Senin, 23 April 2018

IWAK PEYEK NASI JAGUNG

Presiden Joko Widodo
Jokowi

Pada masa puncak-puncaknya grup Peter Pan, Ahmad Dhani ragu untuk mengeluarkan album Dewa terbaru..

"Gak bisa dilawan, sekarang masanya Peter Pan.." Katanya. Dan melajulah Peter Pan dengan lagu-lagu hitsnya yang memang membuat banyak musisi terpaksa mengundurkan jadwal launching album terbaru mereka karena sulit melawan kedigdayaan Peter Pan saat itu..

Hal yang sama terjadi pada masa pemeritahan Jokowi..

Survey terbaru litbang Kompas menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi meningkat mencapai puncaknya, yaitu 72 persen lebih. Padahal setahun lalu tingkat kepuasan baru diangka 63 persen.

Meningkatnya kepuasan masyarakat pada pemerintah, seiring dengan meningkatnya elektabilitas Jokowi yang berada pada posisi hampir 56 persen. Sedangkan Prabowo dan kandidat lainnya elektabilitas mereka terus turun.

Kenapa masyarakat puas terhadap pemerintahan Jokowi?

Mudah jawabannya. Karena mereka merasakan langsung dampak pembangunan di era pemerintahan Jokowi. Dan ini bukan pembangunan artifisial, atau pembangunan yang hanya mengandalkan seremoni gunting pita tapi pada akhirnya mangkrak puluhan tahun lamanya..

Masyarakat langsung merasakan mulusnya jalan tol, megahnya bandara, beroperasinya pelabuhan dalam kerangka tol laut dan pembangunan bendungan-bendungan besar di banyak daerah.

Dan ini memunculkan harapan baru, bahwa pemerintahan kali ini bukan lagi pemerintahan lipstik, hanya bisa bicara tapi gak bisa bekerja. Jokowi benar-benar bekerja..

Jokowi menaikkan standar pemimpin pada posisi yang sangat tinggi, bahwa pemimpin itu yang dilihat adalah karyanya bukan wajahnya saja. Jokowi juga memainkan konsep membumi, bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat tanpa protokoler berlebihan.

Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin, ini membangun tingkat emosi di masyarakat bahwa mereka memiliki Jokowi..

Jadi wajar saja jika tingkat kepuasan terhadap Jokowi semakin tinggi, karena ia berhasil memenangkan emosi masyarakat. Dan ini sulit dibendung meski ia difitnah sebagai antek China, anak PKI, dan anti ulama.

Semakin lama masyarakat sadar - kecuali kampret yang durhaka - bahwa semua itu hanyalah fitnah belaka dan mereka tidak ingin menjadi bagian dari fitnah..

Sedangkan lawan politik Jokowi, lagunya tetap itu-itu saja. Selalu berhubungan dengan isu murahan sampe kaos murahan. Tidak kreatif dan membosankan. Mereka panik karena tidak punya prestasi dan rekam jejak yang bisa diandalkan..

Ibarat musik Indonesia, Jokowi adalah Peter Pan yang mengedepankan kualitas bermusik dengan syair-syair yang menerobos jaman. Sedangkan lawan politik Jokowi adalah grup penyanyi wanita yang hanya bermodalkan tubuh seksi, goyang hot tapi suara pas-pasan..

Tidak mudah mengalahkan Jokowi di pilpres kali ini. Ini memang eranya. Era kepemimpinan yang bekerja dan menjadi bagian dari rakyat. Bukan lagi pemimpin yang sibuk di belakang meja, maen twitter dan jualan proyek triliunan..

Seperti syair lagu dangdut..

"Iwak peyek, iwak peyekk..
Iwak peyek, Nasi Jagung..
Sampe Tuek, sampe tuek..
Sampe tuek, pengen manggung.."

Meeeelodiiiii....

Rabu, 18 April 2018

Para Pemalas di Atas Awan

Pekerjaan
Tenaga Kerja

Pupung purnama saya kenal sejak tahun 2013an di Facebook..

