Jumat, 23 Februari 2018

IBLIS TIDAK BERSALAH

Setan
Iblis
"Iblis itu tidak punya peran terhadap maksiat manusia.."

Temanku menulis di statusnya sore ini.

Wah, judul yang menarik disaat banyak pandangan yang menyalahkan semua kejahatan pada iblis. Iblis adalah tersangka utama dalam setiap masalah.

"Iblis tidak berperan ketika manusia ingin mabuk, ketika manusia ingin berzinah, mencuri, korupsi dan sebagainya. Itu sama sekali bukan peran iblis menggoda. Itu adalah nafsu manusia sendiri, sifat kebinatangan dalam dirinya yang menguasai.

Jadi jangan pernah salahkan iblis lagi ketika kita terjatuh dalam maksiat yang kita lakukan sendiri.."

Kuseruput kopiku pagi ini. Rasanya aku setuju, tapi ada sesuatu yang kurang kayaknya.

"Lalu dimana peran iblis terhadap manusia ?" Aku menulis komen di statusnya.

Agak lama aku menunggu, dua seruputan waktuku.

"Ketika manusia merasa ia sudah beriman.." Jawab temanku.

"Iblis pernah menjadi mahluk yang sangat kuat ibadahnya. Saking kuatnya, ia disamakan dengan malaikat oleh kaumnya. Inilah yang menyebabkan ia dikutuk, karena kesombongan dalam ibadahnya.."

Kuseruput bagian akhir kopiku, sambil melihat jawaban terakhir temanku..

"Dan ketika manusia merasa ia sudah beriman, iblis cemburu. Karena hanya ialah mahluk yang paling beriman kepada Tuhan di muka bumi ini..

Barulah iblis datang dan melakukan pekerjaannya.."

Kamis, 22 Februari 2018

HABIB YANG TERIRIS HATINYA

HRS
Pulang Kampung

"Terus terang saya ingin pulang karena hati ini amat sakit dan teriris tatkala saksikan bahwa sejak saya hijrah situasi negeri semakin kacau balau.."

Subhanallah, mulia sekali hati yang mulia Rizieq Syihab ketika menyampaikan alasan ketidak-pulangannya itu. Meski ia berada dikejauhan, ia masih memperhatikan betapa kacau balaunya negeri ini ketika ia sefang hijrah.

Memang Indonesia ini kacau balau sejak ditinggal hijrah sang Singa. Pembangunan infrastruktur dimana-mana menunjukkan ada orang yang ingin merusak Indonesia yang dulu masih alam asri dan jalanan yang becek dan basah.

Di Papua, di Sumatera, Kalimantan yang dulu perjalanan butuh berhari2 sampai ditujuan, sekarang rusak dan kacau karena ditempuh hanya beberapa jam.

Semakin rusak dan kacau ketika Papua sudah mulai menerapkan BBM satu harga. Ah, harga sudah tidak bisa dipermainkan lagi dong nantinya. Kacau, kacau...

IHSG meroket mencetak sejarah, menambah kekacauan negeri ini. OTT KPK dimana-mana, membuat korupsi jadi tidak bisa lagi tampak Islami.

Semakin rusak dan kacau negeri ini ketika perbatasan dipercantik dan banyak yang ingin menghutangi Indonesia karena mereka sekarang sudah percaya bahwa Indonesia ke depan akan semakin digdaya.

Tidak ada lagi antrean di pom karena harga bensin stabil. Listrik mulai menyala dimana2 di daerah yang dulu terlupa. Duh hancur sekali negeri ini sejak Imam besar hijrah.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia semakin terukur, dan ini menambah kekacauan karena kan seharusnya keadilan untuk golongan mayoritas saja. Daerah2 berlomba meningkatkan investasi asing yang masuk karena ekonomi mulai menggeliat.

Yang bikin lebih kacau balau, ini semua terjadi hanya dalam waktu 3 tahun saja. Gimana coba dalam waktu 10 tahun ? Tentu berantakan semua..

