Rabu, 23 Januari 2019

SELAMAT DATANG KEMBALI, AHOK

Ahok
Denny Siregar dan Ahok
Ahok - yang sekarang maunya dipanggil BTP - adalah salah satu role model saya dalam mencari pemimpin.

Begitu banyak tulisan-tulisan saya tentang Ahok dan sepak terjangnya, yang akhirnya saya bukukan dengan judul "Semua Melawan Ahok" dan sebagian hasilnya saya sumbangkan untuk gerakan relawan memperjuangkan Ahok menjadi Gubernur Jakarta.

Ahok adalah seorang birokrat yang unggul, ia merombak budaya birokrasi kita yang korup menjadi efisien dan efektif. Ia menaikkan standar kepemimpinan pada level yang lebih tinggi.

Ia kalah bahkan masuk penjara karena politik SARA yang dibangun lawannya. Kita gagap waktu itu membelanya, tidak siap akan gelombang tsunami yang dibangun lawan.

Tetapi Ahok membuka kotak pandora, bahwa kelompok radikal berbaju agama ternyata dekat sekali dengan kita. Mereka bersembunyi di tempat ibadah. Dan dari kejadian Ahok, kita sekarang bisa memetakan banyak hal, supaya tidak terulang kejadian kedua.

Ahok adalah martir, dan ia menikmatinya. Penjara tidak mematikannya malah menjadikannya lebih matang sesudah ia bergumul dengan dirinya.

Ahok, selamat datang. Kami rindu sepak terjangmu. Biarkan kami yang membangun panggung kembali untukmu.

KAMPRET TERTANGKAP BASAH

Golput
Kampret Golput

Dari kemarin begitu banyak akun yang komen ke page ini dan menyerukan Golput.

Saya iseng-iseng memantau. Memang ada beberapa yang sejak awal sudah Golput karena ikut barisan sang Profesor bukan-bukan.

Tapi lebih banyak lagi akun-akun baru, akun yang pake marga, akun yang tidak jelas profilenya, yang dengan massif menyebarkan seruan Golput. Mereka mencoba mempengaruhi pemikiran orang-orang bimbang karena kasus ABB, supaya tidak memilih Jokowi.

Dalam survey, Prabowo harus mengejar 20 persen ketertinggalannya dari Jokowi. Dan mereka akan melakukan apa saja untuk menang. Mereka melihat kelemahan lawan yg barisannya kurang rapat, dan menyerang dengan bisikan keraguan.

Salah satunya tertangkap tangan, punya jejak digital yg jelas berpihak pada siapa.

Kampret mencoba menyelam tapi gak bisa berenang. Tercyduk.

Prabowo Takut Najwa Shihab Memandu Debat?

Debat Capres
Najwa Shihab
Tarik ulur siapa yang akan memandu debat kembali berlangsung.

Debat kedua nanti tanggal 17 Februari 2019, hanya akan dihadiri oleh para Calon Presiden, tanpa didampingi Calon wakilnya. Dan banyak hal yang akan diubah oleh KPU sehingga berbeda dengan debat pertama. Seperti tata panggung nanti, tidak ada penonton atau relawan yang berada di belakang Capres karena menurut KPU malah bikin gaduh dan tidak tertib.

Nah, yang masih menjadi tarik ulur kedua timses baik dari TKN Jokowi dan BPN Prabowo adalah siapa moderator atau pemandu debatnya.

Nama Najwa Shihab atau biasa dipanggil Nana, kembali mencuat sebagai kadidat. Najwa pada waktu debat pertama juga muncul sebagai kandidat kuat tetapi ditolak oleh tim BPN. Akhirnya debat pertama dipandu oleh Ira Koesno.

Di debat kedua ini nama Najwa kembali terangkat. Presenter terkenal ini diajukan kembali oleh tim TKN untuk memandu debat, tetapi kembali ditolak keras oleh BPN Prabowo.

Kenapa Najwa selalu ditolak?

Najwa selama ini dikenal sebagai presenter yang selalu menelanjangi narasumbernya dalam setiap acara. Pertanyaan-pertanyaannya yang menohok dan kemampuannya mempelajari kelemahan narasumber menjadi palu keras bagi narasumber yang tidak siap berhadapan dengannya.

Dan Najwa selalu berpatokan dengan data untuk bertanya. Ini yang ditakutkan kubu Prabowo, bahwa ketika Capres mereka ditanya "datanya mana?" Prabowo bisa kelimpungan, karena ia terbiasa bermain di retorika minus data. Dan ini sudah menjadi kekurangan Prabowo yang diketahui orang banyak.

Contoh saja ketika Prabowo bisa-bisanya mengatakan bahwa Haiti adalah negara di Benua Afrika. Atau ketika ia mengatakan bahwa Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia.

Kesalahan data Prabowo tentu bisa menjadi serangan yang memalukan, ketika Najwa nanti mengoreksinya dengan kata-kata tajam. Dan kalau itu terjadi, Prabowo bisa joget lagi sambil menahan emosi. Mungkin jogetnya bisa lebih lama karena memang dia sudah tidak suka Najwa sejak lama. Bisa spin dan split kedua kakinya di lantai.

Itulah kenapa Najwa Shihab ditolak keras oleh BPN. Alasan bahwa Najwa berpihak tentu mengada-ada karena Najwa tidak pernah peduli siapa yang harus dia telanjangi. Pokoknya siap-siap aja kalau jawab ngawur, Najwa pasti menyerang.

Tapi kalau melihat debat pertama, sepertinya peran moderator tidak terlalu berpengaruh karena hanya mengantar acara saja. Tidak ada pertanyaan dari moderator langsung kepada para Capres. Lalu, kenapa kok Prabowo takut sama Najwa?

Seandainya Najwa Shihab yang lolos menjadi moderator tentu acara debat akan mengalir menyenangkan. Najwa lebih luwes daripada Ira Koesno yang terlihat kaku dan galak layaknya guru Bahasa Inggris yang melotot keras ketika kita tidak mampu membedakan mana past tense dan mana future tense.

Seruput dulu kopinya.

Tagar.id