Sabtu, 18 Agustus 2018

ERDOGAN, SI SULTAN GAMANG

Erdogan
Erdogan

"Kalau mereka punya dollar, kita punya Allah!". Begitu seruan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, kepada rakyatnya. Seruan Erdogan ini dimaksudkan untuk membangkitkan perlawanan kepada Amerika yang menyebabkan rontoknya mata uang lira Turki terhadap dollar.

Erdogan panik memang, karena Lira Turki mencapai titik terendahnya. Karena itu ia mulai menyeret nama Tuhan supaya ia tidak disalahkan atas anjloknya ekonomi mereka.

Sebelumnya, Erdogan mengajak boikot Iphone, padahal ia adalah pengguna setia produk Apple. Erdogan juga mengajak rakyat Turki membakar uang dollar yang mereka punya.

Apa yang dilakukan Erdogan ini mirip-mirip dengan model mantan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan dari PKS, yang juga suka menjual nama Tuhan demi menutupi ketidakberhasilannya dalam memimpin.

Kenapa mirip ?

Karena mereka dibesarkan oleh kelompok yang sama, yaitu Ikhwanul Muslimin. Partai Erdogan, AKP, memang dekat sekali dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Bahkan bisa dibilang AKP sudah dikuasai orang2 IM.

Partai AKP kalau di Indonesia, ya mirip PKS itu. Makanya para Turkiyem - pendukung Turki di Indonesia - sangat mengagumi Erdogan. Itu karena program cuci otak Ikhwanul Muslimin melalui PKS, yang menggambarkan Erdogan sebagai "khalifah" muslimin.

Eh, belum sih sebenarnya, karena Erdogan masih diposisikan sebagai Sultan, setingkat dibawah khalifah 😂😂

Jadi kalau kita pengen lihat bagaimana negara kita nanti dipimpin PKS, ataupun dipimpin Presiden yang diusung PKS, yah kita bisa lihat Turki itu. Selalu membawa-bawa nama Tuhan dan agama setiap kali ada masalah.

Bukan karena mereka percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa atas segalanya, tapi supaya bisa bersembunyi dan tidak disalahkan atas kegagalannya. Mereka tahu, banyak orang kalau dihadapkan nama "Tuhan" langsung gagap karena Tuhan tidak mungkin disalahkan.

Meski membawa nama Tuhan sebagai tamengnya, sesungguhnya Turki sudah menemukan Tuhan baru sebagai penyelamatnya. Yaitu, China.

Ya, hanya China yang mau datang menolong Turki. Bukan menolong sih sebenarnya, tapi menguasai ekonomi Turki dengan membeli harga murah banyak aset-aset Turki supaya mereka bisa sekedar bertahan hidup saja.

Dengan uangnya, China mendapat pembelaan habis2an dari PKS, eh partai AKP, yang sekarang memerintah. "Turki akan hancurkan kekuatan anti China di negara ini.." begitu seruan Menlu Turki sambil berjabat tangan dengan Menlu China.

Padahal sebelumnya, pendukung Erdogan di Turki - juga di Indonesia - sering memaki2 China sebagai negara komunis, yang bagi mereka komunis itu adalah atheis, atau tidak berTuhan. Sekarang, eh China malah jadi Tuhan

Nah, kalau tidak ingin negeri kita dapat pemimpin semunafik Erdogan, mulai sekarang mari kita serukan, "Guremkan PKS dan koalisinya!".

Kalau mereka berkuasa, nanti saat kita bahkan tidak mampu membeli secangkir kopi karena ekonomi anjlok, kita cuma dikasi seruan, "Mereka punya kopi, kita punya Allah. Boikot kopi!!".

Seruput dulu sebelum diboikot ahhhh.

Jumat, 17 Agustus 2018

Jika KH Ma'ruf Amin ke Saudi

Ma'ruf Amin
Ilustrasi

Ramai perdebatan tentang perlu tidaknya KH Ma'ruf Amin berkunjung ke Rizieq Shihab di Saudi..

KH Ma'ruf Amin memang sedang menunaikan ibadah haji. Dan rumours pun berkembang, bahwa ia akan mampir ke pertapaan Rizieq Shihab di sana.

Banyak yang mencibir, baik cebong maupun kampret. Kalau cebongers merasa bahwa kunjungan itu akan melemahkan posisi Jokowi karena kompromi dengan kaum radikal yang menganggap Rizieq Shihab sebagai junjungan. Sedangkan kampretos mencibir karena buat mereka para cebong menjilat ludah sendiri dengan "sowan" ke junjungan mereka..

Tapi itulah politik. Langkah-langkahnya tidak bisa dipandang seperti langkah benteng, yang jalannya hanya bisa lurus saja. Memandang politik itu harus seperti langkah kuda, yang bisa bergerak bebas tanpa kendala.

Bagi saya, jikapun terjadi kunjungan Kiai Ma'ruf Amin ke Rizieq Shihab, langkah itu lebih merugikan bagi koalisi oposisi daripada Jokowi. Ini memang sekadar kunjungan, bukan kompromi.

Rizieq Shihab adalah simbol bagi pendukungnya. Ia bahkan disebut sebagai Singa Allah. Nah, karena ia singa, yang datang harus pawangnya..

Datangnya Kiai Ma'ruf Amin menguntungkan dalam berbagai sisi. Pertama, ia akan dianggap banyak orang netral sebagai penyejuk suasana dan perekat persatuan antara dua belah pihak yang terbelah.

Kedua, pada posisi sebagai sesama "ulama", di hadapan KH Ma'ruf Amin, Rizieq Shihab akan berada pada posisi terendah, karena ia ulama junior. Jadi harus tunduk dong pada senior. Dan sudah pasti ia cium tangan. Di sini sudah tampak kemenangan diplomasi koalisi Jokowi.