Bachtiar Nasir berkata, "Rizieq tidak mau pulang karena akan menambah Indonesia semakin kacau.."

Teriris hati ini melihat pengorbanan dari seseorang yang jasanya sangat besar untuk negeri ini. Ia yang dulu berperang melawan Belanda, yang mempersatukan rakyat Indonesia dari semua suku, ras dan agama, harus terasing di negeri orang lain.

Tidak usah pulang, bib. Tidak usah. Kami tidak ingin engkau terluka. Nikmati saja masa tuamu disana, tempat dimana engkau menikmati semua. Di Indonesia kacau balau dan menderita.

Habib tidak akan kuat tinggal disini. Biar kami saja..

Jangan pulang, bib. Selamanya. Engkau tidak akan pernah kami lupakan. Percayalah.

Semoga disana ada secangkir kopi, dengan singkong goreng tipis2 dan tahu isi yang terhidang panas menggugah selera.

Apa ? Disana gada seperti itu ? Mamp.. eh maksudku, sungguh malangnya. Nanti akan ada yang kirimkan, tenang2 saja disana..

Seruput dulu gahwanya bib, jangan pake sedotan ah, kurang jantan..

Rabu, 21 Februari 2018

UMAT BUIH DI LAUTAN

Umat
Buih dilautan

Saya tuh kasian lihat umatnya RS..

Mau aja digoblokin bosnya dengan janji pulang yang tidak pernah terbukti. Alasannya macam2, yang shalat istikharahlah, yang keamanan tidak terjaminlah..

Umat RS ini seperti buih di lautan. Bergerombol tanpa ada tujuan jelas. Seperti layang2 putus yang dibawa kemana angin berhembus. Seperti anak ayam kehilangan induk.

Mereka bahkan sudah tidak mampu berpikir dengan akal, bahwa orang yang sudah melanggar janjinya beberapa kali sudah tidak layak dipercaya lagi. Seorang pemimpin itu memegang lidahnya, menggenggam janjinya.

Kalau bilang pulang, ya pulang, apapun resikonya. Kalau takut, mending netek lagi aja..

Julukannya sih boleh, "Singa Allah". Kalau singa itu mengaum meski musuh didepan mata. Bukan menggonggong dari kejauhan tapi terkaing ketakutan sambil menyembunyikan ekornya.

Masak kalah oleh Ahok "si kafir" yang dengan gagahnya berada dipersidangan dan menerima hukuman - yang meski tidak adil baginya - dengan kepala tegak dan mata menyala ?

Ahok itulah singa sebenarnya. Tidak pake alasan rupa2 dan tidak berlindung di balik nama Tuhan sambil menistanya. Ia lelaki, bukan banci yang suaranya keras tapi gada nyali..

Memalukan nama Islam saja, membawa2 kesucian agama dengan kepengecutan luar biasa. Tidak sedikitpun tampak gagah. Semakin ditelanjangi saja bagaimana sifat sebenarnya.

Kalau saya - ini kalau saya lho ya - mending cari Imam baru lagi aja.. Yang gagah berani, yang menjadi tauladan, yang diam tapi berwibawa. Masak Imam kok mau pulang pake terkencing segala ?

Malu kali bah!

PULANG MALU, GAK PULANG RINDU

Habib Rizieq Shihab
Pulang Malu, Gak Pulang Rindu

Saya dengar kemaren malam suasana di sekitar bandara Soekarno Hatta rame..

Menuju kesana macet total. Di dalam bandara banyak yang berpakaian gamis. Ada 3500 polisi yang dikerahkan. Semua itu karena isu bahwa RS pulang.

Saya heran, ngapain kepolisian mengerahkan aparat sebanyak itu hanya karena isu ? Masak intel polisi tidak bisa tahu RS pulang atau tidak ?

