Selasa, 11 Desember 2018

Politik Keluarga Jokowi yang Mematikan

Jokowi
Keluarga Jokowi
Sebenarnya Jokowi bukan orang yang suka menonjolkan keluarganya di depan publik....

Ia tipikal pekerja yang fokus pada kinerja daripada sibuk memamerkan siapa dirinya. Karakter itu bisa dilihat saat ia menjabat sebagai Wali Kota Solo dan Gubernur DKI. Pun saat ia pertama kali menjabat sebagai Presiden, jarang sekali ia menampakkan foto dirinya bersama keluarga.

Tapi berbeda akhir-akhir ini, saat mendekati Pilpres 2019.

Semakin dekat waktu pemilihan, keluarga Jokowi semakin sering tampil ke permukaan. Awalnya Jan Ethes cucunya tampil dan mencuri perhatian publik dengan wajah dan tingkah lakunya yang lucu. Jokowi bahkan tanpa sungkan menggendong dan mengajak Jan naik boom boom car, mobil mainan yang ditabrak-tabrakkan.

Sekarang bahkan keluarga Jokowi tampil lengkap berfoto bersama. Mereka menjadi model foto wartawan yang memotret dan memviralkannya ke media sosial. Meski tampak canggung karena tidak terbiasa, Jokowi harus berperan maksimal menunjukkan kekompakan keluarga, yang tanpa dipamerkan pun memang sudah kompak dari dulunya.

Apa gerangan yang membuat Jokowi berubah?

Inilah yang dinamakan "Politik Keluarga". Sebuah simbol yang dimainkan untuk membentuk citra publik bahwa Jokowi mempunyai keluarga yang lengkap dan harmonis. Dan ini dijalankan dengan satu tujuan, membuat lawan politiknya Prabowo Subianto menjadi lemah dalam pencitraan.

Prabowo patut geram dengan beredarnya foto-foto Jokowi bersama keluarga, karena itu yang dia tidak punya. Prabowo dalam kehidupannya berjalan sendirian, istrinya sudah tidak bersamanya lagi dan anak satu-satunya di negeri orang.

Dengan menampilkan keluarga yang harmonis, Jokowi sebenarnya dengan sadar membuat citra "dingin" pada Prabowo.

Orang Indonesia dalam memandang keluarga masih konvensional, menganggap bahwa keberhasilan membangun keluarga harmonis berkaitan dengan kemampuan membangun negara. Dan pada wilayah ini, Prabowo tidak akan mampu melawannya.

Kemampuan Jokowi melihat kelemahan terbesar lawan memang patut diacungi jempol. Dengan cerdik dan santun, ia sebenarnya sedang menyerang Prabowo tanpa terasa. Dan dampaknya pasti berkaitan dengan elektabilitas.

Bagaimana Prabowo bisa melawan? Masak ia harus pamer kemesraan dengan kuda-kudanya yang berharga miliaran? Tentu malah jadi bahan meme yang viral ketika harus dibandingkan dengan keharmonisan keluarga Jokowi.

Prabowo harus punya satu pukulan telak kepada Jokowi untuk melawan "Politik Keluarga" ini. Mungkin dengan memainkan foto ia bersama anak yatim piatu dari sebuah yayasan, yang menunjukkan bahwa ia peduli pada anak-anak tanpa keluarga. Ini sebuah ide saja, supaya pertarungan makin menarik....

Jika pertarungan sudah selesai dan Jokowi memenangkan kembali kursi kepemimpinan, Jokowi akan mendekati Prabowo dan memeluknya menjelaskan masalah serangan yang dahsyat ini dan berkata ala Don Corleone yang terkenal, "Its just Politics, nothing personal...."

Dan Prabowo bisa kembali ke istal, bergabung bersama kuda-kudanya, dan bercerita kepada mereka tentang segalanya. Termasuk kekesalannya pada Cawapresnya yang janji bawa uang triliunan, tapi ternyata hanya bermodal petai di kepalanya....

Mungkin saja mereka akan seruput kopi bersama sambil memandang bulan.

