NU kurang mendapat perhatian karena sorot lampu tidak tersedia kepadanya, sedangkan ustad instant lebih hidup ketika ada lampu kamera..

Bagaimana solusinya ? Kita bicarakan nanti di tulisan kedua, soalnya terlalu panjang..

Selain supaya jangan bosan, di sofa juga kurang enak untuk tiduran. Ini gara2 kejamnya jejak digital yang mengcapture tulisan "ingin kawin lagi kalau jadi pilot".

"Mah, papah udah gak mau jadi pilot.."

"Tetap tidur di sofa !!"

Glek. Mendingan bikin kopi dulu aja..


Garuda Bersih-bersih Pilot Radikal

Garuda
TSIA

Dapat WA dari seorang teman, "Orang Garuda nanyain no telpon lu tuh, kayaknya terkait postingan tentang pilot radikal.."

Surprise juga saya. Apa saya mau diperkarakan ke polisi lagi?

Teringat 700 pengacara yang dulu mau melaporkan gara-gara status tentang Bang Thoyib yang "pulang malu, gak pulang rindu". Apa kabarnya pengacara-pengacara itu ya? Saya sempat bingung, itu pengacara apa Minions? Banyak bener..

Akhirnya ditelponlah saya, oleh orang Garuda. Posisinya tinggi juga. Vice President. Ehm..

"Pak Denny, saya mau sampaikan bahwa tulisan bapak tentang pilot radikal sudah kami baca. Dan pilot yang bernama TSIA itu langsung kami grounded (rumahkan) selama sebulan. Selama sebulan itu kami akan investigasi dan jika terbukti kami akan langsung pecat.."

Wah, cepat juga tanggapan Garuda ya. Belum 1x24 jam, mereka langsung bereaksi dan klarifikasi. Dan hebatnya, mereka bisa dapat nomer telepon saya lagi. Sial. Gak bisa sembunyi 🤣🤣

Sebagai sebuah perusahaan publik, memang Garuda harus segera merespon informasi seperti itu. Karena bisnis Maskapai salah satu prioritasnya adalah keamanan. Tanpa perasaan aman, maka runtuhlah kepercayaan, yang berarti bisa jatuhlah nilai saham..

Bukan hanya itu..

Jika saya adalah VP Garuda, saya malah sebenarnya akan memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan nama Garuda kembali sekaligus promosi. Saya sekalian manggil BNPT dan lembaga anti teroris terkait untuk mulai mengadakan screening dan tes kejiwaan terhadap pilot-pilot Garuda.

Kemudian saya akan bekerjasama dengan NU atau Muhammadiyah dalam rangka pembinaan agama kepada seluruh crew. Dan diakhir acara seluruh karyawan saya akan mengumandangkan slogan, "Garuda melawan Radikalisme".

Sesudah itu, saya akan minta sertifikat bahwa "Pilot Garuda Bebas Unsur Radikalis". Kemudian saya pasang besar2 di surat kabar dan beriklan di televisi.

Dan harga saham Garuda pun berpotensi naik tinggi. Karena ada unsur kepercayaan. Ada rasa aman bahwa Garuda perduli terhadap penumpang selama perjalanan..

Itu kalau saya. Untungnya saya cuman nulis aja. Jadi gak pusing mikir gituan..

Tapi bener gak sih, gaji pilot Garuda itu sampai 71 juta rupiah perbulan ? Banyak ya? Kalau gaji saya segitu, saya bisa kawin lagi..

#plakkkkk !!
"Malam ini tidur di sofa!!"

USTAD-USTAD RADIKAL

Terorisme
Ajaran Radikal

Ada satu masa, saya dan beberapa teman NU keliling bertemu dengan bos-bos perusahaan ternama di Jakarta..

