Selasa, 22 Mei 2018

Kenapa Ustad Radikal Lebih Terkenal dari Ustad NU?

Online
Ustad Instan

"Kenapa ustad radikal itu lebih laku daripada ustad NU?". Ini pertanyaan besar dari seorang teman melihat tidak adanya jejak ustad NU muda yang terkenal dan digandrungi banyak orang sekarang ini. Yang ada malah banyak dari HTI.

Dan kita coba jawab pertanyaan ini dengan sebuah penggambaran..

Gerak perkotaan yang tumbuh semakin cepat, menciptakan masyarakat yang juga bergerak dengan cepat. Masyarakat urban ini dibentuk oleh situasi dan kondisi kota besar, sehingga mereka punya gaya hidup yang selalu berubah mengikuti trendnya. Semua menjadi serba instan dan mudah didapat.

Perubahan paling jelas terlihat dari perubahan gaya makanan.

Masyarakat kota besar -terutama generasi baby boomer dan milenial- sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk makan dengan makanan nuansa kampung dengan sajian komplit diatas piring.

Mereka sudah terbiasa instan dengan adanya mie dan makanan fastfood seperti burger dan pizza. Pokoknya kalau bisa gak bangkit dari tempat duduknya, itu lebih baik..

Dan situasi ini diperkuat dengan semakin murah dan mudahnya mengakses internet...

Ketika manusia urban ini memasuki fase rohani, hukum yang berlaku bagi mereka juga sama. Mereka cukup buka internet dan melihat siapa ustad yang terkenal disana.

Mereka juga lebih sering googling untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan dalam benak mereka dan mengamini ketika itu datang dari seorang yang dipercaya sebagai "ustad" oleh banyak orang.

"Banyak" menjadi ukuran kebenaran. Yang dilihat kuantitas jamaah, bukan kualitas ceramah..

Tidak ada lagi diskusi bermalam-malam tentang nilai-nilai. Masyarakat urban hanya butuh fatwa halal dan haram sebagai hukum mereka. Tidak perlu bertanya - apalagi menggunakan logika - kenapa ini haram dan kenapa itu halal.

Semua tersedia dalam bentuk kemasan, tinggal buka bungkusnya, panaskan air dan tuangkan, lalu silahkan makan. Persis mie instant..

Dan ustad2 radikal sangat mengerti ini. Dengan kuatnya jaringan dan sumber daya mereka - termasuk keuangan - mereka membangun konten2 ringkas berisi hukum dan fatwa yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaahnya.

Mereka juga berani membeli slot-slot acara di televisi yang mahal, supaya bisa menciptakan "penceramah2" muda dan bisa menguasai teknik berbicara.

Dan acara televisi yang sebenarnya untuk konsumsi kota besar, dikonsumsi pula oleh warga daerah yang sebenarnya "tidak siap makan fastfood", tapi apa daya daripada dibilang ketinggalan jaman..

Bumbu pedasnya ada di "kontroversial".

Ketika kontroversial, maka ia akan semakin dipandang dan dicari. Gak penting ilmu yang dalam, cukup seadanya dan hapal beberapa ayat, lalu berjubah, jadilah ia seorang ustad. Makanya banyak mualaf yang tiba2 menjadi ustad, karena memang diciptakan. Padahal namanya mualaf ia seharusnya harus lebih banyak belajar daripada mengajar..

Inilah yang menciptakan supply dan demand yang besar. Ada penawaran dan ada permintaan. Semua dibentuk oleh pasar. Siapa yang menguasai pasar, dialah yang menguasai pembeli..

Sedangkan NU lebih rumit bagi mereka...

Ibarat makanan, NU ini adalah makanan kampung yang penuh dengan penyajian dan tidak cepat saji. Kalau ditanya "haram" dan "halal", ustad2 NU lebih banyak memberikan opsi supaya orang bisa berfikir dan menentukan pilihannya sendiri.

NU juga - sebagai kelemahan - gagap terhadap teknologi. Ketika ustad2 instan itu sudah menerapkan sistem franchise, orang NU tetap berprinsip "tidak buka cabang". Orang NU lebih senang hadir di acara2 pengajian dan duduk mendengarkan ceramah.

Perbedaan model inilah yang menjadi jurang pemisah yang lebar. Ustad NU kurang mendapat perhatian karena sorot lampu tidak tersedia kepadanya, sedangkan ustad instant lebih hidup ketika ada lampu kamera..

Bagaimana solusinya ? Kita bicarakan nanti di tulisan kedua, soalnya terlalu panjang..

Selain supaya jangan bosan, di sofa juga kurang enak untuk tiduran. Ini gara2 kejamnya jejak digital yang mengcapture tulisan "ingin kawin lagi kalau jadi pilot".

"Mah, papah udah gak mau jadi pilot.."

"Tetap tidur di sofa !!"

Glek. Mendingan bikin kopi dulu aja..


Garuda Bersih-bersih Pilot Radikal

Garuda
TSIA

Dapat WA dari seorang teman, "Orang Garuda nanyain no telpon lu tuh, kayaknya terkait postingan tentang pilot radikal.."

Surprise juga saya. Apa saya mau diperkarakan ke polisi lagi?

Teringat 700 pengacara yang dulu mau melaporkan gara-gara status tentang Bang Thoyib yang "pulang malu, gak pulang rindu". Apa kabarnya pengacara-pengacara itu ya? Saya sempat bingung, itu pengacara apa Minions? Banyak bener..