Masak harus saya ajarkan bahwa RS itu sebenarnya cuman cari perhatian. Gembar gembor dia pulang itu hanya supaya orang kembali ingat sosoknya yang pelan2 sudah terlupakan.

Bagi kelompoknya, sosok RS ini diperlukan untuk tetap ada supaya mereka bisa menjalankan agenda2 mereka. Apalagi belum ada sosok yang benar2 bisa menggantikan.

Mereka sudah coba banyak ustad untuk mereka naikkan, tapi belum ada yang menyamai RS. Karena itu sosoknya harus dijaga dengan memunculkan kabar bahwa dia akan pulang.

Kabar itu juga bagian dari test the water, bagaimana reaksi publik. Dia mah gak akan pulang beneran, karena siapa yang mau kesuciannya ditelanjangi di depan publik ?

Apalagi kalau gambar2 gak senonoh yang dulu beredar di internet muncul kembali di permukaan ? Belum lagi kalau ada gambar yang lebih parah yang masih disimpan sebagai "bom" di pengadilan disebarkan.. ( ihirrrrr )

Cara terbaik untuk "menghilangkan" sosok RS dalam peta perpolitikan Indonesia adalah lupakan dia. Anggap tidak penting dan masanya sudah usai. Kalau pas dia pulang, tangkap aja di imigrasi, apa susahnya ?

Kriminal jangan diistimewakan. Jadikan pesakitan..

Salah satu kelemahan aparat kepolisian adalah masih bernegosiasi dengan hal-hal seperti ini padahal punya kemampuan "membunuh" karakter seseorang dengan kemampuan yang ada.

Biarkan sosoknya di kejauhan sana, tapi habisi karakternya dengan membuka fakta otentik siapa dia dan apa yang pernah dia lakukan. Sebarkan. Niscaya, dia mingkem kalau diadili secara sosial..

Situasi ini malah menurunkan kewibawaan polisi sampai ke dasar. Pantas saja, anak2 buah RS teriak2 di podium, "Kalau polisi menangkap Imam besar, kita akan lawan !!" Ini adalah akibat dari sebuah sebab, karena dibiarkan maka reaksinya adalah pelecehan..

RS mau pulang atau tidak, sudah seharusnya jangan lagi dijadikan urusan besar. Biarkan hasrat itu tertulis di bak2 truk "Pulang malu, gak pulang rindu".

Semoga aparat kita lebih matang dalam bertindak. Jangan mau diseret2 dalam pusaran mereka. Kentuti saja, beres perkara..

Ahhh.. jadi pengen minum kopi kalo ginii..

Selasa, 20 Februari 2018

PENAK ZAMANKU

Partai Komunis Indonesia
Demo

"Bang, kenapa sekarang banyak orang gila menyerang ulama ?"

Ini salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang masuk ke saya. Pertanyaan yang sebenarnya sama di benak banyak orang, bahkan juga - saya yakin - ada di pihak Kepolisian.

Yang perlu ditegaskan, bahwa serangan terhadap ustad oleh "orang gila" hanya ada beberapa kejadian saja. Kebanyakan berita yang ada adalah kesalah-pahaman atau pelintiran berita.

Sebagai contoh, di Jakarta seorang ustad menegur anak jalanan dan dia dikeroyok, lalu keluarlah framing berita "orang gila menyerang ulama".

Daripada sibuk dengan teori konspirasi, saya lebih baik memikirkan dampak pemberitaannya..

Framing bahwa "orang gila" itu adalah PKI yang sedang menyerang ulama inilah yang sebenarnya berbahaya. Ada pihak yang sedang menata bangunan dalam pikiran banyak orang - terutama di daerah2 - bahwa "situasi tidak aman".

Bahayanya dari "perasaan tidak aman" ini adalah tindakan main hakim sendiri.