Kami bukan meminta sumbangan, tetapi meminta mereka untuk membuka masjid-masjid dan mushala-mushala di perusahaan -baik itu di gedung maupun di pabrik- kepada ustad-ustad muda NU supaya bisa mengisi disana. Mengingat betapa bahayanya pemikiran radikalis yang sudah menyebar ke segala elemen termasuk di perusahaan swasta. Dan peran penting itu ada di Takmir. Dialah yang mengatur siapa yang boleh bicara di masjidnya..

Memang tidak mudah. Banyak dari mereka yang tidak memberi jawaban pasti. Rata-rata kami lihat memang karena mereka tidak begitu perduli.

Mungkin itu bukan urusan bos besar, tapi kami memang ingin membangun kepedulian mereka yang selama ini abai terhadap situasi. Padahal bisa saja, benih terorisme ada di tempat ibadah di perusahaan mereka..

Bukan rahasia lagi, bahwa tempat-tempat ibadah sudah banyak dikuasai kaum radikalis. Ceramah-ceramah agama ketika shalat Jum'at di masjid perusahaan, seringkali juga menyerang suku dan agama bos mereka sendiri. Kata-kata China dan Kafir seakan menjadi menu wajib tanpa mereka sadari bahwa mereka juga mencari makan di tempat orang yang mereka caci..

Dan yang bisa membaui keberadaan mereka hanyalah ustad-ustad muda NU, karena mereka punya ilmu agama yang mumpuni.

Tapi sayang, perjalanan keliling mengetuk pintu-pintu perusahaan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa alasan. Alasan yang paling banyak kami temui adalah karena takut berurusan dengan kelompok-kelompok berbaju agama itu. Urusannya dengan bisnis mereka yang tidak ingin terganggu hanya gara-gara mencampuri masalah agama yang bukan ranah mereka..

Sama seperti stasiun-stasiun televisi...

Meskipun mereka tahu bahwa banyak ustad-ustad yang bermasalah, tapi mereka tetap mengundangnya sebagai pengisi acara agama.

Ada dua alasan kenapa begitu. Pertama, karena produser acaranya adalah bagian dari kelompok radikal. Kedua, karena rating. Selama ini pendapatan televisi terjaga dengan ustad-ustad itu, tanpa perduli isi materinya. Selama orang suka, jual saja..

Perjalanan menyelamatkan negeri ini dari zombie-zombie berbaju agama memang tidak mudah. Orang dibelakang layarnya pintar, jaringannya kuat, solid dan militan, dan sudah sejak lama mereka mengisi acara di stasiun-stasiun televisi.

Dana mereka juga kuat, sehingga bisa membeli slot-slot acara untuk mereka isi dan perlahan mencuci otak pemirsa di rumah. Mereka juga begitu profesional dalam segi manajemen sehingga "dana perjuangan" bisa mereka dapat.

Meski begitu, saya yakin, suatu saat para pengusaha dan pemilik stasiun televisi akan menyadari bahayanya kelompok radikal itu. Tapi kesadaran itu biasanya terlambat, ketika ternyata kelompok ini yang mengendalikan situasi..

Seperti kanker, kelompok radikal ini sudah mencengkeram begitu dalam dan lama. Dan untuk memberantasnya harus bertahap, seperti kemoterapi. Juga membutuhkan waktu yg lama..

Tapi disanalah menariknya. Ada niat dan ada usaha. Karena sesungguhnya disitulah kewajiban manusia. Sebab HASIL itu adalah hak Tuhan semata.

Semoga negeri ini bisa terlindungi dari pemikiran-pemikiran radikal yang ingin merubah dasar negara ini. Seruput?

Senin, 21 Mei 2018

KETIKA PILOT PUN RADIKAL

Pilot
Status Akun Facebook

Sudah 4 tahun, pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang..

Pesawat yang tidak tahu dimana rimbanya itu, hanya ditemukan serpihan2nya saja, tapi tidak bisa ditemukan keseluruhan termasuk mayat2nya.