Saya tidak pernah bertemu orangnya tapi sering bersapa dengannya. Tepatnya dia yag sering menyapa saya di komen. Komennya selalu sama, yaitu jualan sepatu. Berarti sudah 5 tahunan mas Pupung jualan di Facebook.

Saya yakin ia tidak hanya jualan di Facebook saja. Tapi juga membuka store di bukalapak, Tokopedia dan toko online lainnya. Dan saya lihat, ia sudah berkembang dengan jualan tas, jaket kulit sampe obat penumbuh rambut.

Apa pesan yang bisa kita lihat disini ?

Mas Pupung adalah orang yang mampu berkawan dengan teknologi. Ia bisa saja antre berpanas-panas hanya untuk berebut kursi menjadi karyawan McD. Atau ikut ujian PNS berebut dengan puluhan ribu orang pemimpi.

Tapi tidak. Dia tidak mau membuang waktunya untuk hal seperti itu. Ia sudah membangun ekonominya disaat orang lain masih mimpi mendapat gaji bulanan yang bahkan belum tengah bulan sudah habis lagi.

Selain memanfaatkan teknologi, ia adalah pengusaha yang konsisten. Sekian tahun ia terus menerus memborbardir jualannya di komen2 di status saya dan akhirnya berhasil membangun jaringan sendiri. Ia juga komitmen untuk tidak menipu kastemernya, sehingga ia tidak malu untuk muncul terus di publik.

Ketika banyak orang yang teriak "Mana janji Jokowi membuka lapangan pekerjaan untuk 10 juta orang ? Jokowi bohong !!" jujur saya heran.

Apakah Facebook, Tokopedia, Bukalapak, Qlapa dan banyak aplikasi online lainnya adalah lapangan pekerjaan ? Apakah Gojek dan Grab bukan lapangan pekerjaan ?

Itu belum ditambah Jokowi sedang membuka daerah2 baru di Papua, Kalimantan, Sulawesi dengan membangun jalan, tol laut, bandara, bendungan dan banyak lagi. Bukankah itu juga akan membuka lapangan pekerjaan ?

Jadi lapangan pekerjaan yang mana yang mereka minta ??

Ah, saya tahu jawabannya. Lapangan pekerjaan yang mereka maksudkan adalah menjadi buruh di pabrik-pabrik. Menjadi buruh ternyata cita-cita banyak orang. Kerja dari jam 8 sampai jam 5 sore seperti ritual. Kalau pengen dapat hasil maksimal dengan kerja minimal, ya demo, tuntut perusahaan.

Lapangan pekerjaan yang mereka maksud bukan bagaimana menjadi wirausaha yang mandiri, yang hidupnya tergantung dari seberapa cerdiknya ia mencari peluang, dan mendapat banyak kebijaksanaan dari turun naiknya pendapatan.

Pengangguran itu bukan hanya masalah tersedianya lapangan pekerjaan, tapi faktor terbesar justru dari MINDSET - cara pandang - banyak orang bahwa bekerja itu adalah menjadi bagian dari sebuah kolam besar, meski dia hanyalah ikan terkecil disana. Tak terlihat dan mudah dibuang jika perusahaan ada apa-apa.

Percayalah, orang yang teriak tentang "tidak ada lapangan pekerjaan !!" sesungguhnya hanya membuat alasan, karena ia adalah pemalas dan tidak mau melihat banyak peluang disekitar.

Padahal jika akal mereka mau digunakan, banyak hal disekitar yang bisa menjadi sumber penghidupan. Tuhan tidak mungkin meninggalkan hambaNya dalam kesia-siaan..

Mengeluh itu sesungguhnya pekerjaan terberat. Ia membuang energi begitu besar, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kenapa tidak mulai dengan membuka mata lebar-lebar, potensi apa yang bisa menghasilkan uang dengan memanfaatkan ruang sekitar ?

Ngopi dulu baru kerja biar pintar.. seruputttt...

Wahai Tenaga Kerja, Musuhmu Itu Bukan Aseng

Lowongan Kerja
Tenaga Kerja

Masalah lapangan kerja sejak dulu menjadi masalah klasik kita..