Tahun 1997 saat ada pembunuhan para ulama di Banyuwangi oleh 'ninja", yang terjadi rakyat akhirnya main hakim sendiri. Banyak korban yang tidak bersalah dihakimi sampai mati oleh rakyat yang takut dan marah, hanya karena mereka kebetulan mampir di lingkungan dan dianggap mencurigakan.

Dan peristiwa 1997 di Jawa Timur itu, mengawali kerusuhan besar di tahun 1998..

Kalau bicara pola dari apa yang pernah terjadi sebelumnya, bisa dibilang apa yang terjadi dengan orang gila vs ulama ini sebenarnya adalah pembukaan..

Ada pihak yang sedang menata keributan besar di depan terutama berkaitan dengan momen pilkada yang akan merembet ke pilpres 2019..

Kemungkinan besar, sesudah perasaan takut dan was2 meliputi perasaan banyak orang, akan ada insiden2 kecil di desa2. Insiden2 kecil ini akan menambah ketakutan dan diharapkan menimbulkan riak yang lebih besar..

Kenapa framingnya adalah PKI vs Ulama ?

Karena kita pernah punya akar konflik yang dalam terhadap kejadian itu. Dan sesudah tahun kemaren isu bangkitnya PKI teredam dengan elegan, ada yang masih memainkan isu dengan lebih kasar. Dan ini tentu berasal dari tangan2 orang yang memahami permainan intelijen..

Isu PKI ini sebaiknya jangan dilawan. Karena ketika dilawan, ia malah menemukan peluang untuk makin membesar..

Ikuti saja alur pemikiran pembuat isu, bahwa PKI itu benar2 ada. Dengan alasan itu aktifkan kembali ronda2 dipimpin oleh aparat setempat.

Positifnya, ronda2 ini akan mempererat silaturahmi antar warga sehingga mereka menjadi semakin dekat dan mengenal. Kita tidak hanya menjaga wilayah kita dari PKI, tapi juga dari gangguan keamanan lainnya seperti pencurian.

Di luar ronda itu, pihak Cyber Crime lebih aktif melumpuhkan akun2 yang biasanya menyebar hoax adanya PKI. Silent operation saja, tidak perlu diumumkan. Tumbangkan mereka tanpa perlu pemberitahuan..

Jika bisa, persis seperti waktu Jokowi ikut nonton film G30 SPKI, ia juga bersama pejabat negara ikut ronda dalam kegembiraan. Hilangkan ketakutan dengan bikin perlombaan ronda sehingga acara menjaga keamanan menjadi tidak tegang dan malah menjadi pesta yang meriah.

Kita harus pintar berselancar dengan isu2 tersebut dan memanfaatkannya menjadi keuntungan. Kalau didiamkan saja, maka yang berbahaya adalah terbentuknya persepsi di masyarakata bahwa negeri ini sedang dalam kondisi tidak aman.

Sudah saatnya memainkan konsep SILATURAHMI sebagai senjata utama melawan potensi perpecahan. Silaturahmi adalah mata rantai yang hilang di negeri ini sesudah kita terpecah menjadi dua kekuatan besar..

Jika kita berhasil, maka isu PKI tidak akan meluas dan rasa aman akan kembali hadir di tengah masyarakat.

Inilah ilmu taichi, salah satu gerak menyeimbangkan diri dengan alam. Alam jangan dilawan, bergeraklah seiring ritmenya sambil tetap pegang kendalinya..

"Jadi siapa bang kira2 yang memainkan isu PKI ini ?"

Saya tersenyum sambil menyeruput secangkir kopi. "Ya mereka yang memainkan framing lebih penak zamanku disaat rasa aman itu begitu besar. Dengan senjata rasa aman itu, mereka menggarong harta rakyat diam2 dan besar2an.."

Seruput...

HENDROPRIYONO & PKPI

PKPI
Hendropriyono
Saya pernah duduk bersama AM Hendropriyono suatu hari..

