Senin, 23 Juli 2018

KASUS LAPAS SUKAMISKIN MENCORENG WAJAH JOKOWI

Lapas Sukamiskin
Kamar Mewah di Lapas Sukamiskin

Coba sekali-sekali nonton youtube tentang bagaimana China menghukum mati para koruptor.

Mengerikan. Mereka diarak dulu, dipermalukan. Kemudian ditembak belakang kepalanya dan itu difilmkan. Disebar ke seluruh negeri untuk membangun efek jera.

China tidak seperti Indonesia, dimana koruptor bisa dadah dadah di televisi seakan-akan pahlawan. Di China ketika koruptor ditangkap, wajah kengerian terpampang karena buat mereka hidup tinggal menunggu waktu saja.

Anggaplah Indonesia tidak akan bisa seperti China. Kenapa? Karena China itu negeri satu partai. Jadi kebijakan apapun mudah dilakukan, tanpa perlu berdebat panjang.

Sedangkan di Indonesia, sulit sekali. Karena mereka yang menyusun UU hukuman mati, mereka juga yang punya potensi korupsi. UU hukuman mati untuk para koruptor, bisa jadi tinggal mimpi.

Karena korupsi di Indonesia itu adalah "oli pembangunan", begitu kata Fadli Zon suatu hari.

Tapi melihat bagaimana mewahnya ruangan di Lapas Sukamiskin memang menyakitkan hati. Dan -lucunya- ini bukan kejadian pertama kali.

Yang membekas di benak kita adalah kasus Artalyta Suryani atau Ayin. Ayin ditahan karena menyuap Jaksa. Dan kehebohan muncul ketika Denny Indrayana memergoki bahwa ruangan selnya dia di Rutan Pondok Bambu mewah sekali. Bahkan ada ruang kerjanya segala.

Belum lagi kasus Gayus Tambunan, petugas pajak yang bisa dengan seenaknya keluar masuk Mako Brimob dan sempat kepergok nonton tenis di Bali.

Bobroknya mental petugas kita sebenarnya sudah harus jadi fokus kerja Menkumham Yasona Laoly. Tapi entah kenapa, masalah korupsi di dalam Lapas ini seperti sengaja dibiarkan. Padahal mudah, jika mau ada niat melakukan sidak atau memasang cctv di dalam lapas.

Berapa banyak sih lapas untuk koruptor? Apa segitu susahnya untuk mengawasi?

Lapas itu seperti negara dalam negara. Dimana sulit sekali menembus barikade mereka untuk sekedar mengawasi apa yang ada di dalam sana. Para petugas seperti benteng menghalangi siapapun masuk dan melihat kondisinya. Mereka bekerjasama dengan tahanan lain untuk memperkaya diri sendiri dengan memanfaatkan tahanan kaya.

Lalu dimana keadilan?

Disaat teriakan berantas korupsi menggema, tapi ternyata hukumannya tidak sepadan. Uang masih menjadi tuan di dalam. Begitu mudahnya petugas lapas disuap untuk memberikan kemewahan pada tahanan inilah yang menjadi masalah.

Jadi wajar dulu saya curiga ketika para tahanan teroris bisa dengan mudah memviralkan video mereka di dalam tahanan di Mako Brimob. Bagaimana cara hape masuk kesana? Dan bagaimana bisa mereka mendapat sinyal dan kuota untuk memvideokan pemberontakan mereka? Tentu ada kongkalikong di dalam.

Dan memalukannya, untuk masalah Lapas saja KPK yang harus turun tangan. Kemana Dirjen Pemasyarakatan? Toh Lapas itu ada dibawah pengawasan dia. Apa selama ini kerjanya? Masak mengawasi Lapas saja tidak bisa? Kemana Menterinya? Apa selalu menerima laporan "Asal Bapak Senang" saja?

Kalau ini terjadi di Jepang, kasus yang mencoreng wajah pemerintahan ini pasti akan diikuti oleh mundurnya orang-orang yang bertanggung jawab. Bukan hanya sekedar meminta maaf dan membiarkan "toh nanti juga berita itu akan menghilang".

Kasus Lapas Sukamiskin ini benar-benar mencoreng wajah Jokowi. Sia-sia pemberantasan korupsi yang ia dengungkan, ketika korupsi dalam Lapas dibiarkan.

Kita tunggu seberapa perduli pemerintah terhadap kasus ini. Mau memberantas korupsi tanpa ada efek jera, sama saja seperti minum kopi tapi tanpa sedikit gula.

Paitttt rasanya.

Sabtu, 21 Juli 2018

MODEL BISNIS PERTAMINA JAMAN NOW

BUMN
Pertamina

"Restoran ini dalam 10 tahun ke depan, akan menghasilkan pendapatan 10 milyar rupiah.."

Begitu kata saya pada Roy Sukro. "Ah, yang bener aje.. " Kata Sukro sambil megang panci yang pantatnya sudah hitam. Ia mikir, ini dibawa pulang jangan ya?


Saya memberikannya kalkulasi, hitung2an dimulai dari berapa orang yang selalu lewat depan restoran, berapa orang yang mampir setiap hari, berapa makanan yang terjual dan lain-lain.

Dan dari hitungan itu, tampak POTENSI pendapatan restoran dalam 10 tahun ke depan memang 10 milyar rupiah.

Roy Sukro ikut menghitung, sambil berpikir, "Hmm bener juga ya.."

Ia lalu bilang, "Oke, saya masukin duit 1 milyar. Dengan begitu saya punya hak 10 persen dari potensi keuntungan restoran..".

Loh, Roy Sukro sudah masukin duit duluan 1 milyar di depan. Kenapa dia yakin banget bahwa bisnis restoran saya menguntungkan ?

Karena menurut hitungan Roy Sukro, bisnis restoran saya punya potensi mendapat untung 30 milyar dalam 10 tahun. Kalau dia punya saham partisipasi 10 persen kan uangnya nanti jadi 3 milyar rupiah. Untung 2 milyar dia. Tapi dia juga bisa rugi kalau hitungan kami tidak tepat..


Apa yang Roy Sukro beli dari saya ? Yang dia beli adalah POTENSI. sekali lagi, POTENSI. Bukan sesuatu yang sudah terjadi.

Inilah yang disebut hak partisipasi atau "participating interest".

Familiar dengan kata itu ? Ya, kalau baca tentang bagaimana divestasi saham Freeport, pastilah ada PI atau participating interest Rio Tinto sebesar 40 persen di PT Freeport Indonesia.

Ini juga yang akan diberlakukan Pertamina terhadap bisnis2 di unit usahanya.