Ingat, antrian panjang mengular di acara-acara "Lowongan Kerja" ? Bukan hanya terjadi pada era Jokowi, bahkan era Soehartopun sudah ada. Ini karena meledaknya angka usia produktif yang tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada.

Karena apa? Banyak faktor. Mulai pendidikan yang tidak mengandalkan ketrampilan bekerja sampai konsentrasi pembangunan yang terpusat banyak di pulau Jawa.

Jadi, jangan salahkan Jokowi saja kalau tenaga kerja kita banyak berkumpul di pabrik-pabrik sebagai buruh, bukan sebagai profesional. Mereka datang dari banyak pulau yang bertani bukan lagi pilihan karena tidak berkembang.

Toh, Jokowi sekarang juga sedang membangun pulau2 yang dulu dibilang tertinggal dengan infrastrukturnya supaya investasi bisa masuk kesana dan ekonomi menggeliat.

Tenaga kerja asing dan aseng, itu juga sejak dulu bukan sekarang ini saja. Tapi mereka tidak menjadi pekerja kasar. Memang berapa sih gaji pekerja kasar ? Kan lebih baik bayar orang Indonesia yang mau digaji UMR daripada harus datangkan tenaga kasar dari China misalnya yang gajinya bisa berlipat-lipat, belum lagi transportasi dan akomodasinya..

Jadi pahami ini dulu sebelum sebar-sebar berita tenaga kerja asing mengancam tenaga kerja Indonesia..

Lagian musuh tenaga kerja itu sekarang bukan asing dan aseng..

Musuh terbesar pekerja sekarang ini adalah teknologi. Teknologi yang bisa menggantikan tenaga manusia. Coba perhatikan, banyak Bank di Inggris yang sudah merumahkan pegawainya karena sistem Bank melalui digital sudah menjadi kebutuhan sekarang. Belum lagi robot di pabrik-pabrik yang jelas lebih murah daripada pekerja yang kerjanya demo dan menuntut saja..

Bayangkan restoran sekelas McDonald. Satu waktu, mereka akan mengganti banyak tenaga kerjanya dengan mesin karena lebih efisien. Kalau sudah begitu mau apa ?

Masih mending era internet ini juga menciptakan lapangan kerja baru. Sebagai contoh, Gojek dan Grab yang membuka ribuan lapangan kerja. Tapi itupun tidak bisa menjadi gantungan, karena mereka juga akan dengan mudah mengganti driver karena ketatnya kompetisi diantara para driver sendiri..

Saya sendiri dari dulu menolak berpanas-panas antri hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak ingin berakhir menjadi mesin dari sebuah industri raksasa, dimana ketika saya tidak terpakai lagi akan dibuang seenaknya. Wiraswasta adalah pilihan sejak kecil, supaya tua nanti saya tetap berguna..

Banyak fasilitas buat wirausaha sekarang. Mulai bukalapak, tokopedia bahkan Baboo yang saya ciptakan juga membuka ruang pekerja kreatif..

Kalau kamu sudah mendapat hasil dari berdagang, ngapain juga takut sama pekerja asing yang notabene hanya datang sebagai profesional. Katanya mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw, ya ikuti cara beliau berdagang. Katanya cuman takut sama Tuhan, eh ini sama pekerja asing kok sudah gemetar.

Mulailah wirausaha, apa saja. Manfaatkan teknologi yang ada jangan cuman dipake share hoax aja. Dirimu itu berharga, gak usah ikut antri panas2an hanya untuk bersaing dengan sekian ribu orang berebut satu lowongan pekerjaan, yang gajinya saja gak cukup untuk makan sebulan..

Musuhmu itu teknologi. Dekati dia dan jadikan kawan..

Seruput?

Selasa, 17 April 2018

CERITA SEBELUM NGOROK

Amien Rais
Karikatur Pak Tua

Saya punya teman.

Tiap hari dia mengeluhkan mertuanya yang selalu saja membuat sensasi dan bentrok dengan warga kampungnya. Ada saja yang dibuatnya.