Diluar dari namanya yang "menyeramkan" karena banyak yang mengaitkannya dengan sekian banyak kejadian seperti kasus TalangSari di Lampung Tengah tahun 1989 sampai kasus terbunuhnya aktifis Munir, Hendropriyono sebenarnya sosok yang hangat ketika berdiskusi..

"Kalau ada yang terbunuh aja, gua mulu disangkutin.." gerutunya dengan logat betawi yang kental. Saya sulit menahan ketawa kalau ngobrol dengan bapak satu ini, karena gayanya ceplas ceplos dan spontan.

Dan saya tidak tahan untuk tidak bertanya padanya satu hal, "Ngapain sih maenan partai segala pak ? Itukan mahal.."

Hendropriyono adalah seorang Jenderal, seorang Profesor dibidang intelijen, dosen dan pengusaha besar. Gelar akademisnya panjang mulai SE, SH sampai Drs dan Profesor. Gelar Haji juga ada.

Dengan semua yang dia punya, sebenarnya hidupnya sudah sangat cukup, apalagi usia beliau sudah 72 tahun. Meski harus saya akui, kalau masalah kekarnya body saya merasa terintimidasi..

"Partai itu bukan maenan.." cetus beliau. "Partai itu kendaraan untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Kalau gak ada kendaraannya, bagaimana bisa ikut menjaga negeri ?"

AM Hendropriyono adalah ketua umum PKPI, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Disebut2 PKPI dulu ini adalah pecahan Golkar karena Golkar pada tahun 1998 dianggap tidak sejalan dengan reformasi waktu itu.

PKPI sendiri - sayangnya - dikabarkan tidak lolos dari verifikasi KPU bersama PBB, partai Yusril Ihza Mahendra. "Belum lolos.." kata salah satu King Maker dalam pemerintahan Jokowi ini dengan optimisme tinggi, "bukan tidak.."

Dan bersama PBB, PKPI pun kemudian menggugat KPU. Agak mengherankan memang jika PBB dan PKPI tidak lolos, tapi partai baru seperti partai Garuda - yang tidak pernah terdengar namanya - bisa lolos dan ikut pemilu.

Hendropriyono memang magnet PKPI sampai saat ini. Tanpa kekeras-kepalaannya, PKPI sudah dari kemaren2 hilang dari peredaran. Hal saya pernah saya khawatirkan dan saya lontarkan padanya, "Kalau bapak gak ada nanti, entah bagaimana nasib PKPI.." Dan dia biasanya senyum kalau saya lontarkan pernyataan itu.

Tidak lolosnya PKPI ditanggapi Sutiyoso - mantan Ketua Umum - bahwa ini karena ada dualisme di tubuh partai. Hal yang dibantah PKPI, bahwa sudah tidak ada masalah dualisme di tubuh partai dan masalah belum lolosnya PKPI karena belum sinkronnya penafsiran antara partai dan KPU masalah sistem informasi.

Saya sendiri berharap PKPI bisa lolos dalam pemilu ini. Karena dengan bertambahnya gerbong partai baru di pihak oposisi - partai Berkarya dan partai Garuda - perlu ada partai baru seperti PKPI dan PSI yang sejak awal mendukung pemerintahan Jokowi.

Meskipun politik kita sudah mengarah ke sosok sebagai penentu bukan lagi partai, tetapi peran partai tetap besar untuk mensukseskan jalan sosok yang potensial.

Partai itu maenan mahal, memang itu kenyataan. Membangun basis2 di seluruh Indonesia itu butuh materi yang sangat besar, yang orang seperti saya tidak akan sanggup menyebutkan angkanya.

"Berapa sih pak angka membesarkan PKPI ?" Tanya saya nakal. Hendropriyono tersenyum lebar khas seorang yang terbuka dan misterius sekalian. Gerak matanya seakan menjawab, "Kalau gua buka angkanya, elu bisa mati berdiri.."

Ah, menarik memang perjalanan hidup ini.

