Sabtu, 23 Juni 2018

KETIKA DUNIA SUDAH TIDAK PRIVASI LAGI

Media Sosial
Medsos

Pertama kali alat komunikasi teks dalam bentuk grup yang kita tahu adalah BlackBerry Messenger..

Dan grup itu banyak diisi oleh sobat-sobat kecil yang sudah lama gak kelihatan, pas ketemu lagi eh pantatnya dah pada lebar-lebar. Dan seperti biasa grup rame dengan nostalgia. "Kamu kan dulu yang kentut di depanku?". "Bukan, aku dulu cuman pup di celana, hanya baunya yang kemana-mana.."

Perkembangan teknologi Android makin maju dan lebih beragam, Blackberry pun ditinggalkan. Sudah tidak ada lagi, "berapa pinmu ?" Dan nada "PING!" yang biasanya sebagai nada pemanggil awal. Whatsapp mengambil alih semua itu..

Dengan WAG - Whatsapp Group - grup pun makin beragam. Sekarang udah macam-macam, bukan lagi teman sekolahan. Tapi teman dari antah berantah yang ketemu saat Indonesia sedang euphoria menghadapi tahun-tahun politik.

Dan mulailah, tanpa permisi, add meng-add di group menjadi kebiasaan. Tiba-tiba saja nomer hape saya kesebar karena awalnya gabung di satu group, dan muncul di group lain dengan nama aneh2. Orang-orangnya pun tidak saya kenal. Dan semakin banyak group, semakin nomer kesebar pulak..

Kenapa muncul group2 baru ?

Karena itu pecahan dari grup lama, yang awalnya sepaham, kemudian bentrok karena ada masalah. Dan grup baru itu pecah lagi, membentuk grup baru lagi. Begitu terus, sampai ada yang punya grup puluhan.. ( Ngapain juga punya grup sebanyak itu..)

Isinya masih sama aja. Politik lagi, politik lagi. Apalagi menjelang pilkada ini. Tiba-tiba saya ada di grup Sumut, muncul lagi di grup Jatim, ada grup Jabar, rame dahhh..

Yang terjadi adalah saling menghakimi. Ribut lagi. Dulu berantem sama kampret, sekarang sesama cebong. Akhirnya ada yang left, trus dia bikin grup baru, trus add lagi. Entah kerjaannya mungkin cuman bikin grup wa aja..

Walhasil, tulisan saya tentang Pilkada, dicopas di grup dan dikomentari. Dan pasti ada yang tidak setuju, lalu mulailah sindir menyindir, tiba-tiba left karena bersinggungan dengan anggota grup lain..

Pusing gua...

Manusia pada sensitif sekarang ini, beda pilihan dikit aja langsung merasa terancam kehidupannya. Gak cukup berantem di komen Facebook, lanjut Twitter, diteruskan ke WAG. Seperti supporter sepakbola, siapapun yang tidak setuju dengannya hajar saja..

Pemilu bahkan sudah tidak bebas, umum dan rahasia lagi. Pilihan yang tadinya adalah hak pribadi, sekarang jadi sesuatu yang harus mengikuti keinginan orang banyak. Kalau beda, "jangan coba-coba.."

Kadang saya rindu seperti dulu. Dimana pembicaraan politik hanya ada di warung kopi. Kadang ngutang, kadang lari. Tapi setidaknya, kalaupun ada yang tidak setuju, tidak mengapa, yang penting bayarin kopi..

Sesimple itu kondisi, dimana teknologi masih minim sekali. Disaat teknologi mempermudah semua situasi, ternyata manusianya yang semakin kompleks dan semakin lama semakin menyendiri meski di grupnya ada ratusan teman yang saling berantem sendiri..

Seruput kopi dulu ah.. Pasti banyak yang punya pengalaman sama..

DEDI MULYADI, SANG PEJUANG TOLERANSI


Pilgub Jabar
Toleransi
Tiba-tiba ada sms masuk ke saya. 

"Saya Dedi Mulyadi"Katanya memperkenalkan diri. Saya ketawa, teman mana lagi ini yang bercanda.

Saya balas, "Dedi Mulyadi setahu saya Bupati. Ini Dedi Mulyadi yang mana ?". Jawabnya, "Iya, itu saya. Saya telepon ya.."

Wow, surprise juga saya mendapat sms dari seseorang yang selama ini saya baca perjalanan karirnya, terutama ketika ia harus melawan FPI di Purwakarta.

Buat saya, Kang Dedi Mulyadi dulu adalah simbol perlawanan melawan ormas berbaju agama. Belum ada satupun kepala daerah yang berani melawan mereka waktu itu, tetapi Dedi Mulyadi sudah mengalami banyak kisah.

Ia bahkan pernah berhadap-hadapan dengan gerombolan FPI waktu di TIM Jakarta. "Sungguh berani.." begitu gumam saya ketika membaca berita itu.

Diapun menelepon saya. Saya terima dan kami tertawa-tawa. Beliau ternyata juga suka membaca tulisan saya tentang toleransi dan kebhinekaan yang di Indonesia pada saat itu mahal harganya.

"Datang ke Purwakarta, ya. Kebetulan saya ada acara mengundang anak-anak lintas agama. Ini program yang sudah lama saya lakukan, supaya mereka saling mengenal bahwa perbedaan itu indah. Biar tidak sempit pemahamannya.." Katanya.

Sayapun menjanjikan akan datang..

Sesampai di Purwakarta, saya gagap karena baru pertama kali ke kota itu. Untung saja di jemput di suatu tempat sehingga gak perlu nyasar kemana-mana.

Dan ketika sampai di Pendopo Kabupaten, tiba-tiba mata saya berat karena menahan air yang menggenang.

Duhai, indahnya pemandangan di pendopo ketika seorang bhiksu, seorang Romo Katolik, seorang ustad duduk bersama dan saling ngobrol tanpa sekat. Di tengah ada seorang yang saya sangat kenal wajahnya di koran dan majalah, sang Bupati Dedi Mulyadi, tersenyum lebar..

Saya duduk agak menjauh dari pendopo hanya supaya bisa menyaksikan pemandangan itu lebih luas. Dan Dedi Mulyadi dengan cengkok sunda khasnya, bergurau sambil mengenalkan ke anak-anak SMP dan SMA lintas agama, kemudian mereka saling mengenal doa masing-masing agama.

Ah, sekian tahun saya menulis tentang kejamnya situasi Suriah dan kegelisahan saya akan pola yang mirip di Indonesia, tiba-tiba pemandangan sejuk bak surga terhampar di depan mata.

Ya, Tuhan..

Di Kabupaten kecil, jauh dari kota besar, ternyata nilai-nilai toleransi itu dijaga kuat. Dilindungi dan diperkenalkan. Dan anak-anak yang polos itu, saling mengenalkan diri, membuka cakrawala berfikir mereka menjadi luas, bahwa ada yang berbeda dari kita, tapi sejatinya kita sama..

Pada titik itulah, saya jatuh cinta pada Kang Dedi. Saya menamakan Purwakarta sebagai desa Ghalia. Desa Ghalia adalah desa kecil di komik Asterix, yang terus melawan ditengah kepungan kerajaan Roma. Seperti Purwakarta yang terus melawan ditengah kepungan gerombolan intoleran yang meluas di Jawa Barat.

"Jawa Barat butuh dia, bukan dia yang butuh Jawa Barat.." Begitu kata hatiku.

"Hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah intoleransi di provinsi yang mendapat predikat tertinggi di bidang intoleran ini. Dia punya vaksinnya. Dia yang bisa menyembuhkannya.."

Harapan saya pun membuncah. Dan sesudah dua tahun saya bertemu Dedi Mulyadi, kami tetap akrab karena punya ideologi yang sama, yaitu kecintaan pada tanah dimana kita dilahirkan bersama.

Ah, kang Dedi..

Kapan kita ngopi lagi dan ceritakan semua mimpi yang kau rangkai tentang negeri ini ? Aku siap mendengarkan dan menuangkannya dengan indah dalam sebuah tulisan. Tulisan berjiwa yang merangkai kata dari seorang pejuang..

Salam hormatku untukmu selalu.

SIAPA YANG BAKAL DUKUNG JOKOWI DI JAWA BARAT?

Pilkada Serentak
Demiz
Pertarungan ketat terjadi di Jawa Barat. Survey Litbang Kompas terakhir menunjukkan bahwa ada 2 calon yang menempati posisi teratas, yaitu Ridwan Kamil & Uu (40 %) juga Dedi Mizwar & Dedi Mulyadi (39 persen %).

Margin yang sangat tipis ini membuat belum ada perkiraan siapa diantara mereka yang berpotensi memimpin Jawa Barat.

Jabar adalah provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak se Indonesia, dengan jumlah pemilih sebanyak lebih dari 33 juta orang. Dan jelas, suara Jabar akan sangat menentukan dalam Pilpres 2019 mendatang.

Dan kira-kira siapa diantara dua paslon itu yang akan mendukung Jokowi nanti ?

Dari pasangan Demiz & Demul, ternyata ada kontrak mengikat buat mereka berdua. Bahwa meskipun mereka dalam satu gerbong di Pilkada, Pilpres mereka akan berpisah dukungan.

Dan Kang Dedi Mulyadi - sebagai kader Golkar - akan mendukung penuh Jokowi.

Dedi Mulyadi adalah Jokowi dalam balutan Sunda. Ia sejak lama menjadi pengagum Jokowi dan mendukung banyak programnya. Bahkan dalam programnya, Demul berjanji akan selaras dengan Jokowi, menjadikan Jabar selatan sebagai pusat pariwisata.

Demul juga terkenal dengan rekaman jejaknya ketika melawan FPI di Purwakarta.

Sedangkan Ridwan Kamil pernah menyebut bahwa ia akan mendukung Jokowi. Tetapi ternyata berita itu disanggahnya sendiri, karena menurut Ridwan Kamil ia belum memutuskan apa-apa.

"Yang memutuskan mendukung Jokowi, ya partai pengusung. Saya tidak ada kontrak tertulis apa-apa..." Begitu penjelasannya.

Khas Ridwan Kamil yang selalu bermain di dua kaki. Satu kaki ke oposisi Jokowi tapi ia juga tidak mau kehilangan suara pendukungnya. Karena itu ia mencari "posisi aman" sambil lihat-lihat dulu, mana yang lebih kuat Jokowi atau lawannya nanti, baru ia akan memberikan dukungan.

"Rangkul sana rangkul sini.." Kata seorang teman. Takut suara berkurang.

Penting bagi pendukung Jokowi untuk memastikan siapa yang akan mereka pilih nanti, karena akan berpengaruh pada Pilpres 2019 atas kemenangan Jokowi di Jawa Barat.

Tanggal 27 Juni adalah penentuannya..

"Abang pilih siapa ?" Tanya seorang teman.

"Ah, saya pilih yang pasti-pasti aja, yang tidak rangkul sana rangkul sini. Entar salah rangkul, bahaya. Jangan-jangan yang dirangkul preman berbaju agama.. " Senyum saya melebar.

Dan seperti biasa, kopinya temanku yang bayar.

Jumat, 22 Juni 2018

JAWA TIMUR BEREBUT JOKOWI

Pilkada Jatim
Pilkada Jatim

Jatim sedang terbelah dua sekarang ini..

Mendekati 27 Juni, saat pemilihan Gubernur nanti, dua kubu sedang sama-sama ngototnya dan mulai anfren-anfrenan. Masalahnya cuma satu, "Mana sebenarnya pasangan Cagub yang didukung Jokowi?"

Lucu memang, di Jatim Prabowo gak laku. Kampretos juga manyun mencureng dengan jidat ireng. Disini yang ada pendukung Jokowi versus pendukung Jokowi.

Gus Ipul sebenarnya bukan mutlak pendukung Jokowi. Rekam jejaknya pada waktu Pilpres 2014, dia tidak mau secara terbuka menyatakan bahwa ia mendukung salah satu Capres. Entah malu, entah ragu. Mungkin karena Pakde Karwo, Gubernurnya, orang Demokrat dan Demokrat waktu itu jelas milih Prabowo.

Bahkan pada menjelang bulan-bulan mendekati pencoblosan, ia masih belum tegas menyatakan dukungan pada Jokowi.

Setidaknya terlihat di acara Mata Najwa bulan Januari, dimana Najwa Shihab dengan cerdik menjebaknya dengan pertanyaan, "Jadi Gerindra atau PDIP ?" Dengan politis Gus Ipul menjawab, "Kita serahkan pada partai pertama yang mendukung.."

Dan Ganjar Pranowo lah - loyalis berat Jokowi - yang menjawab, "Gus Ipul harus mendukung Jokowi di 2019. Shalat istikharah dulu.." Baru sebulan kemudian, ketika didesak ia dengan tegas mengatakan, " "Ya iyalah, Pak Jokowi. Memang ada calon lain?"

Sedangkan Khofifah sebenarnya tidak perlu dipertanyakan. Sejak Pilpres 2014, dia adalah pendukung utama Jokowi di Jatim. Bahkan ada pengamat yang dulu mengatakan, "Kunci kemenangan Jokowi di Jatim ada di Khofifah.." Bisa ada benarnya, tetapi harus diingat juga militansi kader banteng di Jatim yang tidak kalah besarnya.

Sebenarnya, "perang" para pendukung Jokowi ini diramaikan oleh PDIP sebagai partai pengusung Gus Ipul dan Barisan Relawan Jokowi Presiden atau BaraJP yang mendukung Khofifah. Dua-duanya meyakini, bahwa "Jokowi nitip supaya menangkan si A". Dan "A" menurut tafsiran dua kelompok itu berbeda..

Yang menarik lagi di Pilgub Jatim, PDIP dan Gerindra/PKS satu gerbong mendukung Gus Ipul. Padahal nanti Pilpres mereka berdua berantem habis-habisan. Kan gak mungkin Prabowo dukung Jokowi ? Sedangkan disisi Khofifah, ada Demokrat dan PAN yang juga jelas-jelas gak milih Jokowi. (Eh Demokrat mungkin deng, asal AHY jadi Wakil 😂)

Kenapa begitu ?

Sesudah gagal membuat poros ketiga di Jatim, koalisi Gerindra/PKS/Demokrat & PAN sepertinya sepakat untuk membelah diri. Lha gimana, mereka gak punya calon di Jatim, sama seperti mereka belum punya calon Presiden. Akhirnya mereka setengah hati, "Yang penting eksis, daripada gak milih.."

Dari Pilgub Jatim, kita bisa melihat strategi ciamik Jokowi dalam memainkan dua kuda catur secara bersamaan. Siapapun yang jadi Gubernur, Jokowi tetap pemenang. Yang kalah bisa diajak ke istana, jadi Menteri apalah..

