Jumat, 19 Oktober 2018

Jokowi: BPJS Kebangetan!

Jokowi
BPJS Kesehatan

 "Kebangetan!" Gerutu Jokowi kesal....

Jokowi geram karena BPJS kesehatan selalu defisit. Tambah kesal lagi dia karena seperti tidak ada solusi dari BPJS sendiri. "Tiap kurang, minta. Masak ginian Presiden juga yang ngurusin!"

BPJS memang seperti buah simalakama. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat, tetapi anggarannya juga besar.

Tahun 2017, anggaran BPJS sebesar 84 triliun. Tapi pendapatan dari iurannya hanya 74 sekian triliun. Ada selisih 9 triliun rupiah yang akhirnya menjadi tanggungan pemerintah. Bahkan tahun 2018, diprediksi defisit BPJS mencapai 14 triliun rupiah.

Dirut BPJS Fahmi Idris pun kembali mengingatkan bahwa iuran BPJS terlalu kecil sehingga selalu "rugi". Meski kata rugi juga bukan kata yang tepat, karena BPJS bukan badan usaha yang menerapkan konsep laba seperti Pertamina misalnya.

Hanya untuk menaikkan iuran BPJS tentu akan jadi masalah baru, karena ini akan berpengaruh langsung kepada masyarakat bawah. Lha wong, mereka bayar iuran sekarang aja susah, masak mau dinaikin lagi?

Fahmi Idris pun seperti kehilangan akal. Akhirnya dia "minta lagi minta lagi" ke pemerintah. Itulah yang membuat Jokowi marah. Padahal dulu Jokowi setuju gaji Dirut BPJS sebesar 300 juta rupiah, jauh lebih tinggi dari gajinya sendiri yang hanya 62 juta rupiah.

Gaji tinggi itu supaya Dirut BPJS berpikir layaknya seorang CEO, bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di unitnya.

Permasalahan BPJS ini terjadi dari tahun ke tahun tanpa ada perubahan. Dan Fahmi yang bergaji tinggi itupun hanya punya satu solusi saja, "Naikkan iuran". Kalau solusinya cuma naikkan doang, untuk apa digaji 300 juta? Kalau gitu anak gua juga bisa. Begitu mungkin gerutu Jokowi.

Memang ada salah satu solusi untuk menutupi defisit yaitu dengan mengambil separuh dari pajak cukai rokok. Pendapatan negara selama ini dari rokok sebesar 145 triliun rupiah dan pajaknya sebesar 10 persen. Tapi itu belum cukup untuk menutupi defisit yang ada.

Kenapa tidak iuran BPJS sekalian saja ditanggung perokok, jadi bukan hanya diambil dari pajaknya? Semisal dari setiap pembelian sebungkus rokok seharga 15 ribu rupiah, ada tambahan 10-15 persen dengan catatan di depan bungkusnya, "Untuk pembayaran BPJS".

Perokok pasti tidak keberatan, karena bagi pecandu, rokok sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Naik berapa pun tidak begitu masalah. Asal jangan banyak-banyak, hehe....

Nah, jika pendapatan negara dari cukai rokok saja bisa sebesar 145 triliun rupiah, berarti ada tambahan 10 persen sebesar 14,5 triliun rupiah sebagai "sumbangan" perokok kepada BPJS. Tentu ini bisa membantu defisit yang ada.

Hanya, tolong dong, kalau sudah dibantu gitu, mbok ya perokok dikasih ruang yang lebih luas di tempat-tempat publik. Masak udah duitnya diambil, tempat merokoknya gak dikasih yang nyaman.

Seharusnya di depan bungkus rokok, jangan lagi dikasih gambar yang seram-seram dengan tulisan, "Merokok bisa membunuhmu". Seharusnya ditulis, "Terima kasih perokok, Anda membantu orang untuk sehat". Kan senang jadinya....

Terus di tempat merokok di publik, jangan hanya dikasih tulisan, "tempat merokok". Tetapi ditulis, "tempat orang yang berjasa membantu orang lain tetap sehat". Keren, kan....

Saran ginian doang gak perlu deh digaji 300 juta rupiah per bulan. Seruput dulu kopinya. Eh, korek apinya mana ya?

Jangan Pernah Lelah Mencinta Indonesia

Ansor-Banser
Kirab Satu Negeri

Menjaga Indonesia itu tidak mudah....

Negeri yang ditakdirkan terdiri dari banyak suku, ras dan agama ini mendapat anugerah dengan ikatan dalam bentuk negara kesatuan, bukan kerajaan. Itu berarti secara otomatis kita semua yang berbeda melebur menjadi satu, dengan sebuah identitas kebangsaan.