Akhirnya ditelponlah saya, oleh orang Garuda. Posisinya tinggi juga. Vice President. Ehm..

"Pak Denny, saya mau sampaikan bahwa tulisan bapak tentang pilot radikal sudah kami baca. Dan pilot yang bernama TSIA itu langsung kami grounded (rumahkan) selama sebulan. Selama sebulan itu kami akan investigasi dan jika terbukti kami akan langsung pecat.."

Wah, cepat juga tanggapan Garuda ya. Belum 1x24 jam, mereka langsung bereaksi dan klarifikasi. Dan hebatnya, mereka bisa dapat nomer telepon saya lagi. Sial. Gak bisa sembunyi 🤣🤣

Sebagai sebuah perusahaan publik, memang Garuda harus segera merespon informasi seperti itu. Karena bisnis Maskapai salah satu prioritasnya adalah keamanan. Tanpa perasaan aman, maka runtuhlah kepercayaan, yang berarti bisa jatuhlah nilai saham..

Bukan hanya itu..

Jika saya adalah VP Garuda, saya malah sebenarnya akan memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan nama Garuda kembali sekaligus promosi. Saya sekalian manggil BNPT dan lembaga anti teroris terkait untuk mulai mengadakan screening dan tes kejiwaan terhadap pilot-pilot Garuda.

Kemudian saya akan bekerjasama dengan NU atau Muhammadiyah dalam rangka pembinaan agama kepada seluruh crew. Dan diakhir acara seluruh karyawan saya akan mengumandangkan slogan, "Garuda melawan Radikalisme".

Sesudah itu, saya akan minta sertifikat bahwa "Pilot Garuda Bebas Unsur Radikalis". Kemudian saya pasang besar2 di surat kabar dan beriklan di televisi.

Dan harga saham Garuda pun berpotensi naik tinggi. Karena ada unsur kepercayaan. Ada rasa aman bahwa Garuda perduli terhadap penumpang selama perjalanan..

Itu kalau saya. Untungnya saya cuman nulis aja. Jadi gak pusing mikir gituan..

Tapi bener gak sih, gaji pilot Garuda itu sampai 71 juta rupiah perbulan ? Banyak ya? Kalau gaji saya segitu, saya bisa kawin lagi..

#plakkkkk !!
"Malam ini tidur di sofa!!"

USTAD-USTAD RADIKAL

Terorisme
Ajaran Radikal

Ada satu masa, saya dan beberapa teman NU keliling bertemu dengan bos-bos perusahaan ternama di Jakarta..

Kami bukan meminta sumbangan, tetapi meminta mereka untuk membuka masjid-masjid dan mushala-mushala di perusahaan -baik itu di gedung maupun di pabrik- kepada ustad-ustad muda NU supaya bisa mengisi disana. Mengingat betapa bahayanya pemikiran radikalis yang sudah menyebar ke segala elemen termasuk di perusahaan swasta. Dan peran penting itu ada di Takmir. Dialah yang mengatur siapa yang boleh bicara di masjidnya..

Memang tidak mudah. Banyak dari mereka yang tidak memberi jawaban pasti. Rata-rata kami lihat memang karena mereka tidak begitu perduli.

Mungkin itu bukan urusan bos besar, tapi kami memang ingin membangun kepedulian mereka yang selama ini abai terhadap situasi. Padahal bisa saja, benih terorisme ada di tempat ibadah di perusahaan mereka..

Bukan rahasia lagi, bahwa tempat-tempat ibadah sudah banyak dikuasai kaum radikalis. Ceramah-ceramah agama ketika shalat Jum'at di masjid perusahaan, seringkali juga menyerang suku dan agama bos mereka sendiri. Kata-kata China dan Kafir seakan menjadi menu wajib tanpa mereka sadari bahwa mereka juga mencari makan di tempat orang yang mereka caci..

Dan yang bisa membaui keberadaan mereka hanyalah ustad-ustad muda NU, karena mereka punya ilmu agama yang mumpuni.

Tapi sayang, perjalanan keliling mengetuk pintu-pintu perusahaan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ada beberapa alasan. Alasan yang paling banyak kami temui adalah karena takut berurusan dengan kelompok-kelompok berbaju agama itu. Urusannya dengan bisnis mereka yang tidak ingin terganggu hanya gara-gara mencampuri masalah agama yang bukan ranah mereka..

Sama seperti stasiun-stasiun televisi...

Meskipun mereka tahu bahwa banyak ustad-ustad yang bermasalah, tapi mereka tetap mengundangnya sebagai pengisi acara agama.

Ada dua alasan kenapa begitu. Pertama, karena produser acaranya adalah bagian dari kelompok radikal. Kedua, karena rating. Selama ini pendapatan televisi terjaga dengan ustad-ustad itu, tanpa perduli isi materinya. Selama orang suka, jual saja..

Perjalanan menyelamatkan negeri ini dari zombie-zombie berbaju agama memang tidak mudah. Orang dibelakang layarnya pintar, jaringannya kuat, solid dan militan, dan sudah sejak lama mereka mengisi acara di stasiun-stasiun televisi.

Dana mereka juga kuat, sehingga bisa membeli slot-slot acara untuk mereka isi dan perlahan mencuci otak pemirsa di rumah. Mereka juga begitu profesional dalam segi manajemen sehingga "dana perjuangan" bisa mereka dapat.

