Senin, 11 Desember 2017

ISU PANGLIMA TNI ITU RUNTUH. BANI MICIN KECOLONGAN

Istri Panglima TNI
Info
Saya sebenarnya sudah yakin bahwa ketika Jenderal Gatot Nurmantyo diganti, hoax akan bertebaran dimana-mana.

Kenapa? Karena selama ini mereka yang berseberangan dengan pemerintah menganggap bahwa Jenderal Gatot adalah bagian dari mereka.

Posisi Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI pada waktu itu, sangat strategis bagi mereka. Apalagi dalam perjalanannya, Jenderal Gatot seperti berpihak kepada mereka, meski itu hanya perasaan mereka saja.

Kecenderungan untuk mengadu Presiden dengan Panglima TNI kala itu sangat kuat. Jenderal Gatot dipuji setinggi langit, sedangkan Presiden dicaci maki. Mereka ingin Presiden marah dan kemudian mengganti Jenderal Gatot meski belum habis masa jabatannya.

Jika itu terjadi, maka Jenderal Gatot akan melambung tinggi dengan berita yang akan mereka goreng bahwa ia dizolimi Jokowi. Mereka ingin peristiwa SBY yang beritanya “dizolimi” Megawati terulang lagi.

Tapi kaum bani micin kiloan tidak paham, bahwa yang mereka hadapi adalah Jokowi. Seorang manusia dengan emosi yang terkontrol penuh meski mendapat banyak serangan.

Jokowi membiarkan maneuver-manuver di depan matanya sambil menghitung langkah dan waktu yang tepat untuk bertindak.

Hari Kamis, tanggal 7 Desember, Presiden dan Panglima TNI kala itu, bersama-sama tampil di depan publik membantah kabar yang berkembang bahwa Jenderal Gatot secepatnya akan diganti. Tetapi tiba-tiba besoknya, hari Jum’at, Presiden melantik Panglima TNI baru Hadi Tjahjanto.

Gerakan yang halus, senyap, tanpa menimbulkan banyak keributan.

Ketika kaum micin curah kelabakan informasi hoax mereka dicounter dengan kemunculan Presiden dan Panglima TNI bersama-sama, mendadak mereka melongo ketika hoax yang mereka bangun sebelumnya jadi kenyataan.

Mereka sangat marah dan menyebarkan isu kemana-mana bahwa Jenderal Gatot dipecat, berharap mendapat reaksi dari masyarakat.

Sayangnya, bani micin lagi asik membahas acara ILC berhari-hari dengan penuh kemenangan. Sorak sorai mereka menenggelamkan komando untuk membahas isu “pemecatan” Jenderal Gatot.

Walhasil, isu pemecatan itu layu sebelum berkembang.

Sesudah kembali sadar, barulah mereka marahmarah karena merasa ketinggalan berita. Pucuk atas pimpinan mereka ngamuk karena berita penggantian Panglima TNI tidak bisa digoreng sematang-matangnya.

“Acara gituan dibahas, acara penting ketinggalan!” Begitu kira-kira teriakan mereka.

Dan karena gagal mengangkat isu “pemecatan”, sasaran tembaknya langsung ke Panglima TNI baru. Isunya gak seksi bahwa istri beliau dari keturunan Chinese, tapi itulah peluru terakhir mereka di tahun ini.

Dalam permainan intelijen, kecerdikan memang dibutuhkan. Biarkan lawan mengira mereka menang di satu sisi, tapi sebenarnya di medan perang utama, mereka kalah total tanpa mereka sadari.

Angkat secangkir kopi dulu kawan, kita tutup tahun ini dengan tenang bahwa badai besar sudah kita lewati. Kita hadapi yang terbesar di tahun depan dengan isu yang sama China dan PKI, andalan mereka. Seruput.