Tetapi akhir-akhir ini rasa persatuan itu tercederai dengan ulah sebuah komunitas, kelompok kecil dengan identitas keagamaan yang merasa dirinya paling benar. Mereka memaksakan keyakinannya dengan cara kekerasan, menjajah kemerdekaan orang lain yang berkeyakinan berbeda. Peristiwa-peristiwa itu meletup di beberapa daerah dan membangun rasa kecurigaan juga dendam.

Kelompok ini walau kecil tidak bisa dianggap remeh. Virus yang mereka tularkan itu berhasil menghancurkan banyak negara seperti Suriah dan Irak, merusak kebhinekaan mereka dan memakan banyak korban jiwa. Sebuah pelajaran yang harus dipetik oleh kita dan menjadi bahan kajian supaya tidak bernasib sama.

Masih untung kita ada Nahdlatul Ulama....

NU adalah organisasi massa terbesar di Indonesia berbasis keagamaan. Mereka sudah berkomitmen untuk menjaga tanah air ini dengan segenap darah dan jiwa mereka. Gerakan mereka yang diwakili oleh kelompok kepemudaan yang bernaung dibawah nama GP Ansor dan Banser, terus bergerak untuk menjahit kembali luka-luka yang ditimbulkan oleh arogansi kelompok kecil yang beragama sama.

Sejak 16 September, Ansor dan Banser NU melakukan kirab satu negeri. Mereka bergerak menunjukkan identitas mereka bukan untuk mengancam, tetapi justru mengingatkan mereka yang berbeda keyakinan untuk melangkah bersama menjaga negeri ini.

Mereka seakan berkata, "Jangan takut, kami ada" sebagai pengingat bahwa sebagian besar masyarakat ini bukan kelompok anarkis dan radikal. Yang bisa kita lakukan hanya bergandeng tangan dan saling menghormati sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak ingin terpecah.

Tanggal 26 Oktober, 100 ribu anggota Ansor dan Banser NU di Yogyakarta akan melakukan deklarasi kebangsaan, sekaligus mengingat kembali Sumpah Pemuda kita. Jangan karena kelompok kecil yang anarkis, kita jadi terpecah. Dan mereka juga mengundang semua warga untuk ikut hadir di sana.

Harus diakui, tanpa Nahdlatul Ulama, sudah lama kita terpecah. Karena ada kelompok mengatasnamakan agama yang menyakiti agama lain dengan semua aksi provokasinya. Jika tidak ada kelompok agama moderat, kita bisa seperti Lebanon yang perang saudara antar-agama selama 15 tahun lamanya.

"Jangan pernah lelah mencinta Indonesia," pesan Gus Yaqut Cholil Qoumas Ketua umum Ansor dan panglima tertinggi Banser NU. Kecintaannya pada negeri inilah yang ditularkan pada sekian puluh juta anggotanya untuk tetap berada pada jalur yang benar. Dan kita terselamatkan dari perpecahan.

Jujur, bersama mereka, saya merasa percaya diri, bahwa negeri ini akan menjadi besar. Karena selain aparat keamanan, Ansor dan Banser NU lah benteng terkuat kita menjaga negeri dari perpecahan sektarian.

Jangan pernah lelah mencinta Indonesia.

Saya tidak pernah lelah. Setiap tarikan napas saya, setiap detak jantung saya, dan setiap tarikan seruput kopi saya, hanya ada satu tujuan, bagaimana menjaga negeri ini supaya tetap seperti yang diamanatkan para pendiri bangsa.

Dan itulah jihad yang sebenar-benarnya.

Jika kita satu barisan demi Indonesia, mari angkat cangkir kopinya..

Rabu, 17 Oktober 2018

MENGUSIR HTI

Ansor
Denny Siregar dan Ketum Ansor

Pertarungan antara pendukung NKRI versus khilafah sedang berlangsung. Ini perang panjang di negeri ini.

Banser dan Ansor NU sebagai organisasi muslim terbesar di negeri ini sudah menyatakan perangnya sendiri. Dan mereka tidak hanya berteriak, mereka bergerak, meskipun banyak hadangan dimana-mana.

Menarik mendengar kisah mereka di lapangan yang head to head melawan HTI, radikalisme dan intoleransi di negara tercinta sambil seruput..

Sandiaga Uno dan Mimpi Oke Oce

Politik
Sandiaga Uno di Pasar

"Oke Oce gagal total...," kata Sandiaga Uno lemah.

Oke Oce adalah mimpi program pengentasan kemiskinan dan pembukaan lapangan kerja yang digagas Sandiaga Uno saat menjadi Wakil Gubernur DKI.

