Kamis, 23 November 2017

TERIMAKASIH RUSIA, TERIMAKASIH IRAN..

Suriah
Putin dan Bashar Assad
6 tahun sudah perang Suriah berlangsung..

Perang yang diawali pemberontakan oleh militer dan warga sipil yang dikomandani kelompok teroris Al-qaeda, berupaya menjatuhkan pemerintahan sah Bashar Assad.


Kelompok pemberontak yang menamakan diri mereka Free Syrian Army ini, bertujuan hendak mendirikan negara khilafah..

FSA adalah mesin perang koalisi negara barat seperti AS, Eropa dan Jepang. Dibantu oleh beberapa negara Timur Tengah seperti Saudi, Qatar dan Jordan.

Tujuannya adalah menguasai Suriah karena wilayah itu strategis sebagai jalur pipa gas bagi negara-negara koalisi. Khilafah dan agama dijadikan kedok untuk mempermudah rencana penguasaan..

Bashar Assad bukan Muammar Qadhafi dan Saddam Husein yang mudah dijatuhkan. Ia dicintai rakyatnya, yang kemudian berjuang bersamanya..

Setahun perang berlangsung antara FSA dan pemerintah Suriah, ISIS pun masuk, dengan tujuan yang sama dan donatur yang sama. Masuknya ISIS, karena FSA dianggap gagal menguasai Suriah.

Perang segitiga pun terjadi diantara mereka. AS dan Eropa memperumit situasi dengan pura-pura membantu Suriah tapi sesungguhnya malah memberikan bantuan senjata kepada ISIS dan FSA.


Kewalahan menghadapi serangan dari banyak pihak, Bashar Assad meminta bantuan kepada Iran. Iran kemudian mengontak Rusia untuk membentuk koalisi bersama memerangi pemberontak..

Perang Suriah mengajarkan banyak hal, bagaimana produksi hoax massal berlangsung. Industri hoax yang diproduksi mirip suasana Hollywood, dengan aktor-aktor yang menjadi korban, bertujuan untuk memberikan kesan kepada dunia bahwa Bashar Assad bersalah.
Dan inilah akhir dari perang Suriah.

Kemenangan ada di pihak rakyat Suriah, sesudah segala kesulitan, bau kematian dan jutaan pengungsi diberitakan. Banyak cerita berharga dari negeri yang diberitakan dalam banyak hadis itu.

“Kalau fitnah-fitnah tengah terjadi maka iman ada di negeri Syam..” Itulah salah satu perkataan Rasulullah menggambarkan bagaimana Suriah dari waktu ke waktu mengajarkan kita tentang apa dan bagaimana fitnah itu menjadi senjata efektif untuk menguasai satu wilayah..

Sejak awal perang Suriah, saya menjadi pengagum berat Bashar Assad, seorang Presiden yang tidak pernah lari dari negerinya meski dikepung berbagai negara. Ia berperang bersama rakyatnya, karena buatnya “Mati di negeri sendiri adalah sebuah kehormatan..”

Viva Bashar, Viva rakyat Suriah..

Semoga negeriku tercinta Indonesia bisa belajar bagaimana sesungguhnya sebuah bangsa itu mempertahankan dirinya..

Seruput kopi dulu untuk kemenangan kalian yang terindah...