Jadi yang saya jual ke Roy Sukro adalah potensi pendapatannya. Potensi itu juga aset, tapi aset tidak berwujud atau intangible.

Sedangkan rumah saya yang dijadikan restoran, itu disebut tangible atau aset yang berwujud. Aset yang berwujud tidak ikut dijual karena itu sepenuhnya hak milik saya.

Participating Interest ini mirip model ijon. Dimana seorang pengijon memborong padi yang masih muda dengan cash di depan dan harga murah.

Petani dapat modal untuk memelihara padinya, si pengijon dapat untung nanti waktu padi sudah panen dengan harga pasar.

Model bisnis dalam perusahaan besar itu macam2, bukan model jualan sarung dipasar. Skemanya bisa sangat rumit, tergantung komoditi apa yang diperdagangkan.

"Kalau begitu, saya bawa dulu panci pantat hitam ini sebagai jaminan.." Kata Roy Sukro. "Nanti saya balik kesini lagi, tolong kompornya siapkan. Saya juga koleksi kompor bekas.. " Senyumnya girang dibalik kumisnya yang lebat dan sama sekali tidak merangsang..

Saya menatap cangkir kopi saya. Roy juga menatapnya. Saya genggam erat2, melihat Roy begitu napsu menatapnya. "Kenapa ?" Tanya saya gemetar.

"Itu... Cangkirnya seksi juga kelihatan.."

KENAPA KARYAWAN PERTAMINA DEMO?

BUMN
Demo Pegawai Pertamina

Saya punya rumah atas nama saya. Saya pengen buka bisnis restoran diatasnya. Lalu saya bikin PT MAJU MUNDUR ENAK SEKALI. Saya pekerjakan orang2 yang menurut saya pintar untuk menjalankan restoran itu.


Lama berjalan, ternyata untungnya restoran tidak bagus. Sesudah saya audit, rupanya para manager di restoran saya malah main-main dengan uang saya. Karyawan bengkak karena KKN, yang diterima saudara2 mereka. Biaya operasional lebih besar dari pendapatan.

Apa yang harus saya lakukan?

Saya ajak kerjasama orang yang punya duit dan punya kemampuan untuk menjalankan bisnis restoran itu. Saya "jual" saham bisnis saya sebagian, tapi saya tetap mayoritas. Dia yang jadi Direkturnya dan mengawasi semua operasionalnya, karena dia juga punya saham di bisnisnya.

Apa yang terjadi? Para manager dan karyawan demo berhari-hari. Mereka tahu bahwa sebagian dari mereka akan dipecat.

Ya, gimana gak dipecat? Masuknya aja KKN. Di dalam kerjaannya memperkaya diri sendiri. Malas. Tidak kapable.

Dan benar saja, Direktur yang juga salah satu pemegang saham merampingkan perusahaan, supaya tidak gemuk dan efisien. Kalau ramping, keuntungan perusahaan akan meningkat dan restoran bisa jadi besar.

Apakah itu namanya menjual aset ??

Bukan. Rumah tetap milik saya karena atas nama saya. Sedangkan yang saya jual adalah saham di PTnya, atau bisnisnya. Saya adalah Pertamina. Dan restoran adalah unit usaha saya.

Dari penggambaran ini kita seharusnya bisa paham, apa yang sedang dilakukan Pertamina sekarang dan kenapa karyawan pada demo.. 🤗

Dan Roy Sukro termasuk yang akan dipecat. Selama dia disana, banyak panci yang hilang dibawa pulang. "Untuk koleksi.." katanya.

Seruput dulu ah..

PERTAMINA MAU DIJUAL

Pertamina
Pertamina

Benarkah aset Pertamina akan dijual?

Berita penjualan aset Pertamina ini bulak balik di timeline saya. Bahkan ada banyak yang mempertanyakan "kenapa kamu gak bicara tentang aset Pertamina yang dijual?" Seolah-olah saya tahu semua dan harus menjelaskan.

Bahasa "dijual" ini memang bahasa sensitif. Terutama ketika menuju tahun politik, dimana gorengan harus makin sip.

Kata-kata "dijual" harus diteriakkan, timbulkan ketakutan kepada masyarakat awam bahwa Pertamina mulai jual-jual aset karena keuangannya buruk. Sama seperti penjualan Indosat oleh Megawati tahun 2002.

Padahal bahasa "dijual" ini adalah bahasa luas. Apa yang dijual? Apakah sahamnya? Apakah kontraknya? Apakah produksinya? Dan banyak lagi model yang bisa memanfaatkan kata "dijual".

Sebagai contoh sederhana begini..

Kita punya 5 rumah, di beberapa lokasi strategis. Semua rumah itu produktif, ada yang kita jadikan bisnis restoran, ada yang buat bimbingan belajar dan beberapa usaha diatasnya.

Nah, kita pengen memperbesar bisnis nih, ceritanya. Tapi kita butuh tambahan modal segar. Darimana dapatnya?

Oke, kita lakukan "Aksi korporasi.."

Kebetulan kita punya teman, namanya Roy Sukro. Si Sukro ini kalau ketawa mulutnya lebar. Dia dulu ahli IT tapi sekarang sukses buka restoran, karena dulunya suka ngambilin panci.

Kita tawarin ke si Sukro. "Kro, gua jual saham usaha restoran gua. Gua butuh modal untuk ngembangin bisnis lain. Tapi saham gua di restoran tetap mayoritas ya.. Elu masukin dana kesini, pegang saham minoritas. Aset rumah tetap milik gua, karena yang gua jual usahanya, bukan rumahnya.."

Itu namanya dijual juga, kan ? Dan inilah yang dinamakan "share down". Saling berbagi untung dan berbagi rugi dalam kepemilikan usaha..

Si Roy Sukro mau. "Wah, bagus nih. Entar kalau restoran yang ini gede, gua bisa ambil panci2nya untuk koleksi di rumah.." Emang kurang ajar si Sukro, partner bisnis diembat juga.

Sukro pun masukin duit. Kita dapat modal untuk ngembangin bisnis lain diluar restoran..

Dalam perjalanan, ternyata usaha restoran sama si Sukro ini berkembang besar. Dan kita ingin usaha ini bertambah besar. Hanya karena kita juga sibuk ngurusin usaha lain, kita gak sanggup membesarkan restoran itu.

Akhirnya kita membuat keputusan. "Usaha restoran harus punya manajemen sendiri, lepas dari perusahaan induk. Dia harus berkembang sendiri, punya badan hukum sendiri, bisa minjem duit ke Bank sendiri, pokoknya semua sendiri. Perusahaan induk gak ikut campur dalam manajemennya. Yang gua tahu, hasilnya disetor ke rekening gua.."

