Senin, 13 November 2017

PERLAWANAN ANANDA SUKARLAN

Pianis
Ananda Sukarlan
Menarik membaca siaran pers dari perkumpulan alumni Kanisius 86..

Di berita itu dikabarkan, bahwa Ananda Sukarlan -penerima penghargaan di bidang kemanusiaan dan seni musik- sempat walk out saat Gubernur DKI, Anies Baswedan, pidato. Dan tindakan Ananda ini diikuti banyak alumni lainnya.

Ananda balik lagi sesudah Anies selesai. Dan setelah menerima penghargaan, ia memulai pidatonya dengan sebuah kritik kepada panitia.

“Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami.

Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius.

Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan” kata Ananda.

Ananda Sukarlan adalah seorang pianis yang mendunia. Ia adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang namanya tercantum di 2000 Outstanding Musicians of the 20th century.

Ia juga mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia dengan tujuan memberikan pelajaran musik untuk anak-anak yang tidak mampu bayar. Ia juga menuliskan Rapsodia Nusantara, supaya para pianis dunia menemukan identitas musik klasik Indonesia.

Sederhananya, dalam sisi ke Indonesiaan, integritas Ananda sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

Jadi sangat wajar jika ia merasa sakit hati ketika ada pihak-pihak yang ingin mengoyak kebhinekaan Indonesia yang kaya, hanya karena sebuah jabatan politik. Ia berjuang mempertahankannya, disisi lain ada yang merusaknya.

Ciri khas seorang seniman asli seperti Ananda Sukarlan adalah ia tidak mampu membohongi hati nuraninya. Mata batinnya dengan tegas menyala ketika ada ada yang mengusik rasa kemanusiaan dan ketidak-adilan.

Dan itu dilihat dan dirasakannya sendiri, bagaimana hanya karena ambisi politik, seseorang bisa dengan sangat mudah mengorbankan keutuhan bangsa.

Ananda Sukarlan melawan dengan caranya. Ia yang biasanya hanya berbicara melalui deretan hitam putih tuts pianonya, kali ini harus berdiri untuk menentukan sikapnya. Ia bukan tidak menerima kemenangan politik seorang pejabat, ia hanya tidak suka cara-cara yang dipakainya.

Ananda terbiasa menang dalam berbagai karyanya dengan cara yang elegan dan terhormat. Bertarung dengan karya, bukan dengan cara yang dipaksa.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang bahwa “Lebih mulia kalah secara terhormat, daripada menang dengan penuh kecurangan..”

Manusia sejatinya harus berdiri tegak di atas harga dirinya.

Salam secangkir kopi untuk mas Ananda...