Kamis, 16 November 2017

SETNOV, KAWAN ATAU LAWAN?

Golkar
Setya Novanto
Papa Setnov ini memang LICIN..

Saya beri huruf kapital karena memang sejatinya ia begitu. Ia selalu memegang kartu truf dalam situasi apapun, tidak perduli seberapa terjepitnya ia saat ini.


Melihat kiprah papa, memang harus kembali ke awal pertarungan Pilpres 2014. Pada saat itu Golkar dipimpin oleh Aburizal Bakrie. Golkar tidak bisa dipandang enteng, ia memegang 91 kursi di DPR RI atau 14 persen, nomer dua di bawah PDIP.

Sesudah kemenangan Jokowi, otomatis parlemen terbelah dua dengan kekuatan sama besarnya. Yang satu adalah koalisi pemerintah atau KIH dan satunya lagi koalisi oposisi KMP. Di KMP ini, Golkar bersama Gerindra dan PKS.

Pada situasi parlemen terbelah ini, sulit sekali menjalankan roda pemerintahan. Karena banyak keputusan pemerintah harus melalui DPR, seperti masalah anggaran. Kebayang jika sebagian besar anggota DPR tidak menyetujui anggaran yang diajukan pemerintah, maka pemerintahan Jokowi akan stagnan, tidak bisa bergerak kemana-mana.

Oleh karena itu disusunlah strategi untuk menguasai Golkar. Dengan berbagai “bujuk & rayu” akhirnya Ical - Ketua umum Golkar saat itu - bersedia mundur teratur. Situasi ini tidak terlepas dari turun gunungnya para sesepuh Golkar seperti LBP dan JK.

Akhirnya digelarlah Munaslub Golkar di tahun 2016.

Belum selesai sampai disitu, dalam munaslub inipun terjadi adu kekuatan antara “dua gajah” di Golkar, yaitu para sesepuh tadi. Satu memegang Setnov dan satunya lagi Ade Komarudin. Memegang Golkar sama dengan memegang kekuatan untuk menaikkan posisi tawar...


Dan Setnov menang. Secara otomatis, ia mendeklarasikan bahwa Golkar pro pada pemerintah. Satu masalah selesai. Roda pemerintahan pun berjalan dengan aman tanpa ada konflik berlebihan di parlemen..

Mendekati 2019, aura pertarungan muncul kembali.. Ini dikarenakan koalisi di pemerintahan mulai menyusun kekuatan masing-masing.

Arah politik JK di Pilpres ke depan ini berseberangan dengan Jokowi. Dan itu tampak jelas pada Pilgub DKI kemaren, dimana JK secara terang-terangan mendukung pasangan Anies-Sandi.

Posisi Golkar saat ini strategis. Dengan mengantungi 14 persen kursi di DPR, cukup bergabung dengan satu partai lagi (PKS misalnya) maka Golkar dan koalisinya bisa mengusung capres sesuai ambang batas yang diatur dalam Presidensial Threshold.

Dan melihat arah politik JK di Pilgub DKI, jika ia berhasil menguasai Golkar, maka kemungkinan besar Anies akan diajukan sebagai calon Presiden untuk melawan Jokowi. Prabowo sudah gak laku dijual..

Dan cara untuk bisa menguasai Golkar, pertama-tama, adalah tendang dulu Setnov dari posisi ketua umum. Itulah kenapa JK sangat mendorong KPK untuk mulai menangkap Setnov.


Setnov tidak kurang akal. Kartu truf ia mainkan.

Dalam posisi Setnov sebagai tersangka, Golkar pun mendeklarasikan diri akan mendukung Jokowi di pilpres 2019. Sebuah langkah yang sangat licin, dengan mengirimkan pesan pada Jokowi, bahwa posisinya di Golkar akan jauh lebih berguna daripada jika ia menjadi tersangka.

Jokowi kembali harus memakan buah simalakama. Mendorong Setnov tersangka, bapak mati. Mendukung Setnov, ibu yang mati.

Dalam situasi yang lain, nama Setnov yang sudah identik dengan kasus korupsi, juga akan menjegal langkah Jokowi ke depan karena ia di dukung oleh orang bermasalah. Jokowi bisa menjadi bulan-bulanan..

Saya malah menunggu langkah sesepuh Golkar lainnya, yaitu LBP. Jendral loyalis Jokowi ini, pasti sedang menyusun cara bagaimana bisa menendang Setnov dari Golkar tapi Golkar tetap bisa dikuasai untuk mendukung Jokowi..

Ah, air dalam ceret sudah mendidih. Kopi panas siap tersaji di pagi hari. Seperti mulai panasnya Pilpres 2019 sekarang ini...

Seruput dulu ah...