Konsep awalnya saat kampanye adalah dengan membantu orang untuk menjadi wirausahawan baru dengan diberi pelatihan dan modal. Tapi pada penerapannya sesudah Sandi berhasil menduduki kursi Wagub DKI, pemberian modal itu ternyata tidak ada. Nol besar.

Pemprov DKI hanya menjadi fasilitator kepada calon wirausaha dengan pihak Bank, dengan bunga yang tinggi juga, sekitar 13 persen per tahun atau 1,5 persen per bulan. Itu bukan menolong orang tapi malah mengantarnya ke tiang gantungan.

Sesudah setahun berjalan, program Oke Oce itu sendiri baru mencapai 3,31 persen. Jauh sekali dari target awalnya. Dari target 44 gerai yang mau dibuka, baru 7 yang terlaksana. Itupun sudah mulai tutup karena tidak ada pembelinya.

Jelas Oke Oce adalah program yang gagal. Meskipun begitu, Sandiaga Uno memaksakan jika ia menjadi Wapres RI nanti, ia akan mengangkat program Oke Oce ke tingkat nasional. Sebuah mimpi yang dilahirkan dari sebuah mimpi lainnya.

Kenapa Oke Oce gagal?

Karena Oke Oce berkutat pada model bisnis gerai minimarket konvensional, modalnya tentu sangat tinggi. Lawannya adalah raksasa seperti Alfamart dan Indomaret, tentu tidak akan bertahan. Apalagi di era teknologi ini, konsep gerai minimarket Oke Oce sudah tidak relevan ketika perusahaan retail besar lainnya sudah bermain di online untuk menekan biaya operasional.

Yang kedua, "pengusaha itu binatang yang berbeda" kata seorang pengusaha besar. Menjadi pengusaha itu tidak mudah, harus melalui ujian keras dan berbagai macam kegagalan sebelum naik kelas. Jadi urusannya bukan hanya modal tetapi yang paling penting adalah mental.

Berapa persen pengusaha yang ingin diciptakan Sandiaga Uno dengan fasilitas yang ingin dia manjakan? Wah bisa jadi dari seribu peserta manja, hanya satu yang punya mental pengusaha, sedangkan modal sudah terlanjur beredar. Rugi bandar.

Inilah yang tidak diperhatikan Sandiaga Uno. Ia memang bukan tipikal pengusaha yang mulai dari bawah. Sandiaga Uno hanyalah pengusaha yang bermain di kertas keuangan. Jadi bagaimana ia bisa tahu situasi pengusaha jika tidak pernah mengalami masa berkeringat dan susah?

Sebenarnya Sandiaga Uno tahu itu, hanya ia menutupnya rapat-rapat. Baginya Oke Oce itu hanyalah sebuah kampanye mimpi, menjual harapan. Tapi ia terus menjualnya karena ia tahu bahwa banyak orang yang ingin naik status sosialnya tapi tidak mau bekerja keras. Pekerja instan yang tahunya cuma "modal dan modal". Pas dikasih modal, foya-foya kerjaannya.

Seharusnya Sandiaga Uno mulai merevisi konsep Oke Ocenya, dan konsep baru ini yang dia tawarkan dalam program kampanyenya. Tapi ia sendiri juga tidak paham, makanya ia hanya jualan "rambut petai", "makanan Indonesia mahal" sampai "tempe setipis ATM" sebagai mainannya.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika ia membawa program gagal itu ke tingkat nasional? Bisa jadi bukan gagal total lagi, tetapi gagal global. Yang maju adalah bisnis debt collector karena banyak para pemimpi yang harus dikejar dan ditagih utangnya.

Mungkin Oke Oce yang berhasil hanya ada di tempat tidur. Ketika seorang suami senyum-senyum pada istrinya, bertanya, "Oke, Ma?" Si mama tersenyum sambil siap-siap telentang, "Oce, Pah...". Lalu di malam dingin itu terdengarlah suara orang lari-larian, "Oke Oce... Oke Oce... Okeeee... ocehhhh...."

Seruput kopi dulu ah.

Selasa, 16 Oktober 2018

Indonesia Harus Belajar dari Suriah


Suriah
Bashar Assad dan Ulama Suriah
Kabar menarik datang dari Suriah...

Suriah akhirnya mengesahkan Undang-undang baru yang mencegah para ulama berdakwah dengan ceramah yangmemicu pertikaian sektarian. UU ini disetujui Presiden Suriah Bashar al Assad dan mulai dijalankan disana.

Dengan UU ini maka kementerian wakaf atau kementerian agama yang mengurusi Islam, berhak mengambil tindakan mencegah ulama yang "mengambil platform keagamaan dengan maksud politik".