Wah, Sukro gak akan sanggup karena selain keuangannya terbatas, kemampuan otaknya juga terbatas. Karena itu, kita berdua mencari partner yang lebih mumpuni, yang punya uang dan punya kemampuan untuk membesarkan restoran menjadi banyak restoran.

Ini dinamakan "spin off", melepas perusahaan dari perusahaan induk, supaya mereka bisa lebih fleksibel bergerak dan menguntungkan.

Namanya "dijual" juga..

Lihat kan, dari dua kasus itu kita tahu bahwa kita sama2 menjual. Tapi bukan menjual karena rugi. Kita "menjual" usaha atau produksi, untuk menambah keuntungan, supaya perusahaan kita tambah besar.

Aset rumah? Tetap milik kita dong, kan yang dijual usahanya bukan asetnya..

Itulah yang dilakukan oleh Pertamina dalam aksi korporasinya. Semua bahasanya adalah "jual" tetapi bukan jual aset, melainkan menjual sebagian usaha, untuk menambah modal dan mengembangkan Pertamina menjadi lebih besar.

Bisnis Pertamina itu banyak, maka masing-masing harus dikelola dengan benar dan dengan partner yang mumpuni juga punya modal..

Mudah-mudahan penjelasan sederhana ini bisa dimengerti, supaya jangan teriak "Jual jual" doang, tapi gak ngerti maksudnya..

"Iya kan, Kro? Kro? Lha kok ngilang? Dimana lu, Kro?" Sial, si Roy Sukro ternyata kabur sesudah ngembat cangkir kopi gua..

Kro, kro... Kelakuan..

Jumat, 20 Juli 2018

ANIES BASWEDAN, SEBUAH CATATAN KESALAHAN

Anies Baswedan
Anies Baswedan

Temanku seorang dosen. Dia ahli sekali dalam semua hal tentang ekonomi. Wawasannya luas dan ia mampu menjabarkan ekonomi dalam berbagai perspektif, dan mampu menerangkannya dalam setiap kesempatan dengan bahasa menarik.

Temanku satu lagi seorang pengusaha..

Ia sama sekali tidak paham teori ekonomi. Ia besar dan kaya karena terbiasa. Ia mengalami jatuh bangun dalam usahanya, sebelum ia melejit sesudah memahami medannya. Baginya ekonomi dipahami secara sederhana, bagaimana bisa mengembangkan perusahaannya sehingga produk2nya disukai pembelinya.

Temanku yang dosen adalah seorang akademisi dan temanku yang pengusaha adalah praktisi.

Ada perbedaan mendasar di kedua model temanku itu. Satu canggih dalam hal teori, dan satunya lagi hebat dalam prakteknya. Bayangkan apa yang terjadi jika temanku yang dosen dan yang pengusaha bertukar tempat? Tentu kacau, karena mereka punya keahlian yang berbeda..

Itulah yang ada pada Anies Baswedan sekarang..

Anies dari rekam jejaknya adalah seorang akademisi. Ia adalah seorang dosen, seorang peneliti dan mantan rektor. Ia penuh dengan teori organisasi dan strategi bagaimana sesuatu itu harus terjadi. Jangan tanya tentang buku apa yang pernah dibacanya dalam ilmunya, semua habis dilahapnya. Sebagai seorang akademisi, dia pasti mumpuni..

Tapi bagaimana jika dia diterjunkan dalam prakteknya ?? Gagal total..

Jokowi pernah kagum padanya karena semua teori dan pemikiran Anies masuk akal tentang banyak hal. Kekaguman Jokowi kemudian diwujudkannya dengan menempatkan Anies sebagai Menteri Pendidikan. Tentu Jokowi punya harapan, bahwa teori2 Anies bisa dieksekusi oleh yang punya teori..

Tetapi antara teori dan eksekusi adalah dua hal yang berbeda..

Anies bukan seorang eksekutor yang bagus. Ia punya teori yang canggih tentang bagaimana berenang yang baik sehingga orang bisa menjadi juara renang. Tapi ketika ia didorong ke dalam air, ia langsung tenggelam, karena secara praktek ia awam.

Dan ia tahu, bahwa ia tidak pandai berenang, hanya menguasai teorinya saja. Karena itulah untuk menutupi kelemahannya ia bermain kata-kata.

Jadi jika melihat konteks ini, kita bisa paham gagalnya Anies dalam memimpin Jakarta. Ia tidak mampu melihat permasalahan dan mengeksekusinya dengan segera.

Jakarta itu seperti perusahaan bukan universitas. Perusahaan membutuhkan seseorang dengan kemampuan managerial yang mumpuni. Bukan hanya mampu menggerakkan orang, tetapi yang lebih penting mampu membangun strategi dan menuntaskan permasalahan dengan solusi.

Seperti banyak kasus, Anies mencoba meyakinkan bahwa ia mampu memimpin Jakarta. Tetapi yang ia kerjakan bukan menuntaskan masalah, hanya membungkus masalah supaya jangan terlihat menjadi masalah. Padahal dalam sebuah organisasi seperti perusahaan, masalah itu harus diatasi, bukan kemudian dicari-cari bagaimana membungkusnya supaya terlihat sebagai solusi.

Beda sekali dengan Ahok. Ahok seorang manajer yang tangguh. Ia sangat detail dan solutif. Sekali melihat masalah, langsung diatasi. Karena ia mengerti, bahwa masalah itu ada akarnya dan itu yang harus diselesaikan segera..

Suruh Ahok mengajarkan teori, ia pasti gagap di depan kelas. Tapi ketika turun ke lapangan, dialah orang yang paling sigap..

Inilah kesalahan orang Jakarta dalam mengambil pimpinan tanpa melihat kompetensi. Hanya melihat bungkus tanpa memperhatikan isi. Para pemilih tidak memperhatikan rekam jejak, hanya berdasarkan rasa suka dan tidak suka..

Bagaimana jika Anies nanti memimpin negeri?

Sudah kebayang, kacaunya birokrasi. Dan kita akan menatap kesuraman sambil seruput secangkir kopi.

POLITIK DINASTI

SBY
Keluarga SBY

"Kamu tahu Jokowi pernah ditawari uang 3 triliun rupiah?"

Seorang teman yang saya tahu dia dekat secara kekeluargaan dengan Presiden bercerita. "Untuk apa ?" Tanya saya sambil menyeruput kopi di sebuah warung angkringan.

"Untuk bikin partai.." Katanya.

Saya terhenyak. Gila, pikir saya. Banyak amat. Saya sendiri yakin banyak pengusaha yang tertarik jika Jokowi membuat partai baru. Sama seperti SBY ditawari membuat partai Demokrat dulu.