Ketiga, belum juga berkunjung, rumours sudah berkembang dan nama KH Ma'ruf Amin disebut-sebut dalam perbincangan media sosial. Ini adalah bagian dari brand building tanpa melanggar aturan kampanye. Curi start, istilah kerennya. Dan ini adalah kecerdikan dalam pertarungan, merebut persepsi sebelum digunakan pihak lawan.

Dan tentu ini akan melemahkan mental kampretos yang sudah jatuh ketika Prabowo tidak memilih ulama sebagai pendampingnya. Satu kesalahan dari kubu Prabowo, tidak mempertandingkan "ulama" versus ulama, jadinya narasi Islam dan ulama sekarang dipegang Jokowi.

Jika melihat strategi ini secara luas, terlihat bahwa kubu Jokowi lebih siap perang daripada kubu Prabowo yang mulai gagap karena kecolongan. Jokowi berada pada posisi lebih memungkinkan untuk menyerang setelah selama ini hanya bertahan dari serangan mereka.

"Kita yang mainkan genderang, jangan selalu menari di atas genderang yang mereka mainkan...." Katanya dulu dalam sebuah pidato.

Lebih daripada sekadar fanatisme cebong dan kampret, permainan ini memang menarik untuk dilihat karena Jokowi mengubah pola serangannya. Kalau dulu dia bermain dalam posisi bertahan, sekarang dia memainkan serangan-serangan yang radikal..

"Keep your friend close and your enemy closer.." adalah salah satu strategi perang Tsun Zu.

Yang penting jinakkan, bukan malah memeliharanya sebagai peliharaan. Karena monster tetaplah monster disaat ia sedang jinak. Dan disatu kesempatan, ia bisa memakan jika majikannya lengah dan dalam kondisi lemah.

Seruput dulu kopinya..

NEGERI AJAIB ITU BERNAMA INDONESIA

Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih

Ketika diundang sebagai pembicara, saya selalu mengajak yang hadir untuk sejenak menengok kebelakang..

Melihat kembali keajaiban negeri ini yang terdiri lebih dari 1.300 suku bangsa, beberapa agama dan kepercayaan, tetapi bisa bersatu menjadi negara kesatuan Republik Indonesia.

Apakah mudah menyatukan itu semua?

Tentu tidak. Bayangkan jika semua suku, semua wilayah, apalagi masing-masing agama, meletakkan ego mereka diatas meja. Tidak mungkin negeri ini berdiri. Paling mungkin kita akan menjadi negara serikat. Atau malah menjadi negeri kesultanan. Bukan negara kesatuan..

Inilah keajaiban yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Indonesia. Keajaiban yang diletakkan lewat dada para pahlawan yang mengorbankan semua yang mereka punya demi cita-cita. Cita-cita supaya anak cucu mereka kelak, bisa hidup berdampingan dengan kebanggaan sebagai manusia merdeka.

Dan kita bisa hidup seperti sekarang ini karena perjuangan mereka..

Para pahlawan tidak banyak menuntut, hanya berpesan, "Jagalah kemerdekaan yang sudah kami rebut dengan airmata dan darah. Bukan untuk kami, tapi untuk kalian juga. Supaya apa yang sudah kami korbankan tidak sia-sia.."

Jadi ketika saya melihat ada kelompok-kelompok yang ingin menjadikan negeri ini seragam, hanya berlandaskan satu agama saja, disitulah nasionalisme saya terangkat. Tidak boleh ada satu orangpun yang boleh mengganggu warisan yang sudah diberikan.

Ini amanah, harus saya jadikan tameng dan senjata...

Dan mulailah saya berjuang dengan tulisan, dengan pikiran, gagasan-gagasan, bukan lagi dengan bambu runcing dan senjata perang. Medannya sudah berbeda..

Hari kemerdekaan ini sejatinya selalu mengingatkan kita, bahwa dibalik semua kenikmatan secangkir kopi yang terhidang, ada rasa pahit didalamnya. Rasa pahit yang menguatkan, bahwa dibalik sebuah peristiwa, ada proses yang menjadikan sesuatu itu kaya.

Saya, anda, kalian dan kita semua yang berjuang untuk mempertahankan warisan kebhinekaan ini adalah pahlawan. Meski tidak harus terlihat, tetapi geraknya terasakan seperti sebuah gelombang besar..

Merdeka!

Rabu, 15 Agustus 2018

KETIKA BIDAK KUDA MEMAINKAN LANGKAHNYA

Ma'ruf Amin dan Jokowi

Tiba-tiba suara tenang...

Padahal sudah mendekati Pilpres 2019, dimana seharusnya saat ini sudah ribut perang opini dan suara-suara kelompok oposisi yang membangun narasi "agama".

Amien Rais entah dimana, mendadak hilang seperti ditelan bumi. Dari Saudi, Rizieq Shihab mendadak bisu dan tanpa omongan berarti. Eggy Sudjana kelu lidahnya. Si Gatot al Khotot, mungkin sedang sibuk mencuci gamisnya. Si TengkuZul pun sekarang ngetwit lumayan sopan..

Kelompok 212 yang biasanya sangat berisik dan takbir sambil diliput media, mendadak senyap, seperti kumpulan gagak di waktu malam.

Ruang media kita yang biasanya penuh dengan polusi narasi-narasi perang badar, perang uhud bahkan perang dajjal, tiba-tiba bersih dan nyaman untuk bernafas. Paling cuma Neno Warisman yang sibuk dengan "Ganti Presidennya" meski sekarang wujud Presiden sudah jelas. Tapi itupun tidak banyak pengaruhnya...

