Kamis, 23 November 2017

BENARKAH ISLAM SUKA PERANG?

Ekstrimisme
Radikalisme
Dalam sebuah diskusi di gereja, seseorang bertanya kepada saya.

“Bang, kenapa kok kalian di Islam selalu bermusuhan? Apa tidak lebih baik saling mengasihi dan saling berpelukan?”.


Saya hanya tersenyum saja menanggapi pertanyaan itu. Entah kenapa, dalam hal apapun, selalu saja ada orang yang memandang banyak perkara dari masalah “apa agamanya”.

Yang bertanya mungkin belum paham, bahwa pertarungan di banyak tempat di Timur Tengah, bukan masalah Islam perang dengan Islam, tetapi penjajah melawan mereka yang mempertahankan negerinya. Hanya saja kebetulan agamanya sama..

Mungkin juga yang bertanya belum paham, bahwa di balik “kelompok yang mengaku Islam” yang ingin menguasai sebuah wilayah, ada koalisi dari berbagai negara sebagai donatur dan sutradaranya. Mereka ini koalisi dari AS, Eropa juga beberapa negara kerajaan seperti Saudi dan Qatar.

Apakah saya harus kasih tahu agama mereka masing-masing?

Saya pun menyeruput kopi yang tersedia di meja, mengambil microphone dan mulai berbicara..


“Ibu yang bertanya, apakah ibu tahu kelompok mana yang menghalangi pergerakan HTI di banyak wilayah di Indonesia ? Mereka itu NU, bu.. dengan seragam Ansor dan Bansernya.

HTI Islam, NU juga Islam. Apakah itu berarti perang antara sesama Islam ? Bukan bu..

HTI ingin menjadikan negeri ini jadi negeri khilafah, sedangkan NU ingin menjaganya. Jadi ini tentang siapa yang ingin menjajah dan siapa yang ingin mempertahankan negaranya, bukan tentang agamanya apa..

Kalau bukan NU yang menghalangi pergerakan HTI, lalu siapa lagi ? Pemerintah masih sulit bergerak karena akan menjadi fitnah ketika harus menghalangi gerakan HTI yang menggunakan kata “Islam”..

Apalagi ketika umat Kristen yang menghalangi, wah sudah dijadikan propaganda Kristen versus Islam oleh mereka..

Jadi jangan salahkan agama seseorang, apalagi menghakimi bahwa Islam sangat suka perang. Tanpa NU yang Islam yang ikut menjaga negeri ini, bisa jadi negeri ini sudah berantakan seperti Suriah, Libya dan Irak..”
Saya diam sejenak sebelum melanjutkan..

“Saya memahami bahwa di banyak pemikiran umat Kristen selalu ada konsep “kasihilah musuhmu”. Itu benar dan tidak salah. Yang salah adalah cara penempatannya..”


Saya melihat banyak wajah yang tampak kurang setuju dengan pendapat saya. Ah, biarlah.. Saya tidak bisa memaksa semua orang untuk setuju dengan pendapat saya..

“Seandainya pada masa perang, Kapitan Pattimura, Yos Sudarso, Adisucipto dan banyak pahlawan beragama Kristen lainnya tidak membela negara hanya karena terperangkap kata “kasih” yang salah penempatannya, negeri ini belum tentu merdeka..

Mengasihi musuh itu keharusan, jika dia sudah tidak berdaya. Tetapi MENGASIHI tanah air dengan menjaganya adalah sebuah kewajiban setiap warga negara apapun agamanya..”

Saya akhiri diskusi dan tampak sebagian besar hadiri yang datang tersenyum puas. Mereka mengerti sekarang..

Kuambil cangkir kopiku dan kuseruput lagi nikmatnya..