UU ini penting bagi Suriah. Mereka berperang selama 7 tahun lamanya karena ceramah-ceramah dari ulama garis keras yang memicu pertikaian. Ulama-ulama politik ini mengambil kesempatan untuk menggulingkan pemerintah Suriah dengan bantuan negara luar.

Dengan UU baru ini, kementerian wakaf Suriah punya tugas baru mengawasi sekolah-sekolah agama dan mengatur program keagamaan di media. Suriah punya pengalaman pahit sehubungan dengan ceramah ekstrim ulama-ulama beraliran wahabi ini dan mereka mencegah hal yang sama terulang kedua kali.

Indonesia seharusnya belajar dari Suriah.

Situasi di Indonesia yang mirip dengan negara Suriah, menjadikan negeri ini rentan dengan kegiatan radikal yang berbaju agama dan sering diseret dalam arus politik.

Peristiwa Pilgub DKI di 2017 lalu menyalakan tanda bahaya bahwa masjid dan sekolah agama sudah disusupi oleh paham ekstrim. Tidak adanya pengaturan dan ketegasan dalam menindak ceramah yang berbau sektarian dan radikal membuat Indonesia seperti bom waktu berjalan yang timer-nya terus menyala.

Tragedi Meiliana yang memprotes kerasnya toa azan sampai pembubaran acara sedekah laut di Bantul Yogyakarta adalah letupan-letupan sporadis yang bisa menjadi ledakan besar ketika tidak ada cara mencegahnya.

Pembiaran itu akan mencapai puncaknya ketika ulama-ulama radikal itu akhirnya bergandengan tangan dengan kepentingan politik untuk membumi-hanguskan negeri ini dengan bantuan dari negara luar.


Lihat saja di banyak sekolah negeri di Indonesia, kebencian terhadap perbedaan agama berjalan tanpa kontrol kepada anak-anak yang kelak akan menjadi dewasa. Mereka tumbuh dengan kecurigaan yang tinggi karena dirinya merasa paling benar dan lebih punya hak di negeri ini daripada agama yang berbeda.

Di masjid-masjid ceramah dengan toa yang bergemuruh, mencaci maki agama lain yang dianggapnya kafir dan pantas dimusuhi. Semua hal dikaitkan dengan agama bahkan bencana di satu daerah, karena pengetahuan geologi yang tidak memadai dari ustaz-ustaz yang sok tahu akan keadaan sebenarnya.


Indonesia harus belajar dari Suriah dan harus berani keluar dari zona nyamannya selama ini, menganggap tidak ada masalah di negeri ini. Orang bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika sudah parah seperti Suriah, jangan sampai kita semua menangis menyesali.

Tuhan memberikan pelajaran kepada manusia melalui banyak peristiwa. Belajarlah atau tetap dalam kebodohan selamanya.

Seruput dulu kopinya.

Tagar.id

Senin, 15 Oktober 2018

Kivlan Zein, Hantu PKI dan Konsumsi Micin

Kivlan Zein
Kivlan Zein

Mungkin mantan petinggi militer yang paling sering dihantui oleh sosok PKI, hanya Kivlan Zein.

Entah kenapa mantan Kepala staf Kostrad ini sibuk sekali menuding sana sini dengan kata PKI. Pada masa tuanya ia seperti dikejar-kejar dengan kata "komunis" sehingga dalam setiap pembicaraan apa pun, selalu ada kata itu.

Yang terbaru pada hari Sabtu (13/10) ia berbicara pada acara 'Membedah Agenda Politik Komunisme dan Khilafah di Pilpres 2019'. Dan Kivlan membuat tuduhan baru bahwa tiga partai yaitu Golkar, Nasdem dan PDIP bekerja sama dengan China dalam melakukan pengkaderan komunis.

"Masa' negara Pancasila kerja sama dengan negara komunis?" Tudingnya. Selain itu ia menuduh juga Jokowi mendapat restu dari PKI untuk Pilpres 2019. Meski tanpa bukti, Kivlan terus bicara bahwa PKI sudah menjanjikan 15 juta suara untuk Jokowi asal Jokowi mau minta maaf pada PKI jika menjadi Presiden lagi.

Kivlan Zein sudah berusia 71 tahun. Pada usia setua itu, waktunya disibukkan dengan "hantu-hantu" PKI yang terus bergerak di dalam kepalanya. Cuma yang agak mengherankan, hantu PKI ini baru muncul saat pemerintahan Jokowi saja, karena pada saat pemerintahan SBY Kivlan Zein tidak pernah bicara tentang PKI.