Saya sendiri tidak menyangka bahwa salah satu orang yang saya temui dalam perjalanan kali ini adalah sosok besar yang dulu bahkan tidak pernah terbayang akan duduk bersama sambil minum kopi...

Selamat berjuang, pak... Seruputt..

Senin, 19 Februari 2018

AKHIRNYA AKU BERHENTI MEROKOK

Berhenti Merokok
Rokok

Merokok itu sudah kulakukan sejak SMP..

Waktu itu sih masih gagah2an karena kegiatan lelaki pada masa itu hanya ada tiga, "musik cadas, enny arrow dan sebatang rokok".

Lama-lama merokok menjadi kebutuhan. Apalagi aku seorang pemikir, apa-apa dipikir. Seorang pemikir biasanya akrab berteman dengan sepi. Jadilah rokok dan kopi teman setia bersamaku ketika benak selalu bertanya2, "ini apa ? ini bagaimana ?"

Hingga akhirnya jatuhlah vonis supaya "Stop smoking or you will die !" ( Bagus nih kalo dijadiin judul.lagu )

Vonis itu datang dari doktet yang memeriksa sumbatan di jantungku yang akhirnya dipasanglah 3 ring untuk membuka kembali sumbatan itu.

Rokok menjadi tersangka utama dalam.kasus ini meskipun selama puluhan tahun aku adalah penyuka masakan padang bersantan dan es teh manis.

Akhirnya aku tekadkan untuk berhenti merokok, mulai hari ini. "Harus kucoba, atau tidak selamanya !!" Begitu aku berteriak kencang di tengah pasar ketika orang sedang sibuk belanja. Mereka menatapku heran sambil bergumam, "orang gila.. orang gila.. jangan2 PKI nyamar mau nyerang ulama.."

Aku pun melepas kemejaku, kuganti dengan tshirt "you can see my ketek" dan celana training merah muda yang sempit sehingga menonjolkan rudal balistik modern yang dilengkapi teknologi pencari panas.. Hot hot melotot.

Aku pun berlari sejauh yang aku mampu. Dengan tenaga tersisa hasil paru2 terkena polusi dari cerobong pabrik yang tidak pernah berhenti.

Hingga saat aku berhenti.
Dan aku merokok..

Aku berhenti. Aku merokok.
Aku berhenti merokok.

Mudah sekali berhenti merokok ternyata, tidak seperti yang kutakutkan..

Heran, kenapa ada orang yang begitu susah berhenti merokok ?

Apa enaknya merokok sambil berlari ?

Ah, saatnya aku mencari secangkir kopi..

KARENA PLANNING IS

Jokowi
Jokowi Serahkan Piala Presiden ke Persija

Hla, saya dimarahin banyak orang ketika menulis "blunder di piala Presiden".

Dengan segala argumennya mereka seakan-akan menafikan ada "kesalahan besar" dalam strategi politik yang dimainkan dalam piala Presiden.

Turnamen sepakbola sekelas piala Presiden memang momentum yang bagus untuk menambah poin Jokowi menuju pilpres 2019, sesudah prestasi-prestasinya selama ini dalam pembangunan infrastruktur yang terbesar dalam sejarah Indonesia.

Tapi yang perlu diingat, pihak lawan juga sedang mengintip untuk mencari celah bagaimana memanfaatkan situasi utk keuntungan mereka. Dan mereka mendapat poin itu di piala Presiden kemaren.

Meskipun mau berbusa-busa membela Jokowi, harus mau mengakui bahwa insiden kemaren itu dimanfaatkan betul untuk menaikkan pamor salah satu kandidat mereka. Dan media sosial penuh sorak sorai yang menaikkan semangat "the kampretos" sesudah kemaren down dihajar banjir seantero Jakarta.

Dalam banyak survey, nama Jokowi masih mendominasi sebagai pemenang pilpres 2019. Ini yang harus dijaga, jangan malah dirusak hanya karena ingin membela Jokowi mati-matian.