Pernah mertuanya tiba-tiba memelihara anjing besar padahal rumah mereka ada di gang sempit. Ya gaduh tetangga karena gonggongan si anjing keras setiap kali orang lewat yang juga pasti ketakutan.

Temanku dan istrinya jelas malu, tapi gimana lagi mereka tinggal di Pondok Mertua Indah. Akhirnya mereka hanya bisa menggerutu dalam hati sambil senyum-senyum karena gak enak sama tetangga.

Telisik punya telisik, ternyata sang Mertua itu caper aja. Dia mantan pejabat di sebuah instansi pemerintahan. Sudah lama pensiun tapi masih selalu membangga2kan prestasinya dulu saat dia berkuasa..

Nah, melihat gaya pak Amien Rais, saya jadi teringat mertua teman itu..

Pak Amien Rais bulan April ini usianya sudah 74 tahun. Usia yang sebenarnya sudah masuk pada tahapan berserah diri dan seharusnya banyak meninggalkan nafsu duniawi. Tapi dia tidak bisa...

Kebanggaan Amien Rais adalah bahwa dia dulu dijuluki "Lokomotif Reformasi". Entah siapa yang memberi julukan itu, meski saya curiga beliau yang menjuluki dirinya sendiri begitu...

Prestasi tertingginya sebagai ketua MPR satu periode saja, meski sebenarnya ambisi tertingginya adalah menjadi Presiden. Tetapi ia tidak pernah sampai kesana, karena ditelikung Gus Dur yang akhirnya dijatuhkannya sendiri dengan membentuk poros tengah..

Dan memasuki usia sepuh ini, bisa jadi ia sedang cari perhatian dengan terus membuat sensasi supaya orang melihat kembali padanya. Ia terjebak pada masa lalunya dimana ia dulu dielu-elukan sebagai orang pintar, berkuasa dan calon pemimpin yang potensial. Apalagi ia Doktor ilmu politik dari Universitas di Amerika..

Apa yang kurang coba ? Yang kurang cuma keberuntungan saja..

Yang kasihan memang kolega dan kader di partainya yang harus terus menutupi kelemahannya. Seperti teman saya yang harus selalu membela mertuanya, kalau tidak bisa diusir dari kenyamanan...

Jadi, melihat tingkah laku pak Amien Rais, kita cukup senyam-senyum saja. Kita ini seperti tetangga si mertua yang gondok tapi gimana lagi, dia orang tua. Entar kualat kalo terus menerus mencacinya..

Akhirnya temanku punya ide jahat. Dia "meracun" si anjing besar tadi sampe mencret-mencret di dalam rumah. Rumah jadi bau dan si mertua marah-marah. Terpaksa si anjing diungsikan entah kemana..

Jadi kayaknya, itu solusinya. Diracun.. eh, maksudnya, internal partainya mengingatkan, "Pak tua, sudahlah.. diluar banyak angiiiiinnn.."

Saya gak kebayang, beliau setua itu harus masuk penjara karena didakwa menyebarkan kebencian..

Mau seruput tapi kopinya gak ada.. Ya udah, tidur aja..

Senin, 16 April 2018

CYBER INDONESIA, PERLAWANAN PARA PENGACARA MUDA

Cyber Indonesia
Cyber Indonesia

Amien Rais akhirnya dilaporkan ke polisi karena ucapannya yang menuding "Partai Setan".

Yang melaporkan adalah Aulia Fahmi dari Cyber Indonesia.

Nama Cyber Indonesia menarik perhatian saya belakangan ini. Kelompok ini dibentuk oleh beberapa orang pengacara muda yang resah dengan situasi yang berkembang saat ini. Terutama kelompok yang mengatas-namakan Islam tapi kerjanya sibuk memecah belah.

Di Cyber Indonesia ada Muannas Al Aidid. Ia yang sempat melaporkan Jonru "si cowok di seberang jendela" karena sudah memplesetkan namanya menjadi Aidit, seorang tokoh PKI. Jonru sendiri akhirnya masuk sel karena dakwaan atas fitnah yang ia lakukan di media sosial.