Ini semua karena KH Maaruf Amin, kartu as yang dimainkan..

Semua menjadi sungkan. Mungkin takut, karena salah membully sedikit kyai sepuh yang dihormati NU, Banser bisa turun tangan. Dan simbol itu ada disamping Jokowi sekarang. Narasi "agama dan ulama" yang sudah lama mereka siapkan, mulai disimpan dilaci-laci berdebu yang nanti lima tahun kedepan akan dibuka kembali..

Akhirnya kita bisa perang opini tentang ekonomi, tentang program, tentang hal-hal yang wajar dan biasa, bukan tentang agama. Mereka mati langkah, bingung dan gamang untuk bicara ekonomi karena itu narasi yang belum mereka siapkan dgn matang..

Tidak mudah mengambil keputusan yang tepat. Karena yang tepat itu belum tentu menyenangkan.

Dan harus diakui, dibalik semua kegalauan dan kebaperan yang terjadi, ternyata ada hal penting yang terlewat, yaitu menyelamatkan pesta demokrasi supaya kembali pada relnya.

Tidak dikotori oleh propaganda2 yang merobek kesucian agama. Tidak akan ada lagi penghinaan terhadap ayat yang dipakai untuk ambisi berkuasa, ataupun untuk menjatuhkan sesama..

Inilah kemenangan langkah yang elegan. Mengancam lawan dengan senjata pamungkasnya. Lawan bungkam. Bahkan bernafaspun sesak dan ludah tercekat dikerongkongan..

Belum selesai. Akan ada satu lagi langkah mematikan yang membuat banyak orang bertekuk lutut dan mengibarkan bendera putih tanda menyerah..

Yaitu ketika Imam Besar mereka dijenguk oleh orang yang lebih dihormati dan terpaksa mencium tangan lawan politiknya, bukan memeluk tubuh seperti yang biasa ia lakukan..

Lihat saja..

Sementara itu kita seruput kopinya.


KETIKA PAK MAHFUD CURHAT

ILC
Mahfud MD

Video curhatnya pak Mahfud MD di ILC lewat di beranda beberapa kali..

Ia bercerita tentang kronologis situasi yang membuatnya tidak terpilih menjadi Cawapres Jokowi. Bahkan pak Mahfud menyebut nama-nama yang membuatnya sakit hati, meski ia ucapkan dengan nada tertawa, tapi kita merasakan getirnya nada yang tidak bisa disembunyikannya..

"Saya tidak kecewa. Saya hanya kaget.." Begitu katanya berulangkali. Pernyataan yang bertolak belakang dengan kenyataan. Jika hanya kaget, ia tidak mungkin curhat sepanjang itu di depan televisi nasional lagi. Ia kecewa. Sangat kecewa. Hanya saja ia ingin tampak gagah menceritakannya..

Apakah saya ikut trenyuh mendengarkan curhat beliau ? Sebagian diri saya mungkin, tapi sebagian lagi ternyata tidak..

Saya trenyuh, karena saya pasti akan kecewa ketika diangkat, terus dibanting lagi seperti yang didapatkan pak Mahfud MD.

Tapi jika saya seorang Mahfud MD, saya tidak akan mungkin curhat sepanjang itu, disebuah televisi nasional, yang jelas pro pada lawan politik Jokowi, dan membuka aib dimana saya akan menjadi tim suksesnya nanti.

Pahit memang. Tetapi pahit itu harus saya telan dan tidak mungkin saya ungkapkan kedepan publik, apalagi dengan sorot kamera yang terus mencari celah untuk membuat drama supaya situasi makin berpihak kepada lawan politik orang yang harus saya sukseskan nanti.

Setidaknya jika saya seorang Mahfud MD, saya akan bicara dengan gagah, dan penuh senyum bicara bahwa itu strategi politik saja supaya pihak lawan salah memilih pasangan.

"Dan kami berhasil..." begitu kata saya jika saya Mahfud MD didepan stasiun televisi dengan penuh kemenangan, yang membuat lawan jatuh mental. Karena saya tahu, bahwa pilpres ini adalah pertarungan, jadi yang harus saya pompakan ke pemilih Jokowi nantinya adalah kekuatan, bukan pelemahan.

Kenapa ? Karena saya setuju menjadi tim sukses beliau, jadi harus berbicara untuk kemenangan beliau. Beda jika saya adalah tim sukses lawan, saya akan membuka aib itu segamblang-gamblangnya untuk menghancurkan nama Jokowi karena perilaku koalisinya.

Pak Mahfud jujur, itu sangat bagus. Tetapi politik membutuhkan strategi dan saya rasa itu yang pak Mahfud tidak punyai. Kapan saat kita bicara, kapan saat kita tampil, dan apa narasi yang harus kita bawakan, itu yang penting.

Saya juga harus jujur seperti pak Mahfud, bahwa sesudah beliau curhat panjang didepan televisi, saya malah bersyukur beliau tidak terpilih jadi Wapres. Maaf, ya pak..

Saya sulit membayangkan, ketika banyak langkah pak Jokowi yang tidak sesuai dengan beliau saat menjadi Wapres, pak Mahfud akan curhat lagi ke media mengungkapkan kekecewaannya. Dan itu berbahaya, karena seperti dua kepala bertolak arah. Bahkan bisa jadi malah ada "matahari kembar" di pemerintahan..

Mungkin ada saatnya peristiwa menyakitkan dibuka. Misalnya ketika sudah pensiun dari politik dan menulis buku tentang "apa yang sebenarnya terjadi dan tidak terlihat didepan publik". Setidaknya itu menunjukkan kelas kita sebagai seorang yang mengemban tugas yang diberikan.