Mungkin hantu PKI itu segan pada SBY karena sering dikasih Bantuan Langsung Tunai.

Lucunya, Kivlan Zein tidak komentar bahwa Gerindra juga disusupi PKI, padahal sahabatnya yaitu Prabowo Subianto menghadiri undangan hari nasional Republik Rakyat China di Shangrila September lalu.

Malah Prabowo bilang, "Tiongkok sangat penting bagi Indonesia," tapi Kivlan Zein diam saja. Buatnya PKI itu hanya ada di Jokowi dan partai pendukungnya saja, kalau Prabowo semua bebas tanpa ada bahan pengawet.

Halusinasi mantan Jenderal ini memang parah. Bahkan ia pernah menyerukan, "Kami siap perang dengan PKI!" Ia lalu menunjuk sebuah lokasi di mana katanya di sana markas pusat PKI dengan anggota 15 juta orang. Sesudah beberapa wartawan coba telusuri, ternyata di sana hanya ada gedung tua yang sudah lama tidak tersentuh manusia.

Ternyata para wartawan itu tidak sesakti Kivlan Zein yang mampu secara ghoib dan mistis, mampu melihat 15 juta PKI dalam bentuk "barang halus" yang mondar mandir di gedung itu. Hanya Kivlan seorang yang bisa melihat sosok-sosok halus PKI itu, sedangkan lebih dari 300 juta orang Indonesia gak ada yang mampu. Hebat, kan?

"Kenapa Kivlan bisa begitu?" Tanyaku pada seorang teman.

"Micin.... " Jawab temanku. "Terlalu banyak konsumsi micin memang cenderung membuat orang sering berhalusinasi. Mungkin waktu masih muda, Kivlan sering mengkonsumsi micin dengan porsi satu saset untuk satu piring makanan. Jadinya ya halusinasi terus sampai tua."

"Mungkin juga...," pikirku sambil seruput secangkir kopi. Seharusnya mulai sekarang di setiap bungkus micin harus ada peringatan "Konsumsi micin berlebih bisa membuat PKI hadir kembali".

Seruput.

Tragedi Larung Laut Bantul, Ada yang Ingin Menghilangkan Budaya Indonesia

Budaya
Budaya Bali

Dua tahun saya tinggal di Bali..

Selama disana saya meresapi aura adat dan budaya yang begitu kental. Mulai dari upacara pembakaran mayat yang disebut Ngaben dan upacara menyucikan diri yang dikenal dengan nama Melasti.

Bagi saya Bali itu indah dengan begitu banyaknya ragam budaya yang menyatu dengan wisatanya. Bali menyatukan unsur modern dan tradisional dalam satu paket yang menjadikan ia begitu berwarna.

Satu kesamaan yang saya lihat dalam setiap upacara adat dan budaya di Bali adalah adanya kehadiran para pecalang. Pecalang adalah komunitas masyarakat yang bertugas mengawasi dan menjaga keamanan desa adat dan banjar. Para pecalang ini yang mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan setiap upacara adat.

Sampai sekarang saya masih terkesan dengan Bali dan begitu juga banyak orang lainnya. Itulah kenapa Bali selalu menjadi destinasi wisata nomer satu bagi turis dalam dan luar negeri, karena mereka bukan hanya menjual obyek wisata tetapi juga kemagisan upacara-upacara adatnya.

Membaca tragedi perusakan properti acara sedekah laut di Pantai Baru Bantul Yogyakarta oleh 50 orang yang katanya bercadar, saya jelas miris sekaligus marah.

Acara yang sebenarnya menjadi adat dan budaya masyarakat sana dirusak oleh sebagian orang yang berbeda keyakinan karena dinilai syirik. Sedihnya lagi pihak polisi yang akhirnya bergerak cepat menangkap beberapa terduga pelaku terpaksa harus melepaskan mereka karena tidak ada yang mau menjadi saksi.

Ada tangan-tangan yang memang didoktrin untuk menghancurkan adat dan budaya yang sudah menjadi tradisi sebagian masyarakat Indonesia. Mereka memaksakan keyakinan dirinya dengan keyakinan orang lain yang berbeda dengannya. Mirip dengan ISIS ketika menghancurkan peninggalan-peninggalan budaya di Suriah dan Irak dengan alasan peninggalan yang berusia ribuan tahun itu syirik dan musrik.

Perbedaan keyakinan itu seharusnya tidak menjadi alasan bagi sebagian orang untuk merusak keyakinan orang lain. Dan ini harus menjadi perhatian utama bagi Pemda dan aparat setempat untuk terus menjaga adat dan budaya yang selama ini sudah menjadi warna bagi bangsa ini.