Popularitas Jokowi membuatnya mudah mencapai itu. Dan pasti banyak yang bergabung karena banyak orang memilih Jokowi karena sosoknya, bukan karena ia pendukung partai tertentu.

"Tapi Jokowi menolak. Dia tidak ambisi membuat partai baru. Partai itu seperti kerajaan baginya, dan ia terpaksa harus membangun dinasti untuk mempertahankannya..." Temanku menutup ceritanya.

Saya tersenyum. Jokowi memang sangat beda dengan SBY, bahkan dalam membina keluarganya. Anak-anak Jokowi tidak dituntutnya untuk mengikuti dirinya, atau ia memaksa untuk seperti dirinya.

Jokowi memang pernah mengaku bahwa ia sedih, anaknya tidak ada yang mau mengurus perusahaan meubel yang ia rintis. Tapi cukup sampai disitu, dan ia tidak pernah memaksa mereka.

Ia bahkan mendukung anak2nya untuk mandiri, belajar bagaimana membangun dan membesarkan perusahaan sendiri. Ia tahu, anak2nya tidak ingin berada dibawah bayang2 bapaknya. Mereka ingin punya jejak sendiri dalam kehidupannya..

Situasi yang berbeda ada pada keluarga SBY..

Anak2 SBY sejak awal memang dirancang untuk membangun dinasti dalam kerajaan mereka. Mereka harus mengikuti apa kata bapak ibu mereka, suka ataupun tidak. Bahkan anak tertua, Agus Harimurti, mengikuti jejak bapaknya menjadi tentara dan rela keluar untuk membantunya mempertahankan kokohnya partai mereka.

Perbedaan hasil didikan kedua keluarga ini terlihat jelas. Gibran dan Kaesang terlihat sangat bebas dan tidak sungkan bercanda dengan orangtuanya, bahkan di depan publik.

Sedangkan anak2 SBY terlihat kaku dan sangat teratur di depan kedua orangtuanya. Apalagi jika mereka tahu, bahwa kamera sedang menyorot mereka.

Ada harga yang harus dibayar memang. Jokowi menolak sesuatu yang bagi banyak orang dianggap sebagai kesempatan besar. Ia lebih memilih hidup merdeka dengan keluarganya.

Ia bisa saja memilih jalan seperti apa yang SBY lakukan. Tapi tidak, buatnya uang dan kekuasaan bisa jadi adalah penjara. Dan ia tidak ingin terperangkap dalam tatanan yang pasti membebani hidupnya. Hari demi hari harus berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan, itu sangat menyiksa.

Jokowi tipikal orang yang percaya bahwa manusia mati tidak membawa apa2, hanya amal baik di dunia yang akan dinilai nantinya. Bukan harta dan bukan tahta. Karena semakin kaya seseorang, semakin sulit mempertanggung-jawabkan semua dihadapan yang Kuasa.

Itulah yang membuat saya makin kagum padanya. Perasaan itu membuat saya lapar dan mengambil tahu isi yang tersisa diatas meja.

"Kamu udah makan tahu isi berapa ?" Tanya temanku yang siap membayari semua.

"Tiga.." Kataku cepat. Dan terdengar teriakan hebat dari ibu warkop yang siap dengan sapunya. "Bohonggg ! Tadi kulihat makan lima ! Bicara triliunan, makan tahu lima ngaku tiga !!"

Wah, bahaya. Kuseruput kopi yang tersisa dan menghilang di kegelapan malam meninggalkan temanku yang kebingungan..

DIALOG FIKSI

SBY
Jokowi Jenguk Sby

"Cepat sembuh, ya pak.."
"Iya, makasih sudah bezuk. Bagaimana, apa anak saya bisa jadi Wapres, pak ? Kalau bisa, saya langsung sembuh.."

"Gak bisa, pak.. Maaf. Bagaimana kalau Menteri Olahraga saja ? Kan masih muda, ganteng lagi.."
"Hmm boleh juga tuh.. Tapi kawan kita satu lagi nawarin Wapres, gimana dong ?"

"Begini, pak. Jangan karena sepuluh burung di pohon, satu burung ditangan dilepaskan.."
"Yang artinya ??"
"Jangan karena janji2 kosong, tawaran yang pasti dilepaskan.."
"Wah benar juga, tuh... Nanti anak saya dipaksa sujud sukur lagi hahahahaha.. Bapak bisa juga berpantun, ya ?"

"Bisa dong. Yang dibelakang ini, kalau gak dipantuni, saya gak bisa bawa ke pelaminan.."

(Cubitan dari belakang) "Bapak ihhhhh.... awas yaaa.."

Semua tertawa. Sedangkan nun jauh disana, diatas kuda, seseorang cemberut tak terkira. "Gagal maning, gagal maninggg.. sonn."

Rabu, 18 Juli 2018

ROCKY GERUNG, PROFESOR LINGLUNG

ILC
Rocky Gerung

Gegara banyak yang membicarakan acara ILC tadi malam, saya pun membuka youtubenya.

Temanya keren tentang divestasi Freeport. "Ini pasti penjelasan teknis dengan bahasa-bahasa perjanjian yang bikin mumet kepala.." begitu pikir saya. Menarik, saya ingin mempelajarinya..

Tapi, wait, ngapain ada Rocky Gerung sebagai pembicara? Tahu apa dia tentang perjanjian divestasi? Apakah dia seorang ekonom atau praktisi? Atau paham tentang skema finance dan akuisisi?

Ternyata dia masih orang yang sama. Yang dulu pernah jadi pembicara di acara yang sama, sebagai narasumber dengan tema kriminal, politik, bahkan -mungkin- hubungan pasutri.

Saya dulu pernah bertanya pada seorang teman, "bisnis apa sekarang?" Dia menjawab dengan sungkan, "Palugada. Apa lu mau gua ada.." Yang berarti, teman saya siap mengerjakan apapun permintaan asal ada kerjaan baginya.

Rocky Gerung jadi mirip dengan teman saya itu, dalam model sebagai pembicara. Apapun temanya, dia bisa. Mau bicara tentang rumitnya pembelahan atom, dia paham. Atau tentang kompleksnya alam semesta, dia siap sedia.

Bahkan mungkin jika Dr Boyke mengundangnya untuk bicara tentang, "Bagaimana membuat wanita klimaks dengan hebat.." dia jagonya.

Semua dia bisa. Dia pintar segala hal. Bahasanya bahasa langit, yang mungkin hanya penduduk Wakanda yang paham. Dan untuk yang tidak mengerti, dia kasih stigma "Dungu". Makanya pengikutnya mengangguk-angguk saja, supaya tidak dicela, tapi sesungguhnya mereka tidak paham setititpun apa maksudnya..