Menjadi tokoh itu sulit. Tetapi menjadi negarawan itu jauh lebih sulit.

Saya ingat film The Sum of All Fears, ketika Presiden Rusia ditanya oleh ajudannya, "kenapa mengakui didepan publik bahwa engkau membom Cechnya padahal bukan kau yang melakukannya ?"

Presiden Nemerov berkata, "Lebih baik orang melihat saya kejam, daripada mereka melihat saya lemah.."

Saya rasa secangkir kopi bisa menjadi pelajaran, bahwa pahitnya adalah kejujuran yang harus kita rasakan, tetapi kita bilang ke semua orang, "kopi ini nikmat sekali.."

Seruput..

Minggu, 12 Agustus 2018

POLITIK JOKOWI


Luhut
Berita Tribun News
Kalian tahu?

Dengan menggandeng Kyai Ma’ruf Amin, Jokowi akan jauh lebih bebas menggandeng sahabatnya tanpa diserang isu agama. Itulah "perang" sesungguhnya yang dimenangkan Jokowi, jauh dari apa yang kita kira.


"Apakah aku tidak menghancurkan musuh-musuhku dengan menjadikan mereka teman?", Abraham Lincoln.


Politik Jokowi adalah politik bermartabat, bukan politik yang menghalalkan segala cara. Kita berfikir satu langkah, Jokowi sudah berfikir seribu langkah di depan.

Seruput kopinya, teman.

GALAUNYA PENDUKUNG PRABOWO

Politik
Sby dan Keluarga

Dibalik sedikit keributan ditubuh pendukung Jokowi karena terpilihnya Kyai Ma'ruf Amin, kubu Prabowo sebenarnya seperti kapal kecil terguncang ombak besar.

Mereka gamang, galau dan kecewa yang amat sangat dengan terpilihnya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo. Sejak lama mereka mendesak pendamping Prabowo harus dari kalangan ulama, supaya mereka bisa memperbesar api isu agama.


Bahkan di masjid dan majelis para pendukung mereka, langsung terdiam karena tidak menyangka gerakan akhir Jokowi yang mengangkat Ma'ruf Amin. Mereka merasa kecolongan sekali, karena hanya itulah isu terkuat yang bisa mereka besarkan.

Dengan Sandi, paling isu ekonomi saja yang bisa mereka gaungkan. Ditambah sedikit saja isu anak muda atau milenial yang sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadap suara.

Kegalauan ini bisa dilihat dari sikap PBB Yusril Ihza yang netral, tidak mengusung siapapun. Ke Prabowo ogah, ke Jokowi, haram jadah. Yusril dan pendukungnya kecewa berat karena mereka sudah mempersiapkan banyak hal untuk membesarkan isu agama bersama jaringan eks HTI yang mereka bina.

Dari satu sisi ini, Jokowi sudah menang satu langkah. Tapi ia tidak puas, ia harus mengguncang lebih banyak lagi.

Dan guncangan itu datang Kyai Ma'ruf Amin..

"Kami akan merangkul PA 212.." kata Ma'ruf Amin. Kata "merangkul" disini, bisa berarti mematikan langkah lawan. Lawan yang sebenarnya sudah terpojok, semakin gak bisa gerak. Maju kena mundur kena. Atas kena bawah kena. Depan kena, samping kena. Matek dah gua.


Bagaimana gak matek? Kalau PA 212 menyerang Jokowi, berarti mereka menyerang wakilnya. Kalau menyerang wakilnya, mereka akan head to head dengan NU dan itu berat.

Ibarat papan catur, Jokowi berhasil membentengi dirinya dengan menteri, gajah, benteng dan pion sekalian. Semua celah ditutup habis-habisan.

Mungkin keputusan memilih Ma'ruf Amin bukan keputusan yang menyenangkan buat banyak orang. Tetapi antara keputusan menyenangkan dan keputusan tepat itu berbeda. Jokowi berfikir lebih luas, sedangkan banyak dari kita masih hanya berfikir sekian langkah ke depan.


Dia tidak bisa membuat semua orang bahagia. Tapi dia ingin menyelamatkan negara, jangan sampai ada gesekan karena isu agama. "Narasi agama sudah selesai.." Katanya dulu, jauh sebelum penetapan. Saya tidak mengira, inilah senjata yang dia pakai.

Jokowi pernah juga bicara dalam sebuah pertemuan, "Kita hanya sibuk mencounter isu-isu yang mereka bangun. Kita menari di genderang yang mereka bunyikan. Kenapa kita tidak bisa membuat isu duluan, yang menjadikan mereka menari di genderang yang kita mainkan? Ayo, berfikir dari sudut yang berbeda, jangan dari sudut yang mereka ciptakan.."

Lihatlah lawan mulai gamang, sampai harus membentuk Sandiaga Uno menjadi santri. Lawan seperti sedang berimajinasi, mencoba keras merapihkan barisannya kembali.

Akhirnya supaya membangkitkan kepercayaan diri, mereka main pooling-poolingan. Bikin-bikin sendiri, menang-menang sendiri, senang-senang sendiri, puas-puas sendiri.

Mirip ABG lelaki yang sedang mencari jati diri dengan berlama-lama di kamar mandi.

Kopii.. mana kopiii...

Sabtu, 11 Agustus 2018

AHOKER VS JOKOWER?

Kardus
Meme

Saya gak pernah paham istilah "Ahoker" dan "Jokower". Saya suka mereka karena gagasannya, bukan karena orangnya..

Kalau cebong kampret, itu jelas..