Dengan jumlah pemilih kedua terbanyak di Indonesia sesudah Jabar, Jatim memang sangat strategis. Ada lebih dari 31 juta pemilih di Jatim. Dan seperti kata banyak pengamat, "Memenangkan Jawa, berarti memenangkan singgasana.." Itulah strategi Jokowi sebenarnya, bagaimana memenangkan wilayah Jawa..

"Jadi, abang milih siapa dong ??" Temanku kayak Najwa aja menjebak dengan pertanyaan.

"Ngga, ah... Entar kamu unfren lagi..." Kataku sambil seruput kopi.

"Ngga mungkin dong, entar kamu lupa hutangmu lagi.." Dia menjawab santai.

Aku langsung tersadar, dan pelan-pelan menghilang di kegelapan malam. Seperti kampret, cuman ini Batman...

GENDERANG PERANG PILKADA SUMUT

Pilkada Serentak
Djarot

"Sumatera Utara itu rajanya korupsi!"

Begitu kata seorang teman yang tinggal di Medan. Dia patut gemas, karena menurut catatan ada 9 kepala daerah yang kena kasus korupsi. Ada mantan Walikota Medan dan wakilnya, ada mantan Bupati Nias bahkan yang parah Gubernurnya pulak..

Korupsi Gubernur Sumut yang terlacak dimulai pada masa Syamsul Arifin. Syamsul Arifin menang di Pilkada Sumut tahun 2008 berpasangan dengan Gatot Pujo dari PKS. Ia ditangkap KPK karena korupsi APBD pada waktu menjadi Bupati Langkat. Ternyata posisi Gubernur tidak melindunginya dari sel tahanan..

Penggantinya si Gatot dengan senyum kesucian berjanji akan mengevaluasi semua kebijakan. Eh, ternyata dia lebih garang. Ia menjadi "Imam" dari korupsi atas dana Bansos dan BOS ( bayangkan, korupsi di dana sosial dan pendidikan ).

Gatot tidak sendiri. Sebagai Imam, ia tentu punya jemaat dibelakangnya. Dan 38 anggota DPRD di Sumut pun berjamaah dijerat KPK. Dahsyatnya wakil PKS ini ketika dia berkuasa, jika dia mencuri di kereta api, dia curi segerbong-gerbongnya..

Kasus korupsi itu terus berbuntut panjang. Gubernur Sumut sekarang pengganti Gatot, Tengku Erry, pun sedang dalam pemeriksaan. Dan ada lagi kabar, Calon Wakil Gubernur dari satu paslon, Ijeck Shah, ikut juga diperiksa.

Sulit berbicara "Sumut bersih" jika masih ada benang merahnya dari korupsi. Sumut harus benar-benar mencari pengganti yang benar-benar bersih.

Karena itu, masuknya Djarot Syaiful Hidayat ke Sumut seharusnya menjadi harapan baru bahwa Sumatera Utara ke depannya akan lebih wangi. Djarot rekam jejaknya bersih ketika menjadi Bupati Blitar dan Wagub DKI.

Sudah saatnya masyarakat Sumut berperang dengan koruptor. Caranya adalah dengan memilih pemimpin yang benar juga. Jangan lagi tertipu dengan iklan baju putih dan tangan sedekap di dada, seolah dia manusia suci. Sesudah menjabat, eh ternyata bajingan menyaru malaikat..

Sumatera Utara harus direbut kembali, karena posisinya strategis untuk para pendukung Jokowi.

Tahun 2014, Jokowi pernah menang di provinsi ini. Dan mereka yang dulu memilih Jokowi, harus lebih militan karena memenangkan Sumut, berarti mengantarkan Jokowi untuk 1 periode lagi..

Survey terbaru dari Indobarometer, Djarot memimpin dengan lebih dari 37 persen suara dan lawannya Edy Rahmayadi, lebih dari 36 persen suara. Tipis sekali..

Karena itu jangan golput. Segeralah pulang jika KTP anda masih di Sumut. Segeralah mendaftar jangan sampai ada yang merebut hak suaramu. Berangkat pagi-pagi dan penuhi TPS tanggal 27 Juni. Kawal terus penghitungan suara jangan sampai lelah.

"Ini perang.." Kata temanku di Medan sana. Perang melawan koruptor dan untuk mengawal Jokowi ke depan. "Kita harus menang. Jangan biarkan PKS kembali memerintah.." Katanya.

Sumut, daerah kelahiranku, salam secangkir kopi. Mainkan genderangmu sampai ke seluruh negeri.

Bahwa Sumatera Utara tidak akan menyerah selangkahpun memerangi korupsi. "Ini waktu yang tepat untuk berbenah atau kita akan menderita 5 tahun lagi.."

Belum pernah mencoblos kumis pak Djarot? Kami di Jakarta pernah. Cobalah, tusuk aja. Niscaya nikmat tiada tara...

#janganadaPKSdiantarakita

GANJAR TERLALU PERKASA DI JATENG

Pilkada Serentak
Ganjar Pranowo

Warga Jawa Tengah patut merasa aman, karena survey Ganjar Pranowo gagah perkasa disana.

Hasil survey dari beberapa lembaga, Ganjar Pranowo berada di puncak dan tidak terkalahkan. Lebih dari 60 persen menyatakan akan kembali memilih sang petahana.

Jateng memang kandang banteng. Sudirman Said sulit untuk bernapas sedikitpun disana. Isu-isu yang mengadu domba mereka berdua tidak mampu memanaskan suasana. Bahkan isu Kendeng tidak merubah pilihan warga disana..

Sudirman Said pun lebih dewasa dalam menyikapi situasi di Jawa Tengah dan tidak gegabah menggunakan isu agama disana.

Pernah ada video yang lucu, dimana saat debat, moderator bertanya kepada Ganjar Pranowo, "Apakah ia akan mendukung Jokowi nanti di Pilpres 2019 ?" Dan Ganjar dengan nada pasti berteriak, "Pasti dongg.."

Sedangkan Sudirman Said ketika ditanya hal yang sama, langsung gagap. Inilah faktor kekalahan Sudirman Said, karena tahun 2014 lalu, Jokowi menang telak di Jateng. Suaranya dua kali lipat dari suara yang diperoleh Prabowo.

Dengan jumlah pemilih lebih dari 27 juta suara di Jateng, kita bisa kembali yakin bahwa suara warga Jateng tidak akan kemana-mana.

Dan Ganjar Pranowo akan memastikannya..

Seruput dulu kopinya, kang Ganjar Pranowo.

#janganadaPKSdiantarakita

EL CLASICO DI JATIM

Pilkada Serentak
Khofifah dan Gus Ipul

Pilkada Jatim memang lumayan membingungkan. Di nomer satu ada Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Sosial di masa Gus Dur & Jokowi. Dua kali menjabat sebagai Menteri di dua kabinet yang berbeda, membuat ibu yang juga seorang GusDurian ini tidak bisa dianggap enteng dalam segi keilmuan.

Khofifah juga disebut-sebut sebagai "kunci" menangnya Jokowi di Pilpres 2014. Ketua umum muslimat NU ini mampu menyatukan suara NU dan santri di kalangan grass root. Khofifahlah kunci Jokowi mendekati pesantren-pesantren di Jawa Timur.

Rekam jejaknya jelas. Jokowi bahkan menyempatkan diri mampir ke rumahnya di Surabaya, menandakan kedekatan mereka. Dan kedekatan itu berlanjut dengan permintaan Jokowi supaya Khofifah menjadi Menterinya.