Meski begitu, saya yakin, suatu saat para pengusaha dan pemilik stasiun televisi akan menyadari bahayanya kelompok radikal itu. Tapi kesadaran itu biasanya terlambat, ketika ternyata kelompok ini yang mengendalikan situasi..

Seperti kanker, kelompok radikal ini sudah mencengkeram begitu dalam dan lama. Dan untuk memberantasnya harus bertahap, seperti kemoterapi. Juga membutuhkan waktu yg lama..

Tapi disanalah menariknya. Ada niat dan ada usaha. Karena sesungguhnya disitulah kewajiban manusia. Sebab HASIL itu adalah hak Tuhan semata.

Semoga negeri ini bisa terlindungi dari pemikiran-pemikiran radikal yang ingin merubah dasar negara ini. Seruput?

Senin, 21 Mei 2018

KETIKA PILOT PUN RADIKAL

Pilot
Status Akun Facebook

Sudah 4 tahun, pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang..

Pesawat yang tidak tahu dimana rimbanya itu, hanya ditemukan serpihan2nya saja, tapi tidak bisa ditemukan keseluruhan termasuk mayat2nya.

Baru pada bulan Mei tahun 2018, para ahli menyimpulkan bahwa hilangnya pesawat MH370 kuat dugaan karena pilotnya bunuh diri, bukan karena pesawat rusak.

Data2 menunjukkan bahwa pesawat itu terbang lebih dari 185 kilometer dari jalur yang seharusnya.

Dan kesimpulan para ahli, aksi bunuh diri ini direncanakan dengan cermat dan dalam waktu lama.

Berita ini tentu mengagetkan sekaligus mengerikan, terutama untuk mereka yang sering bepergian dengan pesawat. Bahwa sangat mungkin psikologis pilot bisa menjadi ancaman bagi terbunuhnya ratusan penumpang yang tidak berdosa.

Dan baru-baru ini kita mendapat berita yang lebih menyeramkan. Seorang pilot pesawat Gar**a, ternyata bersimpati pada terorisme yang baru saja terjadi di negeri kita. Ia - dalam status di media sosialnya - membenarkan tudingan bahwa dibalik bom Surabaya ada rekayasa dari kepolisian.

Gar**a pun langsung menonaktifkan pilot tersebut ketika netizen ramai memberitakannya. Dan tidak lama kemudian, terbongkar lagi bahwa seorang pilot Gar**a - dari jejak digitalnya - mengunggah status, "Rezim Panik. Buatlah sesuka hatimu, niscaya suatu saat kalian akan binasa.."

Ancaman ini bukan main-main. Kalau kalian sedang berada dibandara, lihatlah pengumuman besar, "Siapapun yang bercanda ada bom dipesawat, maka ia tidak akan diterbangkan." Ini menunjukkan pihak bandara tidak main-main dalam segala bentuk ancaman karena membahayakan jiwa banyak penumpang. Jadi, sepatutnya status si pilot tadi - yang juga pendukung HTI - juga bisa dijadikan bahan penyelidikan karena sudah meresahkan.

Peristiwa Mako Brimob dan bom di Surabaya jelas ada keterkaitan, minimal sebagai pemicu. Dikhawatirkan, "jiwa-jiwa" ingin ikut berjihad juga sudah tertanam di dada para pilot yang ingin ketemu bidadari secepatnya dengan membawa korban ratusan penumpang sebagai persembahannya.

Karena itu, sudah selayaknya Maskapai Penerbangan mulai kembali melakukan test psikologi kepada para pilotnya. Termasuk menyelidiki jejak digital mereka, orang ini kecenderungannya kemana. Karena Maskapai Penerbangan harus bertanggung jawab terhadap nyawa ratusan penumpang yang ingin selamat sampai di tujuan.

Maskapai penerbangan juga harus memberi jaminan bahwa pilot mereka tidak terkena virus radikal dan mencintai NKRI sepenuh hati, terutama untuk Maskapai Penerbangan milik negeri.

Melihat status-status pilot pesawat Gar**a, saya kok -sebagai seseorang yang suka berpergian dengan pesawat- menjadi miris. Ia sama sekali tidak memberikan ketenangan.

Meski nyawa ada di tangan Tuhan, setidaknya bolehlah saya waspada untuk sementara menghindari maskapai ini sampai ada pemberitahuan bahwa mereka sudah melakukan tes psikologi ulang pada seluruh pilotnya.

Biasanya sebelum naik pesawat, saya berdoa.

Kali ini rasanya doa harus ditambah lebih banyak lagi, "Ya Tuhan, sudah banyak bidadari di dalam pesawat ini, tolong jangan biarkan si pilot mikir bidadari yang ada di luar pesawat nanti.."

Secangkir kopi rasanya kali ini pahit sekali..

Sabtu, 19 Mei 2018

ANJING-ANJING PERANG

HTI
Kelompok Khilafah

Sejak lama saya heran dengan orang-orang yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia..

Indonesia ini negeri ajaib. Negeri dengan 724 bahasa. 1.324 suku ada di sini. Ada 6 agama yang diakui dan belum termasuk penganut kepercayaan. Terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau. Dan Indonesia bisa berdiri sebagai negara kesatuan.

Bayangkan. Bagaimana bisa menyatukan semua itu dalam satu wadah ?