Karena secara gagasan aja udah beda. Kita melihat sesuatu dengan berdiri, mereka harus terbalik dulu supaya sadar diri.

Jadi konsep Ahoker dan Jokower itu seperti fansclub "Andhika Kangen Band" dan "Incess Sahrini" yang sama-sama lebay, ribut membela idolanya, padahal yang diributkan cuman potongan rambutnya..

Bicara gagasan, karena itu yang mempengaruhi banyak orang. Engkau adalah apa yang kau pikirkan, bukan apa yang orang lain pakai..

Ahoker dan Jokower, bacanya aja udah pengen ketawa. Kayak ABG yang gak dewasa-dewasa..

Mending seruput kopi, biar bisa ketemu jati diri.

JANGAN JUAL NAMA AHOK

Ahok
Ahok

"Kita harus balas dendam kepada kaum kulit putih!".

Begitu teriak seorang anggota kongres berkulit hitam di Afrika Selatan. Mereka baru saja memenangkan pemilihan dengan Nelson Mandela sebagai Presiden mereka.

Alih-alih dapat pembelaan, Nelson Mandela malah marah.

"Saudaraku sekalian, selama 27 tahun waktuku dipenjara, aku mempelajari mereka. Bahasa mereka. Buku mereka. Puisi mereka. Aku harus mengenal musuhku, sebelum mengalahkan mereka. Dan kita sudah mengalahkan mereka, bukan?

Musuh kita sudah bukan lagi saudara kita sesama bangsa Afrika. Jika kita memusuhi mereka, kita akan kehilangan mereka. Kita harus lebih baik dari itu. Ini bukan waktu untuk membalas dendam. Ini waktu membangun bangsa, bata demi bata. Kalian memilih saya sebagai pemimpin, ijinkan saya memimpin kalian sekarang".

Kata-kata Nelson Mandela ini sangat berpengaruh kepada kaum kulit hitam disana. Bahkan, Francois Pienarr, kapten tim rugby yang berkulit putih, heran dan menyampaikan kekagumannya pada Nelson Mandela, "Bagaimana bisa anda menghabiskan waktu 30 tahun dalam penjara kecil dan keluar lalu memaafkan mereka yang menaruh anda disana?".

Nelson Mandela menjawab, "Memaafkan itu membuat jiwa merdeka. Itu menghapuskan ketakutan. Itulah kenapa memaafkan adalah senjata terkuat sepanjang masa.."

Dialog ini ada dalam film "Invictus", film yang menonjolkan kekuatan Nelson Mandela dalam berjuang untuk merekonsiliasi perpecahan di negaranya. Sekian puluh tahun apartheid, membuat luka menganga di dada kaum kulit hitam di Afrika Selatan. Dan Nelson menjahitnya kembali pelan-pelan.

Ketika berpidato dengan suara keras dan serak saat Ahok diputuskan masuk penjara, saya berkata, "Ahok seperti Nelson Mandela. Penjara tidak akan mengecilkan dia, bahkan akan membuatnya jauh lebih besar dari apa yang dia punya".

Saya pernah bertemu Ahok, di Mako Brimob dua kali. Saya mendengarnya bicara. Dan tampak penjara memerdekakan jiwa dia.

Saya yakin, ketika Ahok keluar nanti, ia sudah pasti akan memaafkan orang-orang yang menaruhnya disana. Karena ia seperti Nelson Mandela, baik dalam sikap maupun integritas terhadap bangsa.

Karena itu jangan jual nama Ahok, seolah-olah anda tahu siapa dia, dengan asumsi bahwa anda mewakilinya terhadap "sakit" yang dia derita.

Ahok jauh lebih besar dari jiwa-jiwa kerdil anda, yang selalu sibuk mengatas-namakannya, dan terus membenci orang-orang yang memenjarakannya. Apalagi dengan bahasa "Golput" demi Ahok yang sudah teraniaya.

Nelson Mandela berkata kepada orang-orang yang mengatasnamakannya, "Engkau berkata tanpa memahami. Engkau hanya mencari yang sesuai pembenaran prasangkamu. Itu ego. Dan itu bukan tentang bagaimana melayani negaramu".

Ahok dan Nelson Mandela adalah pribadi yang sama, jiwa yang merdeka, pribadi besar. Jangan mengecilkannya dengan bicara seolah-olah ia ingin balas dendam. Itu sangat menghinanya. Itu pasti bukan Ahok. Itu anda. Akui sajalah.

Cara menghormati Ahok adalah dengan meneruskan perjuangannya. Ia martir dalam ketidakadilan. Dan biarkan semua berproses dengan caraNya. Yang manusia harus lakukan adalah berusaha, bagaimana menang tanpa membawa dendam.

Seharusnya selain belajar pada secangkir kopi, kita juga harus belajar pada sesendok gula. Yang rela memberikan kenikmatan diantara kepahitan, meski tidak pernah disebut sebagai pahlawan.

Seruput kopinya?

SECANGKIR KOPI UNTUK JOKOWI


Deklarasi Jokowi di Bali
Deklarasi Jokowi di Bali
"Jokowi bagi saya bukan hanya sosok, dia adalah simbol. Simbol perjuangan melawan kelompok radikal yang ingin menguasai negeri ini. Hanya dia yang berani membubarkan HTI. Catat. Hanya dia.

Deklarasi
Deklarasi Jokowi di Bali
Dan ketika HTI menyerang balik dengan menunggangi lawan politiknya, masak saya harus diam saja?

Itu berarti saya berkhianat terhadap nilai-nilai perjuangannya.."

Secangkir kopi dari Sanur, Bali.