Gelarnya dia Profesor, meski datangnya entah darimana. Dan ia menikmati gelar itu sebagai pengakuan terhadap kepintarannya yang membuat kagum dewa-dewa, dan dibawanya kemana-mana.

Ketika UI membantah bahwa lembaganya mengeluarkan gelar itu untuknya, UI pun dikecilkannya. Ia jauh lebih besar dari lembaga yang sudah menelurkan banyak orang pintar.

Tapi itulah Rocky Gerung. Ia menerima apa saja tema yang ditawarkan bang Karni Ilyas padanya. Karena ILC baginya adalah panggung dirinya. Sumber penghidupannya. Dari sanalah ia dikenal. Dan dari sanalah ia dapat panggilan di banyak tempat sebagai pembicara.

Ia harus tetap eksis di acara yang membesarkannya, supaya orang tetap mengingatnya dan jika bisa mengundangnya untuk sepatah dua patah kata, dimana para penonton akan terus mengangguk-angguk meski gak tahu kemana arah maksud dan tujuannya.

Dan benar saja, di acara itu "sang Profesor" bicara ngalor ngidul dengan bahasa asing yang hanya dia dan Tuhan yang tahu maksudnya. Bahkan ia merendahkan pembicara dari Inalum yang diutus perusahaannya untuk berbicara.

"Saya mau bertanya, tapi saya tidak mau dijawab.." begitu tegasnya. Apa maksudnya coba? Saya tanya pada semut merah yang berbaris di dinding dan menatapku curiga, mereka juga geleng-geleng kepala.

Dan pada akhir acara, entah kenapa saya ketawa. Keras dan lepas.

Seorang Profesor beneran muncul, Rhenald Kasali namanya. Ia tanpa tedeng aling-aling bicara tentang "kompetensi". Suatu teguran sekaligus tamparan, supaya orang bicara sesuai kapasitas ilmunya.

Rocky Gerung terhenyak, mencibir, sambil merasakan tonjokan di hatinya. Ia sudah terlalu jauh mengambil peran, hanya karena kebutuhan, ia bersedia berbicara diluar kemampuan.

Dan ILC pun senang. Mereka tidak perduli jika Rocky Gerung gamang dan canggung sekalian. Kamera menyorot wajah kaku mendadak dengan posisi closeup. Buat ILC, "Wah ini pasti jadi pembicaraan. Rating naik lagi dan iklan pasti datang berebutan.."

Rocky Gerung adalah korban dari ganasnya panggung drama. Ia merasa menunggangi, tapi ternyata ia termanfaatkan. ILC panggung yang membesarkannya, dan juga menghancurkannya dalam semalam..

Seharusnya Rocky Gerung menganut filosofi kopi. Biarkan orang berbicara tentang dirinya, tentang kenikmatannya, tentang sensasinya, dimana saja.

Kopi tidak pernah merendahkan secangkir teh, hanya karena ia merasa paling diterima. Ia ada karena ia dibutuhkan, bukan karena ia memaksakan.

Coba seruput kopinya dulu, bang Rocky.. sekedar untuk menyadarkan. Dari si Dungu yang tidak merasa kepinteran..

MAHFUD MD ATAU MOELDOKO, CAWAPRES JOKOWI ?

Mahfud MD
Cawapres Jokowi

"Siapa Cawapres Jokowi?"

Perbincangan tentang siapa calon Wapres Jokowi menjadi tema yang menarik beberapa hari. Begitu banyak isu yang beredar tentang siapa dia, mengalahkan isu "Siapa Capres lawan Jokowi ?"

Bahkan Diaz Hendropriyono yang sekarang menjadi Ketum PKPI, menampilkan logo Mc Donald di IGnya.

Publik menerka, itu bisa saja Mahfud MD atau MoelDoko, dua nama yang mengerucut belakangan ini. Setiap ketemu pendukung berat kedua tokoh ini, saya selalu diyakinkan bahwa tokoh yang mereka dukunglah yang akan menjadi Wapres Jokowi.

Dan rasa penasaran ini bukan hanya diderita para pendukung Jokowi saja. Bahkan lawan politiknya juga..

Mardani Ali "Que sera sera" dari PKS, saking frustasinya, bahkan menantang Jokowi untuk membuka siapa nama Cawapresnya. Bahkan Fadli Zon mengatakan, Gerindra menunggu dulu siapa Cawapres Jokowi sebelum mengumumkan siapa Capres dari pihaknya.

Disinilah kelihaian Jokowi dalam memainkan emosi lawan politiknya..

Jokowi tahu, bahwa lawan politiknya pasti akan menyerang kelemahan Cawapresnya. Karena sampai sekarang, mereka kelelahan menyerang kelemahan Jokowi yang malah memperkuat namanya.

Segala isu ditampilkan, tapi malah jadi serangan balik ke mereka. Bahkan tagar #GantiPresiden sudah sampai pada titik jenuh, sehingga harus dibawa ke Markobar dan piala dunia segala untuk mempertahankan popularitasnya, meski sia-sia..

Muslim Cyber Army, kelompok buzzer yang berafiliasi kepada lawan politik Jokowi, juga sedang menunggu pengumuman siapa Cawapres Jokowi. Mereka dikabarkan sudah mengantungi beberapa nama yang beredar di pasar, dan sudah membuat list kelemahan2 yang harus diserang.

Tapi ini permainan kesabaran dan ketahanan..

Saya yakin, bahwa isu Moeldoko dan Mahfud MD sebagai Cawapres sebenarnya adalah bagian dari pengalihan. Jokowi menyimpan kartu truf yang jauh dari tebakan banyak orang. Dan ini akan menimbulkan kegemparan, seperti yang pernah dijanjikan orang-orang dekatnya..

Seperti permainan catur, Jokowi menempatkan bidak-bidak untuk diserang, tapi sebenarnya mempunyai strategi lain diluar langkah-langkah itu.

"Apakah TGB, bang ?"

Ah, saya rasa jauh dari nama itu. Karena TGB punya banyak kelemahan untuk dijadikan bahan serangan terutama dengan posisinya sebagai Gubernur NTB. TGB paling jadi timses, bukan orang nomor dua.

Menariknya langkah Jokowi dalam menyembunyikan rapat-rapat siapa Cawapresnya, menunjukkan ia ahli dalam memainkan strategi emosional. Nama Cawapres akan dibuka sehari sebelum berakhir masa pendaftaran, pada tanggal 9 Agustus nanti. Dan itu malam hari lagi.

