Jumat, 22 Desember 2017

HARI IBU TRADISI KAFIR

Hari Ibu
Abdul Somad
Benarkah memperingati hari ibu itu tradisi kafir? Itu pertanyaan dari seorang teman ketika mendengar ceramah Abdul Somad di youtube bahwa peringatan hari ibu tanggal 22 Desember itu adalah tradisi orang kafir.

Benarkah? Mari kita lihat sejarah dulu...

Mengutip dari laman tirto.id, peringatan hari ibu di masing2 negara ternyata berbeda. Hari Ibu di Amerika Serikat (AS) jatuh pada minggu kedua bulan Mei, jadi bukan bulan Desember.

Di Inggris, Hari Ibu dikenal sebagai Mothering Sunday, dan selalu jatuh pada hari Minggu keempat Prapaskah - biasanya pada akhir Maret atau awal April. Jadi juga bukan bulan Desember.

Hari ibu di Rusia juga di terapkan di akhir bulan November.

Satu kesamaan dari negara-negara itu dalam memperingati hari ibu adalah mengingatkan peran penting seorang ibu dalam rumah tangga, sehingga banyak negara menjadikannya hari libur nasional.

Lalu siapa yang menetapkan hari ibu jatuh pada tanggal 22 Desember ? Orang kafir kah?

Ternyata tanggal 22 Desember sebagai hari ibu itu ditetapkan dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928 di Jogjakarta. Dan kongres itu dihadiri banyak tokoh dari Budi Utomo, PSI, Muhammadiyah, Jong Java, Jong Madura sampai Jong Islamieten bond.

Mereka bukan orang kafir - jika kata kafir disematkan pada non-muslim.

Dan semangat hari ibu di Indonesia lebih luas maknanya, tidak seperti negara2 lain. Hari ibu itu ditetapkan untuk mengenang perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

Situasi itu memang situasi perjuangan, dimana ditetapkannya sebuah hari adalah untuk mengenang nilai-nilai perjuangan..

Jadi pak Somad ternyata tidak belajar sejarah, sehingga dengan seenaknya mengatakan bahwa peringatan hari ibu di Indonesia adalah tradisi orang kafir. Itu bisa berarti pak Somad mengkafirkan para pejuang yang dengan semangat perjuangan menetapkan sebuah hari bersejarah.

Saya juga heran ketika ada seorang yang dianggap ustad dengan seenaknya mengkafir-kafirkan, seolah-olah dirinya tidak kafir.

Padahal Rasulullah SAW sudah mengatakan, bahwa siapapun yang mengatakan seorang kafir sementara yang dituduhnya tidak begitu, maka sebutan itu akan kembali padanya...

Tapi okelah, mungkin masalahnya ada di sebutan “ibu”. Saya sarankan kepada bani micin curah, supaya tidak terindikasi kafir maka gantilah sebutan ibu menjadi “Selamat hari Ummi”.

Semoga dengan itu semua menjadi syariah dan varokah sesuai tradisi timur tengah..

Gimana? Mau Kofi atau mau fentung kah?? Kate lapo koen? Aku lak ganteng jadi boleh gendakan..

Seruffuttt...