Sabtu, 02 Desember 2017

212, MISI YANG GAGAL TOTAL

Alumni 212
Bendera HTI diatas Merah Putih
Apa yang tertinggal dari reuni 212 di Monas barusan? Tidak ada. Selain kebanggaan semu yang hilang bersama capek, masuk angin sampe kentut- kentutan.


Misi yang niatnya ingin menjatuhkan nama Jokowi dengan tekanan massa dan tudingan "kriminalisasi ulama", asli gagal total. Uang 4 milyar rupiah -kalau benar 4 milyar- terbuang percuma. Mubajir.

Disaat saudara-saudara kita di Bali, di Jateng dan beberapa daerah lain membutuhkan bantuan akibat bencana alam, ada kelompok yang buang-buang uang hanya supaya eksis dan keliatan besar.

Mungkin itu maksud tersembunyi Tuhan.

Satu sisi dihadirkan bencana, sisi lain membuka borok orang-orang yang mengatas-namakan agama tapi tidak sedikitpun punya kepedulian terhadap sesama. Dalam otak mereka hanya ada politik dan politik. Lain tidak ada.

Orang-orang yang berkumpul di Monas itu juga yang teriak-teriak "Save Rohingya!!" sebuah negeri nun jauh disana. Tapi tidak berniat sedikitpun membantu saudara sebangsa ketika mereka sedang benar-benar kesulitan. Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut dalam celana berasa..

Berapa yang bisa dihasilkan dengan uang 4 milyar rupiah itu?

Beras ratusan ton. Ribuan selimut. Ribuan kardus Indomie. Ribuan lusin pakaian. Bahkan bisa membangun ratusan rumah sementara supaya para pengungsi yang kebanjiran, rumahnya kena longsor sampai para pengungsi, bisa menetap sejenak.

Tapi mereka berpikir kesana pun tidak. Malah memamerkan uang di media sosial, sebagai pernyataan bahwa mereka datang dengan tidak dibayar. Apa yang mau mereka ceritakan kepada anak cucu mereka nanti? Bahwa bapak dan ibu dulu pernah ada di Monas sambil kepanasan?


Benarlah apa yang dikatakan Alquran kepada umat 212 itu, "Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya." Mereka seolah membela agama, tapi tidak sadar bahwa mereka telah merusaknya dengan tidak membantu sesama.

Karena malu bahwa aksi itu gagal total, propaganda melalui media sosial pun berkibar. "Yang datang 7,5 juta orang!" Teriak mereka. Harus teriak begitu supaya donatur tidak kecewa, meski donatur juga gak bego-bego amat untuk tidak tahu apa-apa.

Kasian sebenarnya melihat saudara-saudaraku seiman itu. Mereka diperbudak oleh kepentingan sesaat para arogansi berbaju gamis yang punya syahwat berkuasa jika ada kesempatan.

Mending kalian minum kopi sama saya sini, sambil bercerita tentang indahnya ajaran Nabi Muhammad dulu di masa arab jahiliyah yang membuat para pembencinya pun takluk dan kemudian ikut dalam barisan karena kecintaan akan ahlak beliau, bukan karena beliau suka koar-koar menghujat sana-sini dengan bahasa kasar.


Jadi gimana nih? Kopinya mau diseruput atau di minum pake sedotan?