Dengan begitu, lawan akan kekurangan amunisi untuk menyerangnya dengan gencar. Selain itu, biarkan masalah Cawapres ini beredar dan menimbulkan rasa penasaran, sehingga menjadi pembicaraan dimana-mana yang akan menenggelamkan berita siapa Capres lawannya..

Semuanya hanyalah masalah waktu yang tepat saja..

Dari isu yang tidak dapat dipercaya, ada juga yang menyebut bahwa SP3 yang diberikan kepada pelari paling lama di Indonesia, sebenarnya adalah peluang untuk menjadi Cawapres Jokowi. Dan singkatan SP3 adalah "Surat Pemberitahuan Pencawapresan Panjenengan".

Tapi beliau mengartikannya berbeda sehingga tetap tidak mau pulang juga. Sayang sekali..

Ya sudahlah. Kita tunggu saja sambil minum kopi, siapa tahu ada jawaban yang tepat ketika kita menyeruputnya dengan nikmat..

Seruput..

Senin, 16 Juli 2018

WAJIB PAKE JILBAB DI SMP NEGERI

Siswi
Siswi Berjilbab

"Yang muslim wajib pake jilbab.."

Begitu kata seorang teman saat memasukkan anak perempuannya di hari pertama masuk SMP negeri di Surabaya. "Gak ditulis di surat edaran, tapi disampaikan oleh guru-guru di sekolah. Siswa wanita muslim wajib pake jilbab. Itu untuk memudahkan guru memisahkan mana yang muslim dan mana yang Kristen.."

Temanku cerita, anaknya mengeluh. Sudah di SD diwajibkan berjilbab, sekarang di SMP juga begitu. Dia bosan pake jilbab dan ingin seperti anak remaja umumnya.

Memang aneh sekolah negeri sekarang.

Saya ingat ketika saya SMP & SMA di tahun 80-90an, teman-teman yang wanita bisa bebas mengekspresikan dirinya tanpa harus terbebani dengan aksesoris yang membedakan dia dengan teman lainnya yang tidak seagama. Coba cek saja film-film remaja pada waktu itu, tidak ada siswi yang berjilbab. Dan semua baik-baik saja..

Tapi semua itu berubah setelah negara api menyerang.

Sekarang sudah ada pemisahan, mana muslim dan mana yang non muslim. Seakan agama begitu penting dalam memisahkan pergaulan antar sesama. Tanpa sadar sejak kecil anak kita dikotak-kotakkan berdasarkan apa keyakinannya. Dan keyakinan itu harus ditunjukkan berdasarkan aksesorisnya.

Dan ini terjadi di sekolah negeri. Sekolah yang berada di naungan pemerintah yang seharusnya menaungi semua warganya tanpa melihat perbedaan apapun karena hak dan kewajiban semuanya sama. Sekolah yang kepala sekolah dan guru-gurunya digaji pake uang rakyat, yang berasal dari semua agama.

Jadi untuk apa mewajibkan jilbab sebagai salah satu aksesoris wajib di sekolah negeri ? Apa jilbab berhubungan dengan prestasi ? Atau jilbab berkaitan dengan ahlak seseorang ?

Contoh yang baru saja terjadi, seorang anggota DPR RI dari komisi VII ditangkap KPK karena menerima suap sekian miliar rupiah. Dan dia berjilbab !

Pendidikan yang mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan agamanya ini, akan berlanjut ketika mereka dewasa. Nanti dari mereka ada yang membuka salon khusus muslim. Perumahan khusus muslim. Apa-apa muslim. Tapi kalau ketangkep KPK, terus menyanggah, "Jangan liat agamanya dong, itu kan oknum.."

Seharusnya pemerintah pusat, terutama Dinas Pendidikan, melihat fenomena ini sebagai sebuah ancaman besar terhadap kesatuan negara. Bahwa kewajiban pakai jilbab di sekolah negeri ini, sangat berbahaya dalam mempengaruhi pemikiran seseorang. Kita akhirnya terbiasa mengkotakkan diri, dan berkumpul hanya dengan sesama.

Harus dibuat peraturan dan harus diawasi ketat, kepala sekolah negeri yang membuat peraturan seperti ini. Bagaimana bisa membasmi terorisme, jika sejak awal pendidikan sudah disusupi ideologi, "Kami paling benar dari kalian ?"

Jangan heran, jika generasi-generasi hasil pemaksaan seperti ini akan menguasai kampus-kampus negeri dan menghasilkan pengajar, praktisi bahkan pejabat-pejabat yang sibuk dengan aksesori.

Dan permasalahan ini tidak akan bisa selesai, jika orang tua murid diam saja karena takut anaknya tidak mendapat nilai baik jika mengadukan ke publik. Harus ada class action ke pemda, pemkot bahkan pemerintah pusat bahwa aturan tanpa tertulis di sekolah negeri seperti itu wajib ditiadakan.

Kalau bisa buat kelompok "Ibu-ibu perduli negeri" yang khusus mengawasi situasi seperti ini. "Jilbab itu hak, bukan kewajiban di sekolah negeri".

Sebenarnya kita bisa melihat, bagaimana ancaman terhadap ideologi bangsa, nyata dan terjadi di halaman rumah kita sendiri. Hanya banyak dari kita yang abai dan tidak perduli..

Ah, serasa kopi pagi ini pahit sekali..

Jumat, 13 Juli 2018

FREEPORT BISA GRATIS, NGAPAIN BAYAR?

Papua
Jonan, Sri Mulyani dan Freeport

"Ngapain beli saham 51 persen?? Tunggu tahun 2021 aja, Freeport sudah 100 persen milik kita. Gratis lagi. Jokowi buang-buang uang!!".

Pagi-pagi tulisan teman saya si mantu muncul lagi. Rupanya dia fesbukan sambil sembunyi diatas genteng. Mertua lakinya nyari di bawah kesana kemari.

Memang secara kontrak, ijin Freeport akan habis di tahun 2021. Dan pemerintah Indonesia bisa tidak meneruskan ijin itu kalau mau, apalagi Freeport sering melanggar janji untuk membayar hak negara.

Dan jika pemerintah tidak meneruskan kontrak, berarti tambang tutup. Freeport hengkang dari bumi Indonesia dan 100 persen tambang jadi punya kita.

"Emangnya kite bisa garap, woi mantuu ?" Teriak si mertua yang baca status mantunya.

Dia pagi ini gemas, karena selain celana dalam istrinya dibawa lari, dompetnya juga. Padahal isi dompet tinggal ceban doang, cuman cukup buat beli kuota.

"Elu aja, mantu, gua tinggalin bengkel. Noh, peralatan ada, tempat ada, cuman elu skill kagak ada. Kerjaan elu cuman ngeceprok di bengkel sambil bayangin warisan gua. Bengkel gua tinggalin seminggu, hancur kagak ada yang mampir.