Selain itu, ada juga Jack Boyd Lapian. Jack dikenal karena melaporkan Ahmad Dhani. Ia juga pernah melaporkan Anies Baswedan karena kata "pribumi".

Cyber Indonesia juga melaporkan Rocky Gerung karena mengatakan kitab suci itu fiksi. Ini mungkin sebagai aksi peringatan saja bahwa mereka juga bisa seperti lawannya..

Dari rekam jejaknya, Cyber Indonesia bukan organisasi gertakan belaka. Mereka serius dan konsisten dalam menggunakan hukum sebagai senjata. Bisa jadi ini bagian dari perlawanan mereka terhadap "kubu sebelah" yang dikit-dikit main lapor ke polisi selama ini..

Tapi gerakan Cyber Indonesia juga tidak mudah. Gerakan mereka juga sering dicibir oleh kaum pengaku nasionalis yang menganggap mereka lebay karena ikut-ikutan main laporan. Kaum pasif dan apatis yang bahkan tidak mau bergerak ketika situasi menekan. Beda dengan lawan mereka yang solid dan militan..

Seperti saya pernah bilang, senjata kita sebenarnya sama, tinggal siapa yang mau menggunakannya.

Perlawanan yang berasal dari kegelisahan, mulai muncul dimana-mana. Nanti saya ceritakan bagaimana sineas Indonesia seperti Lola Amaria juga "melawan" melalui film layar lebarnya.

Selamat datang, kaum revolusioner...
Sesungguhnya secangkir kopi dan bendera merah putih yang akan menyatukan langkah kita semua..

Seruput kopinya..

Minggu, 15 April 2018

TENAGA KERJA KAMPRET

Hoax
Hoax Tenaga Kerja

Sekali-kali kita bicara fiksi. Indonesia negara yang sangat maju. Uang kita banyak. Pabrik-pabrik di negara kita juga sangat banyak. Mulai dari yang produksi baja sampai produksi material untuk rel kereta.

Kalau kita mengandalkan perputaran di dalam negeri saja, kita tidak akan bergerak kemana-mana. Karena itu supaya semakin berkembang, kita investasi keluar negara.

Supaya bisa mudah berinvestasi di suatu negara, kita menyodorkan pinjaman ke negara itu dengan bunga rendah. Bukan. Pinjamannya bukan pinjaman berbentuk uang cash. Tapi pembangunan, baik itu infrastruktur maupun bangunan. Sama saja, kan ?

Nah, karena kita sebagai pemberi pinjaman, kita juga yang membangun sarananya, tentu kita juga memegang teknologinya. Supaya semua sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita juga mengirimkan tenaga kerja kita ke negara tujuan.

Setuju dengan konsep itu, kan ? Pasti setuju. Semua yang berwawasan pengusaha pasti akan mengaminkan..

Itu fiksi. Sekarang kita bicara realita. Kita ganti kata "Indonesia" dan "Kita" dengan kata "China".

Ya begitulah yang dilakukan China terhadap investasi luar negerinya. Mereka ekspansi kemana-mana karena kelebihan cash dan produksi dalam negerinya. Untuk menjaga investasinya supaya bisa sesuai kebutuhan - dan tentunya tidak dikorupsi pejabat setempat - mereka mengirimkan tenaga kerjanya. Dengan tenaga kerja dari mereka sendiri, mereka juga menjaga teknologinya.

Tentu ada syarat dari pemerintah negara tujuan seperti Indonesia ini. Pertama, tenaga kerja harus tenaga ahli bukan tenaga kasar. Kedua, harus ada alih tehnologi supaya pekerja Indonesia kelak bisa mengoperasikan.

Lalu, kenapa ada penolakan tenaga kerja asing jika suatu saat kita juga bisa melakukan hal yang dengan China ?

Ingat, China juga dulu melakukan hal yang sama dengan kita. Selain mengirim orang pintarnya belajar ke luar negeri, mereka juga mengundang investasi asing ke dalam negerinya dan melakukan transformasi tehnologi.