Belajarlah dari Bali, yang menghadirkan pecalang sebagai penjaga keamanan upacara mereka. Para penggagas upacara adat kedepannya bisa bekerjasama dengan aparat setempat atau minimal koordinasi dengan Banser NU di wilayah mereka, sehingga bisa beribadah dengan tenang tanpa harus memikirkan keamanan dirinya.

Meski ibadah itu tujuannya damai tetapi kita harus menjaga diri sendiri dari niat-niat tidak baik yang ada di sekitar kita. Sedia payung sebelum hujan, adalah pepatah baik yang harus kita pegang.

Kejadian di Bantul itu adalah pelajaran bagi semua supaya bisa mulai menjaga dirinya. Dan jangan pernah takut dengan tekanan sekelompok orang yang memaksakan keinginannya. Karena sekali kita takut, mereka akan mendominasi alam pikir kita.

Belajar jugalah dari Mardani Ali Sera. Dia sendiri tidak takut untuk ngevlog di kuburan. Mungkin dia pikir, kalau tidak ada manusia hidup yang mendengarkan, yang sudah meninggal siapa tahu mau menghargai apa yang dia katakan. Meski isi pidatonya sendiri meragukan..

Secangkir kopi sore ini nikmat sekali. Seruput dulu ah.

Sabtu, 13 Oktober 2018

PRABOWO SUDAH TUA DAN CAPEK

Politik
Prabowo Subianto dan Amien Rais

"Prabowo gak serius jadi Presiden.."

Begitu twit Andi Arief Wasekjen Demokrat yang sempat terkenal karena umpatannya "Jenderal Kardus". Andi menyoroti Prabowo yang tidak mau turun ke daerah-daerah untuk memberi semangat pendukungnya. "Pak Prabowo tidak mau keliling Indonesia aktif, enggak ada rumus ajaib untuk menang.." katanya.

Andi mungkin kesal karena Prabowo hanya dirumahnya saja, tidak kemana-mana. Padahal waktu Pilpres tinggal sebentar lagi dan elektabilitas Prabowo masih jauh dibawah Jokowi.

Andi Arief tidak salah, hanya dia seharusnya juga realistis. Prabowo sudah berusia 66 tahun, jelas dia masuk masa tua dan sudah capek sebenarnya. Pada usia segitu, kegiatan keliling Indonesia benar-benar melelahkan. Apalagi negeri ini luas sekali.

Nafsu sih masih besar, tapi tenaga dah kurang.

Yang kedua, Andi Arief juga harus tahu, bahwa perjalanan keliling Indonesia itu butuh biaya mahal. Ini bukan hanya masalah transportasi dan akomodasi saja, tapi harus ada persiapan sebelumnya.

Belum lagi kalau ada panggung dan artis daerah, wah bisa setiap daerah yang dikunjungi keluar uang ratusan juta rupiah. Kalikan dengan ribuan daerah yang harus dikunjungi, angkanya bisa triliunan rupiah.

Jadi lebih mudah bagi Prabowo mainkan isu-isu dan bayar media dengan harapan isu itu viral. Seperti contoh kasus Ratna Sarumpaet, jika itu berhasil jadi isu, maka gak perlu kunjungan ke daerah saja sudah bisa menaikkan elektabilitas.

Memang Pilpres kali ini beda dengan Pilpres 2014 lalu. Dulu itu Prabowo dan Gerindra begitu all out karena harapan menang begitu besar. Lagian semangat dan fisiknya masih mendukung untuk keliling daerah-daerah. Uangnya juga masih kuat. Sekarang sudah agak lemah dan ogah-ogahan.

Tapi usia memang tidak bisa bohong. Fisik jauh menurun dan bergerak saja sudah malas-malasan. Jangan samakan dengan Jokowi, dia sedang on fire pada usia puncaknya. Ia sehari bisa ada di 3 tempat berbeda, menengok korban gempa di Palu, lanjut ke Bali ikut meeting IMF dan tiba-tiba sudah ada di Jakarta bersama Jan ethes.

Jokowi memang punya passion untuk kemana-mana dan dia anggap itu bagian dari hobbynya. Sedangkan Prabowo sudah merasa bahwa kegiatan keliling itu menjadi ritual yang membosankannya. Kebayang kalau Prabowo jadi Presiden, dia pasti lebih sering di istana negara daripada keliling ketemu rakyatnya

Lagian Andi Arief ngapain sih pake otokritik segala? Entar dipiting lagi baru rasa. Gak kapok apa??

Mending Andi Arief kritik Mardani Ali Sera. "Ani, kenapa sih kalau pidato tangannya suka melambai-lambai gitu? Itu pidato apa tari ular??"