Gimane Freeport? Itu tambang bukan sembarang tambang. Peralatan mereka khusus dan mahal. Kalo kontrak gak diperpanjang, trus mereka pulang, siapa yang garap? Mau nunggu orang laen yang garap? Butuh waktu 5 tahun lagi, baru orang lain bisa ngerjain tambang itu. Lu kira gampang, kulkas bekas?".

Si mertua laki histeris. Istrinya teriak-teriak dari kamar mandi nanyain celananya. Dia gak bisa keluar, kan malu masa telanjang. Mending kalo bodi masih bagus, ini sudah awut2an..

"Itu di Freeport ada 33 ribu karyawan, tu. 90 persennya pekerja Indonesia. Trus mereka mau dipecatin gitu ?? Rusuh tuh Papua. Orang lapar lu suruh puasa. Papua rusuh, Amerika ikut maen. Mereka juga gak rela investasi mereka di Freeport sia-sia. Bisa kacau Indonesia kayak tahun '65 kalau kita mau maen keras2an kayak gitu..."

Dari kamar mandi teriakan ibu mertua makin kencang. Ditambah gedor-gedor pintu segala. Mertua laki makin histeris, soalnya pake ancaman entar malam gak dapat jatah.

"Belum lagi Freeport pasti bawa masalah ini ke pengadilan Internasional. Kita harus keluar duit lagi untuk bayar pengacara mahal. Dan sesudah tahunan berperkara, kita bisa kalah.

Iklim investasi pasti goncang. Indonesia bisa gak dipercaya investor kalau gini, kagak ada jaminan investasi aman. Rupiah pasti terpuruk karena investor tarik uang dollarnya pulang.

Elu sih senang. Kerjaan cuman ngupil doang, berharap Indonesia rusuh, trus elu demo. Pulang-pulang bawa nasi bungkus, lu bilang habis kerja.. Kerja apaann ?? Cuman tereak2 doang modal gamis ma sorban. Itu juga mukenah istri gua lu pake ke jalan.."

Tiba-tiba terdengar suara genting pecah. Rupanya atap rumah gak tahan menahan bobot temanku si mantu yang naudzubillah. "Brakkkkk!!!" Si mantu terjun bebas ke bawah.

Entah Tuhan punya rencana, si mantu jatuh tepat di kamar mandi dimana emak mertua sedang gak pakaian. Makin menjerit si emak liat mantu jelek melongo kebingungan, dikira dia sekarang sudah di surga bersama bidadari di kayangan. Tapi bidadari kok kisut gitu, pikirnya.

Gemparlah satu kelurahan. Tidak lama ada yang mem-videokan dan menyebarkan di fesbuk dengan caption, "Viral! Seorang menantu pengangguran hendak memperkosa ibu mertua disaat suaminya tidak ada!!". Komen-komenpun berhamburan, "Astaghfirullah, menantu kurang ajar!! Semoga mendapat hidayah!!".

Bahkan ada komen, "Menantu itu pasti Syiah! Syiah bukan Islam!!" Apa hubungannya coba?

Ah, ada ada saja. Mending kuseruput kopi dulu sambil menikmati hidup yang sederhana..

HUTANG UNTUK BELI FREEPORT

Inalum
Tanda Tangan Freeport-Indonesia

"Hutang lagi. Hutang lagi. Beli Freeport aja pake hutang. Yang dibanggain apanya?? Hutang makin bengkak. Indonesia bisa bangkrut !!"

Tulis seorang teman di dinding facebooknya. Hari-harinya memang begitu, penuh dengan kenyinyiran yang sempurna.

Saya tersenyum bacanya. Baginya Jokowi sama sekali gada baiknya. Sama seperti ia melihat mertuanya yang menuntut ia untuk cari kerja, jangan hanya nongkrong di rumah saja.

Ingin saya menjelaskan. Tapi mana dia mau ngerti?? Wong namanya sudah benci. Ah, tapi siapa tau mertuanya baca. Mertuanya membela saya. Bukan karena suka, tapi karena ia lebih benci pada menantunya.

Gini saya jelasin kepada bapak mertua..

Yang mengambil 51 persen saham Freeport adalah PT Inalum, perusahaan pelat merah. Sebenarnya Inalum tidak sendiri, tetapi dia adalah pemimpin dari 3 perusahaan BUMN khusus untuk pertambangan. Mereka menamakan gabungan ini sebagai holding.

Nah, dana dari gabungan perusahaan ini dikumpulkan ada sekitar 88 triliun rupiah. Besar sekali. Dan khusus untuk pengambil alihan saham Freeport, Inalum grup menyediakan dana sebesar 21 triliun rupiah.

"Berapa sih dana untuk mengambil 51 persen saham Freeport ?"

Dari hitung-hitungan, total dana yang harus disiapkan sekitar 54 triliun rupiah.

Wah, berarti Inalum grup kurang 33 triliun rupiah lagi dong? Darimana dana sisanya?

"Pasti pake hutang!" Suara mertua temanku terdengar keras sambil melirik menantunya yang pura-pura sibuk cuci celana. Saking gagapnya, temanku malah mencuci celana dalam ibu mertuanya. Pantas, suaminya marah..

Ya pak mertua, betul. Inalum grup akhirnya hutang. Lebih tepatnya, ditawarin hutang.

"Lha, siapa memangnya yang jaman segini nawarin hutang?? 33 triliun lagi. Kan gede tuh?? Segede biji menantu gua.." Kata mertua sinis, sambil nyindir2 menantunya.

Ada. 11 bank siap memberikan hutang kepada Inalum grup sebesar 33 triliun rupiah. Nah, Inalum tinggal milih tuh, bank mana saja yang bisa memberikan bunga paling rendah. Kan enak..

"Kok bisa? Gimana bayarnya??"

Inilah yang orang banyak tidak tahu. Direktur Freeport McMoran sendiri mengatakan, bahwa dengan kepastian investasi dan operasi sampai tahun 2041, Indonesia bisa mendapatkan untung lebih dari 860 triliun rupiah..

Woww, 860 triliun ??

Dari tahun 2018 ke tahun 2041, ada waktu 23 tahun.

Jadi, kalau 860 triliun dibagi 23 tahun, maka setiap tahunnya Indonesia bisa untung hampir sekitar 35 triliun rupiah.

Jika bisa untung segitu, berarti hutang 33 triliun ke bank gak ada artinya. Ibaratnya, setahun aja selesai tuh hutang. Sisa 22 tahun, tinggal untungnya doang. Pendapatan Indonesia jadi besar. Bisa buat bayar apa saja dan sejahterakan rakyatnya..

