Sabtu, 25 November 2017

KETIKA MICIN BICARA TENTANG INDOSAT

Joko Widodo
Jokowi
Tiba-tiba ayah saya meninggal..

Bukan saja meninggal, ayah saya meninggalkan hutang yang sangat banyak. Sebagian hutang jatuh tempo bahkan ada yang sudah lewat. Rumah dikepung debt collector dari beberapa pihak.


Saya anak sulung, mengemban tanggung jawab besar terhadap keluarga. Apa yang harus saya lakukan?

Mau tidak mau saya harus berpikir keras, supaya keluarga ini tetap makan. Keputusan terakhir yang sangat sulit adalah menjual rumah yang kami tinggali.
Rumah ini sebenarnya menguntungkan, karena posisinya persis di pinggir jalan. 

Dan kami punya toko handphone dengan pelanggan tetap yang setiap hari datang. Sayangnya, hasil penjualan handphone tidak cukup untuk membayar bahkan bunga hutang.

“Nanti...” Saya berjanji dalam hati. “Saya akan beli kembali rumah ini..”
Saya jual dengan harga yang tipis, sekedar buat melunasi hutang dan sisanya bisa untuk makan dan memulai usaha kembali.

Inilah gambaran sederhana situasi yang terjadi pada penjualan Indosat tahun 2002 lalu..

Krisis ekonomi 1998, salah kelola karena korupsi besar2an rezim Soeharto, membuat negara hampir bangkrut. Pertahanan negara lemah, krisis pangan di depan mata, kepercayaan investor anjlok ke titik terendah. Mau hutang lagi, sudah tidak dipercaya.


Kalau dibiarkan, akan terjadi pemberontakan besar2an, yang mengakibatkan perang saudara.

Akhirnya keputusan pun dibuat. Megawati - sebagai Presiden waktu itu - bersama DPR dan MPR, memutuskan menjual salah satu aset berharga negara yaitu Indosat.

Harganya murah, 5 triliun rupiah. Singapura mengambil kesempatan bangkrutnya Indonesia dengan membeli saham Indosat. 5 tahun kemudian Singapura mendapat untung berlipat dengan menjual saham Indosat kepada Qatar sebesar 16 triliun rupiah..

Bagi Singapura, 5 triliun rupiah itu kecil.

Tapi tidak bagi Indonesia pada waktu itu yang sangat butuh uang. Dengan uang 5 triliun rupiah itu, ekonomi bergerak kembali meski terbatas. Dan yang terpenting, bergeraknya kembali ekonomi memunculkan kepercayaan baru dari investor dan bank bahwa Indonesia bisa bangkit kembali.

Sejak Jokowi memimpin, keputusan Megawati terhadap penjualan Indosat terus digugat oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan namanya.


Ironis, karena mereka yang menggugat itu adalah mereka yang juga terselamatkan ekonominya karena ekonomi Indonesia gerak kembali sesudah negeri ini mendapat dana segar hasil penjualan Indosat.

Dan masih banyak orang yang menyamakan situasi jaman bangkrut itu dengan situasi saat Jokowi menarik investasi dari penjualan saham BUMN. Padahal waktu, kejadian dan peristiwa berbeda. Dulu situasi di Indonesia sangat genting. 

Sekarang situasi berubah karena cara pengelolaan sudah benar..
“Lha terus kapan beli kembalinya ? Janjinya dulu bisa buyback ?”

Buyback itu mudah. Karena sudah dipercaya Bank, Indonesia bisa saja meminjam uang untuk membeli saham Indosat yang pasti harganya sudah puluhan triliun rupiah.

Tapi itu sudah bukan prioritas. Masih banyak yang harus dibangun selain membeli saham Indosat. Jalan, bandara, listrik sampai Freeport adalah prioritas utama. Indosat bukan penentu ekonomi negara. Dia hanya sebuah simbol saja.

Simbol itu akan diambil kemudian, ketika negara sudah mapan dan ada uang lebih dari hasil geraknya pembangunan. Kecerdasan di sini sangat penting dalam mengambil keputusan, bukan hanya faktor emosional saja..

Indonesia bukan seperti pak Friedrich, yang keluar negeri spend 3 milyar sampai 5 milyar dan suka kemewahan. Kita masih merangkak hanya sekedar untuk bertahan dari salah kelola masa lalu yang sudah pada tingkat parah..

Seperti secangkir kopi yang tidak mungkin terhidang di meja begitu saja. Ia harus melalui perjalanan panjang sekedar untuk memberi kenikmatan pada lidah yang mengerti bahwa kekayaan itu terletak pada prosesnya, bukan hasilnya..

Seruput dulu, wahai bani micin yang mulia...