Seruput dulu kopinya.

PRABOWO DAN TIMSESNYA YANG LUCU-LUCU

Mardani Ali Sera
Mardani Ali Sera di Mata Najwa

Salah satu agenda Prabowo untuk memenangkan Pilpres adalah membangun ketakutan pada masyarakat. Makanya ia berulang-ulang bicara tentang kemiskinan, kehancuran, kebodohan dan hal-hal yang bersifat menakutkan lainnya untuk menimbulkan rasa pesimis di benak rakyat.

Sedangkan Sandiaga Uno memainkan ketakutan dalam bentuk receh. Seperti tempe mahal, makanan mahal dan segala macam hal yang membuat masyarakat tambah pesimis.

Ucapan-ucapan ini sering mereka ulang-ulang dan berusaha diliput oleh media mainstream. Mereka memang lebih sering menggunakan media mainstream untuk memainkan perannya karena dana mereka terbatas sekali untuk turun ke daerah-daerah. Bermain di media tentu lebih murah..

Ada memang masyarakat yang terpengaruh dengan seruan-seruan itu. Mereka biasanya masyarakat yang berpandangan konservatif. Orang konservatif itu biasanya senang ditakut-takuti dan diancam-ancam.

Mereka ini yang jalan pikirannya kurang berkembang terhadap zaman dan kaku. Model konservatif ini juga yang kalau ke majelis senang dengar ancaman-ancaman tentang neraka dan buaian tentang kenikmatan surga..

Cuma ada yang lucu dari gerakan Prabowo Sandi ini. Sesudah menakut-nakuti, Prabowo tiba-tiba muncul dengan tagline "Make Indonesia Great Again".

Mirip sekali dengan model kampanye Donal Trump ( kemungkinan konsultan politiknya juga sama ). Habis nakut-nakutin tentang ekonomi Amerika, Trump kemudian muncul sebagai pahlawan.

Kelucuannya sebenarnya ada di tagline Prabowo...

"Make America Great Again" jelas tagline yang cocok di Amerika, karena disana bahasa Inggris adalah bahasa ibunya. Lah disini, di Indonesia, dimana pendukung Prabowo banyak yang hancur bahasa Inggrisnya, dikasi bahasa susah, "Make Indonesia Great Again".

Bagaimana pendukung Prabowo yang agak-agak kampret bisa menterjemahkannya ? Wong mereka mau bilang "sunset" aja jadi "samsat". Hello gaess, samsat ditempat gua keren loh, gimana di tempat elo ? Gini disuruh nerjemahin Make Indonesia Great Again.

Sebelumnya Prabowo juga meluncurkan konsep "The New Prabowo", tapi gak berhasil. Soalnya pas di survey di pendukungnya ditanya, "Tahu konsep baru the new Prabowo ?". Mereka bingung dan balik bertanya, "New iku opo toh ? Sejenis cabe ?" Koplak kan ??

Strategi Prabowo ini ibarat permainan bola tarkam dengan hadiah Kambing Cup. Gocekannya boleh, tapi pas depan gawang panik sehingga tendangannya gak terarah. Itulah kenapa ia gagal, karena konsultan politiknya gak paham kultur Indonesia. Dikira Indonesia sama ma Amerika. Beda bos, disini rawon aja ada setannya..

Jadi kadang saya suka ketawa kalau lihat bagaimana Prabowo menendang bola. Ketika tendagan Jokowi dengan pidato "Game of Thrones"nya mendapat standing ovation dari pemimpin dunia, Prabowo masih asik menggocek bola di lapangan becek dengan gawang dari dua sandal. Rada-rada kasihan juga, apalagi timsesnya kayak Mardani Ali Sera boong lagi kalau Prabowo pernah sampe ke puncak Everest.

Mungkin di rumah Prabowo punya gambar wajah-wajah timsesnya yang lugu-lugu dipasang di papan sebagai target lemparan. "Goblik !!" Wusss satu hape melayang. "Codot !!" Wuss kali ini tongkat golf. "Semuaanyaaaa... Konnnnnn..ciiii !!!!" Wuss wuss wusss mulai kulkas sampe sepatu kuda dilemparkan..

Yang selamat cuman secangkir kopi. Karena dengar-dengar diselamatkan ajudannya yang kecanduan kopi. Seruputtt..

Kamis, 11 Oktober 2018

Pendukung Khilafah di Barisan Pengawal Amien Rais

Khilafah
Amien Rais Diperiksa

"Ganti Presiden. Ganti sistem. Takbirrr!"

