Minggu, 26 November 2017

MANUSIA YANG MAMPU MENGALAHKAN DIRINYA

Ego
Ilustrasi
“Tidak banyak orang yang mampu menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang sederhana..”
Sederhana sekali kata-kata itu, tetapi dalam maknanya. Karena mengalahkan diri sendiri adalah pertarungan terbesar dalam sejarah manusia..
Aku dan temanku ngopi di sebuah warung sambil berbicara banyak hal. Seperti biasa, secangkir kopi panas menemani diskusi kami.

“Banyak orang yang sibuk berbicara dengan gaya bahasa yang tinggi. Ia pintar memang, tetapi tidak cerdas. Orang cerdas adalah orang yang mampu membungkus perkara yang sulit, menjadi sebuah bahasa sederhana dimana orang awampun mampu menerimanya..”

Sepotong tahu isi dilahapnya. Enak tahu isi di warkop ini. Sayurnya banyak. Apalagi ditambah cabe rawit, hmm..

“Banyak orang yang tidak mampu menempatkan dirinya, dengan siapa ia bicara. Ia menganggap semua orang mempunyai kapasitas yang sama dengan dirinya. Apalagi ketika ia sudah mempunyai gelar yang tinggi, lebih sulit lagi ia menyederhanakan bahasa penyampaiannya.. “

Aku mengangguk mengambil banyak pelajaran darinya.

“Ada lagi tipe orang yang ingin meninggikan dirinya. Ia berbicara dengan bahasa sulit, bukan dengan maksud untuk membuat orang mengerti, tetapi supaya orang menganggap dirinya pintar.

Akhirnya pesan yang disampaikan, sama sekali tidak dapat diterima dengan baik. Pembicaraan menjadi sia-sia, karena proses komunikasi tidak berjalan...”
Temanku menyeruput kopinya dan melanjutkan..

“Seharusnya orang-orang seperti itu belajar dari kitab suci. Kitab suci, bukan saja isinya yang luar biasa, tetapi cara penyampaiannya pun sudah luar biasa... “ Temanku menggeser duduknya mendekat.

“Bayangkan, sebuah pesan dari pemilik semesta dengan bahasa langit, turun kepada manusia suci dan disampaikan dengan serendah-rendahnya bahasa manusia sesuai pemahamannya pada masa itu..

Itulah kenapa bidadari dalam kitab suci digambarkan dalam sosok wanita, karena konsep kecantikan pada masa pesan itu disampaikan, ada pada diri wanita.. Padahal, aslinya bisa jadi jauh lebih indah dengan keiindahan diluar bayangan manusia..

Kenapa harus begitu? Supaya pesannya sampai, dengan mengambil contoh sesuatu yang manusia kenal..”

Menarik, pikirku. Ah, aku jadi ingin bertanya satu hal. “Lalu bagaimana cara supaya mampu menyampaikan sesuatu dengan bahasa sederhana? Adakah teknik untuk itu?”.

Temanku tersenyum dan menjawab..

“Biasanya, mereka yang sudah bisa begitu adalah mereka yang sudah mampu mengalahkan dirinya. Sehingga ketika ia menyampaikan sesuatu, niatnya adalah bagaimana pesan itu sampai dan diterima, bukan dengan niat supaya ia dipuja manusia”.

Sederhana sekali kata-kata itu, tetapi dalam maknanya. Karena mengalahkan diri sendiri adalah pertarungan terbesar dalam sejarah manusia..

Ah, secangkir kopi ternyata mengajarkan banyak hal, bagaimana ia mampu “berbahasa” dengan baik di tingkatan apapun, di sebuah hotel dengan harga 90 ribu rupiah atau di sebuah warung seharga 3 ribu rupiah..

Bahasa secangkir kopi selalu sama, yaitu bagaimana memberi nikmat kepada lidah manusia..

Seruput..