Tagar.Id

Senin, 10 Desember 2018

Mas Sandi, Bangun Infrastruktur Itu Bukan Modal Kolor Doang

Infrastruktur
Sandiaga Uno di Pasar
Indonesia itu ibarat sebuah rumah yang ditinggalkan dalam keadaan bobrok oleh penghuni sebelumnya..

Rumah yang indah dan terletak di lokasi strategis ini tidak dipelihara dengan baik, sehingga dimakan rayap, digerogoti tikus dan lapuk kena panas dan hujan. Pemilik sebelumnya lebih mementingkan berfoya-foya dengan keluarganya tanpa memperhatikan bahwa rumah yang mereka tempati bisa ambruk dan dalam kondisi yang berbahaya.

"Toh, nanti penghuni berikutnya yang perbaiki.." Begitulah kira-kira pemikiran mereka.

Ketika Jokowi masuk, dia melihat fakta bahwa situasi sudah sedemikian parah. Rumah besar bernama Indonesia ini selain rusak juga ditinggalkan tanpa pendapatan dan hutang yang sangat besar karena perilaku konsumtif gila-gilaan.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama adalah buat perencanaan bagaimana seharusnya rumah yang layak huni itu berdiri. Perencanaan pembangunan itu bukan untuk bagaimana rumah itu berdiri selama 5 tahun saat ia memimpin, tetapi bisa menjadi rumah layak selama ratusan tahun yang aman ditinggali.

Selain itu, rumah yang berada di lokasi strategis itu harus menghasilkan uang karena merawat rumah besar seperti negeri ini butuh biaya tidak sedikit. Karena itu selain direncanakan sebagai rumah tinggal, rumah juga di desain untuk berfungsi sebagai "Restoran" supaya ada pendapatan.

Bagaimana cara membangun rumah yang hampir ambruk itu supaya menjadi rumah layak tinggal dan bisa menjadi Restoran?

Ya, mau tidak mau harus pake hutang.
"Loh, berarti rumah harus di gadaikan dong?".

Tidak juga. Disinilah kita harus pintar. Hutang yang dimaksud adalah model seperti hutang usaha, dimana yang dijaminkan adalah usahanya, bukan rumahnya. Catat ya, potensi USAHANYA bukan RUMAHNYA.

Modelnya macam-macam. Ada yang model sekuritisasi asset dimana pemilik uang meminjamkan untuk membangun tempat usahanya saja. Dalam artian, yang dibangun bukan rumah keseluruhan, tetapi teras depan misalnya yang memang kita pake untuk usaha Restoran. Kalau sudah jadi Restoran dan ada pendapatan, kan bisa mengembalikan utang.

Inilah yang disebut membangun INFRASTRUKTUR. Semua negara melakukan itu. Bahkan negara besar seperti China dan Amerika yang punya pendapatan raksasa itu.

Jadi omong kosong kalau Sandiaga Uno bilang bahwa ia akan membangun infrastruktur tanpa hutang. Ini malah mengerikan. Jangan-jangan kelak ia menjaminkan rumah Indonesia ini diam-diam sehingga negeri asing bisa mengatur kita seenak udelnya karena merasa punya saham di rumah besar ini.

Hati-hati sama janji seseorang yang mencoba mengambil jalan pintas untuk berkuasa. Kalau sesuatu itu tampak mudah, bisa jadi ada sesuatu dibaliknya. Mending transparan, sehingga kita tahu faktor-faktor resikonya.

Lagian, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang tumbuh petai di kepalanya ? Membangun negeri butuh keseriusan tingkat tinggi, bukan cuman ketawa ketiwi..

Seruput kopinya.

Jokowi: Mengejar Dana Haram di Luar Negeri

Joko Widodo
Jokowi
Kenapa Pilpres 2019 terkesan lebih sepi?

Kalau kita mengukur dengan standar Pilpres 2014, pilpres kali ini jauh lebih sepi. Tahun 2014 bisa dibilang adalah Pilpres terganas, pertarungan sengit antardua kubu yang bersaing dalam memperebutkan kursi kepemimpinan di negeri ini. Black campaign, fitnah sampai penguasaan teritorial menjadi hal penting untuk menuju kemenangan.