Tidak akan mungkin terjadi jika semua suku atau agama tidak merobek baju kebanggaannya sendiri. Tidak akan mungkin terjadi jika semua meletakkan kepentingan golongannya diatas kepentingan sendiri. Dan tidak mungkin terjadi jika semuanya tidak meletakkan ego diatas meja demi sesuatu yang lebih besar yang dipercayai.

Bagaimana seandainya satu suku saja mengklaim bahwa merekalah yang berjuang paling keras dibandingkan suku lain? Atau jika mereka mengklaim agama merekalah yang paling berjasa dibandingkan agama lain?

Jika itu terjadi, maka sesudah kemerdekaan, pecahlah kita. Seperti di Afrika dan beberapa negara timur tengah, yang terjadi hanyalah perang dan perang untuk berebut tulang yang dagingnya dimakan penjajah ekonomi.

Dengan keajaiban yang diberikan Tuhan seperti ini, kenapa kita tidak bersyukur dan berterimakasih? Malah sibuk mencari pembenaran melalui ayat2 dengan pemahaman tekstual untuk merubah semua nikmat yang sudah diberikan ?

Ketika berdebat dulu dengan para pengusung khilafah, saya selalu punya pertanyaan awal yang bahkan mereka tidak bisa jawab dengan benar. "Berikan satu contoh saja negara di dunia yang menganut konsep khilafah dan tetap bertahan.." Mereka diam.

Mereka tidak tahu, hanya ada dua negara yang menerapkan konsep mirip khalifah seperti yang ingin mereka terapkan, yaitu negara Vatikan dan Iran. Tapi satunya Katolik dan satunya lagi Syiah. Sedangkan dua-duanya mereka haramkan.

Dan Indonesia punya keunikan yang jauh lebih menarik dari kedua negeri itu. Negeri ini demokratis dan mengayomi semua perbedaan. Semua agama disejajarkan dan diberi kesamaan ruang. Pancasila sudah memberikan jawaban. Sebagai dasar seharusnya sudah sempurna, hanya praktek di lapangan yang belum banyak diwujudkan..

Lalu apalagi yang mereka inginkan ? Ingin membuat negeri ini perang terus menerus supaya mereka dapat kerjaan ? Supaya bisa menguasai apa yang tidak pernah mereka perjuangkan?

Negara Islam di Indonesia hanyalah utopia atau khayalan. Karena secara geografis dan demografis tidak memungkinkan. Dan itu sudah disadari para pendiri bangsa ini sejak awal, yang banyak diantara mereka notabene adalah para ulama juga.

Lama-lama saya mengerti, bahwa mereka yang terus mendesakkan perubahan atas nikmat yang sudah diberikan Tuhan ini, sejatinya memang bukan mahluk yang pintar bersyukur.

Dan bencana akan terjadi, jika mereka akhirnya menguasai negeri ini. Mereka akan saling mencakar, menggigit ketika berada di puncak kekuasaan.

Karena sejatinya, konsep khilafah antara mereka sendiri berbeda. Mereka tetap akan berperang dengan sesamanya karena sesungguhnya begitulah sifat asli mereka. Suka berperang dan membunuh sesama hanya karena kekuasaan yang sementara di dunia..

Sejak saya paham itulah saya mengangkat pena untuk melawan mereka. Membongkar kedok mereka. Menelanjangi borok mereka. Dengan ditemani secangkir kopi tentunya..

Perjuangan masih panjang. Mereka masih ada meski sudah terpojok ke sudut karena dihantam keras oleh bersatunya aparat dan masyarakat..

Tapi perhatikan, mereka tidak akan menyerah. Karena mereka adalah anjing-anjing perang yang haus akan darah..

Seruput..

PERANG SILENT MAJORITY

Hoax Bom Surabaya
PNS sebar Hoax Bom Surabaya

Seorang pilot Garuda diberhentikan karena mengunggah postingan yang membela teroris..

Seorang kepala sekolah juga diberhentikan atas kasus yang sama. Bahkan sebuah kampus terkenal memecat dekan dan beberapa dosennya karena terlibat HTI.

Dan semua itu karena peran besar Media Sosial..

Saya tersenyum mengingat beberapa tahun lalu, ketika awal perang Suriah, menulis di media sosial tentang bahayanya paham Wahabi, ISIS dan bagaimana ideologi mereka merasuk ke dalam elemen pemerintahan dan masyarakat.

Saya dianggap kafir waktu itu, bahkan dijauhi teman dan saudara karena dibilang sudah "memecah belah" Islam.

Dulu seperti sendirian berperang menghadapi paham berbahaya itu. Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, tetapi tidak pernah berhenti kami menulis kegelisahan yang ada di dada. Terus terang itu hal yang sangat melelahkan.

Dihujat sana sini. Dimaki. Diancam dibunuh. Darah halal. Adalah bahasa sehari-hari yang kami terima karena mengingatkan tentang bahayanya ideologi itu ada di negeri ini.

Sekarang lega rasanya melihat silent majority bergerak dengan kekuatan media sosial yang ada. Kekuatan untuk mem-viralkan postingan yang bernada mengancam bahkam berpotensi memecah belah negeri ini.

Lega rasanya melihat kekuatan anak bangsa bersatu karena tidak rela keutuhan negeri ini terkoyak. Musuh yang dulu sembunyi di balik topeng agama, mulai ditelanjangi satu persatu wajahnya. Mereka tidak bisa sembunyi, jejak digital mereka bicara..

