Jumat, 29 Desember 2017

DEDI MULYADI, CAGUB ATAU CAWAGUB?

Politik
Dedi Mulyadi-Deddy Mizwar
Sementara ini tiket yang sudah aman diperoleh di Jabar adalah pasangan yang didukung koalisi Gerindra, PKS dan PAN. Sedangkan Ridwan Kamil masih berkutat dengan keresahannya yang tidak berujung pangkal, tentang siapa pendampingnya.


Para calon pendamping pun saling mengancam akan pergi karena tidak mau diduakan. “Nehi !!” Kata PPP dan PKB bersamaan.

Yang menarik adalah munculnya koalisi Deddy Mizwar dan Kang Dedi Mulyadi..

2D yang bukan Deddi Dukun dan Dian Pramana Putra ini, sedang tarik menarik siapa yang akan jadi Cagub di antara mereka?

Kalau melihat senioritas sih, sebenarnya Dedy Mizwar lebih layak jadi calon Gubernur. Itu karena dia sudah pernah jadi Wagub selama satu periode. Dan dia pasti ngotot pengen jadi cagub.

“Masak jadi wakil mulu? Bosen ahhh...” begitu mungkin teriakan dalam hati kecilnya.

Dedi Mizwar dari hasil survey memang selalu diatas Dedy Mulyadi. Mungkin karena masyarakat Jabar suka “yang ada agamis-agamisnya..”.


Begitulah realita yang terjadi. Masyarakat kita lebih suka menilai cover daripada isi.

Masalahnya, rekam jejak Dedi Mizwar menggambarkan ketidak-mampuannya untuk bekerja dalam iklim birokrasi. Ia memang bukan birokrat, lebih kepada seorang entertainer. Demiz dulu dipasang Aher untuk pemanis saja, karena wajahnya dikenal banyak orang..

Yang bisa dilakukan Demiz adalah pasrah dan berdoa dalam menghadapi masalah. “Serahkan semua pada Tuhan..” Kata ajaib ketika menemui permasalahan..

Sedangkan Dedi Mulyadi adalah seorang politikus dan birokrat asli. Ia seorang pekerja dan kesenangannya blusukan ke daerah-daerah terpencil di Jabar.

Dari rekam jejaknya selama ini sudah menggambarkan bahwa ia disukai karena kinerjanya, bukan karena ia seorang artis. Dedi Mulyadi pernah jadi Wakil Bupati, Bupati dua periode dan menjabat ketua DPD Golkar Jabar.

Jadi pilih Dedi Mulyadi sebagai Cagub atau sebaliknya Deddy Mizwar sebagai Cawagub?


Semua tergantung hasil diskusi antara Golkar dan Demokrat.

Menurut saya, selayaknya Dedi Mulyadi mempertahankan posisinya sebagai Cagub. Karena ini sebenarnya momen emasnya.

Saya jadi teringat dulu momen emas Prabowo pada tahun 2009. Pada saat itu nama Prabowo sebenarnya sedang di puncak dan sering dibicarakan.

Eh, ternyata Prabowo masih kurang percaya diri. Ia malah mau-maunya jadi wakil Megawati dengan alasan “nanti Mega janji lima tahun lagi akan menjadikanku sebagai capres..”

Ternyata janji pun tinggal janji. Lima tahun kemudian, muncul Jokowi. Prabowo gagal maning, gagal maning son..


Nah, bisa jadi situasi ini akan menimpa Dedi Mulyadi. Meski hasil survey masih rendah, namanya sedang banyak dibicarakan saat ini sebagai kuda hitam.

Lagian hasil survey bukan sebuah janji. Banyak kisah yang membuktikan bahwa mereka yang dulu hasilnya survey diatas, bisa terjungkal..

Kang Dedi yang gada badaknya, majulah sebagai cagub, jangan jadi wakil...

Sekarang saat yang tepat. Jangan kehilangan momen emas dan akhirnya menyesal kemudian karena tidak ada yang tahu lima tahun ke depan akan muncul wajah baru yang lebih menawan..

Ah sudah boarding. Saatnya terbang lagi pagi ini.. Seruput dulu...