"Pantas bank-bank ngiler untuk ngutangin. Soalnya mereka tahu, kalau pendapatan di Freeport besar.. " Akhirnya si mertua mengerti dengan penjelasan ala anak SMP ini. Semakin mengerti, semakin benci dia sama menantunya.

Akhirnya gak tahan, si mertua laki mengangkat sarungnya. Dia berjalan mendekati menantunya yang semakin gagap dengan mencuci beha ibu mertuanya.

"Oi mantu!" Tereak si mertua. "Dengerin tuh penjelasannya. Jangan cuman tereak-tereak hutang hutang aja. Hutang gak papa. Asal bisa bayar.."

Dan mulailah pengadilan terjadi di rumah itu. "Emangnya elu, mantu. Hutang ke gua kagak pernah bayar. Penghasilan aja kagak ada. Kuota minta ma anak gua. Kerjaan nyinyir ke pemerintah. Titel doang sarjana. Ngapain kek elu. Jual jual diri gitu. Kan lumayan meski tampang lu murah..."

Temanku makin gugup. Dia langsung lari sambil membawa celana dalam ibu mertuanya.

"Hei kampret. Lu bawa lari kemana celana istri gua?? Mau lu guna-guna??" Mereka tampak kejar-kejaran sepanjang gang rumah.

Saya tersenyum sambil seruput secangkir kopi. Hidup ini memang indah..

MEDAN PERTARUNGAN FREEPORT

Inalum
Penandatanganan

Tanpa keributan berarti, mayoritas saham Freeport sudah berhasil kita kuasai. "Saya telah mendapatkan laporan bahwa holding industri pertambangan kita, PT Inalum, telah mencapai kesepakatan awal dengan Freeport pengolahan untuk meningkatkan kepemilikan kita menjadi 51 persen dari yang sebelumnya 9,36 persen. Alhamdulillah," begitu kata Jokowi seperti dimuat di media-media.

Jokowi patut bersyukur.

3,5 tahun waktu diperlukan untuk negosiasi mendapatkan Freeport kembali. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Freeport Mc Moran sebagai pemegang saham terbesar di Freeport tentu tidak mau menyerahkan tambang itu kepada Indonesia begitu saja. Mereka menebarkan banyak ancaman melalui pengamat-pengamat yang dibayar bahwa Indonesia bisa rusuh jika merebut miliknya.

Belum lagi pesimisme yang ditebar bahwa tambang Freeport sudah tidak ada lagi emasnya sehingga Indonesia rugi jika mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk membeli saham mayoritas.

Freeport bahkan melakukan pemecatan kepada 3000 karyawannya sebagai bagian dari gertakan itu, berharap ada imbas kepada pemerintah pusat supaya berfikir ulang untuk merebut tambangnya.

Tapi yang tidak dihitung oleh Freeport adalah bahwa tambang itu sudah menjadi sebuah simbol. Simbol kedaulatan Indonesia di tanahnya sendiri. Inilah yang membuat Jokowi bersikeras untuk "merebutnya", tentu dengan melalui negosiasi diatas meja.

Panglima terbaikpun disiapkan. Mulai Ignasius Jonan dipanggil kembali menjadi Menteri, sampai Sri Mulyani turun tangan.

Dan berhasil. Freeport mengalah untuk menjual sahamnya sebesar 51 persen. Kepemilikan mayoritas ini menandakan Indonesia berkuasa atas segala keputusan didalamnya.

Siapapun tahu, tidak mudah mengambil alih Freeport. Kontrak-kontrak sejak lama dikunci supaya Indonesia tidak bisa memiliki. Lobi-lobi politik dan uang bertebaran untuk menghalangi niat pemerintah dalam gerakannya.

Tapi Jokowi membuktikan bahwa dialah macan Asia sebenarnya. Tanpa perlu menepuk dada, ia dengan halus berhasil membuat nama Indonesia harum kembali dimata Internasional.

Penanda-tanganan kesepakatan antara PT Inalum sebagai wakil pemerintah dan Freeport, adalah sebuah sejarah yang harus dicatat oleh generasi muda. Bahwa ada orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri dan berjuang demi bangsa. Mereka bisa saja kaya raya jika mau disuap, tapi mereka tahu bahwa tinta hitam suatu saat akan mencoreng mereka jika melakukan itu.

Indonesia adalah bangsa yang besar jika diisi orang-orang seperti ini.

Angkat secangkir kopi untuk para macan asia ini.

Rabu, 11 Juli 2018

ABU JIBRIL & TERORISME

Al Qaeda
Anak Abu Jibril

Sepak terjang Abu Jibril dalam radikalisme dan terorisme sudah sangat lama..

Nama aslinya Fihiruddin Muqti. Dia asli Lombok. Dan ilmu agamanya dia dapat dari Abdullah Sungkar, pengelola pesantren Ngruki Solo.

Bersama Abu Bakar Baasyir, mereka ingin membangkitkan kembali gerakan DI/TII. Dan tahun 1985 mereka kabur ke Malaysia, kemudian tertangkap. Di Malaysia mereka mengubah nama gerakan mereka menjadi Jamaah Islamiyah. Gerakan ini mengirim banyak pengikut mereka untuk ikut perang di Afghanistan.

Anak Abu Jibril sendiri -Muhammad Jibriel bin Abdulrahman- dikirim ke Pakistan dan bergabung bersama Osama bin Laden. Dia pernah ditahan tiga tahun karena tuduhan terorisme.

Di Indonesia Muhammad Jibril mendirikan situs arrahmah.com, situs radikal yang isinya memecah belah bangsa. Salah satu anak abu Jibril sendiri, mati di Suriah tahun 2015, bergabung dengan kelompok teroris al-Qaeda.

Dengan semua "prestasi" itu, bisa dilihat apa visi abu Jibril terhadap Indonesia dan Pancasila. Dan sekarang ia bergabung dengan gerakan lawan politik Jokowi untuk menumbangkannya karena visi Jokowi terhadap Indonesia sangat berseberangan dengannya.

Inilah yang harus kita lawan. Radikalisme dan terorisme, yang bermutasi menjadi dukungan politik untuk melebarkan sayapnya. Jika mereka menang nanti, tumbuh suburlah apa yang mereka semai sekarang ini.

Membela Jokowi bukan hanya membela sosok, tetapi membela simbol perlawanan terhadap intoleransi, radikalisme dan terorisme yang ingin mencari jalan supaya hidup di negeri ini..

Jangan sampai Indonesia nanti seperti Suriah, jika mereka berkuasa disini. Angkat secangkir kopi.