Bahkan Kemenag sudah mengeluarkan daftar 200 ustad yang mendapat rekomendasi. Baguslah, nama-nama ustad jadi-jadian banyak yang tidak masuk dalam daftar itu, membuktikan Kemenag juga sudah mulai waspada.

Yang menarik lagi, beberapa BUMN yang kemarin merilis daftar nama penceramah Ramadhan, sudah mengganti daftarnya dengan penceramah yang lebih toleran.

Semua karena tekanan media sosial..

Kita bergerak lebih maju dari tahun 2013 dulu. Dan saya yakin, kita akan jauh lebih maju sekian tahun ke depan..

Inilah perlawanan. Perjuangan. Menjaga negeri dari rongrongan ideologi yang merusak negeri-negeri Timur Tengah. Dulu berperang pakai senapan. Sekarang cukup maen "Viralkan !!".

Merinding rasanya melihat ombak besar kebaikan datang bergelombang menghantam keberadaan radikalis yang kemarin menguasai media sosial.

Puasa-puasa gini memang mata agak terganggu. Tadi lihat oli bekas berasa lihat kopi item panas. Mau diseruput, untung belum bedug..

Nasebb..

Rabu, 16 Mei 2018

BENARKAH POLISI KECOLONGAN?

Terorisme
Kami Bersama Polri

Saya menemukan tulisan seseorang yang mempertanyakan kinerja BIN dan Densus 88 karena "kecolongan" rentetan bom di Surabaya..

Saya sebaliknya, justru mengapresiasi kinerja aparat dalam memburu para teroris ini.

Seandainya yang menulis tahu, betapa besarnya bom yang meledak di Bali tahun 2002 lalu. Bom Bali pertama menewaskan lebih dari 200 orang. Itulah kemenangan teroris terbesar di negeri ini.

Bom Bali kedua di tahun 2005, menewaskan lebih dari 20 orang dan hampir 200 orang luka2. Sedangkan Bom di hotel JW Marriot di Jakarta tahun 2003, menewaskan 12 orang dan ratusan luka. Tahun 2009, bom meledak lagi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta menewaskan 9 orang.

Jika melihat rekam jejaknya, terlihat bahwa aparat kepolisian dan intelijen sudah berhasil meminimalisir ledakan bom di Indonesia. Perburuan anggota2 teroris dimana2 - termasuk pengetatan pengawasan material pembuat bom - membuat teroris sudah sulit untuk kembali membuat bom berukuran besar.

Banyak peristiwa dimana Densus 88 berhasil membekuk para calon bomber di daerah2, hanya beritanya kurang maksimal. Bahkan pasca pemboman di Surabaya, Densus kembali menembak mati 4 orang teroris dan menyita puluhan bom yang siap diledakkan di Surabaya.

Hanya memang, sel-sel teroris ini sudah menyebar secara luas sejak lama. Tidak adanya kewenangan aparat untuk melakukan pencegahan karena terganjal UU, membuat aparat selain harus berhadapan dengan teroris, juga harus berhadapan dengan kelompok elit yang selalu berteriak HAM.

Terjadinya rentetan bom bunuh diri di Surabaya, menunjukkan bahwa sel tidur teroris jauh lebih banyak dari jumlah anggota kepolisian. Karena itu diperlukan operasi gabungan TNI dan Polri untuk mulai menyisir calon2 bomber yang sudah siap meledakkan negeri ini.

Dan lagi, melihat bahwa pelaku bom ini adalah satu anggota keluarga - yang di Sidoarjo juga - bisa disimpulkan, sekarang sudah sulit mencari "pengantin" bom secara individu. Jadi mencuci otak satu keluarga, bisa dianggap efektif untuk menyebarkan bom di beberapa titik sekaligus.

Kenapa aksi bom di Surabaya, meski beruntun tapi tidak menimbulkan korban yang lebih besar ?

Karena teroris sudah mulai panik. Mereka diburu dimana2, sehingga harus sesegera mungkin meledakkan diri meski tanpa perencanaan yang matang seperti dulu yang dilakukan Imam Samudra, otak bom Bali pertama atau Dr Azahari.

Aksi sporadis menunjukkan bahwa sudah sulit teroris berkoordinasi secara intens dan terpimpin. Akhirnya yang mereka lakukan hanya menunjuk sembarang target dan meledakkan diri disana.

Bahkan saking sulitnya mencari bahan pembuat bom, para teroris mengunakan senjata apa saja untuk melakukan aksinya.

Yang terbaru di Mapolda Riau, beberapa orang teroris menyerang polisi hanya dengan Samurai.

Tidak ada hasil kerja yang sempurna, tetapi minimal aparat kita sudah mampu mencegah negeri ini seperti Irak dan Afghanistan, yang hampir setiap bulan ada 2-3 kali bom bunuh diri di Mall dan Pasar, yang membawa korban jiwa jauh lebih besar..

Bahkan AS dan Inggris ingin belajar penanganan terorisme di Indonesia. Karena menurut mereka, Indonesia seharusnya sejak lama bisa seperti Irak, Suriah dan Afghanistan, tapi ternyata Indonesia mampu menangani negeri ini dengan sebaik2nya..

Karena itu, kita dukung kinerja aparat Kepolisian, TNI, BIN dan Densus 88, karena tanpa kerja mereka yang melelahkan, mungkin bapak kita, ibu kita, anak2 kita, saudara kita, teman kita, atau bahkan kita sendiri, sekarang sudah menjadi korban bom dari teroris.

