Kamis, 30 November 2017

MANUSIA INSTAN

Bisnis
Instan
“Saya harus usaha apa?”.

Begitu tanya seorang teman satu sore. Ia sedang ingin keluar dari kerjaannya dan memulai usaha baru. Cuma ia belum tahu harus bisnis apa.

Secangkir kopi panas sore itu menemani kami ngobrol. Dia membicarakan peluang-peluang usaha yang akan dilakukannya.

Dan dari pembicaraan itu, saya menangkap yang dimaksud “peluang” oleh teman saya itu adalah peluang yang ditawarkan orang lain kepadanya, dimana disitu ada MLM, money game dan banyak lagi yang semua menawarkan mimpi yang sama, yaitu KAYA.

Sejak lama kata KAYA ini mengganggu saya. Konsep kaya adalah sebuah kesepakatan manusia dengan ukuran materi. “Gile lo, kaya dia sekarang. Mobilnya dua..”

Maka berlomba-lombalah orang mengejar materi. Uang menjadi tujuan utama, karena dialah raja dari segala ukuran manusia.

Dan ketika uang menjadi tujuan, sifat purba manusia pun muncullah dari dalam benaknya, yaitu Serakah.

Sifat serakah ini menemukan wujudnya pelan-pelan. Manusia membentuk dirinya berdasarkan angan-angannya.

Lalu muncullah perasaan tidak sabar, instan, menggampangkan, mudah percaya sama orang, kagum pada sesuatu yang melebihinya dan merendahkan seseorang yang dia rasa berada di bawahnya..

“Lu gak ngerti bisnis ini...”, “Sampai kapan lu mau miskin terus??”, “Rugi kalau gak ikutan....” adalah bahasa-bahasa yang mudah di temukan ketika orang sedang melambung dengan angan-angannya.

Dan penyakit menggampangkan itu berbuntut panjang. Dia mudah meminjam uang, karena “Ntar kalau udah goal, gua bayar dua kali lipat deh..”.

Pada titik terparah, seseorang bahkan bisa dengan relanya menggadaikan rumah yang ditinggalinya hanya untuk mengejar angan panjangnya.

Itu belum kisah yang lebih pedih, ketika uang hasil menggadaikan rumah diserahkan begitu saja ke orang lain dengan kepercayaan bahwa dia lebih mampu dari dirinya. Orang itu lari membawa mimpi-mimpinya.

Ah, sudah terlalu banyak kutemukan cerita dengan akhir menyedihkan. Dan aku tidak ingin temanku terjebak dalam model yang sama.

“Bisnis itu sejatinya adalah eksistensi dirimu..” Kataku membuka pembicaraan.
“Dia adalah apa yang kamu suka dan dengan itu kamu berguna. Kamu harus mencintainya karena ia adalah bagian dirimu.

Nah, supaya bisa mencintai maka kenalilah dirimu dulu. Siapa kamu, apa kepandaianmu, apa tujuanmu dan segala macam pertanyaan yang harus kamu jawab sebelum melangkah..

Bisnis itu bukan seberapa kaya dirimu nanti, tapi lebih seberapa bahagia hidupmu kelak. Uang itu hanya dampak dari apa yang kamu lakukan, fungsi dirimu itulah tujuanmu.

Dengan mengenal dirimu sendiri, kamu tidak akan mudah ditipu orang lain, karena siapa yang bisa mengenal dirimu selain kamu?

Sesudah tahu apa yang akan kamu lakukan, melangkahlah setahap demi setahap dan cintailah prosesnya. Kekayaan itu ada dalam proses bukan pada hasilnya.

Maka ketika kamu mulai paham semua, niscaya hidupmu jauh lebih tenang dan tidak akan pernah gelisah..”

Temanku merenung panjang sambil mengaduk kopi di cangkirnya. Hujan turun.

Aku merenung. Tuhan bisa saja membentuk alam semesta ini sekejap mata. Tapi Ia mengajarkan manusia dengan tahapan2 dalam penciptaan supaya kita mengerti maknanya.


Semakin malam kopi semakin nikmat rasanya...