Siapapun Presidennya di Indonesia, pasti akan melakukan hal yang sama. Karena begitulah cara negara bekerjasama.

Jangan alergi dengan tenaga kerja China. Disekitar kita sudah banyak tenaga kerja asing dari Amerika, Inggris, Jepang sampai Saudi Arabia. Begitu juga di negara mereka selalu ada tenaga ahli dari Indonesia..

Yang takut dengan adanya tenaga kerja asing sesungguhnya adalah mereka yang tidak punya keahlian apapun, tapi bermimpi untuk cepat kaya. Berjalan sajalah. Jadilah wirausaha.

Kita punya kekuatan sebagai orang lokal, karena kita mengenal seluk beluknya. Bahasa Somalianya, "Think Global, Act Local.."

Sudah paham kan, pret ? Sebagai saran, kalau tidur malam kakinya jangan diatas kepala dibawah. Itu mengganggu kinerja otak sehingga cara berfikirnya tidak sempurna.

Ngopi dulu, pret.. tak dung pret dung pret pret prettt...

Sabtu, 14 April 2018

HENDROPRIYONO: SAYA SUDAH SELESAI

Hendropriyono
Hendropriyono

Saya ingat, setahun lalu saya dipanggil untuk bertemu seseorang. Namanya membuat hati saya bergetar, AM Hendropriyono. Seorang Jenderal dengan kemampuan intelijen yang diakui dan juga penuh kontroversi. Beliau ternyata suka juga membaca tulisan saya dan ingin berdiskusi tentang banyak hal.

Pertemuan berjalan hangat dan meruntuhkan semua persepsi angker tentangnya. Hendropriyono ternyata adalah seorang yang hangat, terbuka, spontan dan sangat blak-blakan. Bahasanya sangat jujur, bahkan saking jujurnya, hal yang pahitpun bisa ia ungkapkan dan membuat saya terbahak membenarkan. Menyenangkan berdiskusi dengannya..

Lama saya tidak bertemu dengannya dan mendengar beliau akhirnya mundur dari dunia politik..

Hal yang terakhir dilakukannya adalah mengawal partainya, PKPI, yang sempat tidak diloloskan oleh KPU untuk menggugat di pengadilan. Dan mereka menang. Lolosnya PKPI sebagai partai peserta Pemilu 2019, sekaligus sebagai tonggak mundurnya beliau dari dunia politik..

Hendropriyono sangat mudah jika ia ingin jabatan di pemerintahan. Beliau adalah pendukung Jokowi sejak awal dan dikenal sebagai salah satu "ahli strategi" dibalik pemerintahan sekarang, termasuk rumour bahwa ialah yang membuka jalan dan mengajukan Tito karnavian sebagai Kapolri karena keresahannya akan situasi negeri yang terbawa panasnya hawa konflik global.

Tetapi ia tidak mau. Posisi menteripun tidak diterimanya. Ia adalah pemain belakang layar. Ia otak, bukan tangan..

Di usianya yang menuju 73 tahun, Hendropriyono sudah punya segala-galanya. Ia pebisnis sukses dengan kehidupannya yang tenang. Ia adalah buku sejarah bangsa ini yang harus selalu dibuka dan dipelajari. Ia punya banyak cerita untuk didengarkan. Duduk bersamanya seperti berada pada masa awal negeri ini berjalan pasca kemerdekaan..

"Bagaimana dengan pembunuhan Munir, pak ?" Tanyaku waktu itu. Ia tersenyum pahit. "Kalau ada yang terbunuh, pasti nama saya yang selalu dimunculkan.." Aku menatapnya, mencoba menggali kotak rahasia yang terpendam dalam hatinya. Tidak bisa, kotak itu terlalu dalam tersimpan, tak mampu kujangkau..

Hendropriyono, dengan segala sisi kontroversialnya yang beliau nikmati sebagai bagian dari cerita misteri tentang dirinya, mengumumkan bahwa sudah waktunya ia menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya.

"Saya sudah selesai. Biarlah yang muda yang meneruskan. Saya cukup mengawal politik sampai disini..." Begitu poin pesannya.