Bersyukur jauh lebih baik daripada sibuk menyerang kinerja lembaga yang sudah bekerja sangat keras untuk menjaga kita semua. Dan berterimakasih pada mereka adalah tingkat rasa syukur kita masih selamat dari ancaman yang sangat nyata..

Seruput kopinya dulu, Polri dan semua yang bekerja keras melindungi kami.

Selasa, 15 Mei 2018

KAMI TIDAK TAKUT



Kami Tidak Takut
Kami Tidak Takut
Di grup-grup wa bertebaran meme-meme lucu yang memparodikan tentang terorisme.

Hanya karena etika terhadap korban yang meninggal, maka meme-meme itu tidak disebar ke publik melalui media sosial, tapi hanya di grup-grup pribadi.

Saya yakin mereka yang membuat dan menyebarkan meme-meme itu bukannya tidak menghormati para korban bom yang meninggal. Tetapi memang disitulah uniknya orang Indonesia.

Orang kita dikenal mampu membuat humor-humor dalam menghadapi tekanan sesulit apapun. Humor -bagi saya dan mereka- adalah bentuk perlawanan dalam menghadapi teror.

Malah tagar #KamiTidakTakut, buat kami sesungguhnya adalah bentuk ketakutan yang tertulis. Teror tidak bisa dilawan dengan tagar. Teror hanya bisa dilawan dengan humor.

Teror sendiri berarti bentuk ketakutan yang nyata. Dan lawan dari rasa takut adalah kelucuan. Dengan kelucuan, maka pesan ketakutan yang ingin disebarkan teroris akan menjadi netral.

Hanya saja banyak yang tidak memahami ini, sehingga kelucuan dalam bentuk joke atau meme dianggap tidak sopan. Apalagi ketika ada korban jiwa. Semua harus tertunduk sedih dan meratap. Itu sudah "hukum yang tidak tertulis" di masyarakat yang baperan.

Coba saja ada yang keluarkan meme yang lucu saat peristiwa pemboman terjadi, pasti dia akan dimaki. Dianggap tidak perdulilah, tidak empati pada keluarga korbanlah dan banyak lagi.

Padahal ketika status-status di media sosial kita berisi kesedihan dan ketakutan, maka pesan teror dari teroris itu sejatinya berhasil. Dan teroris pasti menganggapnya sebagai kemenangan..

Orang Indonesia sesungguhnya tidak mudah ditakuti oleh teroris. Bom teroris itu hanya membuat mereka sejenak teralihkan perhatian. Untuk kemudian mereka sibuk menghadapi teror sehari-hari.

Teror yang paling ditakuti orang Indonesia adalah "bagaimana besok bisa makan?".

Urusan perut memang terdepan. Makanya waktu ada teroris Thamrin tahun 2016 lalu, bang Jamal pedagang sate, tetap kipas-kipas sate. "Wah, ada teroris. Pasti rame nih jualan.. Penglaris. Penglaris.."

Teror yang juga ditakuti orang Indonesia adalah debt collector. Apalagi cicilan motor sudah nunggak 2 bulan. Pasti keluar pagar rumah dengan mengendap-endap sambil nuntun motor, kalau bisa sebelum subuh sudah keluar rumah dan pulangnya larut malam kalau debkol sudah pada tidur di rumah.

Emak-emak lebih gak mudah diteror. Buat mereka, pelakor lebih mengerikan daripada teroris. Karena adanya pelakor, berarti mereka berpotensi akan menjadi istri tua kalau suami kawin lagi.

Bahaya sekali. Karena kata "tua" adalah musuh terbesar wanita yang pasti cemberut ketika ditanya, "kelahiran tahun berapa?".

Jomblo apalagi. Sulit banget diteror. Teror bagi jomblo adalah ketika hari Sabtu tiba. Setiap malam hatinya diteror oleh apapun yang lewat didepan matanya yang sedang gandengan.

Bahkan ketika truk gandeng lewat, seorang jomblo spontan memukul-mukul dadanya sambil teriak, "Trus giliranku kapannn ya Tuhan. Masak truk aja dikasi pasangannnn?". Ia meraung-raung sambil berlari ditengah hujan lebat mendramatisir keadaan..

Coba. Kuat gak sih teroris ngadepin situasi kayak gini?

Dan kebetulan sedang di Australia, akupun terteror setiap mau masuk toilet ketika perut sakit gak keruan. "Tisu, tisu dimana-mana.. Gimana gua ceboknyaaa?". Bayangan mengelap pantatku sendiri adalah ketakutan yang nyata.

Ahhhhh.. sakit perut lagi. Tisu lagi, tisu lagii.. "Aku pengen airrrrrr" suaraku menggema meneror seisi rumah.

Teroris memang gada apa-apanya kalo menghadapi orang Indonesia. Mati gaya.

Senin, 14 Mei 2018

Kita Masih Terbiasa Mengobati Daripada Mencegah Terorisme

Polri
Jokowi, Kapolri dan Panglima TNI tinjau Lokasi Bom Surabaya

Permasalahan aksi terorisme di Indonesia ini sudah sejak lama sebenarnya. Masalahnya adalah kita hanya selalu bertumpu pada aparat untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada. Padahal aksi teroris ini akan banyak teredam jika banyak elemen terlibat dalam pencegahannya.

