Minggu, 17 Desember 2017

ANIES, MONAS DAN POLITISASI NATAL

Natal
Monas
Gayung tak bersambut. Rencana Anies untuk mengadakan Natal di Monas, ternyata “ditolak” oleh banyak gereja, termasuk Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia atau PGI.


Sesudah Pilgub DKI yang penuh kontroversi dan terindikasi SARA, Anies mencoba merajut kembali “tenun kebangsaan” yang ternyata sudah koyak itu.

Hanya yang tidak diperhitungkannya adalah tenun kebangsaan itu bukan sejenis kain yang mudah disatukan kembali oleh benang. Ia adalah jiwa-jiwa yang sekarang terluka akibat politisasi agama berlebihan.

Merajutnya tidak cukup hanya dengan merangkul, tetapi harus dengan ketulusan hati yang dalam. Nyatanya umat Kristen di Indonesia, banyak yang tidak melihat ketulusan hati itu.


Anies dan Sandi mencoba merayu pihak Gereja dengan berjanji akan membayar semua kebutuhan dalam perayaan Natal itu melalui APBD.

Bukan, bukan itu…

Kalau masalah uang, kita yakin, pihak Gereja akan jauh lebih dari mampu untuk sekedar membayar perayaan Natal sebesar apapun dan dimanapun. Anies dan Sandi tentu salah besar jika berbicara uang. Mereka tidak memahami akar masalah yang lebih dalam.

Pihak Gereja mencium ada ketidak-tulusan dalam undangan itu. Ada nuansa politisasi, penunggangan atas nama umat dan hari besar umat Kristen oleh kepentingan politik tertentu.


Mereka lebih baik mundur teratur dan berkilah dengan sopan, bahwa Natal akan diselenggarakan di indoor saja dan penuh dengan kesederhanaan.

Sikap PGI dan beberapa Gereja ini seharusnya membuat Anies Tafakur, merenung lebih dalam “apa yang salah” dari semua ini. Tidak mudah merangkul -apalagi dengan niat yang ditunggangi kepentingan- sesudah menonjok kuat-kuat, lalu berbaik-baik memberi makan.
Saudara-saudara yang Kristen memang mengamalkan ayat kasih mereka, “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Matius 5:38-39)”.
Tetapi meski secara raga mereka menerima situasinya, secara batin tentulah tidak mudah untuk menyambung kembali tali itu.


Apalagi sesudah mereka selama beberapa bulan dituding “kafir, tidak berhak memimpin negeri ini sampai penghinaan terhadap symbol-simbol keyakinan mereka yang dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan hukum yang berarti”.

Pasti sangat menyakitkan...

Inilah langkah politis PGI yang paling keras yang pernah saya lihat. Sebuah perlawanan halus berdekatan dengan perayaan hari besar keagamaan mereka.

Semoga ini menjadi pelajaran besar bersama, termasuk semua politisi dimanapun berada. Bahwa tidak selayaknya agama dicampur-adukkan dalam politik dan dijadikan acuan dalam kehidupan berbangsa. Lukanya akan menjadi sangat dalam dan sembuhnya lama.

Ah, Natal tahun ini penuh dengan pesan yang tersirat dalam bentuk tindakan.

Semoga secangkir kopi tetap menjadi perekat diantara kita, karena dalam kehidupan berbangsa tidak ada yang kedudukannya lebih tinggi maupun lebih rendah. Semua sama dalam merasakan nikmatnya..

Salam Natal, saudara-saudaraku dalam kemanusiaan. Salam hormat untuk kalian semua dimanapun berada.


Dari saya, sesama anak bangsa..