Tidak banyak orang yang tahu kapan dirinya selesai. Banyak yang terus sibuk dengan menghabiskan masa tuanya untuk mendapat jabatan. Dirinya haus untuk selalu tampil dan mendapat perhatian.

Hendropriyono tidak begitu. Ia tahu kapan saatnya menghilang. Seperti kata Jenderal Mc Arthur, "Old soldiers never die, they just fade away.."

Akhir cerita seorang Hendropriyono persis seperti kisah akhir dalam buku cerita Lucky Luke. Yang menghilang sendirian, disaat semua sedang berpesta kemenangan. "I'm a poor lonesome cowboy. I've a long long way from home..."

Kapan-kapan saya ingin ngopi lagi dengan beliau. Seruput...

Jumat, 13 April 2018

MAAF, JOKOWI SUDAH MEMENANGKAN HATI SAYA


Presiden Jokowi
Jokowi dan Penduduk Suku Asmat
Saya ingat sebelum 2014 lalu, saya adalah salah satu penyuka Prabowo Subianto.. 

Kenapa? Karena memang saya bosan dengan tipikal model calon lainnya yang dari itu ke itu saja. Mukanya sama dari tahun ke tahun. Gak berubah...

Era SBY selesai, dan saya juga lelah harus melihat wajahnya yang penuh dengan sikap terzolimi sedemikian dahsyatnya dengan seringnya ia muncul d media, tapi kenyataannya korupsi dimana-mana oleh anggota partainya..

Lalu muncullah Jokowi sebagai pembanding. Saya masih belum berubah..

Saya mulai ragu sesudah PKS berlabuh. Saya bukan anti PKS, cuma saya sangat tidak suka dengan gayanya yang sok santun tapi penuh racun. Dan berbondong2 beberapa tokoh yang saya kenal rakus pun bergabung dengannya.

Saya ingat ketika membuat quote, "Jika ingin melihat benar dan salah, lihat kemana PKS berpihak dan pilihlah lawannya.." dan ternyata quote itu viral kemana-mana.

Pilihan saya akhirnya jatuh ke Jokowi, meski saya tidak begitu mengenalnya. Tapi mungkin itu bagian dari perlawanan saya terhadap orang-orang di sekitar Prabowo. "Yang penting saya gak milih mereka.."

Baru pemilu 2014 lah saya begitu semangat memilih, mencoblos, bahkan menjaga penghitungan suara sampai selesai. Dan Jokowi menang dengan segala prosesnya yang melelahkan..

Awal kepemimpinan Jokowi penuh dengan kebisingan. Mulai dari terbelahnya parlemen sampai Polri vs KPK. Sempat ragu apakah pilihan saya tepat atau salah, hanya saya bukan tipikal orang yang senang menjilat ludah. Saya sudah memilih dan resikonya akan saya raih.

Waktu demi waktu pembangunan nyata di Indonesia mulai tampak berubah. Jokowi membangun infrastruktur dimana-mana sebagai pondasi ekonomi negara. Dan yang saya suka, ia begitu perhatian pada Papua yang sebelumnya selalu berteriak ingin merdeka.

Orang bilang tidak ada cinta pada pandangan pertama. Cinta itu adalah proses saling mengenal lebih dalam dengan melihat apa yang dia perbuat bukan lagi siapa dia. Dan saya perlahan-lahan jatuh cinta padanya..

Kesederhanaan Jokowi dan keluarganya adalah potret terbalik dari kehidupan hedonis keluarga pejabat sebelumnya. Ia menjadi inspirasi bagi saya sebagai ukuran keberhasilan seorang ayah terhadap anak-anaknya. Jika ia berhasil menjadikan anaknya sebagai contoh semua orang, ia pasti akan berhasil mengelola negara. Itu logika sangat sederhana bagi saya..

Semakin lama saya semakin jatuh cinta padanya. Saya mengikuti semua geriknya, dan banyak belajar bagaimana mengambil langkah dalam posisi yang sulit tanpa emosi yang berlebih. Jokowi juga mengajarkan bagaimana merangkul mereka yang berseberangan dengannya. Ia mengenalkan model politik yang bersih dan menyenangkan.