Salah satu cara menjaga nama Jokowi adalah dengan banyak merangkul kandidat-kandidat politik lawan Jokowi nanti. Ini permainan elegan, dengan begitu Jokowi akan terlihat sebagai politikus yang terhormat dan menghargai pihak lawan.

Lawan pun tidak bisa memainkan serangan memanfaatkan blunder karena mereka sudah kalah pamor duluan.

Ingat cara Jokowi mengundang Prabowo dan SBY ke istana misalnya? Ini strategi yang sangat brilian karena bukannya menaikkan pamor Prabowo dan SBY, tetapi nama Jokowi yang berkibar.

Karena itu salah besar ketika Anies malah dilarang mendampingi Presiden. Seandainya saya tim Jokowi, saya akan minta Presiden menyuruh Anies menyerahkan piala kepada Persija. Dengam begitu, Jokowi akan terlihat tambah elegan karena sangat "rendah hati" di mata masyarakat banyak dan pujian-pujian akan diarahkan kepadanya.

Sasaran strategi itu tentu bukan untuk die harder Jokowi yang sudah pasti memilihnya nanti, tapi untuk swing voters yang masih ragu terhadap Presidennya sendiri.

Ibarat maen sepakbola nih, Jokowi sebenarnya dah menang karena skor. Karena itu banyak-banyak aja mainin bola dan buang, bukan menyerang yang nantinya jadi serangan balik mematikan.

Siapapun tahu saya pendukung Jokowi, tapi saya tidak buta untuk melihat bagaimana strategi politik dimainkan lawan untuk merebut posisi pertama.

Pakde lebih baik membangun tim strategi yang matang dalam satu komando, supaya tidak ada langkah sporadis yang blunder kayak kemaren.

Mainkan Jokowi yang misterius dalam "menghantam" lawan. Jangan main "pukul" lawan di publik, tapi bawa ke tempat sepi, dan tikam dalam-dalam..

Sambil seruput kopi, saya ingin mengingatkan satu hal penting. Jangan lupakan planning dalam strategi, karena di dalam planning itu ada rencana.. Planning is rencana..

Pahamkan itu, sariawan...

Minggu, 18 Februari 2018

BLUNDER DI PIALA PRESIDEN

Anies
Piala Presiden

Ceritanya begini..

Wasekjen Gerindra Andre Rosiade bilang, Anies sebenarnya sejak awal sudah diinfokan untuk mendampingi Jokowi turun menyerahkan piala pada pemenang. Tapi last minute namanya dicoret oleh panitia.

Makanya Anies ditahan oleh Paspampres.

Andre yang kemaren mendampingi Anies menyayangkan sikap panitia terutama Maruarar Sirait, sebagai Ketua Steering Committee Piala Presiden 2018 kenapa mesti terjadi seperti itu.

Saya juga menyayangkan sikap panita yang cenderung lebay.

Entah karena ketakutan nama Anies meroket jika ia memanfaatkan kemenangan Persija itu, tapi jelas apa yang dilakukan panitia itu menjadi blunder. Ini jelas-jelas menampar wajah Jokowi yang tidak tahu menahu adanya masalah itu.

Dan Anies -harus diakui- malah mendapat simpati dengan adanya insiden yang seharusnya tidak terjadi itu. Pendukungnya memanfaatkan sekali situasi untuk memainkan peran sebagai korban bahwa Jokowi memperlakukan Anies tidak layak..

Seharusnya ini tidak terjadi lagi. Terlalu kasar cara bermainnya yang membuat malah Jokowi kehilangan poin di mata masyarakat.

