Sabtu, 28 Oktober 2017

PERANG BINTANG DI JABAR

Pilgub
Pilgub Jabar
Sebenarnya, kalau PDIP berencana menaikkan pasangan Dedi Mulyadi dan Dedi Mizwar, ini bisa jadi musuh serius buat Ridwan Kamil.


Saya bukan orang yang suka pada Dedi Mizwar. Saya anggap Demiz bukan tipe orang yang bisa bekerja dalam iklim birokrasi. Dia lebih mumpuni bekerja di dunia entertain. Dan sebagai birokrat, dia lebih banyak berakting daripada bekerja..

Tapi survey terus menerus menempatkannya sebagai orang nomer dua yang populer sesudah RK. Dan ini tidak bisa diabaikan..

Seperti kita tahu, model pemilih kita lebih banyak memilih pemimpin berdasarkan emosional, bukan rasional. Mereka memilih berdasarkan kesukaan, bukan kinerja.

Dan ini dipahami betul oleh RK yang lebih banyak menonjolkan “siapa dirinya” daripada “apa yang dikerjakannya”. Karena itu RK sering banget bermain di media sosial dengan gaya-gaya anak muda, keluarga bahagia dan -sudah pasti- muslim.


Untuk melawan model begini, tidak bisa dihadapi dengan menonjolkan kinerja. Karena ciri masyarakat kita masih subjektif, belum objektif.

Dan Demiz adalah lawan yang sepadan. Dia artis, dikenal banyak orang, dan -jangan lupa- Aher jadi Gubernur kemarin juga banyak dipengaruhi oleh popularitas Demiz.

Sedangkan Dedi Mulyadi sendiri, meski kinerjanya bagus, tapi dia lebih butuh banyak effort untuk maju di Pilgub karena namanya masih belum cukup kuat di masyarakat perkotaan yang biasanya jadi target survey.

Meski begitu, jangan meremehkan Demul. Golkar memegang 19 kursi di Jabar di bawah PDIP, itu berkat kerja keras dia dan loyalitas pendukungnya. Karena dia jugalah, nama Jokowi waktu 2014 lalu anjlok di Jabar. Golkar waktu itu masih ada di kubu lawan.

Demul menjadi bupati 2 periode dan menjadi ketua DPD Golkar, itu membuktikan kemampuan politiknya yang mumpuni dan matang..

Dan penggabungan antara kinerja bagus plus popularitas itu penting banget, khususnya di Jabar. Meski kerja bagus, kalau gak kepilih, mau gimana coba?

Dan menjadi tidak penting apakah Demiz yang Gubernur atau Demul yang Gubernur ketika mereka berpasangan. Karena keduanya punya kelemahan dan kekuatan yang saling mengisi. Inilah yang saya bilang musuh serius buat RK..


Siapapun yang jadi Gubernur, yang pasti Dedi Mulyadi yang bekerja dan Dedi Mizwar yang berdoa.... Klop, kan?

“Terus, kenapa kok RK tidak disandingkan dengan Dedi Mulyadi saja?”.

Malah lebih sulit, karena keduanya punya tipikal dan ambisius yang sama. Bisa jadi matahari kembar kalau mereka disandingkan, seperti masa pemerintahan SBY-JK dulu. Akhirnya berebut cari simpati dan kerjapun terbengkalai..

Ibarat pasangan suami istri yang sama-sama pinter, sama-sama pekerja, sama-sama ambisius disatukan dalam perkawinan, pasti banyak berantakannya.

Demiz sendiri termasuk barisan sakit hati karena disingkirkan begitu saja okeh Gerindra-PKS yang sebelumnya mencalonkannya. Begitu juga Demul yang patah hati melihat Golkar -partai yang dibelanya selama ini- malah mencalonkan orang di luar partai yang hanya mencari kendaraan politik saja..

Kedua orang sakit hati ini, jika digabungkan akan menjadi pekerja keras karena ingin membuktikan kepiawaian dirinya. Disinilah pintarnya PDIP jika berencana menggabungkan mereka berdua,

Jabar nemang masih berkutat di ketiga tokoh ini, karena belum ada calon lain yang namanya lebih kuat dari mereka.

Melihat Pilgub Jabar memang jauh lebih menarik daripada daerah lainnya selain DKI.

Kenapa? Karena ini masih berhubungan dengan Pilpres 2019, dimana pemilih terbanyak masih di pegang Jabar. Dan -sekali lagi- 2014 Jokowi kalah telak di Jabar. Jangan sampai terjadi lagi..

Saya masih belum tahu, siapa pasangan yang dicalonkan Gerindra & PKS nanti? Jangan kaget, ketika salah satu partai itu malah merapat ke satu calon pasangan..

Saya gak minum kopi kali ini, tapi sedang menyeruput teh botol pake sedotan. Dan seperti iklannya, begitu juga situasi di Jabar, “Siapapun Gubernurnya, Jokowilah yang harus jadi Presidennya”.

Seruputtt...