Sedangkan Gus Ipul pada Pilpres 2014 lalu, tidak mau dikatakan berpihak pada Jokowi. "Netral.." Katanya. Bisa jadi karena ia sungkan kepada pimpinannya Pakde Karwo, yang ada di Demokrat dan partai itu pendukung Prabowo.

Gus Ipul atau nama lengkapnya Saifullah Yusuf ini juga dulu mantan Menteri, tetapi di era SBY berkuasa. Ia menjadi Wakil Gubernur dua periode di Jawa Timur.

Pertarungan Gus Ipul dan Khofifah di tahun 2013, bisa dibilang pertarungan yang sangat ketat. Meski akhirnya dimenangkan Gus Ipul & Soekarwo, tapi kemenangan itu berlanjut sampai ke Mahkamah Konstitusi.

Dan kontroversi terus berlanjut...

Akil Mokhtar - mantan ketua MK yang ditangkap karena suap - buka2an, bahwa sebenarnya Khofifah yang menang Pilgub Jatim 2013 bukan Soekarwo. Sampai sekarang, peristiwa Pilgub Jatim 2013 masih menjadi misteri meski Soekarwo menang lagi.

Jadi bisa dibilang ini pertarungan el-clasico, pertarungan klasik.

Pertarungan sekarang lebih meruncing. "All Jokowi's final.." Begitu kata seorang teman.

Masuknya Puti dan PDIP di barisan Gus Ipul memperkuat anggapan bahwa jika mereka menang, Jokowi akan aman. Klaim yang sama juga dengan Khofifah, tetapi dengan rekam jejak yang sudah ada di Pilpres 2014.

"Dua-duanya bagus. Dua-duanya mendukung Jokowi. Lalu saya harus pilih yang mana ?"
"Ya terserah.. " Kata saya. "Memilih itu hak, dan pilih yang sesuai dengan nurani.."

"Kalau Bang Denny ?" Temanku melirik.

Haha, pertanyaan menjebak. Tapi okelah.

"Patokan saya cuman satu saja. Dimana PKS berpihak, saya akan pilih lawannya. Itu sudah jawaban.."

Saya tersenyum sambil seruput secangkir kopi. Memang enak kalau punya patokan, jadi tidak ragu-ragu lagi.

Kamis, 21 Juni 2018

SELAMAT ULANG TAHUN, PAKDE JOKOWI

57 Tahun
Jokowi

Sedikit nostalgia... Aku ingat ketika itu aku deg-degan menanti kabar, apakah Pakde jadi dicalonkan?

Sesudah memperhatikan sepak terjangmu di Solo dan Jakarta, baru kali ini aku punya harapan, bahwa ada pemimpin negeri yang berasal dari kalangan biasa, bukan kaum elit maupun tentara.

Dan ketika wajahmu terpampang di baliho-baliho di sudut kota, hatikupun bersorak bahagia. Aku berjanji pada saat itu, ku akan berjuang untukmu. Bukan karena kamu, tapi karena kamu adalah aku.

Tahukah pakde, lelahnya aku dulu melihat situasi negeriku?

Negeri yang porak poranda karena ulah para bedebah, yang terus menerus merampok harta ibu pertiwi tanpa rasa malu dan kenyang lagi.

Sedangkan pemimpin yang ada, sibuk menggemukkan diri dan nafsu berkuasanya, sehingga kalau bisa negeri ini dipimpin oleh anaknya, cucunya, anak cucunya, cucu dari cucunya dan terus tanpa ada matinya.

Dan padamu semua kusandingkan. Baru kali itu aku memilih dengan harapan...

Sempat banyak orang kecewa padamu diawal pemerintahan, tapi aku tidak. Aku merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Sesuatu yang tidak tampak di permukaan tetapi terasa sebagai sebuah gerakan.

Lalu, mulailah aku menulis tentang dirimu. Tentang langkah-langkahmu. Tentang strategimu. Dan semakin sering aku menulisnya, aku kagum padamu. Karena disana aku belajar bagaimana seharusnya memimpin itu..

Tauladanmu sungguh luar biasa. Anak-anakmu kau ajarkan bagaimana tidak memanfaatkan kuasa. Engkau mengajarkan bagaimana seharusnya seorang lelaki memegang amanah. Bahwa banyaknya harta bukan tujuan di dunia..

Seberapa kuat ringkih tubuhmu menahan fitnah? Tanya dalam hatiku..

Ternyata waktu membuktikan, mentalmu terbuat dari baja. Mungkin semua itu terbentuk dari kesulitan dan kemiskinan yang kau dapatkan. Dan semua pergulatan itu menghasilkan seorang seorang lelaki yang menari diatas badai..

Tiga tahun, pencapaian yang kau lakukan sama seperti pencapaian puluhan tahun pemimpin sebelumnya. "Apakah itu sesuatu yang hebat ?" Tanyaku. "Tidak. Memang begitulah seharusnya. Hanya tidak banyak pemimpin yang mau menjalaninya.." Katamu.

Seandainya, 32 tahun sebelumnya, ditambah 10 tahun lamanya, pemimpin-pemimpin itu berjiwa sepertimu, sulit kubayangkan sebesar apa negeri ini jadinya. Pasti Malaysia, Singapura bahkan Australia tidak ada apa-apanya. Karena semua kita punya, hanya kita tidak pandai mengelolanya..

Dan musuh manusia adalah waktu..

Hari ini genap 57 tahun usiamu. Tanggal 21 Juni adalah hari lahirmu. Tidak lama lagi engkau akan menua dan melemah, dan menyerahkan semua kepada yang lebih muda. Dan kuharap, ketika engkau sudah tidak berdaya nantinya, tetaplah bersama kami menjadi guru bangsa..

Selamat ulang tahun, pakde Jokowi..

Semoga kita bisa berjuang bersama selama satu periode lagi. Hantarkan kami menuju gerbang kejayaan. Supaya kepala kami bisa tegak berdiri ketika kami berada di luar negeri. Bukan lagi tertunduk, menahan malu karena banyaknya korupsi..

Semoga satu saat kita bisa minum secangkir kopi. Dan bercerita tentang masa lalu yang indah ini..

Seruput, pakde.. Semoga engkau sehat selalu..

Selasa, 19 Juni 2018

MEMECAH BARISAN JOKOWI

Pendukung Jokowi
Jokowi

Bagaimana mengalahkan Jokowi?

Ini yang selalu ada dalam pikiran lawan politiknya. Survey-survey setiap waktu menunjukkan popularitas dan elektabilitas Jokowi terus meninggi. Sedangkan Prabowo, lawan terkuatnya, tetap jauh berada di bawahnya.

Dalam waktu 2 bulan lagi, Agustus, sudah harus ada penetapan Calon Presiden. Sedangkan lawan politik Jokowi belum ada satu calonpun yang diajukan. Mereka sibuk #gantiPresiden tapi tagar itupun semakin melemah karena sudah mencapai titik jenuhnya.


Mulai isu anti Islam dan musuh ulama, isu PKI sampai tenaga kerja China ternyata tidak efektif menurunkan hasil survey. Orang sudah tidak percaya dengan isu-isu itu karena tidak terbukti. Head to head dengan Jokowi dalam keadaan seperti ini berbahaya, sudah pasti kalah.

Lalu apa yang harus dilakukan ?

