Jumat, 27 Oktober 2017

SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Syukur
Sudut Pandang
Seseorang menyapaku di inbox...

“Bagaimana cara bersyukur? Jujur saja, saya tidak ingin jadi orang munafik. Situasi saya penuh dengan musibah dan ujian, sehingga sulit rasanya menjadi orang bersyukur. Tolong ajari saya, bang...”


Ah, kata-kata itu begitu tulus dan datang dari ketidak-tahuan. Sama dengan ketidak-tahuan saya tentang rahasia dan makna hidup sekian tahun lalu.
Dan sungguh tersiksa berada pada dimensi ketidak-tahuan, karena semua jadi meraba2. Lebih tersiksa lagi, ketika hasil meraba akhirnya berubah menjadi prasangka..

“Manusia itu banyak salah dalam memandang sesuatu...” aku mulai mengetik pesan kepadanya. Kuambil secangkir kopi yang tersedia di meja. Kuseruput sejenak sebelum memulai menulis kata..

“Sudut pandang manusia selalu berada di sudut pandang dunia. Sedangkan sudut pandang Tuhan adalah akhirat. Dunia dan akhirat adalah dua sisi yang sangat berbeda..

Manusia memandang sakit sebagai musibah, sedangkan Tuhan menaruhnya sebagai nikmat. Jika Tuhan mengikis dosa manusia di dunia melalui sakit, supaya ringan timbangan dosanya di akhirat nanti, bukankah itu sesungguhnya nikmat yang tiada tara?

Manusia memandang kemiskinan sebagai ujian, padahal kemiskinan adalah salah satu cara Tuhan dalam mengupas sisi keduniawian. Jika dengan miskin manusia baru bisa merasakan indahnya nilai-nilai dalam hidup, bukankah itu sesungguhnya kenikmatan yang tidak terkira?

Itulah kenapa Tuhan selalu berseru kepada manusia Wahai hambaKu, nikmat mana yang engkau dustakan ?”

Kukirim pesan dan kutinggalkan gadgetku. Ketika sedang sibuk dengan pekerjaanku, notifikasi menyala dan kulihat pesan balasan dari teman itu.

“Lalu kenapa Tuhan selalu menyuruh manusia untuk bersabar atas segala musibah dan ujian?”.

Aku tersenyum. Akal adalah rangkuman dari peristiwa, kata Imam Ali. Dan melalui peristiwalah Tuhan mengajarkan banyak hal karena tidak mungkin Ia berkomunikasi, dengan manusia melalui suara.

Kubalas, “Karena iman manusia itu ada tingkatannya. Pada level terendah, manusia itu harus diberikan perintah supaya bisa mengerti. Sabar, kamu sedang kena musibah.

Tapi pada level iman atau spiritual yang lebih tinggi, dimana manusia sudah paham akan rahasia hidup ini, maka manusia sepatutnya selalu mengucapkan terimakasih atas semua kenikmatan ini. Ucapan itu akan datang, ketika manusia sudah tidak lagi salah memahamiNya.

Tuhan adalah sumber kebaikan, dan ketidak-baikan adalah karena kita yang meniadakanNya..

Pahami ini dan rasa syukur akan selalu memenuhi dadamu, membuatmu selalu bahagia dan ikhlas atas semua hal yang terjadi...”

Tidak mudah memang mempunyai sudut pandang seperti ini selain dengan melatih diri. Dan terkadang, hanya supaya manusia mengerti, Tuhan harus menundukkan kesombongan manusia itu dahulu dengan mengupas segala berhala dalam diri manusia itu sendiri..

Ah, entah butuh berapa tahun aku jalani hanya untuk memahami hal sesederhana ini.

Perjalanan itu tertuang dalam buku “Tuhan dalam secangkir kopi” dan “Bukan manusia angka”. Sebuah perjalanan hidup dengan kenikmatan sejati..
Seperti nikmatnya lidah ketika mencecap secangkir kopi...


“Perbaikilah akhiratmu, maka Tuhan akan memperbaiki duniamu...” Imam Ali as.