INI BUKAN TENTANG JOKOWI. INI TENTANG NKRI

HTI
Bubarkan HTI

Kita pernah berseteru dengan Kyai Maruf Amin, itu kenyataan yang tidak bisa disembunyikan. Jangankan kalian, bahkan tulisan saya berjudul "Duh Kyai" menyebar dimana-mana dijadikan senjata untuk melemahkan saya untuk mendukung Jokowi.

Malu? Tidak. Setidaknya saya pernah bersikap, bukan diam melihat ketidakadilan yang ada, pada saat itu. Saya malah bangga bahwa saya pernah dengan berani mengungkapkan sesuatu yang bagi sebagian orang dianggap tabu.

Saya diserang dimana-mana, bahkan dimarahi sebagian warga NU. Tapi itulah saya, apa yang saya ungkapkan tidak perlu persetujuan karena lebih baik disingkirkan dengan kejujuran, daripada hidup dengan kemunafikan.

Tapi bagaimana sekarang?

Pertanyaannya, "Apakah saya perlu memelihara dendam?" Hidup dengan dendam adalah hidup dengan kehinaan. Tidak ada nilai positifnya, bahkan akan menjadi hantu selamanya.

Setidaknya apa yang terjadi mengajarkan kita, bahwa politik itu bukan papan catur yang hitam dan putih warnanya. Politik itu seperti warna-warni kehidupan, yang kadang menyenangkan dan sering menyakitkan.

Tidak pernah ada dendam saya kepada Kyai Maaruf Amin. Bahkan pada saat berseteru, saya dipertemukan dengan beliau oleh Kang Dedi Mulyadi di Purwakarta dan semua baik-baik saja.

Jokowi sudah menetapkan putusan. Bukan putusan yang menyenangkan memang, karena ia tidak bisa menyenangkan semua orang. Tetapi setidaknya ia sudah membuat keputusan yang tepat menurutnya. Dan sebagai rakyat, kita harus ikut apa keputusannya, suka atau tidak, demi sesuatu yang lebih besar.

Bagi saya, ini bukan tentang Jokowi, Prabowo, Maruf Amin, Mahfud MD atau siapapun juga.

Ini tentang pertarungan NKRI versus HTI. Dan saya tidak mungkin berada satu barisan dengan HTI. Saya adalah lawan mereka. Sekarang dan selamanya. Karena saya cinta Indonesia dengan segala kebhinekaannya.

Jadi cukup itu yang menjadi alasan kenapa saya tetap berada di belakang Jokowi. Kita harus melihat gambar yang lebih luas dan lebih besar daripada gambar sosok yang bisa membuat gembira dan kecewa.

Karena itu, wahai para petarung, bertarunglah..

Jangan lemah karena engkau tidak suka. Suka atau tidak itu taruh dibelakang. Yang penting sekarang kita maju perang.

Siap? Seruput dulu secangkir kopinya.

Jumat, 10 Agustus 2018

JANGAN SALAHKAN JOKOWI

Meme 2019 Ganti Kardus

"Kenapa Jokowi pilih Maruf Amin, bang?".

Lepas dari banyaknya teori konspirasi strategi catur Jokowi yang hebat-hebat yang ditulis teman-teman, sebenarnya permasalahan "Kenapa Maruf Amin?" itu sederhana saja.

Sekitar dua jam sebelum deklarasi, Jokowi masih mengantongi nama Mahfud MD sebagai pendampingnya. Dan saya sudah melakukan banyak konfirmasi terhadap itu ke banyak pihak yang kompeten. Dan Mahfud MD pun sudah ada disana, di dekat tempat deklarasi acara.

Tapi tiba-tiba semua berubah, ketika beberapa partai memaksakan supaya jangan Mahfud MD. Pertanyaannya, "Kenapa?" Jawabannya, "Karena berbahaya untuk Pilpres 2024 nanti.."

Pilpres 2024, masing-masing partai koalisi sudah punya jago. Mereka semua mengalah di tahun 2019, karena ini memang tahunnya Jokowi. Tetapi 2024 nanti dianggap tahun kosong, dimana semua mempunyai peluang yang sama untuk bertarung karena tidak ada petahana.

Nah, kondisi ini akan dirusak jika ada Mahfud MD disana. Jika Mahfud menjadi Wapres, maka diperkirakan ia akan membangun citra sehingga malah bisa menjadi lawan nantinya.

Jadi ini sebenarnya bukan masalah Mahfud MD saja. Seandainya Moeldoko atau CT atau Sri Mulyani yang ada di posisi Mahfud pun akan mengalami hal yang sama. Mereka akan disingkirkan juga.

Dan para petinggi partai mendesak supaya Mahfud tidak jadi Wapres pada menit-menit terakhir. Mereka tahu, kalau Jokowi didesak pada waktu awal, Jokowi bisa berkelit. Dan disana Jokowi jagonya. Sedangkan Jokowi sebenarnya tidak terlalu penting siapa wakilnya, karena toh ini periode terakhirnya.

Desakan itu termasuk "ancaman" untuk mogok atau membentuk poros ketiga, jika Jokowi sampai memaksa supaya Mahfud MD menjadi Cawapresnya. Dan disanalah Jokowi tersandera, melihat situasi berbahaya koalisi yang dia bangun berpotensi rusak dan tidak solid.

Jadi keputusan memilih Maruf Amin, bukan sepenuhnya keinginan Jokowi, tetapi demi soliditas koalisi. Jokowi tidak akan bisa menang tanpa koalisi, begitu juga sebaliknya.
Pilihan terbaik untuk itu jelas Maruf Amin. Awalnya ada JK, dan semua partai setuju. Tapi karena JK terbentur di peraturan MK, maka persetujuan itu menjadi masalah. JK disetujui semua partai koalisi, karena 2024 gak mungkin nyalon lagi.