Perang Siffin adalah sebuah sejarah dalam Islam yang bisa dipelajari bagaimana cara mengalahkan musuh yang terkuat.

Perang Siffin adalah perang antara Muawwiyah dan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Muawwiyah yang ingin mengambil alih kekhalifahan dari tangan Imam Ali terus menerus menyerbu dengan armada pasukannya.


Tetapi ia sulit menembus benteng pertahanan lawannya. Bahkan pasukan Imam Ali berhasil memojokkan Muawwiyah dan tinggal satu pukulan lagi, maka selesai semua.

Muawwiyah yang cerdik dan licik, memutar otak bagaimana cara lolos dari kekalahan ? Ia mulai sadar bahwa menyerang dari depan dan berhadapan jelas kalahnya. Yang harus dia lakukan adalah memecah dari dalam.


Muawwiyah mempelajari, bahwa di dalam pasukan Ali bin Thalib ada kelompok "agama baperan". Mereka yang fasih dalam beragama tapi kurang berakal. Maka Muawwiyah menggunakan isu agama untuk memecah belah. Ia lalu menancapkan Alquran diatas tombak, dan berkata, "Kami menyerah..".

Karena ada Alquran itulah, sekelompok pasukan - yang kelak dinamakan khawarij atau pembangkang ini - kemudian mendesak Imam Ali untuk menerima penyerahan diri Muawwiyah. Imam Ali berkata, "Itu siasat belaka. Kita sudah hampir menang. Mereka ingin memecah belah kita.." Tapi pasukan Khawarij tidak perduli. Buat mereka "orang yang menjunjung Alquran adalah segalanya".

Disinilah titik pecahnya pasukan Imam Ali dan kemenangan Muawwiyah. Kelompok khawarij ini juga yang akhirnya dipakai Muawwiyah untuk memerangi Imam Ali dan terkenal dengan nama perang Nahrawan.

Sejarah selalu mengalami pengulangan dan bagi beberapa orang banyak dijadikan rujukan. Jika tak mampu memukul dari luar, maka pecahkan dari dalam. Biar kerusakannya menyebar dan barisan bubar.


Memahami politik itu harus melihat dari perspektif luas. Bahwa tidak semua orang-orang disekitar Jokowi itu satu tujuan. Banyak diantara mereka yang punya agenda-agenda tersendiri, yang baru ketahuan disaat mereka kemudian ada diluar barisan.

Kemaren banyak yang memuji-muji sang Menteri, dan ketika ia dipecat banyak yang menyesalkan. Tapi semakin lama semakin ketahuan bahwa musuh paling berbahaya bukan musuh yang kelihatan, tetapi justru mereka yang terlihat sebagai teman.

"Dekati temanmu, tapi lebih dekatlah pada musuhmu.." Strategi Tsun Zu ini tidak hanya dipakai Jokowi, tapi juga pihak lawan.

"Jokowi harus digerus elektabilitasnya. Bikin dia tampak lemah dan tidak tegas, terutama di masalah hukum. Karena menyerang dia di masalah pencapaian ekonomi akan sia-sia.

Pecah barisannya, serang juga lawannya, dan poros ketiga akan menguat. Kita munculkan alternatif baru yang diterima oleh banyak orang..." Begitu kata seorang teman.

Dan secangkir kopi ternyata tidak cukup menemani cerita-cerita ini yang semakin lama semakin seru dan mengasyikkan..

INTRIK & POLITIK DI ISTANA

Politik
Morgan Freeman

Pernah nonton film "The Sum of All Fears ?"

Film yang dibintangi Ben Affleck dan Morgan Freeman berdasarkan novel Tom Clancy ini, bercerita tentang bagaimana sekelompok orang yang tergabung dalam Neo Nazi berusaha mengadu domba AS dan Rusia untuk perang nuklir.

Caranya, mereka bekerjasama dengan beberapa pejabat tinggi militer Rusia untuk membom Cechnya - sekutu AS waktu itu - sehingga AS pun langsung menyiapkan pasukannya.

Dan pemboman Cechnya itu bukan perintah Presiden Rusia, tapi gerakan dari beberapa petinggi tinggi militer Rusia yang memang sengaja ingin membangun sikap bermusuhan dengan AS untuk menimbulkan reaksi mereka.

Yang menarik adalah reaksi dari Presiden Rusia, Alexander Nemerov. Presiden yang digambarkan di media-media AS - dalam film itu - sebagai pribadi yang keras, langsung mengumumkan ke publik bahwa ia bertanggung jawab terhadap pemboman Cechnya.

Sesudah konferensi pers, orang kepercayaannya bertanya ketika mereka sedang berdua, "Kenapa kamu mengaku bertanggung jawab, sedangkan kamu tidak melakukan pemboman itu ?"

Jawaban Presiden Rusia itu masih melekat di benak saya, "Lebih baik terlihat keras dihadapan AS, daripada harus terlihat lemah karena mereka melihat saya tidak mampu mengatur angkatan bersenjata.."

Menjadi Presiden itu tidak mudah, itu yang saya pelajari. Ia harus mampu berhitung sekian langkah ke depan untuk mengambil keputusan. Dan keputusan itu belum tentu popular atau menyenangkan banyak orang.

Terkadang ada yang disembunyikan dan tidak ditampakkan ke publik. Seperti misalnya, ada dari jajarannya yang bermain politik di belakang tanpa sepengetahuannya. Orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi membangkang bahkan berusaha menjatuhkan nama Presiden dengan gerakannya.

Tentu tidak bisa seorang Presiden berkata ke publik, "Ada beberapa pejabat yang membangkang dari perintah saya.." Karena itu akan menjadi preseden buruk dan membangun blunder blunder baru yang sulit dia tahan.

Terkadang seorang pemimpin harus mengambil tanggung jawab - meski itu buruk dan bukan perintahnya - demi keamanan nasional. Karena ia harus berfikir lebih luas untuk menjaga stabilitas.

Menonton film The Sum of All Fears, kita jadi memahami betapa berat tugas Jokowi. Ia bukan saja menghadapi musuh-musuh politik di depan, tapi bisa saja musuh dalam selimut di dalam jajarannya yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini.

Apa yang terjadi dan kita dengar juga baca di media, belum tentu adalah kejadian sesungguhnya. Mungkin saja kejadian di belakang layar lebih parah, tetapi seorang pemimpin harus bisa menutupinya.

Tapi seperti layaknya penonton sepakbola, kita seakan2 lebih tahu situasi disana dengan komentar-komentar yang berdasarkan dari, "Kata orang itu begini. Ini info A1.."

Ini tahun politik, menuju Pilpres, apapun bisa terjadi. Termasuk gerakan-gerakan dari dalam untuk menjatuhkan nama Jokowi, disaat dia adalah calon yang surveynya tinggi, sedangkan lawannya belum punya nama.

Menghakiminya bahwa, "Dia lemah, tidak tegas.." adalah sebuah kesalahan. Rekam jejaknya dari membubarkan HTI adalah bukti keberanian dimana sekian Presiden sebelumnya tidak mampu melakukannya...

Kembali ke film Sum of All Fears, atau Puncak dari segala ketakutan..

Meski mengambil tanggung jawab sebagai pelaku pemboman di depan publik, di belakang Presiden Nemerov melakukan penyelidikan, "Siapa dibalik semua ini ?"

Dan ketika ia akhirnya tahu bahwa ternyata pelakunya adalah pejabat militer di belakangnya, tanpa ampun ia menyikat mereka dengan senyap dan tidak dengan tangannya..

