Jumat, 24 November 2017

AIR MANCUR, KEHIDUPAN TERPANCUR..

Politik
Air Mancur
Apa sih yang dimaksud “air mancur, kehidupan pun terpancur” seperti yang dikatakan pak Sandi?


Cebong mana ngerti.. Sini saya jelaskan dengan sederhana sekali.

Dulu pada masa Ahok, banyak ormas tidak mendapat dana hibah. Yang mendapat itu adalah badan2 sosial dan seni seperti Yayasan Autis, Dewan Kesenian Jakarta dan lain-lain. Ini jelas membuat ormas kekeringan, dahaga tak berkesudahan..

Akhirnya pada masa pak Anies, dana hibah dimancurkanlah ke majelis-majelis taklim bahkan sampe ke Laskar segala. Dengan begitu mereka akan sibuk dengan kegiatan-kegiatan organisasi dan keagamaan, sehingga gak sempat lagi demo ini itu yang bikin pusing kepala.

Jakarta aman dan tentram, kan? Kehidupan pun terpancur..

Bukan hanya itu. Selama ini kecoak-kecoak suka mengganggu kinerja pejabat. Lagi asik itung-itung anggaran, eh si kecoak gak tau diri goyang dombret di depan petinggi.


Langsung keluar perintah, “Mancurkan pembasmian hama !!” Sret sret, 280 juta pun dianggarkan seketika itu juga. “Kok, mahal ya ?” Kata rekanan sambil kedipkan mata sebelah, “Lahhh, ini kecoak bung. Gak gampang matiinnya. Kalo mau, lu kejar sendiri aja kecoaknya !!”

Kehidupan pun kembali terpancur...

Tau-tau pas rapat ada yang kentut. “Pssssstt”. Lemah suaranya, tapi baunya menghantam hidung yang sedang mekar2nya. Marahlah para petinggi..

“Mancurkan anggaran untuk pengharum ruangan !!” Sret, sret. 350 juta langsung tertuang. “Lah, kok mahal juga ?” Rekanan sebelah kemudian menyela, “Satu kentut aja sudah segitu baunya. Bayangkan kalau satu ruangan kentut semua??”.

DPR pun lirak lirik ke sesama anggotanya. “Kok enak ya mereka asal sret sret gitu terus keluar anggarannya? Gak bisa ini, harus kita revisi !” Bisik-bisik pun terjadi.

Akhirnya salah seorang juri bicara dari mereka angkat bicara, “Ehm, saya mohon ijin bicara bapak pemerintah..” sambil melonggarkan ikatan dasi di lehernya yang sejak jaman Ahok memimpin sudah sangat ketat sampai mencekik lehernya..

“Melihat bahwa begitu pentingnya masalah kecoak dan bau kentut ini, kami mengajukan kunjungan kerja ke luar negeri untuk studi banding bagaimana cara penanggulangan yang efektif dan efisien dari masalah ini supaya tidak membebani anggaran kita... “

“Berapa anggarannya?” Tanya petinggi.
“Cukup 108 miliar saja, untuk ke 5 negara. Itu sudah sangat murah, karena ada diskon dari pihak travel..”

“Baiklah kalau begitu. Oh ya, saya titip travelnya jangan pake traveloka ya. Karena dia sudah di uninstall banyak warga..” Sret, sret.. 108 miliar pun tertuang lagi.
“Mudah ya ternyata, sangat kompromistis sekali pimpinan kita sekarang ini. Uuuh, coba dari dulu dia jadi pimpinan, kita kan sudah lama bahagia..” bisik seorang anggota ke temannya. Kembali kehidupan terpancur..

Sederhana kan penjelasannya, bong? Gini aja gak ngerti, dasar IQ sekolam!

Sementara itu di luar gedung pemerintah yang mewah, sekelompok warga sedang berdemo. “Daging, daging. Kami juga berhak untuk makan daging..”

“Apakah harus saya sret sret juga pak untuk daging ?” Tanya seorang staf..
Petinggi menjawab, “Gak usah, kita suruh sabar aja mereka. Ini ujian dari Tuhan...”

Seruput dulu kopinya...