Baru pada bulan Mei tahun 2018, para ahli menyimpulkan bahwa hilangnya pesawat MH370 kuat dugaan karena pilotnya bunuh diri, bukan karena pesawat rusak.

Data2 menunjukkan bahwa pesawat itu terbang lebih dari 185 kilometer dari jalur yang seharusnya.

Dan kesimpulan para ahli, aksi bunuh diri ini direncanakan dengan cermat dan dalam waktu lama.

Berita ini tentu mengagetkan sekaligus mengerikan, terutama untuk mereka yang sering bepergian dengan pesawat. Bahwa sangat mungkin psikologis pilot bisa menjadi ancaman bagi terbunuhnya ratusan penumpang yang tidak berdosa.

Dan baru-baru ini kita mendapat berita yang lebih menyeramkan. Seorang pilot pesawat Gar**a, ternyata bersimpati pada terorisme yang baru saja terjadi di negeri kita. Ia - dalam status di media sosialnya - membenarkan tudingan bahwa dibalik bom Surabaya ada rekayasa dari kepolisian.

Gar**a pun langsung menonaktifkan pilot tersebut ketika netizen ramai memberitakannya. Dan tidak lama kemudian, terbongkar lagi bahwa seorang pilot Gar**a - dari jejak digitalnya - mengunggah status, "Rezim Panik. Buatlah sesuka hatimu, niscaya suatu saat kalian akan binasa.."

Ancaman ini bukan main-main. Kalau kalian sedang berada dibandara, lihatlah pengumuman besar, "Siapapun yang bercanda ada bom dipesawat, maka ia tidak akan diterbangkan." Ini menunjukkan pihak bandara tidak main-main dalam segala bentuk ancaman karena membahayakan jiwa banyak penumpang. Jadi, sepatutnya status si pilot tadi - yang juga pendukung HTI - juga bisa dijadikan bahan penyelidikan karena sudah meresahkan.

Peristiwa Mako Brimob dan bom di Surabaya jelas ada keterkaitan, minimal sebagai pemicu. Dikhawatirkan, "jiwa-jiwa" ingin ikut berjihad juga sudah tertanam di dada para pilot yang ingin ketemu bidadari secepatnya dengan membawa korban ratusan penumpang sebagai persembahannya.

Karena itu, sudah selayaknya Maskapai Penerbangan mulai kembali melakukan test psikologi kepada para pilotnya. Termasuk menyelidiki jejak digital mereka, orang ini kecenderungannya kemana. Karena Maskapai Penerbangan harus bertanggung jawab terhadap nyawa ratusan penumpang yang ingin selamat sampai di tujuan.

Maskapai penerbangan juga harus memberi jaminan bahwa pilot mereka tidak terkena virus radikal dan mencintai NKRI sepenuh hati, terutama untuk Maskapai Penerbangan milik negeri.

Melihat status-status pilot pesawat Gar**a, saya kok -sebagai seseorang yang suka berpergian dengan pesawat- menjadi miris. Ia sama sekali tidak memberikan ketenangan.

Meski nyawa ada di tangan Tuhan, setidaknya bolehlah saya waspada untuk sementara menghindari maskapai ini sampai ada pemberitahuan bahwa mereka sudah melakukan tes psikologi ulang pada seluruh pilotnya.

Biasanya sebelum naik pesawat, saya berdoa.

Kali ini rasanya doa harus ditambah lebih banyak lagi, "Ya Tuhan, sudah banyak bidadari di dalam pesawat ini, tolong jangan biarkan si pilot mikir bidadari yang ada di luar pesawat nanti.."

Secangkir kopi rasanya kali ini pahit sekali..

Sabtu, 19 Mei 2018

ANJING-ANJING PERANG

HTI
Kelompok Khilafah

Sejak lama saya heran dengan orang-orang yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia..