Sesederhana itu, bukan sesuatu yang aneh dengan gerakan strategi yang tampak rumit. Semua pragmatis, ada kepentingan yang berbenturan, karena begitulah politik kita yang harus mengakomodir kepentingan banyak orang.

Lalu, seandainya anda jadi Jokowi, apa yang harus anda lakukan? Memaksa dengan keras kepala, "Pokoknya gua pilih ini. Titik!" Begitu, ya?

Ya gak bisa. Karena kalau koalisi rusak dan pecah, pihak lawan akan bersorak dan mereka berpotensi menang.

Jokowi mengambil keputusan itu juga bukan senang, karena ia pasti berfikir lebih luas dari sekedar siapa "nama" pendampingnya. Ada saatnya kompromi demi soliditas, toh nanti dia juga yang kerja, kerja, kerja.

Saya juga termasuk yang kecewa, bukan karena Mahfud gak jadi, toh saya juga gak dapat apa-apa, apalagi dijanjikan Komisaris seperti kata kampret yang durhaka. Saya kecewa karena Ma’ruf Amin yang bagi saya pribadi banyak keputusannya yang tidak saya setujui.

Cuma yang saya pahami, ini bukan sepenuhnya kesalahan Jokowi. Saya juga akan mengambil langkah yang sama ketika melihat alasan yang kuat seperti itu.

'Lalu kita Golput, bang?" Tanya seorang teman.

Golput? Apa itu??

Sejak awal saya sudah mendeklarasikan berperang melawan kaum radikal yang nangkring di kubu sebelah, para kampret berbaju agama. Kalau golput, berarti saya membiarkan mereka menang dan berkuasa di negeri ini dong??

Nehi!! Saya akan tetap mendukung Jokowi karena dia saya anggap sebagai simbol perlawanan terhadap para kampret yang durjana.

Ini bukan masalah Jokowi atau Mahfud atau Ma’ruf Amin atau siapapun juga. Ini masalah NKRI versus HTI, PKS dan kelompok khilafah yang mencoba menunggangi politik dengan berada di kubu sebelah.

Membiarkan mereka menang, sama saja dengan membiarkan negara ini hancur pelan-pelan.

Jadi seandainya Jokowi pasangan ma secangkir kopi pun, saya akan tetap kawal dia, pilih dia dan membela dia. Karena dia adalah simbol perang saya terhadap kampret yang wajahnya sudah mirip-mirip unta.

Meski agak kecewa, tetap seruput kopinya.. glek glek glek... Secangkir-cangkirnya.. krauk krauk kraukkk..

Rabu, 08 Agustus 2018

PRABOWO BINGUNG, SBY BERHITUNG

Politik
SBY dan Prabowo

"Politik adalah seni kemungkinan..". Meski kita melihat ada kekompakan pada team oposisi bersamaan dengan pertemuan SBY dan Prabowo, sebenarnya titik ketegangan justru berada disana..

Dari luar kita melihat, bahwa ada koalisi Demokrat-Gerindra yang akan melahirkan pasangan Capres Prabowo-AHY. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Terutama bagi Prabowo..

Dari "bisik-bisik tetangga", SBY punya rencana lain yang menurutnya jitu, yaitu mengawinkan Anies-AHY. Menurut SBY, Prabowo sudah usai dan pasti akan kalah. Karena itulah ia ingin ada pasangan lain untuk memenangkan pilpres ini. Dan itu adalah kedua pasangan muda untuk melawan Jokowi.

SBY bisa memberikan tekanan itu kepada Prabowo, karena Gerindra sedang dalam posisi tidak punya logistik untuk Pilpres nanti. Dan mereka datang ke Demokrat menawarkan kursi bagi AHY -anak kesayangan pepo dan memo- dengan imbalan logistik harus siap untuk pertarungan.

Memangnya Anies bisa maju sebagai Capres? Kan waktunya sudah tidak cukup jika harus minta ijin ke Presiden?

Bisa. Ada 2 skenario yang akan dijalankan SBY. Pertama, Anies mundur dari Gubernur dan DKI akan diserahkan kepada Gerindra melalui Sandiaga Uno. Jika Anies mundur, maka dia tidak perlu minta ijin pada Presiden.

Kedua, oposisi tidak akan mengajukan pasangan Capres lawan Jokowi. Dengan begitu, hanya ada satu pasangan Capres pada tanggal 4-10 Agustus. Dan jika hanya satu paslon, maka pendaftaran akan diperpanjang 14 hari. Ini cukup waktu bagi Anies untuk minta ijin ke Presiden.

Jadi, paham kan? Bentar seruput kopi dulu..

Oke, lalu bagaimana nasib Prabowo?

Sebenarnya masalahnya bukan di nasib Prabowo, tapi bagaimana nasib Gerindra jika Prabowo tidak nyapres?

Seperti kita tahu Pileg dan Pilpres akan berbarengan. Dan jika Prabowo tidak nyapres, maka sudah dipastikan suara Gerindra hancur-hancuran saat Pileg nanti.

Ya, Prabowo adalah marwah Gerindra. "Gak ada elu, gak rame.." begitu kata simpatisan Gerindra yang akan mencoblos di pemilihan legislatif nanti. Dengan Prabowo tidak ada, maka banyak pemilih Gerindra akan mencoblos partai lain.

Jika di tahun 2019 nanti suara Gerindra hancur, maka tahun 2024 nanti, mereka tidak akan dihargai sebagai partai besar dan gampang dimainkan. Gerindra bisa kacau, bahkan akan dikuasai lawan, seperti Golkar ketika Aburizal Bakrie tidak jadi Nyapres, yang akhirnya pecah dan dikuasai pihak seberang..

