Kamis, 07 Desember 2017

HATERS ADALAH MARKETING YANG TERBAIK DI DUNIA

Haters
Haters
Habis meeting semalaman, buka medsos lagi. Ternyata topiknya masih sekitar ILC. Ada yang membully dan ada juga yang membela.


Saya ingat sahabat saya Tomi Lebang berkata, “Kuping saya tipis, jadi kalau ada yang nyinggung saya blok dia. Fesbuk saya bebaskan dari pro dan kontra”.

Saya malah kebalikannya, hidup dari pro dan kontra. Bahas buruh, semua ribut. Bahas politik, ribut semua. Bahas bitcoin, diserang habis. Tampil di ILC, habis diserang.

Dulu ketika awal bermain fesbuk, saya kira ketika berbicara pemikiran yang berbeda, teman saya habis. Justru malah bertambah. Serangan-serangan yang datang bukannya mengurangi teman, justru bertambah gila-gilaan.

Dan saya menikmati semua itu. Saya biarkan saja mereka komentar, toh semua orang berhak bersuara. Malah dapat banyak energi dan inspirasi dalam posisi diserang sebagai bahan tulisan.


Kadang juga suka nakal. Bikin status kontroversial, biar makin ramai yang membicarakan. Kalau adem ayem aja, hidup rasanya seperti nasi kurang garam.

Kadang suka ketawa sendiri, melihat meme saya dimana-mana. Jadi terkenal itu mudah ternyata. Berbedalah ketika arus sedang berada pada pusaran yang sama.

Dibilang apapun saya rela. Mulai syiah, JIL, HKBP, Liberal dan banyak lagi julukan yang membuat banyak orang meriang, tapi malah menaikkan adrenalin ke level yang lebih tinggi.

Padahal saya nulis biasa aja, tapi banyak yang meradang. Kalau saya diam, mereka bilang saya pecundang. Tapi kalau gak nulis, mereka kangen karena gada tempat melampiaskan.

Entah ini kutukan atau kenikmatan?

Semakin di bully, suara saya semakin di dengar banyak orang. Semakin meme disebar, wajah semakin terkenal.


“Haters adalah marketing terbaik di media sosial”, Kata seorang teman dulu. Saya sampai sekarang setuju dengan pendapatnya, karena mengalami situasinya.
Maka peliharalah haters sebanyak-banyaknya, ia akan menjadi alat gratis untuk menuju pohon yang lebih tinggi. Asal akarnya kuat, puncak demi puncak akan terlewati.

Saya ada di posisi ini sekarang, bahkan dipanggil sebuah stasiun televisi untuk bicara, andil terbesar karena mereka juga.


Menikmati hidup bukan hanya dengan minum kopi ternyata. Bahkan minum jamu pahit lebih menyehatkan, asal lidah kuat menelannya. Seruput jamu... uaggghhhh.. Mari nonton orang yang bentar lagi pada tari kejang.