Indonesia ini negeri ajaib. Negeri dengan 724 bahasa. 1.324 suku ada di sini. Ada 6 agama yang diakui dan belum termasuk penganut kepercayaan. Terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau. Dan Indonesia bisa berdiri sebagai negara kesatuan.

Bayangkan. Bagaimana bisa menyatukan semua itu dalam satu wadah ?

Tidak akan mungkin terjadi jika semua suku atau agama tidak merobek baju kebanggaannya sendiri. Tidak akan mungkin terjadi jika semua meletakkan kepentingan golongannya diatas kepentingan sendiri. Dan tidak mungkin terjadi jika semuanya tidak meletakkan ego diatas meja demi sesuatu yang lebih besar yang dipercayai.

Bagaimana seandainya satu suku saja mengklaim bahwa merekalah yang berjuang paling keras dibandingkan suku lain? Atau jika mereka mengklaim agama merekalah yang paling berjasa dibandingkan agama lain?

Jika itu terjadi, maka sesudah kemerdekaan, pecahlah kita. Seperti di Afrika dan beberapa negara timur tengah, yang terjadi hanyalah perang dan perang untuk berebut tulang yang dagingnya dimakan penjajah ekonomi.

Dengan keajaiban yang diberikan Tuhan seperti ini, kenapa kita tidak bersyukur dan berterimakasih? Malah sibuk mencari pembenaran melalui ayat2 dengan pemahaman tekstual untuk merubah semua nikmat yang sudah diberikan ?

Ketika berdebat dulu dengan para pengusung khilafah, saya selalu punya pertanyaan awal yang bahkan mereka tidak bisa jawab dengan benar. "Berikan satu contoh saja negara di dunia yang menganut konsep khilafah dan tetap bertahan.." Mereka diam.

Mereka tidak tahu, hanya ada dua negara yang menerapkan konsep mirip khalifah seperti yang ingin mereka terapkan, yaitu negara Vatikan dan Iran. Tapi satunya Katolik dan satunya lagi Syiah. Sedangkan dua-duanya mereka haramkan.

Dan Indonesia punya keunikan yang jauh lebih menarik dari kedua negeri itu. Negeri ini demokratis dan mengayomi semua perbedaan. Semua agama disejajarkan dan diberi kesamaan ruang. Pancasila sudah memberikan jawaban. Sebagai dasar seharusnya sudah sempurna, hanya praktek di lapangan yang belum banyak diwujudkan..

Lalu apalagi yang mereka inginkan ? Ingin membuat negeri ini perang terus menerus supaya mereka dapat kerjaan ? Supaya bisa menguasai apa yang tidak pernah mereka perjuangkan?

Negara Islam di Indonesia hanyalah utopia atau khayalan. Karena secara geografis dan demografis tidak memungkinkan. Dan itu sudah disadari para pendiri bangsa ini sejak awal, yang banyak diantara mereka notabene adalah para ulama juga.

Lama-lama saya mengerti, bahwa mereka yang terus mendesakkan perubahan atas nikmat yang sudah diberikan Tuhan ini, sejatinya memang bukan mahluk yang pintar bersyukur.

Dan bencana akan terjadi, jika mereka akhirnya menguasai negeri ini. Mereka akan saling mencakar, menggigit ketika berada di puncak kekuasaan.

Karena sejatinya, konsep khilafah antara mereka sendiri berbeda. Mereka tetap akan berperang dengan sesamanya karena sesungguhnya begitulah sifat asli mereka. Suka berperang dan membunuh sesama hanya karena kekuasaan yang sementara di dunia..

Sejak saya paham itulah saya mengangkat pena untuk melawan mereka. Membongkar kedok mereka. Menelanjangi borok mereka. Dengan ditemani secangkir kopi tentunya..

Perjuangan masih panjang. Mereka masih ada meski sudah terpojok ke sudut karena dihantam keras oleh bersatunya aparat dan masyarakat..