Ganasnya Pilpres 2014, terkait banyak faktor. Tetapi faktor terbesar tentu dari keberadaan dana, karena tanpa dana tidak akan ada pergerakan apa-apa. "Semua butuh logistik," kata seorang teman yang malang melintang di dunia politik hitam.

Dan sumber dana terbesar untuk membuat Pilpres 2014 begitu heboh adalah adanya dana haram yang begitu besar masuk ke Indonesia. Dana haram yang masuk ini bukan semata dana dari negara asing, tetapi dana haram hasil penggelapan pajak dari banyak sektor seperti pertambangan, juga hasil korupsi, yang diparkir di luar negeri untuk menghindari pajak, kemudian masuk kembali ke dalam negeri pada saat yang tepat, terutama saat musim kampanye seperti sekarang ini.

Dana-dana haram inilah yang banyak digunakan sebagai logistik untuk menggerakkan mesin kampanye yang besar.

Global Financial Integrity (GFI) sebuah lembaga yang berdomisili di AS pada tahun 2014 menempatkan Indonesia di peringkat ke 8 dalam kasus aliran dana haram. Dan itu berarti bernilai ribuan triliun rupiah.

Dana yang biasanya diparkir di negara tax haven ini diperkirakan mengalir ke Indonesia lewat banyak jalur untuk menentukan arah politik Indonesia. Arah politik yang dituju tentu memenangkan salah satu kontestan yang dinilai akan terus mengamankan harta yang disimpan di luar negeri supaya tidak ketahuan.

Kerja sama Indonesia dengan Swiss dalam platform Mutual Legal Assignment MLA yang sedang dalam proses akhir ini, adalah bagian dari upaya pemerintahan Jokowi untuk mencegah masuknya dana haram itu ke Indonesia dalam musim kampanye ini, selain tujuan jangka panjangnya mengembalikan dana itu ke sini.

Tetapi proses kerja sama itu tentu merepotkan para pemilik dana yang taruh uangnya di Swiss, sehingga mereka lebih sibuk mengamankan dirinya daripada mengalirkan dana ke Indonesia. Lagian sekarang, aliran dana ke Indonesia diawasi jauh lebih ketat dari sebelumnya.

Itulah kenapa Pilpres 2019 ini jauh lebih sepi dari Pilpres 2014. Terkuncinya sumber dana yang selama ini dipakai untuk kegiatan "haram" membuat kurangnya logistik untuk memanaskan Pilpres ini menjadi seganas periode lalu.

Akhirnya para pemain politik hanya bergantung pada dana yang ada di dalam negeri yang jelas tidak sebesar jika dana itu datang dari luar. Kalau dulu di 2014 bisa bangun panggung besar dan membayar ribuan orang untuk datang, sekarang cukup di ruangan-ruangan kecil sambil memainkan narasi supaya media sosial riuh.

Jadi paham kan kenapa ada yang sampai bilang bahwa ia kehabisan modal dan harus mencairkan sahamnya meski harganya masih belum maksimal?

Gerakan Jokowi melalui komandannya Sri Mulyani ini memang ampuh membuat banyak pihak tidak berkutik. Mulai dari Tax Amnesty sampai perburuan harta di negara tax haven ini, benar-benar mematikan kutu di rambut banyak orang. Rencananya Hongkong dan Singapura juga akan menjadi target kerja sama berikutnya.

Jokowi memang membutuhkan situasi tenang untuk menang. Karena itu jangan sampai ada dana haram yang masuk ke Indonesia dan mengacaukan semua program yang sudah ia rencanakan matang.

Baru kali ini, banyak jantung yang berdetak kencang karena tempat persembunyian uang mereka yang selama ini aman, diobrak-abrik oleh orang yang dulu mereka bilang "plonga plongo" dan "boneka partai".

Mereka salah besar. Musuh yang mereka kira seekor kucing hutan ternyata adalah macan hitam yang mengendap dan mengintai mangsanya dengan tatapan yang sulit dilepaskan..

Seruput.

Tagar.Id