Ini buah similikiti bagi Prabowo. Dimakan, kampret mati. Gak dimakan, kampret mati juga. Jadi kampret emang susah banget hidupnya yak.

Prabowo harus menghitung mana kerugian paling besar sebelum mengambil keputusan. Dan jelas, kerugian paling besar adalah ketika Gerindra hancur lebur..

Prabowo harus memaksakan diri untuk Nyapres, untuk menyelamatkan Gerindra. Dan jika Demokrat tetap tidak setuju, maka Gerindra akan berpasangan dengan PKS, kemungkinan besar Prabowo-Salim Segaf al Jufri dari PKS.

Mungkin juga PKS menawarkan Anies. Tapi Anies terlalu gengsi untuk jadi Cawapres. Wong, mimpinya jadi Presiden.

Sedangkan Demokrat tidak mungkin hanya berpasangan dengan PKS, karena tidak cukup suara.

Loh kan masih ada tambahan kursi dari PAN??

Hehe, PAN realistis aja. Mereka sudah menghitung tidak mungkin menang jadi oposisi. Jadi, daripada kering kerontang selama 5 tahun, ya gabunglah dengan Jokowi. Nanti Amien Rais pasti akan bilang sambil senyum-senyum manja, "Saya kemaren cuman guyon aja.."

Itulah kenapa Fadli Zon memaksa supaya Prabowo deklarasi sebagai Capres secepatnya. Karena jika tidak, maka dia bisa tersingkir dari jabatan Wakil Ketua di partai. Lha, udah gak ada Prabowo, gak ada lagi tempat bergantung.

Kebayang kan sumpeknya sempak di kubu oposisi?

Karena itu, mari kita berdoa pada Tuhan supaya warga Lombok yang terkena musibah gempa segera mendapat pertolongan dan situasi segera aman.

"Lho bang, apa hubungannya ama situasi Prabowo??"

"Emang gua pikirin!!"

Mending minum kopi..

BALADA SI SOMAD

Politik
Balda si Somad

Pernah nonton acara "Termehek-mehek"?

Itu drama yang dikemas dengan konsep reality show. Kejadian seolah-olah nyata tapi sebenarnya semua settingan belaka, mulai kejadian sampai artisnya segala.

Nah kalau pernah nonton, berarti kalian sekarang sedang menonton acara Termehek-mehek versi Politiknya. Judulnya, "Balada si Somad".

Somad si ustad hiburan ini, memang penggemarnya banyak meski gak sampe ratusan juta seperti kata si ibuk yang mengeluarkan airmata di acara ILC tadi malam. Terutama penggemarnya ada di kalangan emak-emak.

Singkat cerita, diangkatlah nama Somad ke permukaan sebagai calon Wakil Presiden alternatif Prabowo.

Proses kemunculannya juga dramatis, ia digambarkan mirip dengan Panglima Besar Sudirman, meski saya gak tahu, dimana yaaaa miripnya. Pokoknya harus ada kata "Besar"nya untuk mendampingi si Imam yang "Besar" juga.

Mereka emang suka gitu, kalau gak pake kata "Besar" pasti kata "Juta" untuk menggambarkan kedahsyatan versi mereka.

Nah "dipanggil-panggillah" si Somad dengan bahasa lebay, "NKRI memanggil Abdul Somad.." Seakan-akan negara membutuhkan seorang Somad untuk menyelesaikan semua masalah di Indonesia.

Kalau bisa, rombongan Malaikat pun turun untuk menyambut kedatangannya. Harus dramatis dong, namanya sinetroooon.

Somad gak mau ketinggalan. Dia kemudian berkata, "Izinkan saya memohon petunjuk Tuhan dulu..". Dan ia pun seperti menghilang sejenak dari keramaian untuk bertapa mencari kesucian diri. Lalu ia keluar dari pertapaan dan berkata lirih, "Saya tidak bisa..".

Maka menangislah seluruh umat (umat kampret tepatnya), dengan ketidakbersediaan Somad memanggul "amanah" yang berat.

Kemudian muncullah sebuah pembenaran, "Dia memang rendah hati, sudah tidak tertarik lagi pada dunia.."

Udah mulai geli, kan? Jangan ngakak dulu...

Diperbuaslah drama itu dengan acara ILC. Ada seorang ibuk berurai airmata, meminta Somad untuk bersedia menjawab panggilan hati mereka. Harus ada airmatanya, kalau gak bukan sinetron namanya...

"Memangnya kenapa harus disetting begitu sih, bang?'.

Ya, untuk ngangkat nama Prabowo. Disaat masa statis ini, dimana dia belum deklarasi Capres, harus ada drama dulu supaya namanya tetap eksis di pemberitaan. Selain itu, supaya fans Somad, para ibuk-ibuk dan bapak-bapak berkumis yang lebay, nanti akan teringat dan memilihnya.

Dunia politik juga adalah dunia entertain. Artis banyak yang mau jadi anggota DPR, jadi wajar kalau ustad juga bermain sinetron.

Apakah Somad punya kemungkinan besar jadi Cawapres Prabowo?

Pilpres itu butuh logistik besar, brad. Prabowo sudah tidak punya, masak Somad disuruh bayarin dananya? Makin kurus dia entar.

Dan itu lumrah, selumrah acara Termehek-mehek yang masih tetap tayang karena tinggi ratingnya. Ada penonton, tentu ada tontonan.

Jadi, gak usah terlalu serius, apalagi ikut termehek. Mending ngopi aja melihat sinetron oposisi yang makin lama makin baper dan lebay ini.

Seruput dulu ah.