Tapi perhatikan, mereka tidak akan menyerah. Karena mereka adalah anjing-anjing perang yang haus akan darah..

Seruput..

PERANG SILENT MAJORITY

Hoax Bom Surabaya
PNS sebar Hoax Bom Surabaya

Seorang pilot Garuda diberhentikan karena mengunggah postingan yang membela teroris..

Seorang kepala sekolah juga diberhentikan atas kasus yang sama. Bahkan sebuah kampus terkenal memecat dekan dan beberapa dosennya karena terlibat HTI.

Dan semua itu karena peran besar Media Sosial..

Saya tersenyum mengingat beberapa tahun lalu, ketika awal perang Suriah, menulis di media sosial tentang bahayanya paham Wahabi, ISIS dan bagaimana ideologi mereka merasuk ke dalam elemen pemerintahan dan masyarakat.

Saya dianggap kafir waktu itu, bahkan dijauhi teman dan saudara karena dibilang sudah "memecah belah" Islam.

Dulu seperti sendirian berperang menghadapi paham berbahaya itu. Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, tetapi tidak pernah berhenti kami menulis kegelisahan yang ada di dada. Terus terang itu hal yang sangat melelahkan.

Dihujat sana sini. Dimaki. Diancam dibunuh. Darah halal. Adalah bahasa sehari-hari yang kami terima karena mengingatkan tentang bahayanya ideologi itu ada di negeri ini.

Sekarang lega rasanya melihat silent majority bergerak dengan kekuatan media sosial yang ada. Kekuatan untuk mem-viralkan postingan yang bernada mengancam bahkam berpotensi memecah belah negeri ini.

Lega rasanya melihat kekuatan anak bangsa bersatu karena tidak rela keutuhan negeri ini terkoyak. Musuh yang dulu sembunyi di balik topeng agama, mulai ditelanjangi satu persatu wajahnya. Mereka tidak bisa sembunyi, jejak digital mereka bicara..

Bahkan Kemenag sudah mengeluarkan daftar 200 ustad yang mendapat rekomendasi. Baguslah, nama-nama ustad jadi-jadian banyak yang tidak masuk dalam daftar itu, membuktikan Kemenag juga sudah mulai waspada.

Yang menarik lagi, beberapa BUMN yang kemarin merilis daftar nama penceramah Ramadhan, sudah mengganti daftarnya dengan penceramah yang lebih toleran.

Semua karena tekanan media sosial..

Kita bergerak lebih maju dari tahun 2013 dulu. Dan saya yakin, kita akan jauh lebih maju sekian tahun ke depan..

Inilah perlawanan. Perjuangan. Menjaga negeri dari rongrongan ideologi yang merusak negeri-negeri Timur Tengah. Dulu berperang pakai senapan. Sekarang cukup maen "Viralkan !!".

Merinding rasanya melihat ombak besar kebaikan datang bergelombang menghantam keberadaan radikalis yang kemarin menguasai media sosial.

Puasa-puasa gini memang mata agak terganggu. Tadi lihat oli bekas berasa lihat kopi item panas. Mau diseruput, untung belum bedug..

Nasebb..

Rabu, 16 Mei 2018

BENARKAH POLISI KECOLONGAN?

Terorisme
Kami Bersama Polri

Saya menemukan tulisan seseorang yang mempertanyakan kinerja BIN dan Densus 88 karena "kecolongan" rentetan bom di Surabaya..

Saya sebaliknya, justru mengapresiasi kinerja aparat dalam memburu para teroris ini.

Seandainya yang menulis tahu, betapa besarnya bom yang meledak di Bali tahun 2002 lalu. Bom Bali pertama menewaskan lebih dari 200 orang. Itulah kemenangan teroris terbesar di negeri ini.

Bom Bali kedua di tahun 2005, menewaskan lebih dari 20 orang dan hampir 200 orang luka2. Sedangkan Bom di hotel JW Marriot di Jakarta tahun 2003, menewaskan 12 orang dan ratusan luka. Tahun 2009, bom meledak lagi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta menewaskan 9 orang.