Intrik dan politik di istana, jauh lebih ganas dari apa yang kita ketahui dari luar sini...

Mending diam dan amati, sambil seruput secangkir kopi, kemana kita semua dibawa sekarang ini.

Dan seperti biasa, ular beludak akan muncul kepalanya di akhir permainan sehingga apa yang tadinya kita anggap sebagai kawan, ternyata adalah musuh sesungguhnya.

Senin, 18 Juni 2018

JOKOWI PENJARAKAN AHOK?

Jokowi
Denny Siregar

Benarkah Jokowi yang penjarakan Ahok ?

Entah kenapa kabar ini yang beredar di kalangan Ahoker dan dipercayai seperti mempercayai sebuah agama. Padahal kabar bahwa Jokowi sengaja melepas Ahok ke pengadilan adalah kabar burung dari hasil menduga-duga.

Saya sendiri ketemu Ahok di penjara, dua kali, dan tidak pernah dia bicara bahwa Jokowilah yang memenjarakannya. Bahkan ia sendiri yang menyarankan untuk jangan Golput, jika kita tidak ingin kalah dari kelompok ormas berbaju agama.

Dan dari mulut Ahok sendirilah saya mendengarkan bahwa Jokowi sahabatnya. Hanya ia tidak ingin menuliskan namanya karena ingin melindungi sahabatnya itu supaya jangan jadi sasaran..

Jadi, mana kabar yang lebih bisa dipercaya ? Dari saya yang pernah bertemu langsung dengannya atau dari mereka yang lebih percaya teori konspirasi seperti yang disukainya ?

Kenapa mereka menyalahkan Jokowi ?
Kenapa mereka tidak pernah berfikir bahwa di Kepolisian sendiri terbelah dalam menyikapi situasi itu ? Ada yang setuju menjadikan Ahok tersangka dan ada yang tidak.

Kenapa mereka juga tidak pernah berfikir bahwa di majelis hakim juga terbelah ? Bahwa yang percaya Ahok menista agama lebih banyak dari yang tidak.

Dan kemenangan dengan memenjarakan Ahok adalah kemenangan organisasi seperti HTI yang waktu itu belum dibubarkan tapi ideologinya sudah kemana-mana, bahkan di kalangan aparat dan institusi pengadilan.

Jangankan mereka, bahkan MUI saja terbelah..

Lalu kenapa banyak yang berfikir bahwa Jokowilah yang memerintahkan, Jokowi yang punya peranan, Jokowi ini, Jokowi itu, seakan2 Jokowi itu Superman yang bisa menguasai apa saja ?

Berfikirlah luas dan dalam, jangan sempit dan cepat mengambil kesimpulan. Genderang "Semua Salah Jokowi" itu genderang lawan. Kalian yang selalu mengejek2 kampret Salawi, Salawi, tapi kalian juga yang menyalahkan Jokowi atas segala kejadian. Ironis, bukan ?

Kesalahan Jokowi itu jelas, dia tidak mau campur tangan dalam urusan hukum. Hukum biar hukum yang menjawabnya. Jika hukum akhirnya tidak berpihak sesuai keinginan, Jokowi lagi kah yang salah ? Padahal dia sudah benar dengan tidak mengintervensi keputusan pengadilan..

Jokowi bukan diktator, dan tidak mau menjadi diktator. Ia tidak ingin mengajari siapapun menggunakan tangan besi ketika berada pada puncak kekuasaan..

Baru masalah SP3, kalian tutup mata terhadap semua prestasi Jokowi yang kalian nikmati juga. Begitukah caranya berterimakasih kepada orang yang sudah membubarkan HTI, organisasi ganas yang anggotanya ratusan ribu orang ?

Minum kopi dulu, kecerdasan itu mahal harganya. Jika pahlawan kita dulu dikit-dikit ngambekan kalau kalah, terus kapan kita menang perangnya ??

Ulululululu... Coba tanyakan pada kerang ajaib jawabannya.

SURAT DARI ANAK NEGERI

Politik
Stop Golput

Kalau harus saya buka ancaman-ancaman kepada saya, pasti kalian ngeri..

Mulai dari bunuh, penggal, darahnya halal bersaing dengan tudingan syiah, liberal, kafir, penjilat dan segala macam makian dari mereka yang profile picturenya sangat agamis dan ketika menshare status tentang Tuhan membuat banyak orang menangis..

Inilah orang-orang yang kelak akan melakukan persekusi secara fisik ketika menguasai negeri ini. Inilah orang-orang yang akan mengintimidasi orang per orang yang berbeda pandangan dengan datang bergerombol dan menebarkan ancaman-ancaman bahkan kepada pasangan, orangtua dan anak-anak di rumah hanya supaya kita diam..

Pada bulan Februari 2011, orang-orang yang merasa menjadi Tuhan ini menyerang rumah yang diduga penganut Ahmadiyah di Cikeusik Banten. Mereka membakar rumah dan membunuh tiga orang yang mereka anggap kafir itu.

Videonya bahkan disebarkan dan membuat hati miris melihat seonggok tubuh yang terbaring dihajar habis-habisan, dipukul dengan kayu bahkan kepalanya dilempari batu besar. Mereka merasa sudah berbuat benar dengan menghilangkan nyawa orang..

Apakah model-model orang seperti ini yang kita serahkan diri kita untuk menguasai negeri ini ?

Saya, kamu, saudaramu, pasanganmu, anak-anakmu akan menjadi korban-korban berikutnya karena berbeda pandangan dengan mereka. Mereka akan tumbuh besar dimana-mana dan berkuasa atas nama agama.

Jangan bicara keberanian melawan kaum radikalis kalau belum berani membubarkan HTI. Dan organisasi seperti ini akan tumbuh lagi seperti jamur di musim hujan, ketika mereka mempunyai pemimpin negeri yang memelihara dan tunduk pada kemauan kaum konservatif yang selalu mengklaim agama dan ulama milik mereka.

Tidak pernah ada niat saya sedikitpun untuk golput di Pilpres tahun depan. Kalaupun saya pernah menulis sebuah desakan untuk menarik suara jika penyidikan dihentikan, itu sekedar sebuah motivasi supaya aparat dan pemerintah jangan takut melawan mereka karena tekanan.

Golput buat saya adalah kekalahan. Memilih diam saat suara kita dibutuhkan supaya negeri ini tetap seperti sekarang ini adalah kepengecutan. Seberapa besarpun alasan..

Maukah kalian ketika orang-orang pengancam dan pencaci maki itu tumbuh besar di negeri ini ? Apakah itu yang kalian harapkan ?? Jangan bilang berjuang kalau baru kena pukul sekali saja lalu mengkerut seperti kolor kepanasan.

Kamu, kamu dan kamu, yang bicara Golput akan menyesal satu waktu karena sudah membiarkan anarkisme tumbuh berkembang. Kalian tidak disuruh berjuang dengan mempertaruhkan nyawa, tapi cukup dengan satu suara. Begitu sulitkah ?

Memilih pemimpin yang benar adalah sebuah keharusan. Kita beri kesempatan kepada para pemberani untuk kembali memimpin negeri ini supaya mereka menuntaskan semua pekerjaan. Kita kawal semua visi mereka untuk membangun bangsa dengan suara.

Jika ingin melawan radikalisme, jangan pilih orang yang mengayomi mereka. Tapi lawanlah dengan memilih orang yang melawan mereka.

