Sabtu, 02 Desember 2017

212 KODE BUNTUT

Monas
Peserta Aksi Akbar 212 sedang kencing di taman
Meskipun kali ini jumlah aksi jauh lebih sedikit dari setahun lalu, tapi yang menarik jumlahnya mereka bertambah.

Setidaknya begitu menurut mereka.


Aksi setahun lalu yang terhitung ratusan ribu, mereka sebut 7 juta orang. Anehnya, aksi yang lebih sedikit kali ini -karena MUI dan Muhammadiyah melarang ikut reuni- malah di kabarkan menjadi 7,5 juta orang.

Bagaimana bisa begitu? Karena mereka butuh propaganda. Propaganda yang mereka luncurkan sebenarnya adalah kebohongan-kebohongan.

Seperti propaganda khilafah yang penuh dengan kepalsuan dan janji-janji surga. Khilafah bukan lagi konsep -karena umat awam gak bisa dijejali hal yang rumit- tapi lebih kepada utopia, atau khayalan- khayalan kesempurnaan. Begitulah cara mereka bekerja.

Bagi masyarakat waras, tentu ketawa melihat model propaganda mereka. Sungguh membodohkan. Tetapi ini berhasil bagi masyarakat yang pendidikan dan wawasan kurang, para pemalas yang ingin instan, orang kalah dan fanatik yang sulit mendapat kesempatan.

Karena itulah mereka bermain propaganda dengan membesar-besarkan mimpinya. Tidak perduli itu benar atau tidak, masuk akal atau tidak, fitnah atau bukan, yang penting tanamkan kebohongan berulang-ulang supaya jadi kepercayaan.


Anda bisa bayangkan kan ketika beberapa dari mereka berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS karena mimpi tentang surga dan ISIS adalah tolok ukur kebenaran?

Begitulah yang terjadi.

Tapi kita harus bersyukur setidaknya jumlah mereka makin menyusut. Dari perkiraan 450 ribu tahun lalu, sekarang tinggal sekitar 40 ribu.

Itu karena banyak orang sudah cerdas tidak mau dikadali oleh para kadal berbaju politik dan agama. Kecerdasan itu memang membutuhkan tahapan pelajaran, tidak bisa tiba-tiba.


Reuni aja terus sampai 5 tahun berturut-turut, nanti juga sisa 5 buntut. Saya cuma menemani sambil minum kopi aja tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan dari orang tua yang tidak pernah dewasa.


Seruput...