Begitulah orasi dari koordinator alumni 212 saat mengawal sidang Amien Rais di Polda Metro Jaya kemarin. Orator terus berorasi supaya mengganti sistem di Indonesia dengan sistem khilafah Islamiyah disambut teriakan takbir di tengah cuaca panas Jakarta.

Kaget bahwa ternyata pendukung khilafah masih ada? Tidak juga. Mereka memang ada. Meskipun organisasinya HTI dibubarkan, tetapi ideologi mereka masih dipegang. Dan mereka sedang mencari inang untuk berkembang.

Seperti tulisan saya sebelumnya, para pengusung khilafah ini dendam sekali dengan Jokowi, karena Jokowi lah yang menghalangi ruang gerak mereka. Pembubaran HTI dijadikan seruan "perang" oleh mereka.

Dan para pengusung khilafah tahu bahwa jika Jokowi kembali memimpin di periode kedua, mereka bisa terpojok dan mungkin habis selamanya. Karena bisa saja Jokowi akan menangkapi mereka yang masih setia dengan ideologi anti Pancasila. Dan untuk itu mereka menunggangi koalisi Prabowo-Sandi untuk mencapai tujuannya.

Prabowo sendiri pernah berkata bahwa ada propaganda licik yang ingin menjatuhkan dia dengan tuduhan bahwa ia mendukung khilafah. Tapi bukti-bukti seperti orasi di depan Polda Metro Jaya berbicara, bahwa kelompok pengusung khilafah ini ada di dalam barisan dia.

Menurut survei Denny JA, 1-6 September, kelompok Alumni 212 meningkatkan dukungannya kepada Prabowo. Hasil survei Denny bicara bahwa ada kenaikan dari 61 persen menjadi 75 persen dari alumni 212  yang di dalamnya banyak pengusung khilafah pasca-ijtima ulama II. Sedangkan yang pro Pancasila di kubu Prabowo cenderung menurun....

Jadi tidak salah kan jika saya bilang, bahwa Pilpres 2019 sejatinya adalah pertarungan yang Pro NKRI versus yang pro HTI?

Kalau tidak ingin negeri ini hancur karena sistem diganti, mari pilih Jokowi. Mendukungnya sama dengan berjuang supaya Indonesia tidak seperti Suriah nanti.

Seruput kopinya.

Tagar.id

Rabu, 10 Oktober 2018

200 Triliun Rupiah Mengalir ke Indonesia

Sri Mulyani
Sri Mulyani
Ajang pertemuan tahunan IMF dan World Bank membawa berkah tersendiri bagi Indonesia.

200 triliun rupiah dipastikan mengucur ke proyek-proyek BUMN Indonesia. Ini adalah investasi langsung dan 95 persennya berasal dari luar negeri. Investasi ini dikoordinatori oleh Bank Mandiri dan menandakan bahwa ekonomi Indonesia masih dipercaya Internasional sebagai tempat usaha mereka.

Memang selain membahas ekonomi global, pertemuan ini sekaligus dijadikan tempat transaksi investasi baik dalam dan luar negeri. Menurut Luhut Binsar Panjaitan, ada 34 ribu lebih peserta yang datang dan mereka menerima presentasi tentang proyek-proyek dari pemerintah Indonesia.

Investasi awal ini sekaligus membungkam banyak mulut yang mengatakan bahwa pertemuan seperti ini tidak ada gunanya dan pemborosan bagi uang negara. Selain dampak ekonomi bagi pulau Bali berupa wisata, Indonesia berhasil memanfaatkan event ini untuk menarik modal asing ke dalam negeri.

Menurut Jokowi sendiri, uang yang keluar senilai ratusan miliar rupiah sebelum acara, bukanlah untuk mendanai pertemuan tahunan itu, tetapi untuk memperbaiki infrastruktur di sekitar acara. Para peserta mendanai sendiri kegiatan mereka, bahkan mereka menaikkan kegiatan ekonomi masyarakat pada saat acara.

Ketika beberapa negara lain terkena dampak krisis global berupa perang dagang Amerika versus China, Indonesia masih mampu berdiri tegak dengan gagahnya. Meski rupiah melemah karena pulang kampungnya dollar Amerika, tapi diharapkan ajang pertemuan seperti ini bisa mengembalikan modal investasi asing itu untuk kembali ke negeri ini.

Para investor asing masih percaya pada pemerintahan Jokowi yang mampu menjaga keamanan negeri pada tahun politik ini. Itu yang terpenting dan itu yang harus kita jaga bersama.

Biarlah kubu sebelah sibuk teriak-teriak tanpa suara, mempertanggung-jawabkan hoaks yang mereka karang sendiri, ribut sendiri dan minta maaf sendiri..

Seruput kopinya..

Tagar.id