Aksi teroris dipicu oleh pernyataan-pernyataan provokatif dan ajakan-ajakan untuk melakukan aksi dengan sebelumnya terlebih dahulu mengajarkan bagaimana cara melakukan kerusakan. Sesudah itu, bagaimana cara menyebarkan pesan kerusakan sehingga menimbulkan ketakutan.

Dan kunci dari itu semua adalah media komunikasi..

Media-media komunikasi dan chatting seperti Telegram, WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain adalah jaringan komunikasi global para teroris untuk saling bersapa dan melakukan proses cuci otak.

Pemerintah melalui Kominfo seharusnya sejak awal bisa bekerjasama dengan pemilik aplikasi-aplikasi luar ini. Jangan rakyat hanya dijadikan konsumen saja, tapi juga keamanannya benar-benar dilindungi. Sementara ini Menkominfo masih maen gertak, belum benar-benar serius untuk menangani lubang-lubang ini.

Meski pintu masuk teroris dari luar bisa dibatasi, tapi ideologi-ideologi teroris global masih berkeliaran dengan bebas lewat internet ini.

Elemen lain adalah stasiun televisi..

Stasiun televisi seharusnya mulai membersihkan diri dari produser-produser acara agamanya yang terindikasi garis keras.

Televisi punya tanggung jawab sangat besar dalam mengobarkan semangat "merusak atas nama agama" karena mempopulerkan ustad-ustad yang sangat provokatif. Ada ustad yang berdakwah Indonesia negara taghut, ada yang membenarkan aksi bunuh diri.

Dan bahayanya acara ceramah agama di televisi adalah dia bisa menjangkau daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau internet, sehingga informasi bersifat sepihak.

Jadi stasiun televisi adalah media efektif untuk mencuci otak masyarakat di daerah-daerah. Ditambah dengan pengetahuan agama penceramah yang sangat terbatas sehingga fatwa yang keluarpun instan pula.

Pemerintah harus menekan stasiun televisi untuk melibatkan dua ormas besar agama yaitu NU dan Muhammadiyah dalam acara ceramah agama.

Dan dalam ceramah harus ada penekanan nilai-nilai Pancasila dan kecintaan pada negara. Kalau perlu, khusus acara agama Islam, harus ada unit khusus yang melakukan filter terhadap pengisi acara..

Jangan dibiarkan hanya mereka yang punya uang yang bisa ada di slot acara. Dana teroris itu besar, mereka sanggup membeli seluruh slot acara agama di televisi untuk menggencarkan propaganda dan program cuci otak mereka.

Dan terakhir adalah elemen masyarakat melalui kelurahan, RT dan RW untuk terus mendata warganya dan menjaga masjid di daerahnya dari ujaran-ujaran kebencian dan provokatif. Kepolisian dibantu TNI harus kembali aktif mengedukasi masyarakat dan sama-sama menjaga wilayahnya dari segala kemungkinan tindak terorisme.

Jika tindakan-tindakan ini dilakukan, maka aksi-aksi teror akan teredam. Karena mereka tidak bisa berinteraksi satu sama lain, bahkan tidak bisa mencuci otak orang awam yang ingin belajar agama. Tugas aparatpun akan lebih ringan..

Orang bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi kita sampai sekarang terus menerus mengobati, karena tidak paham bagaimana mencegahnya..

Semoga kedepan kita bisa lebih baik. Dan jadikan kota Surabaya sebagai ikon perlawanan terhadap terorisme. Karena sesungguhnya Surabaya adalah kota Pahlawan. Seruputtt.

Hati-hati, Bisa Jadi Ada Bom yang Lebih Besar Lagi

Terorisme
Mobil Terduga Teroris

Pernah nonton film The Kingdom?

Film yang dibintangi Jamie Foxx dan Jennifer Garner ini bercerita tentang penyelidikan bom oleh teroris di pangkalan militer Amerika di Saudi.

Ada scene diawal film yang menarik, yaitu terjadi 3 tahap teroris beraksi.

Yang pertama, ketika dua orang naik mobil dan menembaki keluarga di markas militer itu. Ketika keluarga itu panik, mereka berlarian ke segala arah dan sebagian menuju ke arah seseorang yang dikira adalah petugas keamanan.

Sesudah beberapa keluarga mendekati "petugas keamanan" itu, tiba-tiba orang tersebut meledakkan dirinya. Dan jatuh korban yang lebih besar.

Belum selesai ternyata...

Ketika polisi dan dan warga berkumpul mendekati lokasi bom bunuh diri, sebuah ambulan yang diparkir meledak dengan dahsyat karena memuat bom yang lebih besar. Korban jatuh pun lebih besar..

Rangkaian teror yang terjadi yang diawali kerusuhan di Mako Brimob, bisa jadi adalah pengalihan-pengalihan yang dilakukan oleh kelompok teroris yang sedang mempersiapkan aksi yang lebih besar.

Ini menjawab pertanyaan, kenapa aksi bom terjadi di Surabaya (dan baru saja dapat kabar di Sidoarjo juga ada bom). Karena jika melihat pola teroris, mereka ingin menyampaikan pesan mereka ke dunia internasional seluas-luasnya.