Dan sampai sekarang, buat saya, hanya Jokowi yang bisa menahan mereka, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jangan ngaku Pancasila, kalau baperan. Karena Pancasila dibangun diatas darah dan airmata para pejuang yang lebih sering kalah karena persenjataan dari penjajah, daripada menang.

Tapi mereka tidak pernah mundur, karena keyakinan. Bahwa suatu saat, kita akan hidup dengan damai dan bergandengan dan menjadi bangsa yang besar dengan penuh kebanggaan.

Dan saat itu pasti akan datang..

Saya anak negeri yang sejak lama resah dengan situasi ini. Dan ketika ada pemimpin yang berani melawan dan membawa perubahan, saya akan berada di belakang dia, militan, tanpa sedikitpun keraguan.

Angkat secangkir kopi, jika kita sehati..

Minggu, 17 Juni 2018

MENDUKUNG JOKOWI ITU BERAT, BIAR AKU SAJA

Jokowi
Jokowi

Menjadi pendukung Jokowi itu berat. Sejak awal saya berharap ada orang kuat yang bisa memimpin negeri, karena carut marutnya politik disini. Dan harapan itu jatuh pada seorang yang sangat sederhana, dengan rekam jejak bersih, yang muncul secara tiba-tiba. Meskipun badannya kerempeng dan tidak gagah seperti lawan politiknya, tapi entah kenapa saya menaruh kepercayaan padanya..

Ketika dia terpilih jadi Presiden, ada rasa senang di dada, seiring dengan keraguan dalam benak sebagian besar orang, "Bisakah dia seperti yang kita harapkan ?"

Dan keraguan itu semakin membesar ketika sebagian pendukungnya merasa bahwa Jokowi sangat lemah saat menghadapi kasus Polri versus KPK jilid dua. Jokowi tampak diam tanpa berbuat apa-apa. Apalagi pihak oposisi membuat framing berita, bahwa Jokowi hanyalah boneka Mega. Semakin menipis kepercayaan dan mulai muncul kesimpulan di dada sebagian pendukungnya, "Kayaknya saya salah memilih dia.."

Masih ditambah isu bahwa Budi Gunawan yang sempat dijadikan tersangka, akan menjadi Kapolri. Dan semakin tajamlah isu bahwa Jokowi memang boneka Megawati. "Bagaimana mungkin Kepolisian dipimpin oleh tersangka korupsi ?" Begitulah bunyi narasi yang dihembuskan sebagai genderang kemenangan pihak lawan..

Dan banyak pendukung Jokowi menari mengikuti bunyinya. Mulailah celotehan ketidakpuasan bergema, membuat senyum lebar di wajah koruptor yang selama ini mengeruk keuntungan dan merasa Jokowi menjadi penghalang besar. "Kita menang, pendukung Jokowi melemah.." begitu bisik-bisik yang kudengar.

Tapi tidak semua. Aku tidak terpengaruh bunyi genderang yang ditabuh bertalu-talu menghipnotis para pendukung yang emosi. Aku rasional. Melihat sesuatu berdasarkan rekam jejak, bukan berdasarkan perasaan emosional.

Dan dari rekam jejak Jokowi di Solo, aku menemukan bahwa apa yang dianggap kelemahan selama ini, ternyata disanalah sumber kekuatan..

"Dia orang Solo..." Begitu tulisku pertama kali.

Aku menggambarkan bahwa Jokowi jangan dilihat sebagai seorang petarung yang menggunakan fisik sebagai senjata. Ia adalah petarung dengan ketajaman intuisi.

Ia seperti Donnie Yen dalam film Ip Man, bukan seperti Rambo yang tembak sana tembak sini. Ia mengambil jalan memutar untuk membunuh lawan, bukan langsung berhadap-hadapan seperti aksi bunuh diri. Ia mengawasi mangsanya dari kejauhan dengan sabar layaknya seekor elang yang tajam melihat situasi. Dan ketika saatnya ia mendekat, ia menjadi dekat sekali. Sehingga mangsanya baru sadar di detik terakhir dan terlambat mengantisipasi..

Itulah Jokowi.

Dia sanggup berdiskusi selama 7 bulan dengan mengadakan 56 kali pertemuan basa basi, dan akhirnya mampu memindahkan pedagang barang bekas di taman Banjar Sari. Sebuah kekuatan kesabaran membunuh yang jarang kita jumpai..

"Dia orang Solo.." Tulisku seperti mendapat inspirasi.

Langkah-langkahnya sulit ditebak diawal karena kita terbiasa melihat film aksi. Jokowi adalah "The man with the winning strategy". Pembawaannya yang tenang dan terlihat lemah, adalah kekuatannya sejati. Ia mengukur semua langkah dengan cermat dan mengambil keputusan yang jarang terpikirkan banyak orang. Musuhnya selalu merasa menang diawal, tapi diakhir mereka akhirnya mengakui jika kalah strategi..

Dan ternyata apa yang kutulis benar terjadi. Meski aku tidak mengenalnya dengan dekat, Jokowi menjadi seseorang seperti dalam imajinasi.

Hitung saja langkahnya dimana Jokowi selalu berhasil memenangkan situasi. KPK vs Polri, BG sebagai Kapolri, terbelahnya koalisi merah putih, pembubaran HTI sampai penghentian seorang Jenderal dari jabatan tertinggi dengan sangat halus dan tanpa terdeteksi..

Semua itu membutuhkan kecerdasan dan perhitungan matang. Dan jelas kesabaran adalah kunci utama untuk meraih kemenangan..

"Dia orang Solo.." begitu tulisku sekarang ini.

Ketika banyak orang menimpakan kesalahan pada Jokowi karena menganggap ia melakukan negosiasi dengan seorang yang selama dua tahun kabur ke Saudi. Ketika banyak pendukung baperan yang selalu melihat pertarungan dengan warna hitam putih. Ketika banyak orang yang dulu memujanya, sekarang kembali menari diatas genderang perang yang berbunyi..

Tapi aku tetap mempercayainya seperti awalnya. Karena aku yakin ada strategi menarik yang baru bisa tertebak arahnya ketika akhirannya mendekati. Awalnya boleh pahit, tapi akhirannya biasanya berakhir manis. Dan tidak mudah menebak apa yang dia lakukan. Karena strategi, jika bisa ditebak, bukan lagi sebuah strategi. Kita hanya bisa mengira-ngira tapi dia yang lebih tahu semua semua gambar besarnya..

"Tenang saja.." Kata seseorang padaku suatu hari. "Ikuti saja permainannya dan tidak perlu mengambil banyak kesimpulan. Sebuah buku tidak akan menarik jika kita tidak mengikuti halaman per halaman. Jokowi bukan seorang pecundang. Apakah rekam jejaknya selama ini tidak menjadi pelajaran ?"

Aku tersenyum. Lebih baik kuseruput secangkir kopi sambil menikmati permainan.

Permainan jauh lebih menarik jika ada lawan yang brilian. Karpov tidak akan terkenal jika tidak bertemu Kasparov. Bobby Fischer tidak akan melegenda jika tidak bertemu Boris Spassky.

Ini memang permainan mental. Siapa yang kuat, dia yang bertahan. Seperti kukatakan pada temanku yang baperan mengutip kata-kata Dylan, "Mendukung Jokowi itu berat, biar aku saja.."

Kulihat senyum mulai terbentuk diwajahnya. Kurasa dia mengerti akhirnya..