Kunjungannya ke Asmat di Papua baru-baru saja, membuat saya meleleh. Betapa hornatnya warga Asmat padanya dan mereka menyambut dengan suka cita. Nama Jokowi harum dipedalaman sana. Apalagi ketika ia menggendong anak2 ditangannya.

Tingkah bu Iriana yang meluapkan kasih sayangya kepada anak2 Asmatpun sangat natural sebagaimana seorang ibu. Tanpa sikap menjaga diri berlebihan mengingat ia adalah ibu negara..

Jadi, ketika seorang teman bertanya, "Kenapa kamu selalu membela Jokowi ? Apa kamu dibayar untuk selalu menyanjung2nya ??"

Saya tersenyum. Tidak semua orang mengerti. Tapi secangkir kopi di depan saya sangat memahami. Saya seruput dengan nikmatnya, sambil menggumam, "Maaf, Jokowi sudah memenangkan hati saya.."

Ah, sore ini indahnya..

JOKOWI, BAPAK PAPUA

Papua
Jokowi dan Menggendong Anak Papua

Seberapa penting Papua bagi Jokowi? Saya pernah bertemu beliau sekali. Di sudut ruang saya berdiri, mengamati pembicaraan ketika ia baru saja pulang dari Papua dan berbicara dengan beberapa tokoh yang kita kenal di media.

Wajahnya tampak lelah luar biasa. Matanya berkaca. Bukan karena perjalanan ternyata, tetapi ada luka yang ia simpan jauh di lubuk hatinya.

"Kalian tahu..?" Katanya membuka pembicaraan. Rahangnya terkatup geram. Semua terdiam mendengarkan setiap baris katanya. "Di Papua ada sebuah desa dimana untuk ke Puskesmas saja orang harus berjalan empat hari lamanya.."

Kami semua terdiam. Sesak. Merasa bersalah. Membayangkan begitu nyamannya kami setiap hari di Jakarta. Semua ada. Bahkan untuk sekedar transportasi, kami tinggal bermain jari di gadget, kendaraan akan datang dalam beberapa menit saja.

Beberapa desa di Papua bahkan jauh dari yang namanya peradaban. Ketika kota besar merayakan malam tahun baru dengan pancaran cahaya gegap gempita, banyak desa disana yang gelap gulita.

Kita merdeka sudah 72 tahun lamanya, tetapi Papua masih saja seperti masa dimana negeri ini masih terjajah.

Ada luka dihati Jokowi ketika melihat kenyataan yang ada langsung terhampar didepan mata. Luka itu bagai irisan belati ditaburi cuka, perih menghadapi "sila keadilan sosial" yang tidak berlaku untuk Papua.

Sampai sekarang, sudah 9 kali Jokowi kesana. Melihat langsung pembangunan infrastruktur mulai jalan sampai listrik yang ia kucurkan dengan nilai triliunan rupiah. Ia memaksa Pertamina mengurangi keuntungan perusahaan untuk membangun bbm satu harga. "Papua adalah bagian dari kita. Mereka berhak mendapat hak yang sama.." Katanya.

Melihat foto dirinya merangkul dua anak Papua ditangannya, Jokowi seakan ingin berkata kepada mereka. "Nak, maafkan kami yang dulu sudah mengabaikanmu. Ijinkan kami membangun wilayahmu. Ketika kalian besar nanti, jangan lupakan tanah kalian sendiri.."

Jokowi tidak mencurahkan rasa pedihnya dengan hanya berkata, atau membuat curhatan di media sosial sebagai pencitraan saja. Ia diam dan bekerja, setahap demi setahap, membangun Papua.

Seharusnya kita semua mengangkat secangkir kopi untuknya. Dan memberinya penghormatan bahwa dialah sejatinya bapak orang Papua..

Bapak Jokowi, secangkir kopi untukmu..

Dariku. Anak bangsa yang bangga.