Jika melihat rekam jejaknya, terlihat bahwa aparat kepolisian dan intelijen sudah berhasil meminimalisir ledakan bom di Indonesia. Perburuan anggota2 teroris dimana2 - termasuk pengetatan pengawasan material pembuat bom - membuat teroris sudah sulit untuk kembali membuat bom berukuran besar.

Banyak peristiwa dimana Densus 88 berhasil membekuk para calon bomber di daerah2, hanya beritanya kurang maksimal. Bahkan pasca pemboman di Surabaya, Densus kembali menembak mati 4 orang teroris dan menyita puluhan bom yang siap diledakkan di Surabaya.

Hanya memang, sel-sel teroris ini sudah menyebar secara luas sejak lama. Tidak adanya kewenangan aparat untuk melakukan pencegahan karena terganjal UU, membuat aparat selain harus berhadapan dengan teroris, juga harus berhadapan dengan kelompok elit yang selalu berteriak HAM.

Terjadinya rentetan bom bunuh diri di Surabaya, menunjukkan bahwa sel tidur teroris jauh lebih banyak dari jumlah anggota kepolisian. Karena itu diperlukan operasi gabungan TNI dan Polri untuk mulai menyisir calon2 bomber yang sudah siap meledakkan negeri ini.

Dan lagi, melihat bahwa pelaku bom ini adalah satu anggota keluarga - yang di Sidoarjo juga - bisa disimpulkan, sekarang sudah sulit mencari "pengantin" bom secara individu. Jadi mencuci otak satu keluarga, bisa dianggap efektif untuk menyebarkan bom di beberapa titik sekaligus.

Kenapa aksi bom di Surabaya, meski beruntun tapi tidak menimbulkan korban yang lebih besar ?

Karena teroris sudah mulai panik. Mereka diburu dimana2, sehingga harus sesegera mungkin meledakkan diri meski tanpa perencanaan yang matang seperti dulu yang dilakukan Imam Samudra, otak bom Bali pertama atau Dr Azahari.

Aksi sporadis menunjukkan bahwa sudah sulit teroris berkoordinasi secara intens dan terpimpin. Akhirnya yang mereka lakukan hanya menunjuk sembarang target dan meledakkan diri disana.

Bahkan saking sulitnya mencari bahan pembuat bom, para teroris mengunakan senjata apa saja untuk melakukan aksinya.

Yang terbaru di Mapolda Riau, beberapa orang teroris menyerang polisi hanya dengan Samurai.

Tidak ada hasil kerja yang sempurna, tetapi minimal aparat kita sudah mampu mencegah negeri ini seperti Irak dan Afghanistan, yang hampir setiap bulan ada 2-3 kali bom bunuh diri di Mall dan Pasar, yang membawa korban jiwa jauh lebih besar..

Bahkan AS dan Inggris ingin belajar penanganan terorisme di Indonesia. Karena menurut mereka, Indonesia seharusnya sejak lama bisa seperti Irak, Suriah dan Afghanistan, tapi ternyata Indonesia mampu menangani negeri ini dengan sebaik2nya..

Karena itu, kita dukung kinerja aparat Kepolisian, TNI, BIN dan Densus 88, karena tanpa kerja mereka yang melelahkan, mungkin bapak kita, ibu kita, anak2 kita, saudara kita, teman kita, atau bahkan kita sendiri, sekarang sudah menjadi korban bom dari teroris.

Bersyukur jauh lebih baik daripada sibuk menyerang kinerja lembaga yang sudah bekerja sangat keras untuk menjaga kita semua. Dan berterimakasih pada mereka adalah tingkat rasa syukur kita masih selamat dari ancaman yang sangat nyata..

Seruput kopinya dulu, Polri dan semua yang bekerja keras melindungi kami.