Sabtu, 09 Desember 2017

BALI INTOLERAN

Toleransi
Somad
Begitulah framing berita yang mereka bangun terkait penolakan sebagian masyarakat Bali terhadap Abdul Somad.


Padahal sesungguhnya masyarakat Bali, kemaren, menolak penceramah yang berpotensi memecah belah. Yang ceramahnya menghina simbol agama lain, yang menjelek-jelekkan fisik orang lain dan yang membawa agenda khilafah.

Situasi yang sama yang dialami oleh Ansor dan Banser, saat ingin mengganti penceramah yang ingin menyerukan khilafah, tetapi di framing berita bahwa Ansor dan Banser membubarkan pengajian.

Mirip dengan yang dilakukan Ansor dan Banser, komunitas masyarakat Bali memaksa Somad untuk mencium bendera Merah Putih, berikrar kesetiaan pada Pancasila dan menyanyikan Indonesia Raya, untuk membuktikan ketaatannya pada NKRI.

Tapi Somad menolak. Meskipun akhirnya menyerah dan hanya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Inilah yang mereka tidak beritakan.


Mereka malah secara massif membangun berita bahwa Bali intoleran. Dan propaganda itu disebar kemana-mana di media sosial, dimana mereka masih menguasainya..

Bali harus menjaga dirinya sendiri dari kelompok pendukung khilafah, yang sekarang membungkus dirinya dengan “acara Maulid”, “pengajian” dan sebagainya.

Di Bali, toleransi sangat tinggi antar umat beragama. Bahkan para pecalang selalu menjaga shalat Jumat sebagai bagian dari melindungi ibadah umat Islam di tengah-tengah masyarakat yang beragama Hindu.

Model-model propaganda seperti ini yang akan terus dimainkan mereka, memainkan pikiran banyak orang bahwa yang dilawan oleh mereka yang nasionalis adalah agama Islam.

Mereka berlindung dibalik agama untuk memainkan agenda besar mereka, yaitu membentuk negara khilafah.


Terus mainkanlah gendangmu, kawan, jangan pernah lelah. NKRI ini harus dijaga. Jangan sampai kita menjadi Suriah kedua, dimana politik berbaju agama meluluh-lantakkannya.

Kuasai media sosial, karena disanalah perangnya sekarang. Jangan terpengaruh propaganda “playing victim” yang mereka mainkan.. Buat mereka, yang ada itu menang atau kalah bukan bagaimana mencari solusi bersama.

Saya boleh tidak pandai bicara. Tapi tulisan-tulisan saya akan terus mengorek borok yang mereka tutupi dengan kata-kata indah.

Dan karena itulah mereka dendam karena sekian tahun lamanya, mereka tidak punya kesempatan bagus untuk menghantam saya.

Bali, Manado, Papua, Jawa dan banyak provinsi lainnya, kita jaga wilayah kita sekuat mungkin.

Satu waktu, kita akan duduk dan minum secangkir kopi bersama untuk bercerita tentang indahnya perjuangan menjaga tetap indahnya perbedaan di negeri ini.
Seruput dulu ya.