PANIKNYA GERINDRA

Kasus Chat Seks
SP3 Habib Rizieq

Apa dampak dari SP3 Rizieq Shihab?

Ternyata peluru yang diluncurkan dengan terbitnya SP3 berdampak kemana-mana. Dan ternyata dampak yang paling parah ada di Gerindra.

Kenapa ?

Seperti kita tahu, beberapa saat lalu Prabowo dan Amien Rais berusaha menggalang kekuatan atas nama umat Islam dengan berkunjung ke Saudi dan melakukan ikrar bersama. Seperti biasa mereka memakai narasi "umat Islam" seolah-olah mereka layak memakainya atas nama politik praktis.

Dan mereka tahu, dengan ditahannya SP3 Rizieq Shihab, mereka bisa memakai narasi berikutnya, "Pemerintah zolim karena Rizieq dijadikam tersangka tanpa proses yang adil.." Dalam artian, bukti-bukti untuk menyeretnya ke pengadilan belum cukup, tetapi dipaksakan hanya untuk memenuhi syahwat politik pemerintah mendekati 2019.

Dan bahayanya, ini akan bisa dijadikan celah untuk menggalang demo besar sama seperti demo kasus "penista agama". Dari sini kita bisa membaca bahwa dari semua serangan untuk menjatuhkan Jokowi, serangan ini yang paling efektif dan terarah.

Maka dilepaskanlah kasus chat seks Rizieq Shihab sebagai pancingan, bukan sebagai bagian dari negosiasi.

Dan ternyata yang kelojotan adalah Gerindra.

Gerindra merasa bahwa ini taktik dan strategi Jokowi untuk meredam suasana. "Jokowi berusaha berdamai mendekati pemilu.." Begitu disampaikan Wasekjen Gerindra Andre Rosiade.

Gerindra patut gentar, karena kekuatan mereka sekarang ini ada di Rizieq Shihab. Cuma itu peluru mereka satu-satunya sekarang ini karena survey Prabowo sudah tidak mungkin naik lagi. Dan merangkul Rizieq berarti mendapat legitimisasi bahwa mereka didukung "umat Islam". Entah umat Islam yang mana versi Gerindra..

Dan Gerindra pasti berhitung, jika Rizieq dirangkul Jokowi, atau setidaknya disandera dengan "bukti-bukti yang masih rahasia", maka mereka tidak punya pegangan kuat lagi.

Ini jadi buah simalakama buat Gerindra. Mereka senang, karena kasus Rizieq ada kepastian. Tapi gemetar karena bisa jadi ada sesuatu dibalik semua penghentian. Mereka ketakutan akan bayangan pemikirannya sendiri.

Bisa jadi ketakutan Gerindra benar. Kalau melihat langkah Jokowi memang kita tidak bisa berhitung hasil di awal. Jokowi senang terlihat kalah, karena disanalah dia bermain sebenarnya. Membuka pertahanan supaya lawan masuk dan menyerang, lalu menutupnya rapat-rapat sehingga musuh terkurung dan tak mampu melawan. Seperti tikus masuk perangkap karena tergiur makanan..

Dengan begitu Jokowi mendapat dua keuntungan. Satu, kasus Rizieq tidak bisa dijadikan senjata oleh lawan untuk menyerang dan kedua, memecah belah barisan sehingga didalamnya terjadi ketegangan. Gerindra pasti mencurigai bahwa Rizieq ada "deal-deal" tersendiri dengan Jokowi untuk memenangkan dirinya.

Kekuatan paling besar sebenarnya adalah bagaimana memecah solidnya internal. Dengan begitu mereka akan terpecah dan menyebar.

Situasi ini mirip situasi saat perang Siffin dalam sejarah Islam. Muawwiyah yang terpojok karena solidnya serangan, memakai taktik dengan "menyerah" menggunakan Alquran. Dan ramailah kaum khawarij yang berada di barisan Imam Ali menuntut supaya menerima penyerahan diri itu meski Imam Ali bersikeras mengatakan, "Bahwa itu semua pancingan.."

Dan sejarah juga mencatat, bahwa Khalifah Ali bin abu Thalib, akhirnya kalah karena strategi Muawwiyah itu.

Dalam perang, memang taktik dan strategi itu yang utama, bukan sekedar adu kekuatan. Kadang perlu mundur untuk mengatur kekuatan, kadang menyerang untuk membuat gertakan.

"Perasaan menang adalah kekalahan sesungguhnya.." Begitu seorang teman berkata. "Karena ketika orang dibuai kemenangan, maka kuda-kuda kaki mereka pasti lemah. Gampang dijatuhkan.."

Seruput kopi makin asyik melihat bagaimana kasus ini berjalan...

MELIHAT KASUS RIZIEQ TANPA BAPER BERLEBIHAN

Habib Rizieq Shihab
Habib Rizieq

Teman-temanku marah soal SP3 Rizieq..

Mereka kecewa berat, seperti jomblo yang kecewa lamarannya ke Cita Citata ditolak calon mertua. Bukan karena kurang ganteng, cuman pendapatannya kurang memadai buat beli lipstik saja..

Ah, saya juga kecewa. Tapi kekecewaan saya terobati, karena dalam kasus ini jelas Jokowi tidak ikut campur dalam hal apapun yang berkaitan dengan hukum. Sama seperti tidak ikut campurnya dia dalam kasus Setnov yang sempat menang Pra Peradilan melawan KPK..

Jadi kecewanya saya adalah karena ternyata alat bukti polisi belum cukup untuk menjerat Rizieq ke pengadilan. Polisi gagal diawal dalam menghadirkan penyebar chat seks karena itu harus dihadirkan sebagai penguat dugaan..

Bolehlah kita tepuk tangan untuk Kapitera Ampera pengacara Rizieq yang bisa memanfaatkan celah hukum dengan baik. Bayarannya pasti naik sesudah kasus ini.

Sama seperti kepiawaian Fredrich Yunadi pengacara Setnov yang bisa mengutak-atik hukum dengan cerdik, meski akhirnya harus ditahan karena menghalangi penyidik..

Mau gimana lagi ? Polisi sudah menahan kasus ini sekian lama dengan segala cara, meski akhirnya harus menyerah. Kalau status tersangka tetap dipaksakan tanpa ada penjelasan, maka Kepolisian bisa digugat karena tidak menganut asas keadilan.

Hukum adalah hukum, bukan bawa perasaan. Hukum mempunyai logika berfikirnya sendiri sesuai pasal-pasal.

Tinggal polisi harus kembali menyusun papan caturnya dan melakukan serangan balik. Seperti KPK yang saat melawan Setnov berhasil memainkan bidaknya kembali sesudah dihajar habis.

Saya yakin Kapolri tidak akan tinggal diam melihat kepolisian dilecehkan selama ini oleh seorang buronan. Marwah polisi disini dipertaruhkan. Karena itu, polisi harus menyiapkan bukti-bukti baru yang kuat supaya bisa menang dan tidak kalah nanti ketika di Pra Peradilan..

Episode ini masih panjang dan masih akan mewarnai situasi politik kita ke depan. Dalam permainan catur, kadang kita kalah dan kadang kita menang. Kadang kita gembira dan kadang kita kecewa. Itu biasa..

Lagian, saya sudah kangen juga dengan Rizieq Shihab. Kita doakan semoga dia cepat pulang, kalau perlu kita sambut dengan rangkaian bunga ditangan...

..dan bisikan, "semoga tidak ada bukti baru yang muncul di permukaan. "

Menyeringai.