Pramono Anung dalam cuitannya kemaren pun berkomentar:

"Politik seharusnya merangkul untuk menambah kawan, bukan terus menerus menambah musuh. Politisi seharusnya menanam catatan diri yang baik, bukan malah mengumbar tabiat dan sifat yang menuai kritik. Pilihannya sederhana, tapi sering dibuat susah dan rumit sendiri. #potretkita"

Entah ini menyindir siapa, tapi sikap Pramono Anung jelas adalah sikap tidak setuju ketika kesalahan dibalas dengan kesalahan juga.

Dan saya merasa, cuitan Pramono Anung ini suara dari kemarahan Jokowi karena ia bukan pendendam apalagi membuat keputusan bodoh dengan tidak memperbolehkan Anies mendampinginya di acara penyerahan piala.

Semoga para politisi di samping Jokowi bisa lebih pintar dan bijaksana, bukan malah menikamnya di belakang..

Sepakat?

Seruput dulu jika pikiran kita sama..

Sabtu, 17 Februari 2018

CERITA TENTANG SABU

Sabu
Sabu

Pagi ini dapat kabar anak dan menantu pedangdut ES, tertangkap karena Sabu.

Ini tangkapan menarik karena melibatkan nama orang terkenal sesudah Fachri Albar dan Roro Fitria (saya gak jelas ini artis apa sih wong kerjaannya cuman pamer harta).

Sabu adalah amfetamin, obat buatan sebagai pengganti heroin yang sudah melambung harganya. Sekitar 2-3 juta per gram.

Sabu memang awalnya untuk kaum miskin yang gak mampu beli heroin, tapi efeknya jauh lebih merusak karena menyerang otak.

Dalam sejarahnya, amfetamin ini pernah digunakan oleh pemerintah Jepang supaya pilot pesawatnya berani melakukan Kamikaze, yaitu aksi bunuh diri menabrakkan pesawatnya ke kapal induk musuh pada saat penyerangan Pearl Harbour.

Sabu biasanya digunakan oleh para pekerja karena efeknya memang menghilangkan rasa lapar dan lelah, sehingga orang yang mengkonsumsi Sabu seperti "Superhero" yang terus aktif dan sulit berhenti.

Pertanyaannya kenapa kok banyak orang yang masih pake Sabu?

Pada awalnya biasanya adalah gaya hidup. Pergaulan yang luas membuat orang banyak bersentuhan dengan macam2 manusia. Makanya banyak artis yang kena karena memang pergaulan mereka menjadi luas sebab mereka terkenal.

Sesudah itu menjadi kebutuhan. Karena Sabu biasanya memecahkan masalah mereka yang cepat lelah karena stres dengan deadline kejar tayang. Jadi para artis biasanya adalah korban karena mereka hanya pengguna bukan pengedar. Mereka tidak mencari uang dari penjualan Sabu.

Nah pada saat sudah menjadi kebutuhan inilah, para pengguna biasanya ceroboh...

Karena terdesak, mereka jadi sembarangan membeli ke siapa saja dan meggunakannya dimana saja.

Padahal dibandingkan narkotika seperti Ganja dan Heroin, Sabu lebih mudah dikenali karena untuk memakainya mereka harus menggunakan alat yang biasa dinamakan Bong.

Saya harus mengakui anak saya waktu kecil pernah kecanduan Sabu..

Setiap pagi dia selalu "memerintah" orang tuanya untuk mencegat pengedar yang mangkal di perempatan jalan. Dan biasanya dia minta ayam suwirnya double tambah sate usus yang katanya terenak di dunia..

Dan karena sudah besar, saya suruh dia beli sendiri. Sayang pengedarnya sudah tua dan sering sakit2an jadi jarang mangkal.

Akhirnya dari kecanduan Sabu - Sarapan Bubur - anak saya sekarang berpindah ke Sarap - Sarapan apa adanya.

Begitulah cerita ngelantur karena di depan ada secangkir kopi dan sebatang rokok yang menggoda hati. "Bakar jangan.. bakar jangan..".

Alhamdulillah pagi ini berhasil tidak bakar rokok, semoga sampai siang berhasilnya..