Dan Surabaya atau Jawa Timur bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan aksi teror, karena tidak banyak warga asing disana. Kalau pengen bikin pesan yang meluas seluas-luasnyanya, mereka biasa melakukannya di Jakarta atau Bali. Beritanya akan lebih besar jika ada warga asing yang menjadi korban..

Karena itu -diluar haru biru masalah pemboman di gereja Surabaya- kita wajib waspada akan ada aksi yang lebih besar lagi dirancang di Jakarta, Bali - ataupun Jogja. Karena terorisme tidak bekerja tanpa meninggalkan pesan, karena pesan itulah inti dari perbuatan mereka.

Mulai jaga tempat-tempat ibadah, mall-mall besar, hotel-hotel internasional di daerah-daerah wisata Internasional dari aksi mereka.

Dan sebagai jawaban dari pertanyaan seorang teman, "Kemana Densus 88 kok bisa teroris itu lolos dan berhasil melakukan pemboman?"

Jawabannya adalah, Minggu dinihari, beberapa jam sebelum bom meledak di Surabaya, Densus 88 berhasil menembak mati 4 teroris di Cianjur. Ini memperlihatkan bahwa polisi memang dibuat sibuk untuk mengalihkan perhatian aparat, sehingga mereka leluasa membuat aksi yang lebih mematikan..

Kita boleh tidak takut, tetapi wajib waspada. Perkuat pengamanan di tingkat RT/RW, laporkan jika ada kejadian yang mencurigakan dan ada orang tak dikenal.

Dan yang penting, desak Presiden untuk keluarkan Perppu Anti Terorisme. DPR mandul untuk selesaikan Revisi UU Anti Terorisme.

Tanpa Perppu dan Revisi UU itu, aparat kepolisian hanya bisa menangkap ketika sudah ada kejadian, bukan sebelum mereka melakukan apa-apa.

Semangat, kawan.. Salam secangkir kopi dan perjuangan melawan teror di negeri tercinta.

Jangan pernah takut..

Jumat, 11 Mei 2018

MEMBENCI JOKOWI

Joko Widodo
Presiden Jokowi

Kenapa kebanyakan pendukung teroris adalah pembenci Jokowi? Tidak perlu survey untuk ini. Perhatikan saja komen-komen yang muncul maupun status yang dibuat pada saat kerusuhan Mako Brimob berlangsung. Rata-rata mereka yang menganggap bahwa kerusuhan di Mako itu adalah settingan, selalu ada postingan #2019GantiPresiden di status mereka.

Bahkan di grup-grup WA, teman-teman kecil saya dulu yang notabene adalah pembenci Jokowi sejak pilpres, turut menyuarakan bahwa kerusuhan Mako Brimob adalah bagian dari pengalihan isu karena lemahnya rupiah terhadap dollar AS. Mereka jangankan berempati kepada keluarga korban polisi, bahkan mereka membangun teori konspirasinya sendiri..

Sebenarnya mudah jawabannya, meski akan banyak yang menyangkalnya..

Kebencian kepada Jokowi dipicu karena tidak berkuasanya Prabowo. Prabowo bagi mereka adalah inang yang sempurna untuk berkembang biaknya virus ideologi yang sudah mereka tanam di negeri ini sejak lama. Ketika Jokowi memimpin, maka sesaklah dada mereka..

Jokowi menumpas terorisme di Indonesia mulai dari akar pertumbuhannya, yaitu pendanaan.

Kelompok garis keras ini merasakan lesu darah ketika Jokowi menyetop dana bantuan sosial - bansos - dan dana hibah untuk mereka.

Dana bansos dan hibah yang selama ini dinikmati ormas-ormas dan LSM fiktif, dialihkan ke hal yang lebih berguna. Penghentian dana bansos ini dimulai sejak Jokowi menjadi Gubernur Jakarta dan diteruskan oleh Ahok. Ketika Jokowi menjadi Presiden, ormas-ormas yang mengajukan proposal pendanaan semakin kering dapurnya dan itu menghalangi mereka untuk menyebarkan ideologinya.

Kemudian Jokowi mengeluarkan Perppu pembubaran HTI. Maka semakin meradanglah mereka. Kemarahan kelompok garis keras ini bukan karena mereka punya ikatan kuat dengan HTI, tapi karena ketakutan bahwa mereka akan menjadi sasaran berikutnya. Hanya pada masa Jokowi inilah, agenda-agenda besar mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri khilafah, berhenti.

Ditambah PKS yang sudah tidak bisa "bisnis" di kursi pemerintahan lagi. Lihat saja ketika PKS dulu ada di pemerintahan, semua jadi terlihat aman tentram dan sentosa, meski mereka sebenarnya menggerogoti dari dalam.

Itulah kenapa Jokowi dijadikan mereka sebagai "musuh bersama". Pada masa SBY kelompok garis keras ini berkembang dengan cepat menguasai masjid dan majelis taklim, karena memang difasilitasi dan dibiarkan berkembang.

Jadi, buat saya, membela Jokowi bukan karena membela sosok yang nafsu berkuasa. Tetapi membela utuhnya negeri ini karena jika kelompok garis keras ini kukunya dibiarkan mencengkeram terlalu dalam, satu waktu habislah kita.

Jika musuh kelompok garis keras ini adalah Jokowi, maka saya akan berpihak pada lawan mereka. Jadi sudah pasti saya akan dibenci juga oleh mereka.

Sesederhana itu sebenarnya. Seperti sederhananya secangkir kopi yang selalu ada tersedia di atas meja.